β€Ή
16. Ujian Tengah

Ujian Tengah

Pundak Pertama β€’ 1,670 kata

Ilustrasi Ujian Tengah

Dua minggu berlalu seperti air yang dituang — cepat, dan tidak bisa digenggam.

Bagas mengisinya dengan cara yang hanya ia tahu: bangun paling pagi, tidur paling malam. Setiap istirahat ia mengulang teori, setiap sore ia berlatih di bilik las sampai tangannya kram. Wahyu ikut-ikutan belajar sampai larut, dan bahkan Yoga — Yoga yang dulu meremehkan praktik — kini sering berlatih diam-diam di bilik ujung, kadang melirik ke arah Bagas untuk memastikan tidak ada yang melihat ia berusaha keras.

Dan tibalah hari itu: evaluasi bulan pertama.

Bel berbunyi pukul empat seperti biasa, tetapi pagi itu tidak ada yang mengobrol di antrean kamar mandi. Enam puluh peserta bergerak seperti bayang-bayang: mandi, berpakaian, berbaris. Bahkan Wahyu diam — dan Wahyu yang diam adalah pertanda betapa tegangnya pagi itu.

Ujian tulis dimulai pukul tujuh di aula. Lima puluh soal: teori pengelasan, keselamatan kerja, membaca gambar teknik. Bagas mengerjakan satu per satu dengan tenang. Dua tahun di bengkel Pak Kardi memberinya lebih dari sekadar keterampilan tangan — ia tahu bau logam yang terlalu panas, tahu suara busur api yang tidak stabil, tahu semua hal yang tidak tertulis di buku. Di sebelahnya, Wahyu berkeringat sampai kertas ujiannya basah di ujung-ujungnya.

“Waktunya tiga puluh menit lagi,” kata pengawas.

Bagas memeriksa ulang jawabannya. Soal gambar teknik bukan lagi musuhnya — seminggu digembleng Pak Kardi dulu, ditambah sebulan mengulang setiap malam, telah mengubah garis-garis itu menjadi bahasa keduanya. Ia menutup kertasnya dan berdoa dalam hati, bukan untuk nilai, melainkan untuk ketenangan.

Istirahat satu jam. Di kantin, rumor beredar lebih cepat dari teh manis: yang dipulangkan bukan cuma dua orang, katanya, melainkan tiga. Tidak ada yang tahu dari mana rumor itu berasal, tetapi semua orang mempercayainya — ketakutan selalu lebih mudah dipercaya daripada harapan.

“Kalau aku pulang,” bisik Wahyu dengan suara gemetar, “ibuku pasti nangis. Beliau jual kambing buat ongkosku ke sini.”

Bagas menatap temannya. Tiba-tiba ia sadar: setiap orang di asrama ini membawa gelang ibunya masing-masing — dalam bentuk yang berbeda-beda. Kambing Wahyu. Apapun yang dipertaruhkan keluarga Yoga. Semua orang bertaruh.

“Kamu tidak akan pulang,” kata Bagas tegas. “Kamu semalam belajar sampai jam sebelas. Orang yang belajar tidak pulang.”

Ia tidak yakin itu benar. Tetapi kadang-kadang, kebohongan yang baik adalah satu-satunya obat yang tersedia.

Pukul satu siang, ujian praktik dimulai di bengkel. Peserta dipanggil berdasarkan nomor undian. Bagas mendapat nomor tujuh — ia menganggap itu pertanda baik, karena kamarnya juga nomor tujuh.

Setiap peserta mendapat dua keping plat baja dan satu gambar kerja: sambungan T, posisi datar dan posisi tegak. Waktu sembilan puluh menit. Tiga penguji berkeliling, dan salah satunya adalah Pak Bambang sendiri — dengan papan penilaian di tangan dan wajah yang tidak memberi petunjuk apa pun.

Bagas menurunkan topeng lasnya. Dunia menyempit menjadi titik cahaya biru-putih.

Ia mulai dari posisi datar. Tangannya bergerak stabil, menjaga jarak busur api, mengatur kecepatan. Api tidak bisa diburu. Api harus ditunggu. Suara Pak Kardi di kepalanya kini terdengar seperti doa. Manik las tersusun rapi, satu demi satu, seperti barisan semut yang disiplin.

Posisi tegak lebih sulit. Logam cair ingin jatuh mengikuti gravitasi, dan hanya kesabaran yang bisa menahannya. Keringat mengucur di dalam topengnya, menetes ke matanya yang perih, tetapi ia tidak berhenti. Berhenti berarti cacat. Cacat berarti gagal. Gagal berarti pulang — dan ia tidak bisa pulang. Belum. Tidak sebelum gelang ibunya kembali — dalam bentuk apa pun.

