β€Ή
97. Keputusan di Meja Makan

Keputusan di Meja Makan

Pundak Pertama β€’ 1,227 kata

Ilustrasi Keputusan di Meja Makan

Keesokan paginya, tidak ada yang langsung mengumumkan keputusan besar. Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi sebelumnya di rumah ini. Ibu memasak di dapur, Bapak menyiram tanaman di halaman depan, Nadia menyiapkan ruang jahitnya, dan aku membantu Ibu mengangkat jemuran yang sudah kering sejak kemarin. Tapi di antara kegiatan-kegiatan biasa itu, ada satu hal yang kami semua tahu akan dibicarakan, yaitu sertifikat yang masih atas nama almarhum kakekku.

Setelah sarapan, Bapak sendiri yang memulainya, tanpa pidato panjang. Ia meletakkan map sertifikat itu di tengah meja makan, lalu berkata dengan tenang, "Kita bicarakan ini sekarang, selagi kita semua ada di rumah. Bapak tidak mau ini diputuskan diam-diam, lalu nanti ada yang merasa tidak tahu."

Ibu duduk di samping Bapak, Nadia duduk di hadapanku, dan aku duduk di samping Nadia, sehingga kami berempat mengelilingi meja itu seperti kami mengelilingi dinding yang dicat kemarin. Tidak ada yang terburu-buru. Bapak menjelaskan lagi dengan singkat apa yang sudah kami temukan kemarin, bahwa sertifikat masih atas nama kakek, bahwa untuk membalik namanya diperlukan surat keterangan ahli waris dan persetujuan adik-adik Bapak, dan bahwa semua itu memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Ibu adalah yang pertama menanggapi. Ia berkata bahwa ia setuju urusan ini dibereskan, tapi tidak dengan cara terburu-buru dan tidak dengan cara memaksakan diri. "Kalau memang perlu biaya, kita hitung dulu, Gas," katanya. "Jangan sampai mengurus surat malah membuat dapur kita susah. Pelan-pelan, tapi jalan terus. Itu yang paling penting."

Aku mengangguk, karena kalimat Ibu itu terasa seperti kelanjutan dari semua pelajaran kecil di rumah ini. Dinding diperbaiki bukan dalam satu hari yang gegap gempita, melainkan dengan lemari yang digeser, dinding yang dikeringkan, lalu dicat bersama. Surat pun seharusnya begitu. Tidak perlu selesai besok, asal setiap minggu ada satu langkah yang benar-benar dikerjakan.

Nadia kemudian menambahkan sesuatu yang membuatku tersentuh. Ia berkata bahwa ia ingin ikut membantu, bukan hanya dengan mencatat, melainkan juga dengan menyiapkan berkas-berkasnya. Ia menawarkan diri untuk mengetik daftar dokumen yang diperlukan, untuk menyimpan fotokopinya dalam satu map khusus, dan untuk mengingatkan jadwal kunjungan berikutnya ke kantor kelurahan, supaya tidak ada lagi alasan nanti saja.

"Aku juga bagian dari keluarga ini," kata Nadia dengan suara yang tenang tapi tegas. "Kalau Gas yang menanggung semuanya sendirian, itu sama saja seperti dulu, ketika Bapak menanggung semuanya sendirian. Kita sudah belajar dari dinding itu, kan? Kalau bocor, tunjukkan. Kalau berat, ceritakan."

Bapak menatap Nadia lama, lalu mengangguk. Aku melihat matanya berkaca-kaca sebentar, tapi ia segera tersenyum, seperti orang tua yang lega karena anak-anaknya akhirnya memahami sesuatu tanpa harus ia jelaskan berulang-ulang. Ia berkata, "Iya, Nak. Bapak setuju. Kali ini kita kerjakan bersama."

Giliranku berbicara setelah itu, dan aku menyampaikan apa yang sudah kupikirkan sejak semalam. Aku berkata bahwa aku bersedia menemani Bapak pada setiap langkahnya, mulai dari menanyakan daftar persyaratan yang lengkap ke Pak Arman, sampai menghubungi adik-adik Bapak satu per satu dengan cara yang sopan, tidak mendesak, dan menjelaskan bahwa ini bukan soal membagi harta, melainkan soal merapikan nama di surat agar kelak tidak menyulitkan siapa pun. Aku juga berkata bahwa aku tidak ingin keputusan ini membuat hubungan Bapak dengan adik-adiknya menjadi renggang, karena rumah ini dulu juga dibangun dengan bantuan keluarga besar itu.

Bapak mengangguk lagi, kali ini lebih pelan dan lebih dalam. Ia berkata bahwa itulah yang selama ini ia khawatirkan, bukan biayanya, bukan waktunya, melainkan menjaga hubungan baik dengan adik-adiknya. Ia tidak mau surat yang dibereskan justru merusak silaturahmi yang sudah dijaga puluhan tahun. Karena itu, ia setuju dengan caraku, yaitu menghubungi mereka dengan baik-baik, menjelaskan maksudnya, dan memberi mereka waktu untuk berpikir.

Setelah semua pendapat itu disampaikan, kami pun merumuskan keputusan kami bersama, dengan kata-kata yang sederhana dan bisa kami pegang. Pertama, kami akan memulai proses balik nama itu, tidak ditunda lagi, tapi dilakukan bertahap. Kedua, langkah pertama kami adalah kembali ke Pak Arman untuk meminta daftar persyaratan tertulis yang lengkap, supaya kami tidak datang dengan tebakan. Ketiga, Bapak akan menghubungi adik-adiknya satu per satu, dan aku akan menemaninya, baik saat menelepon maupun saat berkunjung, supaya Bapak tidak mengurusnya sendirian. Keempat, biaya akan dihitung bersama dan disiapkan sedikit demi sedikit, tanpa memaksakan diri dan tanpa mengorbankan kebutuhan sehari-hari.

Ibu menuliskan keputusan itu di buku catatan Nadia, dengan tulisan tangannya yang rapi, lalu ia membacakannya kembali untuk memastikan kami semua sepakat. Kami semua mengangguk. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada suasana haru yang dibuat-buat, hanya anggukan yang tenang dan rasa lega yang pelan-pelan mengisi ruangan. Rasanya seperti setelah mengecat dinding, ketika kami berdiri bersama dan melihat hasilnya, sederhana tapi nyata.

Siang itu, kami makan siang bersama dengan lauk yang sederhana, sayur dan tempe serta sambal buatan Ibu. Pembicaraan kami tidak lagi berkutat pada sertifikat. Kami membicarakan pesanan jahitan Nadia yang harus diambil sore nanti, tanaman Bapak yang mulai berbunga, dan rencana kecil untuk membersihkan gudang akhir pekan nanti. Aku menyadari, keputusan besar tidak selalu harus diikuti dengan hari yang besar pula. Kadang keputusan besar justru diikuti dengan hari yang biasa saja, dan justru di situlah letak ketenangannya.

Sore harinya, Bapak mengajakku ke teras belakang lagi. Di sana, ia tidak membahas sertifikat itu lebih jauh. Ia hanya memandang kamar belakang yang catnya sudah kering sempurna, lalu berkata, "Lihat, Gas. Kamar ini dulu basah, sekarang kering. Surat itu dulu tertunda, sekarang sudah mulai jalan. Semuanya sama, asal kita mau membuka dan membereskannya bersama."

Aku mengangguk, dan Bapak melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, hampir seperti bisikan, "Bapak titip satu hal lagi. Warisan itu bukan hanya rumah dan surat, Gas. Warisan itu juga cara kita hidup. Cara kita tidak menyimpan masalah sendirian, cara kita duduk bersama di meja makan dan memutuskan bersama. Kalau itu yang kamu warisi, Bapak sudah tenang."

Kalimat itu tidak membuatku menjawab dengan kata-kata besar. Aku hanya duduk di sampingnya lebih lama dari biasanya, mendengarkan suara burung sore dan suara Nadia yang sedang mengukur kain di kamar belakang. Aku memikirkan semua hari yang sudah kami lewati, dari atap yang diperbaiki, dinding yang dicat, sampai surat yang mulai dibereskan, dan aku merasa ada benang yang menghubungkan semuanya, yaitu bahwa keluarga ini sedang belajar, pelan-pelan, untuk tidak lagi memikul beban sendirian.

Malam itu, sebelum tidur, Bapak menghampiriku di ruang tengah dan berkata, "Besok pagi, kita mulai dari langkah pertama. Kita ke tempat Pak Arman lagi, minta daftarnya yang tertulis. Kamu temani Bapak, ya?"

Aku menatapnya dan mengangguk tanpa ragu. "Iya, Pak. Besok pagi, kita berangkat bersama."

Bapak tersenyum, menepuk pundakku sekali, lalu berjalan ke kamarnya dengan langkah yang pelan tapi mantap. Sebelum tidur, aku menyiapkan tas kain cokelat itu di dekat pintu, memasukkan buku catatan Nadia dan pulpen, supaya besok pagi kami tidak terburu-buru mencari-cari. Aku juga menuliskan tiga pertanyaan kecil di buku itu, tentang surat keterangan ahli waris, tentang fotokopi yang diperlukan, dan tentang urutan langkah yang harus kami tempuh, agar kunjungan kami besok benar-benar menghasilkan daftar yang jelas, bukan sekadar obrolan yang terlupakan sesampainya di rumah.

Aku tetap duduk sebentar di ruang tengah, memandang map sertifikat yang sudah tersusun rapi di atas lemari, dan di dalam hati aku membuat janji yang tidak kuucapkan dengan suara keras, tapi kurasakan dengan jelas. Aku tidak akan membiarkan langkah pertama itu tertunda lagi. Besok pagi, kami akan berangkat bersama, dan apa pun daftar yang diberikan Pak Arman, kami akan mengerjakannya satu per satu, sebagai keluarga, sampai nama di sertifikat itu akhirnya sesuai dengan rumah yang sudah dirawat dengan cinta selama puluhan tahun ini.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!