β€Ή
22. Suara Bude

Suara Bude

Pundak Pertama β€’ 1,381 kata

Ilustrasi Suara Bude

Malam itu aku tidak tidur. Bukan karena tidak mengantuk β€” tubuhku sudah seperti karung beras yang diseret β€” tapi karena ada sesuatu yang mengganjal di dadaku, sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan angka di buku catatan.

Dua juta dua ratus ribu. Delapan ratus ribu kurang. Dua minggu.

Angka-angka itu berputar di kepalaku seperti gerinda. Tapi yang paling berputar bukanlah angka β€” melainkan suara Ibu tadi: "Bude-mu menangis, Nak. Beliau bilang beliau malu sama kamu."

Malu. Seorang Bude β€” adik Ibu, orang yang menyimpan gelang itu di lemarinya dibungkus kain β€” merasa malu pada keponakannya sendiri. Ada yang salah dalam susunan dunia ini, pikirku. Seharusnya akulah yang malu. Akulah anak muda yang bahkan belum pernah melihat gelang itu, tapi berani berjanji menebusnya.

Pukul setengah dua belas malam, aku mengambil keputusan. Aku keluar ke tangga asrama β€” tangga ritual kami β€” dan duduk di anak tangga paling bawah. Dinginnya beton meresap ke celanaku. Dari saku kuambil ponsel.

Aku menelepon Bude. Langsung. Bukan lewat Ibu lagi.

Sambungan tersambung setelah tiga nada. "Halo?" Suara Bude terdengar kantuk dan waspada β€” suara orang yang tidur dengan satu mata terbuka karena anaknya sakit.

"Bude, ini Bagas," kataku pelan. "Maaf menelepon malam-malam."

Hening sejenak. Lalu: "Bagas? Nak... ada apa? Ibumu kenapa?"

"Ibu baik-baik saja, Bude. Aku yang mau bicara. Langsung sama Bude."

Ia diam. Kudengar ia bangkit dari tempat tidur, langkahnya menjauh β€” mungkin ke dapur, supaya tidak membangunkan anaknya yang sakit.

"Ada apa, Nak?" suaranya kini lebih jelas, lebih terjaga.

"Bude," kataku, dan tiba-tiba tenggorokanku tercekat. Aku menelan ludah, memaksa kata-kata keluar. "Bude tidak perlu malu sama Bagas. Tidak pernah. Justru Bagas yang berterima kasih β€” karena Bude sudah menyimpan gelang nenek dengan baik selama ini. Dibungkus kain, kata Ibu. Di lemari Bude."

Di seberang, kudengar napasnya tertahan.

"Nak..." suaranya mulai bergetar. "Kamu tidak mengerti. Bude ini... Bude ini adik Ibumu. Waktu Ibumu datang membawa gelang itu, matanya sembab. Dia bilang: Dek, tolong simpan ini. Jangan bilang Bagas. Bude pegang tangan Ibumu waktu itu, dan Bude janji: gelang ini tidak akan ke mana-mana."

"Dan Bude menepati janji itu," kataku. "Sampai sekarang."

"Tapi sekarang Bude mau mengingkarinya!" Suaranya pecah. "Anak Bude sakit, Nak. Operasinya dimajukan. Biayanya... biayanya besar sekali. Suami Bude sudah pinjam ke sana-sini. Juragan itu datang ke rumah, bawa uang tunai empat setengah juta, ditaruh di meja depan Bude. Empat setengah juta, Nak. Kamu tahu rasanya? Uang untuk menyelamatkan anakmu, tergeletak di meja, tinggal diambil β€” tapi tanganmu tidak bisa bergerak karena tanganmu sedang memegang janji ke kakakmu sendiri."

Aku memejamkan mata. Di kepalaku, aku melihatnya dengan jelas: sebuah meja kayu di rumah Bude, setumpuk uang tunai, dan seorang ibu yang duduk di depannya dengan tangan gemetar β€” tangan yang satu ingin meraih uang itu, tangan yang lain memegang janji.

"Bude," kataku pelan. "Bagas mengerti. Sungguh, Bagas mengerti. Kalau posisi Bagas jadi Bude, Bagas juga tidak tahu harus bagaimana."