“Waktu habis. Topeng dibuka.”

Bagas mengangkat topengnya dengan tangan gemetar. Di hadapannya, hasil kerjanya tergeletak di meja: dua sambungan, maniknya rapi, tidak ada retak yang terlihat mata.

Pak Bambang berhenti di mejanya. Ia memeriksa sambungan itu dengan alat ukur, mengetuknya dengan palu kecil, mendekatkan wajahnya sampai hampir menyentuh logam. Lama. Terlalu lama.

Lalu ia mencatat sesuatu di papannya — dan berjalan pergi.

Tidak ada anggukan kali ini. Bagas menatap punggungnya dengan dada bergemuruh: apakah itu berarti baik, atau berarti buruk?

Di bilik ujung, Yoga mengangkat topengnya dengan wajah tegang. Bagas melirik hasil kerjanya dari jauh: sambungan tegaknya utuh. Tidak sempurna — tetapi utuh. Yoga menangkap tatapan Bagas, dan untuk pertama kalinya, anak kontraktor itu tersenyum lebar tanpa sisa kesombongan.

Pengumuman hasil ditempel di papan aula pukul delapan malam. Kerumunan peserta berdesakan dengan senter dan lampu ponsel. Bagas tidak ikut berdesakan — ia menunggu sampai kerumunan bubar, lalu berjalan mendekat dengan kaki yang terasa seperti bukan miliknya.

Peringkat dua. Dari enam puluh peserta.

Bagas membaca namanya tiga kali untuk memastikan. Di bawahnya: Yoga peringkat delapan — melonjak dari papan tengah. Wahyu peringkat dua belas — aman. Dan di daftar terpisah yang ditempel di sampingnya: dua nama yang harus berkemas malam ini juga. Bagas tidak mengenal mereka dekat, tetapi ia melihat salah satunya duduk di tangga asrama dengan kepala tertunduk, dan dadanya nyeri.

Di sini, setiap peringkat adalah nyawa seseorang, pikirnya. Setiap angka adalah kambing, gelang, atau sawah yang dipertaruhkan.

Wahyu memeluknya begitu keras sampai tulang rusuknya protes. “Peringkat dua! Gila kamu, Gas!”

Yoga menjabat tangannya — lama, erat, sungguhan. “Tanpa contekan simbol darimu, aku mungkin yang berkemas malam ini,” katanya pelan. “Aku... aku utang budi.”

“Bayar dengan traktir bakso nanti,” kata Bagas, dan mereka tertawa — tawa yang lega sampai terasa sakit.

Namun sebelum Bagas sempat menikmati apa pun, seorang staf kantor menepuk bahunya. “Bagas? Pak Bambang memanggil ke kantornya. Sekarang.”

Kantor Pak Bambang kecil dan rapi seperti barisannya: meja kayu, lemari arsip, dan satu bingkai foto yang dibalik menghadap dinding. Pak Bambang duduk di balik meja, menatap Bagas lama.

“Duduk,” katanya.

Bagas duduk di ujung kursi, punggung tegak.

“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?” tanya Pak Bambang.

“Tidak, Pak.”

Pak Bambang membuka sebuah map. “Perusahaan mitra kami — pabrik fabrikasi di Cikande — butuh juru las sekarang. Mereka mau ambil dua peserta terbaik untuk tes seleksi minggu depan. Gaji awal dua koma delapan juta. Kontrak dua tahun.”

Dua koma delapan juta. Angka itu menghantam Bagas seperti palu godam.

“Tapi,” lanjut Pak Bambang, “kalau kamu diterima dan ambil, kamu keluar dari program. Tidak dapat sertifikat nasional — hanya sertifikat perusahaan. Program ini tinggal dua bulan setengah. Pabrik tidak bisa menunggu.”

Bagas menelan ludah. “Kenapa saya, Pak?”

“Karena dari enam puluh orang, cuma tiga yang saya sodorkan. Dan kamu yang saya panggil duluan.” Pak Bambang menutup mapnya. “Kamu punya bakat, Bagas. Tanganmu jujur.” Ia terdiam sebentar. “Keputusan besar. Pikirkan baik-baik. Jawabanmu besok pagi.”

Bagas keluar dari kantor dengan kaki gemetar. Di kepalanya, angka-angka menari liar: dua koma delapan juta sebulan. Dalam dua bulan, ia bisa membelikan Ibu gelang baru — yang lebih bagus, seperti janjinya. Dalam sebulan, ia bisa membayar... apa pun yang dibutuhkan Bapak. Uang nyata, sekarang, bukan janji dua bulan setengah lagi.

