Jari yang Kaku di Pagi Hari
Pundak Pertama β’ 1,332 kata
Malam itu, setelah Ibu mengulurkan kedua tangannya di atas meja, tidak ada yang langsung bicara.
Aku menatap tangan itu, dan untuk pertama kalinya aku benar-benar melihatnya, bukan sekadar melihatnya bekerja. Telapaknya sudah tidak semulus dulu, ada garis-garis halus yang dalam, ujung jarinya sedikit menebal, dan ketika ia mencoba merapatkan jari-jarinya, ada getaran kecil yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Getaran itu halus, seperti getaran daun yang tertiup angin pelan, tetapi karena ruangan itu sunyi, getaran itu terasa sangat jelas. Nadia menatap tangan ibunya, lalu menatap wajah ibunya, dan matanya berkaca-kaca tanpa ia sadari. Ia tidak menangis dengan suara. Air matanya hanya menggenang, seperti orang yang baru mengerti sesuatu yang selama ini ada di depan matanya tetapi tidak pernah ia perhatikan dengan sungguh-sungguh.
"Sudah berapa lama, Bu?" tanya Nadia, suaranya hampir berbisik.
Ibu menarik tangannya perlahan, meletakkannya di pangkuannya, dan menjawab dengan jujur yang membuat dada aku sesak. "Berbulan-bulan. Mungkin sejak sebelum Ayah sakit. Awalnya hanya kesemutan kalau pagi, jari-jari terasa kaku, seperti baru bangun dari tidur yang terlalu lama. Ibu pikir itu karena capek, karena umur, karena terlalu banyak mengupas bawang, terlalu banyak memeras kain. Lama-lama, kesemutannya datang juga sore hari, kadang saat Ibu sedang memegang jarum, kadang saat Ibu sedang menulis daftar belanja. Pernah, satu kali, jarum jatuh dari tangan Ibu saat Ibu mencoba menjahit kancing baju Ayah yang lepas. Ibu pungut lagi, Ibu lanjutkan, Ibu pikir tidak apa-apa."
Ia berhenti, menarik napas, lalu melanjutkan, "Ibu tidak cerita karena Ibu tidak mau menambah beban. Ayah sedang sakit, Mas Bagas dan Nadia sedang mengatur jadwal, sedang memikirkan pindah bertahap, sedang memikirkan mesin jahit Ibu. Kalau Ibu cerita soal tangan ini, Ibu takut kalian membatalkan semuanya. Takut kalian bilang, sudah, tidak usah menjahit lagi. Padahal menjahit itu satu-satunya hal yang Ibu tunggu-tunggu untuk dirinya sendiri."
Aku mendengarkan, dan aku merasa bersalah dengan cara yang pelan tetapi dalam. Selama ini, aku dan Nadia memang selalu datang dengan solusi. Kami menata jadwal, kami membagi tugas, kami merasa sudah membantu. Tetapi kami tidak pernah bertanya kepada Ibu, dengan sungguh-sungguh, bagaimana tangannya, bagaimana badannya, bagaimana perasaannya, di luar perannya sebagai pendamping Ayah. Kami menganggap Ibu selalu kuat karena ia selalu ada. Dan malam ini, Ibu sedang mengajari kami, dengan cara yang paling sederhana, bahwa selalu ada tidak sama dengan selalu kuat.
"Ibu tidak minta kalian khawatir berlebihan," kata Ibu, menatap kami bergantian. "Ibu hanya minta satu hal: temani Ibu periksa. Diam-diam dulu, tanpa Ayah tahu. Bukan karena Ibu mau berbohong kepada Ayah, tetapi karena Ibu mau tahu dulu, ini kenapa, seberapa serius, dan apa yang masih bisa Ibu lakukan. Kalau ternyata tidak serius, Ibu yang akan cerita sendiri kepada Ayah, dengan tenang. Kalau ternyata perlu istirahat panjang, barulah kita pikirkan bersama bagaimana mengatakannya."
Nadia mengangguk cepat, seperti orang yang lega karena akhirnya ada sesuatu yang bisa ia lakukan, tetapi aku menahan diri sejenak. Aku memikirkan Ayah, Pak Suryo, yang baru saja belajar memperhatikan istrinya, yang baru saja bertanya "Ibu sudah sarapan?" di tengah latihan pagi. Menyembunyikan sesuatu dari Ayah, bahkan untuk sementara, terasa bertentangan dengan semua yang kami bangun minggu ini: keterbukaan, kejujuran, tidak saling menambal diam-diam. Tetapi aku juga memikirkan Ibu, yang baru saja mengumpulkan keberanian selama berbulan-bulan untuk bicara, dan yang meminta satu hal kecil: waktu untuk tahu dulu, sebelum kabar itu menjadi kekhawatiran orang lain.
Akhirnya aku berkata, pelan, "Baik, Bu. Kita periksa dulu, diam-diam, seperti yang Ibu minta. Tapi dengan satu janji: apa pun hasilnya, kita tidak menyimpannya terlalu lama. Ayah berhak tahu, pada waktunya, dengan cara yang tenang. Dan Ibu tidak boleh menanggung ini sendirian lagi, apa pun hasilnya."