"Kamu anak baik, Nak," isaknya. "Terlalu baik. Ibumu beruntung."

"Bude, dengar." Aku menegakkan dudukku. Dinginnya beton kini terasa seperti sesuatu yang menyadarkanku. "Bagas sudah mengumpulkan dua juta dua ratus ribu. Dari kerja las malam dan akhir pekan. Uang Bagas sendiri, bukan pinjaman. Tinggal delapan ratus ribu lagi."

"Ya Tuhan..." bisiknya.

"Bagas mau mengirim dua juta dua ratus itu ke Bude. Sekarang. Malam ini juga, Bagas transfer. Bukan pelunasan β€” uang muka. Tanda kalau Bagas serius. Sisanya delapan ratus ribu, Bagas janji lunas dalam dua minggu. Bude tolak juragan itu. Tolong."

Hening panjang di seberang. Hanya terdengar napasnya yang tersengal-sengal.

"Nak..." katanya akhirnya. "Kamu yakin? Dua juta dua ratus itu... itu hasil keringatmu. Kamu tidak takut Bude... Bude tidak bisa mengembalikannya kalau..."

"Bagas percaya sama Bude," potongku. "Sama seperti Ibu percaya sama Bude waktu menitipkan gelang itu. Kepercayaan itu tidak putus di Bagas, Bude. Ia terus jalan."

Isak tangisnya pecah di seberang β€” tangis lega yang sudah terlalu lama ditahan. "Baik, Nak. Baik. Bude terima. Bude tolak juragan itu besok pagi. Bude janji β€” demi anak Bude yang sedang sakit ini β€” Bude janji gelang itu tidak akan ke mana-mana sampai kamu melunasinya."

"Terima kasih, Bude," kataku, dan air mataku jatuh β€” di tangga asrama yang dingin, pukul setengah dua belas malam. "Jaga kesehatan anak Bude. Dan... sampaikan ke Ibumu β€” maksudku, ke Ibu β€” kalau Bagas baik-baik saja. Jangan biarkan Ibu khawatir."

Setelah sambungan terputus, aku duduk lama di tangga itu. Lalu aku membuka aplikasi bank di ponselku β€” aplikasi yang saldonya selama ini hanya berisi angka-angka kecil untuk makan β€” dan mentransfer dua juta dua ratus ribu ke rekening Bude. Nomor rekeningnya kuminta dari Ibu lewat pesan singkat, dengan alasan yang tidak kujelaskan. Ibu hanya membalas: "Bu, percaya sama Bagas."

Jari-jariku gemetar saat menekan tombol konfirmasi. Bukan karena ragu. Karena aku baru saja melepaskan hampir semua yang kumiliki β€” dan anehnya, rasanya seperti meletakkan beban, bukan kehilangan sesuatu.

Amplop di bawah kasurku kini kosong. Buku catatanku kini menulis angka baru:

Terkirim ke Bude: Rp2.200.000 (uang muka) Kurang: Rp800.000 Tenggat: 14 hari

Nol rupiah di tangan. Lagi. Tapi kali ini nol yang berbeda β€” nol yang sudah bekerja, nol yang sedang berjalan menuju gelang nenek.

Aku naik ke kamar dan berbaring. Sebelum tidur, ponselku bergetar. Bapak menelepon.

"Bagas?" Suara Bapak terdengar lebih kuat dari terakhir kali kami bicara β€” CT scan dan obat-obatan rupanya bekerja. "Ibumu cerita. Tentang Bude-mu. Tentang uang yang kamu kirim."

Aku menegang. "Iya, Pak."

Hening sebentar. Lalu Bapak berkata β€” dengan suara yang pelan tapi mantap, suara yang sama seperti saat ia berkata "selesaikan" dulu:

"Bapak bangga sama kamu, Le."

Dadaku sesak.

"Dengar, Bapak mau bilang sesuatu." Bapak menarik napas. "Waktu Bapak muda, Bapak juga pernah di posisimu. Bukan gelang β€” tapi sawah. Sawah warisan kakekmu digadai untuk biaya Bapak merantau. Bapak bekerja tiga tahun di kota orang untuk menebusnya. Tiga tahun, Le. Tidur di emperan toko. Makan sekali sehari."