Tetapi sertifikat nasional — tangga yang dibayar dengan gelang warisan neneknya — akan lepas dari tangannya.

Malam itu, saat ia masih bergulat dengan angka-angka di kepalanya, ponselnya bergetar di bawah bantal. Nama Ibu menyala di layar.

Jantung Bagas mencelos. Ibu tidak pernah menelepon selarut ini.

“Halo? Bu?”

“Nak...” Suara ibunya pelan, hati-hati — seperti orang yang membuka pintu yang tidak ingin dibuka. “Kamu sehat?”

“Sehat, Bu. Bagas sehat. Hari ini Bagas peringkat dua, Bu. Dari enam puluh orang.”

Hening. Lalu isak tertahan. “Ya Allah... Ibu bangga sekali, Nak.”

“Ibu kenapa menelepon malam-malam? Bapak... Bapak kenapa?”

Ibunya terdiam lama. Terlalu lama.

“Bapak... sakit kepalanya tidak hilang-hilang, Nak. Kata dokter di kota, harus di-CT scan. Untuk memastikan tidak ada apa-apa di dalam.” Suaranya mengecil. “Biayanya... dua setengah juta, Nak.”

Bagas mencengkeram ponselnya sampai jemarinya putih. Dua setengah juta. Hampir persis sebesar gaji sebulan di pabrik itu.

“Ibu tidak minta kamu pulang, Nak,” kata ibunya cepat, seolah takut Bagas salah paham. “Ibu cuma... Ibu cuma mau dengar suaramu. Sudah itu saja.”

Kalimat itu — ibu cuma mau dengar suaramu — menghancurkan Bagas lebih telak daripada perintah mana pun. Ibunya tidak memintanya pulang, karena ibunya tahu persis apa yang dipertaruhkan. Dan justru karena tidak diminta itulah, Bagas merasa ditarik pulang dengan kekuatan yang lebih besar dari perintah mana pun.

“Bu,” suaranya pecah. “Bilang ke Bapak... bilang Bagas makan cukup. Bilang... bilang Bagas akan urus semuanya.”

“Iya, Nak. Ibu sampaikan.”

“Bu, Ibu jaga kesehatan. Jangan capek-capek.”

“Iya, Nak.”

Sambungan terputus. Bagas berdiri lama di samping ranjangnya yang gelap, mendengarkan nada sibuk yang tidak lagi tersambung ke siapa pun.

Di kepalanya, dua jalan terbentang — dan keduanya terasa seperti jurang.

Jalan pertama: pabrik di Cikande. Uang nyata bulan depan. CT scan Bapak terbayar. Gelang baru untuk Ibu — lebih cepat dari yang ia janjikan. Tetapi sertifikat nasional lepas, dan bersama itu lepas pula arti dari gelang warisan nenek yang sudah terlanjur dijual. Pengorbanan itu akan menjadi... hanya pengorbanan, tanpa tangga.

Jalan kedua: tetap di program. Dua bulan setengah lagi. Sertifikat nasional, masa depan yang lebih besar, janji yang lunas dengan cara yang benar. Tetapi Bapak menunggu dengan sakit kepala yang tidak hilang-hilang, dan dua setengah juta yang tidak dimiliki siapa pun di rumah itu.

Ia baru sadar Pak Bambang berdiri di ambang pintu kamar ketika suara berat itu terdengar — entah sejak kapan lelaki itu ada di sana, entah berapa banyak yang ia dengar.

“Jawabanmu besok pagi, Bagas,” kata Pak Bambang pelan. “Pabrik — atau program. Tidak ada jalan ketiga.”

Lalu ia pergi, meninggalkan Bagas sendirian di antara ranjang-ranjang yang terlelap.

Bagas berjalan ke jendela. Di luar, jalan aspal kompleks terhampar gelap menuju gerbang — menuju jalan tol, menuju kampungnya, menuju rumah. Di belakangnya, gedung kantor tempat map pabrik itu menunggu jawaban.

Di pergelangan tangannya, jam Bapak berdetak — tik, tik, tik — seolah menghitung mundur menuju pagi yang harus ia pilih.

Dan di kepalanya, hanya ada satu kalimat yang berputar-putar, kalimat ibunya dari dua minggu lalu: yang penting bukan gelangnya, Nak — yang penting apa yang gelang itu belikan.

Besok pagi, ia harus memutuskan apa yang akan dibeli oleh pengorbanan itu.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!