Alamat di Kertas Kuning
Pundak Pertama β’ 1,610 kata
Malam itu aku tidak bisa tidur β bukan karena tikar yang tipis dan lantai yang keras, tapi karena satu huruf: R.
Di seberang kamar, Ibu akhirnya tertidur di tikar dengan surat kuning itu masih tergenggam di tangannya. Bude mendengkur pelan. Hanya aku yang terjaga, menatap langit-langit yang tidak terlihat dalam gelap, mengulang-ulang nama itu dalam kepalaku.
Ratna.
Siapa dia bagi Nenek? Kenapa Nenek melarang Ibu bertanya? Dan apa maksudnya "milik Nenek, yang seharusnya tidak pernah hilang"?
Menjelang subuh, aku mengambil keputusan: aku akan datang ke alamat itu. Hari ini juga. Aku mengirim pesan pada atasanku sebelum ayam berkokok β meminta izin setengah hari, dengan alasan keluarga dari kampung datang. Atasan membalas singkat: "Oke, tapi laporan mingguan tetap masuk hari ini ya." Adil.
Pagi harinya, saat kuceritakan rencanaku, Ibu langsung berdiri. "Ibu ikut."
"Bu, Ibu istirahat sajaβ"
"Tidak." Nada Ibu mantap, nada yang tidak bisa dibantah β nada yang dulu membuatku dan adik-adikku langsung diam saat kecil. "Ini tentang Nenek. Tentang sahabatnya yang tidak pernah Ibu kenal. Ibu harus ikut."
Bude pun bersikeras ikut, meski lututnya masih pegal. "Bude ingin lihat wajah perempuan yang memotret Nenek. Bude ingin berterima kasih β karena berkat fotonya, kita bisa melihat Nenek muda."
Maka berangkatlah kami bertiga dengan dua ojek, menyusuri jalanan kota yang pagi itu lengang. Alamat di surat itu membawaku ke sebuah gang tua tidak jauh dari kantorku β gang yang selama tiga tahun ini kulewati setiap hari tanpa pernah kumasuki. Rumah-rumah di sana tua dan rindang, dengan pohon mangga besar yang akarnya mengangkat paving jalan.
Rumah nomor yang kami cari adalah rumah papan bercat hijau pudar, dengan teras kecil dan pot-pot bunga yang terawat rapi. Di pagarnya, tergantung papan nama kayu yang tulisannya sudah samar dimakan waktu.
Jantungku berdebar saat mengetuk pintu.
Pintu dibuka oleh seorang perempuan renta β rambutnya putih seluruhnya, tubuhnya membungkuk, tapi matanya... matanya tajam dan jernih, menatapku dari atas sampai bawah dengan cara yang membuatku merasa sedang dinilai oleh seseorang yang mengenalku jauh sebelum kami bertemu.
"Kamu... cucunya," katanya. Bukan bertanya. Menyatakan. Lalu matanya turun ke pergelangan tanganku β ke gelang Nenek β dan beliau terisak. "Ya Tuhan. Dia memakainya. Setelah semua ini... dia memakainya."
"Bu Ratna?" tanyaku pelan.
Beliau mengangguk, mengusap matanya dengan punggung tangan, lalu mempersilakan kami masuk. "Masuk, Nak. Masuk. Dan ini pasti... ibumu." Beliau menatap Ibu dengan mata berkaca. "Kamu mirip sekali dengan Nenekmu waktu muda. Waktu dia seusiamu... ya Tuhan, persis."
Ruang tamu rumah itu kecil dan sederhana, tapi setiap sudutnya terawat: foto-foto lama dalam bingkai kayu, taplak meja rajutan, dan di dinding β sebuah foto hitam-putih yang membuatku berhenti bernapas.
Foto itu menampilkan dua perempuan muda di bawah pohon mangga. Yang satu tertawa lepas ke arah kamera, dua gelang berkilau di pergelangannya. Nenek. Yang satu lagi memegang kamera β hanya terlihat sebagian wajahnya, tersenyum malu. Di bawah foto itu, dengan bingkai kuningan kecil, tertulis: 1974.
"Itu..." suaraku tercekat.
"Aku yang memotret," kata Bu Ratna pelan. "Dan itu satu-satunya foto kami berdua. Aku mencetak dua β satu untuknya, satu untukku. Yang untuknya... entah ke mana. Mungkin hilang. Mungkin..." Beliau tidak melanjutkan.
