β€Ή
70. Dua Telepon

Dua Telepon

Pundak Pertama β€’ 1,498 kata

Ilustrasi Dua Telepon

Pagi itu, di minggu ketiga sejak Nadia tinggal di Cirebon, saya bangun dengan perasaan yang sulit saya namai.

Bukan cemas. Bukan juga tenang. Rasanya seperti berdiri di tengah jembatan: di belakang saya ada rumah Cirebon dengan segala kemajuannya yang pelan dan nyata, di depan saya ada Jakarta dengan kos yang sudutnya sudah saya rapikan, dan di bawah jembatan itu mengalir satu pertanyaan yang belum kami jawab β€” kapan Nadia pindah ke Jakarta, dan apakah satu bulan itu cukup.

Evaluasi satu bulan tinggal seminggu lagi. Di telepon malam-malam terakhir, Nadia dan saya mulai menyinggungnya dengan hati-hati, seperti menyentuh panci yang masih panas. "Kalau ayah sudah stabil," kata Nadia suatu malam, "mungkin aku bisa mulai pindah bertahap." Bertahap. Kata itu kami pakai berulang-ulang, karena kata itu terasa lebih aman daripada kata pindah.

Pagi itu saya berangkat kerja seperti biasa. Di kantor, saya mengerjakan laporan sambil sesekali melirik ponsel. Tidak ada pesan baru. Saya sempat berpikir, mungkin hari ini akan jadi hari yang biasa saja. Saya salah.

Telepon pertama datang dari ibu saya, sekitar pukul sepuluh pagi. Nama "Ibu" muncul di layar, dan saya langsung tahu ini bukan telepon basa-basi. Ibu saya jarang menelepon di jam kerja kecuali ada sesuatu.

"Gas," katanya, dan suaranya terdengar seperti orang yang sudah menahan kalimat ini semalaman. "Ibu tidak mau memberatkan. Tapi adikmu..." Ia berhenti. Saya mendengar napasnya. "Adikmu kemarin cerita, biaya kosnya naik bulan depan. Dan uang pangkalnya untuk semester ini belum lunas. Ibu sudah putar-putar, tapi memang tidak cukup."

Saya memejamkan mata. Adik saya. Anak kedua, yang selama ini saya bantu sebisa saya β€” kadang uang kos, kadang uang buku, kadang sekadar pulsa. Saya tahu hari ini akan datang, tapi mengetahui tidak membuatnya lebih ringan.

"Berapa, Bu?" tanya saya pelan.

Ibu menyebutkan angka. Bukan angka yang mustahil, tapi juga bukan angka yang kecil β€” cukup besar untuk membuat saya menghitung ulang semua yang sudah saya rencanakan bulan ini: ongkos bus bolak-balik Cirebon, uang yang saya sisihkan untuk Nadia, dan tabungan yang baru saja mulai saya kumpulkan lagi setelah biaya pernikahan.

"Ibu tidak minta kamu menanggung semua," kata ibu cepat, seperti takut saya salah paham. "Ibu cuma cerita. Kamu kan sekarang sudah berkeluarga, Gas. Ibu paham. Kalau memang tidak bisa, tidak apa-apa."

Kalimat terakhir itu β€” tidak apa-apa β€” justru yang paling berat. Karena saya tahu ibu saya tidak pernah benar-benar menganggap tidak apa-apa. Ia hanya tidak mau menjadi alasan saya merasa bersalah. Dan di situlah letak seluruh persoalan hidup saya: saya adalah anak pertama. Saya adalah pundak pertama. Orang-orang di sekitar saya tidak pernah meminta saya memikul semuanya, tapi mereka selalu bercerita, dan cerita itu selalu sampai ke pundak saya juga.

"Bu, aku pikirkan dulu ya," kata saya. "Aku kabari malam ini atau besok pagi. Jangan dulu bilang ke adik kalau aku pasti bisa. Biar aku hitung dulu."

"Iya, Gas. Maaf ya, ibu merepotkan."

"Bu tidak merepotkan," kata saya, dan saya bersungguh-sungguh. "Bu cuma cerita. Itu beda."

Setelah telepon itu, saya duduk lama di meja kerja. Laporan di layar saya tidak bergerak. Saya membuka aplikasi kalkulator di ponsel dan menghitung dengan diam-diam: gaji bulan ini dikurangi ongkos bus, dikurangi uang yang sudah saya janjikan untuk membantu Nadia selama di Cirebon, dikurangi kebutuhan kos. Sisanya ada, tapi tipis. Kalau saya penuhi seluruh angka yang disebut ibu, sisa itu hampir habis β€” dan saya belum menghitung kalau-kalau Pak Suryo perlu kontrol tambahan, atau bus naik lagi, atau ada kebutuhan mendadak di rumah Cirebon. Saya menutup kalkulator itu tanpa menghapus angkanya. Bukan karena saya sudah memutuskan, melainkan karena saya baru sadar: selama ini saya selalu mengambil keputusan dengan cara yang sama, yaitu menanggung dulu, menghitung belakangan. Kali ini saya mencoba membaliknya. Menghitung dulu, baru memutuskan. Rasanya aneh, seperti memakai baju yang ukurannya belum pas. Tapi saya ingat aturan baru saya dan Nadia: tidak ada keputusan yang diambil karena takut. Termasuk keputusan soal uang. Saya memikirkan Pak Suryo yang berjalan 52 langkah. Saya memikirkan Nadia yang setiap malam melaporkan angka-angka kecil itu. Saya memikirkan adik saya yang kosnya naik. Dan saya memikirkan diri saya sendiri, yang tiba-tiba merasa seperti sedang ditarik dari dua arah oleh dua keluarga yang sama-sama saya cintai.

Inilah tekanan sandwich generation dari dua sisi, yang selama ini hanya saya bayangkan. Dulu, sebelum menikah, tekanan itu datang dari satu arah: keluarga asal saya. Sekarang, setelah menikah, ada keluarga baru yang juga membutuhkan saya β€” bukan dengan tuntutan, tapi dengan keadaan. Pak Suryo tidak meminta saya membayar apa-apa. Nadia tidak meminta saya pulang setiap minggu. Tapi kebutuhan itu ada, nyata, dan tidak bisa diabaikan hanya karena tidak diucapkan dengan lantang.

Malam itu, telepon dengan Nadia lebih lama dan lebih jujur dari biasanya. Saya menceritakan telepon ibu saya β€” bukan angkanya secara rinci, tapi situasinya. Nadia mendengarkan tanpa menyela, lalu berkata, "Mas, aku tahu ini berat. Aku tidak mau jadi alasan kamu merasa terjepit."

"Kamu bukan alasan," kata saya. "Kamu justru orang yang membuat aku bisa melihat ini dengan jernih. Dulu, kalau ibu menelepon seperti tadi, aku langsung bilang iya tanpa menghitung. Sekarang aku belajar bilang: aku pikirkan dulu. Itu karena kamu."

Kami lalu berbicara tentang rencana pindah β€” pembicaraan yang selama ini kami tunda-tunda. Nadia berkata, ayahnya minggu ini mencapai 58 langkah, dan dua hari terakhir ia berhasil jalan sampai warung depan, meski pelan dan harus istirahat dua kali di tengah jalan. Dokter bilang itu kemajuan yang sangat baik. Ibu Nadia bilang, ia sudah cukup kuat untuk ditinggal Nadia beberapa hari dalam seminggu, asalkan ada yang mengawasi latihan paginya.

"Jadi," kata Nadia pelan, "mungkin kita tidak harus memilih antara dipercepat atau ditunda. Mungkin kita bisa mengubah bentuknya. Aku pindah bertahap ke Jakarta β€” misalnya tiga hari di Jakarta, empat hari di Cirebon β€” sampai ayah benar-benar stabil. Evaluasi mingguannya tetap jalan. Kalau ayah mundur, aku kembali penuh. Kalau ayah terus maju, porsinya bergeser pelan-pelan."

Saya terdiam. Rencana itu masuk akal. Rencana itu tidak dramatis. Rencana itu tidak memaksa siapa pun untuk memilih. