β€Ή
53. Kamar yang Kembali Bernapas

Kamar yang Kembali Bernapas

Pundak Pertama β€’ 1,587 kata

Ilustrasi Kamar yang Kembali Bernapas

Pagi pertama setelah tiga hari di kampung, aku terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh bau.

Bau kamar yang tiga hari tidak dibuka: debu yang mengendap di atas lemari, lembap yang menempel di dinding, dan sisa aroma minyak goreng dari warteg di lantai bawah yang merayap naik lewat celah ventilasi. Tiga hari lalu aku meninggalkan kamar ini dengan tergesa β€” tas ransel, amplop cokelat di saku jaket, dan kepala penuh pertanyaan. Sekarang aku kembali, dan kamar ini menyambutku seperti cermin: sama persis, tidak berubah sedikit pun.

Tapi aku yang berubah.

Aku duduk di tepi kasur lipat, menatap jendela yang tertutup rapat. Di luar, suara kota sudah mulai: klakson motor, teriakan tukang sayur, dangdut dari kontrakan sebelah yang diputar sejak jam enam pagi β€” persis seperti tiga hari lalu, dan tiga tahun lalu. Dulu semua suara ini terdengar seperti kebisingan. Pagi ini, entah kenapa, terdengar seperti seseorang yang memanggil namaku.

Aku berdiri dan membuka jendela.

Udara pagi masuk β€” tidak sebersih udara kampung, ada bau knalpot dan gorengan di dalamnya β€” tapi tetap saja udara yang bergerak. Tirai tipis yang sudah menguning berkibar pelan. Cahaya masuk dan jatuh tepat di atas meja kecilku, di atas tumpukan nota dan amplop kosong. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat kamarku benar-benar: bukan sekadar tempat tidur untuk menumpang lelah, tapi ruangan tempat seorang manusia hidup.

"Aku pulang," kataku pelan. Entah pada siapa.

Hari itu aku tidak langsung berangkat kerja. Aku mengambil cuti satu hari β€” cuti yang sudah kuajukan sebelum berangkat ke kampung, dan baru kupakai sekarang. Bukan untuk istirahat. Untuk sesuatu yang lebih penting.

Aku membersihkan kamar.

Kedengarannya sepele. Tapi tiga belas tahun merantau, aku tidak pernah benar-benar membersihkan kamar kosku. Aku menyapu, ya. Mengepel, kadang-kadang. Tapi membersihkan β€” mengeluarkan semua barang dari lemari, mengelap debu di sela-sela yang tidak terlihat, mencuci tirai yang menguning, menggosok kerak di kompor kecil β€” itu tidak pernah kulakukan. Kamarku selalu dalam keadaan "cukup": cukup bersih untuk tidur, cukup rapi untuk tidak malu kalau ada yang datang. Tidak lebih.

Pagi ini aku ingin lebih.

Aku mulai dari lemari. Baju-baju kerja kulipat ulang. Kaus-kaus lama yang sudah melar dan bolong kumasukkan ke kantong plastik β€” untuk diberikan, bukan dibuang; di kampung selalu ada yang membutuhkan. Di rak paling bawah kutemukan map plastik biru yang sudah kusam. Aku membukanya, dan tanganku berhenti.

Ijazah SMA. Fotokopi KTP. Surat keterangan kerja yang pertama. Dan di antara tumpukan kertas itu, sebuah buku catatan kecil bersampul hijau β€” buku yang tidak kuingat kapan terakhir kubuka.

Aku duduk di lantai dan membukanya.

Tulisan tanganku dari entah berapa tahun lalu. Halaman-halamannya berisi hal-hal yang membuat dadaku sesak: sketsa motor β€” potongan mesin yang kugambar dari ingatan; daftar harga sparepart yang kusalin dari katalog bengkel; dan di halaman terakhir, sebuah daftar berjudul "Nanti, kalau sudah longgar".

Nanti, kalau sudah longgar. Satu: kursus otomotif. Dua: punya bengkel kecil sendiri. Tiga: kosong. Tidak pernah kutulis. Seolah bahkan untuk bermimpi pun aku kehabisan kata.

Aku menatap daftar itu lama. Kamar di sekelilingku setengah berantakan β€” lemari terbuka, baju berserakan β€” tapi aku tidak bergerak. Di kepalaku, aku berumur tujuh belas tahun lagi, jongkok di samping motor tua Ayah yang mogok di halaman, tanganku hitam oleh oli, dan Ayah tertawa melihatku sok tahu.

"Kau ini, Gas," katanya waktu itu, "motor belum tentu rusak, tapi tanganmu sudah pasti kotor."

Aku menutup buku itu pelan-pelan. Tidak sekarang, kataku pada diriku sendiri. Satu hal dalam satu waktu. Hari ini: kamar. Besok: entah.

Aku melanjutkan bersih-bersih sampai zuhur. Tirai ku cuci dan kujemur di tali di lorong. Kipas angin yang berderit kubongkar β€” ternyata hanya baut yang longgar dan debu setebal kain di baling-balingnya. Setelah kubersihkan dan kukencangkan, ia berputar tanpa suara, seolah berterima kasih. Kompor kecil kugosok sampai mengilap. Lantai kupel dua kali.

Menjelang sore, kamarku selesai. Bau lembap hilang, digantikan bau sabun dan udara yang bergerak lewat jendela yang kubiarkan terbuka. Cahaya sore masuk miring, jatuh di lantai yang masih sedikit basah. Aku berdiri di tengah ruangan, berkeringat, dan merasa seperti baru saja memindahkan sebuah gunung β€” padahal hanya kamar berukuran tiga kali empat meter.

Tapi rasanya seperti memindahkan gunung di dalam dadaku.

Sore itu aku menelepon Minah.

Minah, adik perempuanku, menjawab di dering ketiga dengan suara riang yang langsung membuatku tersenyum. "Mas! Sudah sampai kos?"

"Sudah dari kemarin sore," kataku. "Kau apa kabar?"

"Baik. Eh, Mas, Ibu cerita semuanya lewat telepon. Tentang surat Yati. Tentang makam. Aku nangis di kos, Mas. Temanku sampai panik, dikira aku putus cinta."

Aku tertawa. "Terus kau bilang apa?"

"Kubilang: ini lebih sedih dari putus cinta. Ini tentang orang yang tidak pernah sempat pamit."

Kami mengobrol lama β€” tentang Dimas yang mulai bersiap ikut pelatihan las minggu depan, tentang Nenek yang menurut Ibu "senyum-senyum sendiri sejak pulang dari makam", tentang Bude yang sekarang rajin ke musholla memantau perbaikan atap. Lalu Minah diam sebentar.

"Mas," katanya, suaranya melembut. "Ibu juga cerita... tentang pertanyaan Nenek. Tentang calon istri."

Aku memejamkan mata. "Minah..."

"Aku cuma mau bilang," potongnya cepat, "aku setuju sama Ibu. Mas sudah tiga puluh. Bukan soal nikah atau tidak β€” itu urusan Mas. Tapi soal... Mas hidup untuk siapa, sih, selama ini?"

Pertanyaan itu jatuh di antara kami seperti batu ke dalam sumur. Dalam. Bergema.

"Aku hidup untuk kalian," kataku akhirnya, pelan.

"Aku tahu. Dan kami berterima kasih, Mas. Sungguh. Tapi..." Minah menarik napas. "Dimas sudah besar. Aku sudah bisa jaga diri. Ibu juga bilang dia tidak mau Mas memikul sendirian terus. Jadi pertanyaannya tetap: kalau kami semua sudah bisa berdiri, Mas mau berdiri di mana?"

Aku tidak menjawab. Di luar jendela, langit mulai oranye. Dari kontrakan sebelah, lagu dangdut berganti ke lagu yang lebih pelan.

"Mas masih di sana?" tanya Minah.

"Masih. Aku cuma... sedang melihat kamarku. Baru kubersihkan seharian."

"Terus?"

"Terus aku sadar," kataku perlahan, "tiga belas tahun aku tinggal di kamar ini, dan baru hari ini aku benar-benar melihatnya."

Minah diam. Lalu ia berkata, pelan sekali, "Mungkin itu awalnya, Mas. Melihat."

Setelah telepon ditutup, aku duduk lama di tepi kasur. Kata-kata Minah berputar di kepalaku: kalau kami semua sudah bisa berdiri, Mas mau berdiri di mana?

