Tiga Piring di Lantai Kos
Pundak Pertama β’ 1,763 kata
Aku terbangun karena bau bawang goreng.
Bukan bau yang asing β justru terlalu akrab. Bau yang selama dua puluh tahun menjadi penanda pagi di rumah kami: Ibu menggoreng bawang untuk taburan, Bapak menyeduh kopi di teras, dan aku berebut kamar mandi dengan adik-adikku. Tapi aku tidak sedang di rumah. Aku di kosku yang sempit, di atas kasur tipis, dan untuk beberapa detik yang membingungkan, aku tidak tahu di mana ujung mimpi dan di mana awal kenyataan.
Lalu aku mendengar suara sutil beradu dengan wajan kecilku, dan suara Ibu bersenandung pelan β lagu Jawa lama yang biasa beliau dendangkan sambil memasak. Aku membuka mata. Cahaya pagi merembes lewat jendela kecil, dan di lantai dapur mungilku β yang sebenarnya hanya sudut kamar berukuran dua kali dua meter β Ibu jongkok di depan kompor kecilku, menggoreng sesuatu di wajan yang sudah lama tidak kugunakan untuk apa pun selain mie instan.
"Bu?" suaraku serak.
Ibu menoleh, tersenyum. "Bangun, Le. Ibu masak. Perutmu itu dari kemarin bunyi terus, Ibu dengar waktu kamu tidur."
Aku duduk, mengucek mata. Di sudut lain, Bude sedang melipat sarungku dan kaos-kaosku yang selama ini kugulung asal-asalan di lemari plastik. Gerakannya rapi dan cepat, seperti sudah hafal caranya membereskan kamar anak laki-laki.
"Jam berapa Ibu bangun?" tanyaku.
"Setengah lima. Ibu tidak bisa tidur β kasurmu terlalu empuk." Ibu terkekeh, lalu menunjuk tikar tempat beliau dan Bude tidur semalam. "Bude juga sama. Akhirnya kami ke warung depan gang, beli telur sama tempe. Penjualnya baik, masih ingat kamu. Katanya kamu selalu beli teh hangat kalau lembur."
Aku berdiri, berjalan ke arahnya dengan kaki telanjang yang dingin menyentuh lantai semen. Di atas kompor, telur dadar mengembang keemasan. Di sampingnya, sudah ada piring berisi tempe goreng dan sambal yang β aku yakin β Ibu buat dari cabai dan bawang yang beliau bawa dari kampung di tas kainnya. Ibu selalu begitu: bepergian ke mana pun, di tasnya pasti ada bekal bumbu.
"Cuci muka dulu," kata Ibu tanpa menoleh. "Nanti sarapan bareng. Sudah lama Ibu tidak masak untukmu."
Kalimat terakhir itu diucapkannya ringan, tapi aku menangkap getar kecil di ujungnya. Sudah lama. Terakhir kali Ibu memasak untukku adalah tiga tahun lalu, saat aku pulang kampung waktu Lebaran β dan sebelum itu, waktu aku masih tinggal di rumah. Sejak merantau, sarapanku adalah warteg, nasi uduk bungkus, atau β di hari-hari paling hemat β teh hangat dan singkong rebus dari warung.
Aku mencuci muka di kamar mandi umum ujung gang, dan saat kembali, semuanya sudah tertata di lantai kamarku: tikar pandan yang semalam jadi alas tidur kini menjadi alas makan. Tiga piring. Tiga gelas teh hangat. Telur dadar, tempe goreng, sambal, dan nasi dari rice cooker kecilku yang β aku baru sadar β ternyata masih berfungsi.
Kami duduk bersila. Tiga piring di lantai kos yang sempit. Dan entah kenapa, pemandangan sederhana itu membuat tenggorokanku tercekat.
"Makan, Le," kata Ibu, menyendokkan nasi ke piringku dengan porsi yang terlalu banyak, seperti biasa. "Kamu itu kalau makan sedikit-sedikit, kapan gemuknya."
Bude tertawa pelan. "Ibumu ini, Gas. Dari dulu tidak pernah berubah. Waktu kamu kecil, piringmu selalu paling penuh, padahal kamu yang paling kurus."
"Kurus karena cacingan," sahutku, dan kami tertawa β tawa yang membuat kamar sempit ini terasa lapang.
Di tengah makan, mataku menangkap sesuatu: Ibu sedang memperhatikan sekeliling kamar dengan cara yang berbeda dari kemarin. Kemarin beliau terkejut dan sedih melihat keadaanku. Pagi ini, beliau mengamati β seperti sedang menghafal rutinitasku. Matanya berhenti di sepatu kerjaku yang kusemir tadi malam, di kemeja yang kugantung di paku dinding, di buku catatanku yang terbuka di atas meja kecil.