Ibu melangkah mendekati foto itu dengan langkah pelan, seperti mendekati sesuatu yang suci. "Nenek tidak pernah menunjukkan foto ini pada Ibu," bisiknya. "Tidak pernah bercerita tentang Ibu... tentang Anda."
"Duduklah," kata Bu Ratna. "Aku akan ceritakan semuanya. Lima puluh dua tahun aku menunggu untuk menceritakannya pada seseorang dari keluarganya."
Kami duduk. Bu Ratna menyeduh teh β tangannya gemetar, tapi gerakannya pasti β lalu beliau duduk di hadapanku, menatap gelang di pergelanganku sekali lagi sebelum mulai bicara.
"Tahun 1974, aku berumur tujuh belas tahun. Nenekmu β namanya... kamu tahu nama kecilnya?" Beliau menatap Ibu.
Ibu menggeleng. "Kami selalu memanggilnya Nenek. Ibu... Ibu bahkan tidak tahu nama kecil beliau."
Bu Ratna tersenyum sedih. "Namanya Lastri. Lastri." Beliau mengucapkan nama itu seperti doa. "Kami bersahabat sejak kecil. Rumah kami bersebelahan di kampung. Kami berjanji akan menikah di tahun yang sama, punya anak di tahun yang sama, menjadi nenek di tahun yang sama."
"Terus?" Bude bertanya pelan.
"Terus... bapakku berjudi." Bu Ratna menatap cangkir tehnya. "Hutang menumpuk. Rentenir datang. Dan satu-satunya jalan yang dilihat bapakku: menikahkanku dengan rentenir itu. Lelaki berumur lima puluh tahun, dengan tiga istri. Aku berumur tujuh belas tahun."
Ibu menutup mulutnya dengan tangan.
"Malam sebelum lamaran itu, aku datang ke rumah Lastri sambil menangis. Aku bilang aku mau mati saja. Dan Lastri..." Bu Ratna tertawa kecil β tawa yang basah. "Lastri menamparku. Pelan, tapi cukup untuk membuatku diam. Lalu dia bilang: 'Kamu tidak boleh mati. Kamu harus pergi. Malam ini juga.'"
"Dia memberiku uang β uang dari hasil menjual mesin jahitnya. Satu-satunya barang berharganya. Mesin jahit itu warisan ibunya, alat dia mencari nafkah. Dia menjualnya diam-diam, memberiku uangnya, membelikanku tiket bus ke kota ini, dan mengantarku ke terminal tengah malam dengan berbisik: 'Kalau kamu selamat, jangan pernah kembali. Jangan tulis surat. Jangan cari aku. Hidup saja. Itu bayarannya.'"
Hening. Hanya bunyi jam dinding yang berdetak.
"Aku selamat," lanjut Bu Ratna. "Aku kerja sebagai pembantu, lalu buruh pabrik, lalu membuka warung kecil. Aku menikah dengan lelaki baik. Punya dua anak. Tapi setiap malam, selama lima puluh dua tahun, aku memimpikan malam itu β Lastri mengantarku ke terminal, melambaikan tangan, dan aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku menepati janjiku untuk tidak kembali. Tapi aku tidak pernah menepati janji untuk tidak merasa berhutang."
Beliau bangkit dengan susah payah, berjalan ke lemari tua di sudut ruangan, dan kembali dengan sebuah amplop β amplop kuning yang lusuh, mirip dengan yang diterimaku kemarin.
"Ini," katanya, meletakkannya di depanku. "Tabunganku. Lima puluh dua tahun aku menabung β sedikit demi sedikit β untuk membayar hutangku pada Lastri. Jumlahnya tiga puluh juta. Tidak banyak. Tapi itu yang kupunya."
Aku menatap amplop itu. Lalu menatap Bu Ratna. Lalu menggeleng.
"Bu Ratna," kataku pelan, "saya tidak bisa terima ini."
"Nakβ"
"Dengarkan saya dulu." Aku menggenggam amplop itu, lalu mengembalikannya ke tangan beliau yang keriput. "Hutang Ibu pada Nenek... bukan hutang uang. Nenek tidak menjual mesin jahitnya untuk ditagih kembali lima puluh dua tahun kemudian. Beliau melakukannya karena Ibu sahabatnya. Karena itu yang dilakukan keluarga."