Aku mengambil buku catatan bersampul hijau itu lagi. Membukanya di halaman terakhir. "Nanti, kalau sudah longgar." Tiga belas tahun daftar itu menungguku longgar. Tiga belas tahun aku tidak pernah longgar β€” atau tepatnya, tiga belas tahun aku tidak pernah mengizinkan diriku longgar.

Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan: aku mengambil kertas, dan menulis surat.

Bukan surat untuk Ibu β€” Ibu lebih suka ditelepon. Bukan untuk Dimas atau Minah. Surat ini kutujukan kepada Yati.

Aku tahu ia mungkin sudah tiada β€” surat wasiatnya tidak menjelaskannya, dan tidak ada yang berani bertanya. Tapi suratnya yang kubacakan di makam Ayah terasa seperti percakapan yang belum selesai. Ada hal yang ingin kukatakan, sebagai anak dari laki-laki yang pernah menolongnya di terminal yang hujan, tiga puluh tahun sebelum aku lahir.

Aku menulis dengan tangan, di halaman kosong di bagian belakang buku catatan hijau itu.

"Bu Yati,

Terima kasih untuk surat Ibu yang kubacakan di makam Ayah. Aku membacakannya dengan suara keras β€” untuk Ayah, untuk angin pagi, untuk bunga kamboja yang berjatuhan.

Uang seratus ribu itu tidak kami belanjakan. Nenek memutuskan: untuk atap musholla, atas nama Slamet. Biar jadi sedekahnya β€” sedekah yang menunggu tiga puluh tahun untuk sampai. Kemarin Pak RT sudah dihubungi. Sebelum musim hujan tiba, atap itu akan diperbaiki. Setiap tetes hujan yang tidak lagi bocor adalah doa untuk Ayah. Dan untuk Ibu juga.

Ibu menulis: 'Titip Bagas, Met. Dia sudah memikul cukup lama. Doakan dia berani bahagia.'

Aku membaca kalimat itu tiga kali di makam. Lalu kubaca lagi di bus. Lalu kubaca lagi semalam, sebelum tidur.

Bu Yati, aku tidak tahu apakah Ibu masih ada di dunia ini saat surat yang tidak akan kukirim ini kutulis. Tapi aku ingin Ibu tahu: doa Ibu sampai. Bukan lewat langit, tapi lewat adikku Dimas yang menggenggam bahuku di makam dan berkata pundak pertama boleh capek. Lewat ibuku yang akhirnya mau berbagi pikulannya. Lewat nenekku yang berjalan pulang dengan langkah tegak setelah meletakkan beban tiga puluh tahun.

Aku sedang belajar berani, Bu. Pelan-pelan. Seperti Ibu memutar seratus ribu menjadi keberanian, tiga puluh tahun yang lalu.

Terima kasih sudah menjaga Ayahku β€” dengan cara Ibu β€” bahkan setelah ia tiada.

Bagas"

Aku menyalinnya ke selembar kertas yang lebih bagus, melipatnya rapi, memasukkannya ke dalam amplop kosong, dan menyimpannya di laci meja β€” di samping foto Ayah yang sudah menguning. Surat yang tidak akan dikirim, untuk perempuan yang mungkin sudah tiada, tentang laki-laki yang sudah tiada. Dan anehnya, setelah menulisnya, dadaku terasa lebih lapang β€” seolah ada satu lagi beban tak terlihat yang baru saja kuletakkan.

Malam itu, sebelum tidur, aku mengambil kertas kecil. Di atasnya kutulis tiga hal β€” bukan "nanti, kalau sudah longgar", tapi "sekarang, selagi aku berani".

Satu: menabung terpisah β€” untuk diriku sendiri, bukan untuk dikirim. Dua: meletakkan buku catatan hijau di tempat terlihat β€” supaya aku tidak lupa lagi. Tiga: ...

Baris ketiga kutulis, lalu kubaca tiga kali. Tanganku gemetar sedikit β€” bukan karena takut, tapi karena rasanya seperti melompat dari tepi jurang yang selama ini hanya berani kupandangi dari jauh.

Lalu kutempel kertas itu di dinding, tepat di samping jendela yang kubuka pagi tadi.

Di luar, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Aku berbaring, menatap kertas kecil itu dalam cahaya lampu kamar, dan untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun, aku tidur dengan sebuah rencana yang bukan tentang orang lain.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!