"Le," kata Ibu tiba-tiba, "boleh Ibu lihat buku catatanmu?"
Aku mengangguk. Ibu bangkit, mengambil buku itu, dan membukanya dari halaman pertama. Aku tahu isinya di luar kepala: catatan keuanganku selama tiga tahun terakhir. Setiap kiriman ke kampung. Setiap pengeluaran. Setiap utang. Setiap rencana.
Ibu membalik halaman demi halaman dengan pelan. Wajahnya tidak berubah, tapi tangannya β aku melihatnya β mulai bergetar kecil saat sampai di halaman bulan ini. Di sana, dengan tulisanku yang rapi, tercatat:
Kiriman Ibu: 1.500.000. Sekolah adik: 800.000. Cicilan tebus gelang β Pak Tomo: 500.000. Tebus jam Bapak β Pak Haji: 300.000. Sisa untuk Gas: 400.000.
Ibu menatap angka terakhir itu lama. Empat ratus ribu. Untuk sebulan. Untuk makan, bensin, kos, dan semua kebutuhan hidup di kota ini.
"Le," suara Ibu pelan sekali. "Empat ratus ribu... cukup?"
Aku menelan suapanku. "Cukup, Bu. Gas jarang jajan. Makan di warteg langganan, murah."
"Warungnya Bu Minah itu?" Bude menyahut. "Yang tadi pagi cerita kalau kamu sering cuma beli sayur sama kerupuk kalau akhir bulan?"
Aku menatap Bude. "Bude ngobrol sama Bu Minah?"
"Tadi pagi, waktu beli telur. Orangnya ramah." Bude tersenyum tipis. "Dia bilang... kamu anak yang baik. Tidak pernah berutang. Tapi katanya juga, kamu terlalu kurus untuk anak seumuranmu."
Ibu menutup buku catatanku perlahan. Beliau tidak menangis β aku tahu beliau menahannya, karena menjadi ibu dari anak pertama berarti juga belajar menahan tangis di depan anaknya. Beliau hanya mengusap sampul buku itu, lalu berkata, "Nanti, kalau sudah gajian... kiriman ke kampung dikurangi saja, Le. Ibu masih bisaβ"
"Bu." Aku memotongnya dengan lembut. "Jangan. Itu sudah keputusan Gas. Adik-adik masih sekolah. Ibu jangan pikirkan."
Ibu menatapku. Lama. Lalu beliau mengangguk β bukan karena setuju, tapi karena beliau mengenalku. Anak pertamanya. Yang kalau sudah memutuskan sesuatu, tidak akan bergeming.
Setelah sarapan, aku bersiap berangkat kerja. Ibu memaksaku memakai kemeja yang paling bagus β yang biasa kusimpan untuk acara kantor β dan menyetrikanya dengan setrika bututku sambil mengomel tentang kerah yang menguning.
"Bu, Gas cuma ke kantor biasa," protesku.
"Kantor biasa atau tidak, anak Ibu harus rapi." Ibu merapikan kerahku, lalu pandangannya turun ke pergelangan tanganku β ke gelang Nenek yang melingkar di sana sejak kemarin. Beliau menyentuhnya pelan. "Jaga ini, Le. Jangan sampai lepas."
"Iya, Bu."
"Ibu boleh ikut mengantar sampai depan kantor?" tanya Ibu tiba-tiba. "Ibu ingin tahu... di mana anak Ibu menghabiskan harinya."
Aku terdiam. Selama tiga tahun bekerja di kota ini, tidak satu pun anggota keluargaku pernah melihat kantorku. Mereka tahu aku kerja β "di kantor", kataku selalu, sesingkat itu. Ibu membayangkan gedung besar, mungkin. Kenyataannya, kantorku adalah ruko tiga lantai di jalan yang ramai, dengan dua puluh karyawan dan satu mesin fotokopi yang selalu macet.
"Boleh," kataku. "Tapi jalannya agak jauh. Naik ojek saja?"
"Tidak usah. Jalan kaki. Ibu ingin lihat jalan yang kamu lewati setiap hari."
Maka berangkatlah kami: aku dengan tas kerja bututku, Ibu dengan langkah mantap di sampingku, dan Bude yang memilih tinggal di kos karena β katanya β lututnya masih pegal setelah perjalanan bus kemarin. Sepanjang gang sempit, Ibu menyapa setiap orang yang berpapasan, dan setiap orang membalas dengan ramah β tukang sayur, anak-anak yang berangkat sekolah, ibu-ibu yang menjemur pakaian. Beberapa mengenaliku dan melambaikan tangan.
"Kamu dikenal di sini, ya, Le," kata Ibu.
"Tetangga baik-baik, Bu."