"Tapβ"
"Dan Nenek mengajari saya sesuatu, Bu." Aku menatap gelang di pergelanganku. "Pundak pertama bukan yang memikul sendirian. Tapi juga bukan yang membiarkan orang lain memikul bebannya. Gelang ini akan saya tebus β saya dan sepupu saya, berdua, dengan tangan kami sendiri. Itu janji kami pada Nenek."
Bu Ratna menatapku lama. Lalu β perlahan β beliau menangis. Bukan tangis sedih. Tangis seseorang yang akhirnya, setelah lima puluh dua tahun, merasa diampuni.
"Kamu..." beliau terisak, "kamu persis dia. Cara bicaramu. Cara kamu menggeleng. Ya Tuhan, Lastri... cucumu..."
Ibu bangkit, memeluk Bu Ratna. "Terima kasih," bisik Ibu. "Terima kasih sudah menjadi sahabat Nenek. Terima kasih sudah memotretnya hari itu. Berkat Ibu, kami bisa melihat Nenek tertawa."
Kami berbincang lama sore itu. Bu Ratna bercerita tentang Nenek muda β tentang kenakalannya, tentang tawanya, tentang caranya menari saat panen raya. Ibu mendengarkan dengan mata berbinar, menyerap setiap kata seperti orang kehausan. Untuk pertama kalinya, Ibu mengenal ibunya sendiri sebagai seorang gadis tujuh belas tahun β bukan sebagai Nenek yang bijak dan pendiam.
Saat kami pamit, Bu Ratna menggenggam tanganku di ambang pintu.
"Nak," katanya pelan, "soal peti itu. Lastri pernah menulis surat padaku β satu-satunya surat, tahun 1990, dikirim lewat orang. Dia bilang peti itu tidak berisi harta. Isinya... lebih berat dari harta." Beliau menatap mataku dalam-dalam. "Dan dia bilang: hanya cucunya yang pertama yang boleh membukanya. Setelah dia berani membuka pintu yang paling dia takuti."
"Pintu apa, Bu?" tanyaku. "Ibu tahu?"
Bu Ratna tersenyum β senyum yang menyimpan rahasia, senyum yang sama seperti senyum Ibu, senyum yang sama seperti senyum Nenek di foto. "Itu yang harus kamu temukan sendiri, Nak. Lastri selalu begitu β tidak pernah memberi jawaban, hanya memberi jalan."
Di perjalanan pulang, tidak ada yang bicara. Bude menatap keluar jendela ojek dengan mata menerawang. Aku memikirkan mesin jahit yang dijual, tiket bus tengah malam, dan lima puluh dua tahun penantian.
Sesampainya di kos, Ibu tiba-tiba berkata, "Le. Duduk."
Aku duduk. Ibu duduk di hadapanku, menggenggam kedua tanganku.
"Akhir pekan ini kita pulang kampung," kata Ibu mantap. "Bertiga. Kita buka peti Nenek sama-sama. Ibu sudah terlalu lama takut pada peti itu. Dan..." beliau menatapku, "Ibu rasa... waktunya sudah dekat. Untuk pintumu juga."
"Pintu apa, Bu?"
Ibu tersenyum, lalu mematikan lampu β seperti semalam, seperti selalu. "Nanti, Le. Kalau kamu sudah tahu, kamu akan tahu."
Malam itu, aku bermimpi.
Aku berdiri di depan gudang rumah masa kecilku β gudang yang pintunya selalu tertutup, yang kata Ibu tidak boleh kumasuki saat kecil karena "banyak tikus". Di depanku, pintu kayu itu terlihat lebih besar dari yang kuingat. Dan di sana, berdiri Nenek β bukan Nenek tua yang kukenal, tapi Nenek muda dari foto itu, dengan dua gelang berkilau di pergelangannya, tersenyum renyah seperti di bawah pohon mangga tahun 1974.
Beliau menatapku, lalu menatap pintu itu, lalu kembali menatapku.
"Bukan pintunya yang kamu takuti, Le," katanya.
Aku terbangun menjelang subuh, keringat dingin membasahi dahiku. Di pergelangan tanganku, gelang Nenek terasa hangat β lebih hangat dari biasanya, seolah baru saja digenggam seseorang.
Tiga hari menuju akhir pekan. Tiga hari menuju pulang kampung. Tiga hari menuju peti yang tidak pernah dibuka.
Dan aku masih belum tahu: pintu apa yang paling kutakuti?