"Terus, Pak?"

"Sawah itu kembali. Tapi yang paling Bapak ingat bukan sawahnya." Suaranya melembut. "Yang paling Bapak ingat adalah malam ketika Bapak mengirim uang terakhir. Bapak duduk di emperan toko, memegang bukti transfer, dan Bapak menangis. Bukan karena sedih. Karena Bapak baru mengerti: warisan itu bukan sawah. Warisan itu adalah keberanian untuk menebusnya."

Aku tidak bisa bicara. Air mataku jatuh lagi β€” malam ini aku menangis lebih banyak daripada setahun terakhir.

"Bapak cuma mau bilang," lanjut Bapak. "Delapan ratus ribu itu bukan gunung, Le. Ia cuma batu. Dan kamu sudah memindahkan gunung dua juta dua ratus. Batu sisanya... tendang saja."

Aku tertawa kecil di tengah isak. "Iya, Pak."

"Dan satu lagi." Bapak terdiam sebentar. "Jangan lupa makan. Ibumu bilang kamu kurus. Kalau kamu sakit, siapa yang menendang batu itu?"

"Iya, Pak. Bagas janji makan."

"Bagus. Bapak tutup dulu. Ibumu mau bicara?"

"Titip salam buat Ibu, Pak. Bilang... bilang Bagas baik-baik saja. Sungguh."

Sambungan terputus. Aku menatap jam di pergelanganku dalam gelap. Tik, tik, tik.

Jam Bapak. Yang dulu berdetak seperti palu godam, kini berdetak seperti... seperti langkah kaki. Langkah kaki seseorang yang berjalan pulang.

Warisan itu bukan sawah. Warisan itu adalah keberanian untuk menebusnya.

Aku memejamkan mata dengan kalimat Bapak terngiang di kepala. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, aku tidur tanpa menghitung angka. Aku tidur dengan menghitung langkah β€” langkah kakiku sendiri, yang berjalan pulang menuju gelang nenek.

Pukul setengah lima pagi, sebelum alarmku berbunyi, ponselku bergetar.

Aku meraihnya dengan mata setengah terbuka. Nama yang muncul di layar membuatku duduk tegak seketika:

Bude menelepon.

Jantungku berdebar. Semalam kami sudah sepakat. Uang muka sudah kukirim. Apa lagi?

Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Halo? Bude?"

Hening beberapa detik di seberang. Lalu suara Bude β€” pelan, bergetar, dan terdengar... aneh. Bukan sedih. Bukan panik. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.

"Nak Bagas..." katanya. "Bude... Bude baru saja membuka lemari. Bude mau memastikan gelang itu masih ada, sebelum Bude menolak juragan itu pagi ini."

"Iya, Bude. Terus?"

"Gelang itu..." suaranya pecah, "di dalam bungkusan kainnya... ada sesuatu, Nak. Ada surat. Surat dari... dari Ibumu. Yang diselipkan waktu beliau menggadai dulu. Bude baru menemukannya sekarang."

Darahku berhenti mengalir.

"Surat?" bisikku. "Surat apa, Bude?"

"Bude belum berani buka, Nak." Isaknya terdengar. "Tulisan tangan Ibumu di amplopnya. Ditujukan... untukmu, Nak. Untuk Bagas."

Aku menatap dinding kamar asrama yang masih gelap. Di pergelanganku, jam Bapak berdetak β€” tik, tik, tik β€” dan kali ini setiap detaknya terdengar seperti ketukan di sebuah pintu yang belum pernah kubuka.

"Bacakan, Bude," kataku pelan. "Tolong... bacakan untuk Bagas."

Hening. Kudengar suara kertas dibuka β€” pelan, hati-hati, seperti membuka sesuatu yang suci.

Lalu Bude mulai membaca. Dan kata pertama yang keluar dari mulutnya membuat air mataku jatuh sebelum kalimatnya selesai:

"Untuk anakku Bagas, pundak pertama Ibu..."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!