Kami melewati warung Bu Minah, dan perempuan paruh baya itu keluar sambil tertawa. "Lho, ini ibunya Bagas toh! Pantes anaknya sopan, ibunya begini!" Ibu tertawa, dan mereka mengobrol seperti sudah kenal sepuluh tahun, padahal baru bertemu tadi pagi.
Dua puluh menit berjalan kaki, gedung kantorku terlihat: ruko cat krem dengan papan nama yang hurufnya sudah mengelupas sebagian. Aku berhenti di seberang jalan, agak canggung.
"Itu, Bu. Kantor Gas. Lantai dua."
Ibu menatap bangunan itu lama. Tidak ada kekecewaan di wajahnya β hanya perhatian yang dalam, seperti sedang memotret dengan matanya. "Kamu kerja di lantai dua," gumamnya. "Jendelanya yang mana?"
"Yang kedua dari kiri. Mejaku dekat jendela."
"Bagus. Ada angin." Ibu mengangguk-angguk, lalu menatapku. "Le, boleh Ibu tanya sesuatu?"
"Apa, Bu?"
"Semalam Ibu bilang... tentang peti Nenek. Tentang pesan beliau: kalau cucuku yang pertama sudah berani membuka pintu yang paling dia takuti." Ibu menggenggam tanganku. "Kamu tahu... pintu apa yang dimaksud Nenek?"
Aku menggeleng pelan. "Gas kira... mungkin pintu gudang. Kan petinya di gudang."
Ibu tersenyum tipis β senyum yang sama seperti semalam, senyum yang menyimpan rahasia. "Nenek tidak pernah bicara yang gampang, Le. Kalau maksudnya pintu gudang, beliau akan bilang pintu gudang." Beliau mengusap punggung tanganku. "Pikirkan baik-baik. Nanti, kalau kamu sudah tahu jawabannya... kamu akan tahu kapan waktunya pulang."
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi jam di tanganku β bukan, jamku sudah tidak ada di sana. Refleksku meraih pergelangan kiri yang kosong, dan dadaku nyeri sejenak. Jam Bapak. Masih di tempat Pak Haji. Ibu melihat gerakanku, dan aku tahu beliau tahu.
"Sudah sana masuk," kata Ibu, mendorong bahuku pelan. "Nanti terlambat. Ibu pulang sendiri, Ibu hafal jalan."
"Buβ"
"Anak Ibu sudah besar. Ibu juga masih bisa jalan sendiri." Ibu tertawa, lalu tiba-tiba memelukku β cepat, erat, di pinggir jalan yang ramai. "Kerja yang baik, Le. Ibu bangga padamu."
Aku menyeberang jalan dengan tenggorokan tercekat, dan saat menaiki tangga ruko, aku menoleh sekali. Ibu masih berdiri di seberang jalan, melambaikan tangan, kecil di antara hiruk-pikuk pagi. Aku melambaikan tangan balik, lalu masuk.
Hari kerja berjalan seperti biasa: laporan, telepon, mesin fotokopi yang macet dua kali. Tapi ada yang berbeda β setiap kali aku melirik pergelangan tanganku dan melihat gelang Nenek berkilau di bawah lampu kantor, aku teringat tiga piring di lantai kos pagi tadi. Teringat tangan Ibu yang bergetar memegang buku catatanku. Teringat angka empat ratus ribu.
Saat jam istirahat makan siang, aku duduk di warteg langganan dengan rekan kerjaku, Andi. Baru dua suap, ponselku bergetar. Nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Le? Ini Pak Tomo."
Tanganku berhenti. Pak Tomo tidak pernah meneleponku β selama ini akulah yang selalu menghubunginya, menanyakan kabar gelang, memastikan semuanya baik-baik saja.
"Ada apa, Pak? Gelangnya tidak apa-apa kan?"
"Gelang tidak apa-apa, Le. Aman di lemari besi." Pak Tomo terdiam sejenak, dan aku mendengar beliau menarik napas panjang. "Tapi... kemarin sore ada orang datang ke toko. Perempuan tua. Dia menawar gelang Nenek."
Jantungku berdegup. "Menawar? Berapa?"
Pak Tomo menyebutkan angka itu β dan sendok di tanganku jatuh ke atas meja.
"Tiga puluh juta, Le. Tiga puluh juta untuk gelang itu. Saya tidak berani menjawab tanpa bicara dengan kamu dulu."
Di seberang meja, Andi menatapku dengan alis terangkat. Di sekelilingku, warteg tetap riuh seperti biasa. Tapi di telingaku, dunia mendadak sunyi β hanya menyisakan satu angka yang berdenging, dan satu pertanyaan yang tidak bisa kujawab: siapa perempuan tua itu, dan kenapa dia mau membayar tiga puluh juta untuk gelang Nenek?