Ibu mengangguk, dan untuk pertama kalinya malam itu, bahunya turun, seperti orang yang baru meletakkan beban yang lama ia pikul sendirian. Nadia memeluk ibunya dari samping, lama, dan Ibu membiarkan dirinya dipeluk, tidak seperti biasanya yang selalu buru-buru bangun untuk mengerjakan hal lain. Kami bertiga duduk begitu beberapa saat, tidak bicara, hanya ditemani bunyi jam dinding dan suara jangkrik dari halaman. Aku merasa, malam ini, rumah ini belajar satu hal lagi: bahwa merawat seseorang bukan hanya mengatur jadwalnya, melainkan juga berani mendengar hal yang selama ini ia simpan, bahkan ketika hal itu membuat rencana yang sudah rapi menjadi goyah lagi.
Sabtu pagi, kami melaksanakan janji itu dengan cara yang sesederhana mungkin, agar Ayah tidak curiga dan agar Ibu tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar dan menakutkan. Setelah sarapan, Nadia menemani Ayah latihan pagi di gang, dengan rute yang sama dan tongkat yang sama, sementara aku mengantar Ibu ke klinik kecil di dekat pasar, tempat seorang dokter umum yang sudah lama dikenal keluarga itu praktik. Ibu memakai baju yang rapi tetapi biasa, membawa tas kecilnya, dan sepanjang perjalanan ia tidak banyak bicara. Ia hanya menatap jalan, sesekali meremas jari-jarinya sendiri, seperti orang yang sedang membiasakan diri dengan kenyataan bahwa hari ini, untuk pertama kalinya, tangannya yang diperiksa, bukan tangan orang lain yang ia rawat.
Di klinik, dokter itu, seorang perempuan paruh baya yang bicaranya pelan dan tidak tergesa-gesa, memeriksa tangan Ibu dengan saksama. Ia menanyakan sejak kapan kesemutan itu datang, apakah jari-jari kaku di pagi hari, apakah ada rasa nyeri yang menjalar ke pergelangan, apakah Ibu sering melakukan gerakan berulang dengan tangan, seperti menjahit, mengupas, memeras. Ibu menjawab satu per satu, dengan jujur, dan aku duduk di sampingnya, mendengarkan, mencatat dalam hati setiap jawaban, karena aku tahu Nadia akan bertanya detailnya nanti, dan karena aku ingin, kali ini, catatan aku bukan hanya soal Ayah.
Dokter itu kemudian berkata dengan nada yang menenangkan, tetapi tidak meremehkan, bahwa keluhan seperti ini sering terjadi pada orang yang bertahun-tahun bekerja dengan tangan, dan bahwa yang paling penting sekarang adalah memastikan tidak ada saraf yang terjepit dan tidak ada peradangan yang dibiarkan. Ia menyarankan Ibu untuk melakukan latihan peregangan tangan setiap pagi, kompres hangat kalau kaku, dan yang paling sulit bagi Ibu: membatasi jahitan terus-menerus, tidak lebih dari setengah jam sekali duduk, lalu istirahat, lalu boleh lanjut lagi. Ia juga meminta Ibu kembali dua minggu lagi, atau lebih cepat kalau kesemutan itu semakin sering, atau kalau ada jari yang terasa melemah. Mendengar itu, aku memikirkan diri aku sendiri, dan betapa tipisnya batas antara merawat dan mengatur. Aku adalah anak pertama, suami, menantu, pekerja yang bolak-balik Cirebon-Jakarta, dan selama ini aku mengukur bakti aku dari seberapa rapi jadwal yang aku susun. Hari ini aku belajar, bakti itu kadang hanya duduk di samping seseorang di ruang periksa, mendengarkan, dan tidak langsung mengubah hidupnya menjadi daftar tugas baru.
"Itu saja?" tanya Ibu, dengan nada yang setengah lega, setengah tidak percaya. "Jadi Ibu masih boleh menjahit?"
Dokter itu tersenyum. "Boleh, Bu. Justru jangan berhenti sama sekali, karena tangan juga perlu bergerak. Tetapi menjahitnya harus dengan cara baru: pelan, dengan jeda, tanpa dipaksakan. Kalau dipaksakan sampai kesemutan, itu yang justru memperburuk."
Di perjalanan pulang, Ibu diam lama, menatap jalan yang sama seperti saat berangkat, tetapi dengan wajah yang berbeda. Lega, tetapi juga sedih, seperti orang yang baru saja mendengar bahwa mimpinya masih boleh jalan, tetapi tidak dengan cara yang dulu. Aku tidak menghiburnya dengan kalimat-kalimat besar. Aku hanya berkata, "Berarti Rabu sore Ibu tetap jalan, Bu. Mesinnya minggu depan diambil, polanya sudah ada. Kita mulai dari pola itu, setengah jam sekali duduk, seperti kata dokter."
Ibu mengangguk, tersenyum tipis, lalu berkata, "Ibu senang, Mas. Ibu senang karena ternyata Ibu tidak perlu berhenti. Ibu hanya perlu belajar cara baru."
Kami sampai di rumah menjelang siang. Ayah dan Nadia sudah kembali dari latihan pagi, dan Ayah sedang duduk di teras, minum air putih. Begitu melihat kami masuk, Ayah menoleh, menatap Ibu, lalu bertanya dengan nada yang biasa saja, tetapi bagi aku dan Ibu, pertanyaan itu terasa seperti ujian yang tidak kami siapkan: "Ibu tadi ke mana? Kok pulangnya bareng Mas Bagas?"
Ibu menatap aku sekilas, sekilas saja, dan aku tahu, jawaban atas pertanyaan itu, dan janji yang kami buat semalam, akan diuji tepat di teras ini, di hadapan orang yang paling berhak tahu, tetapi yang belum kami beri tahu.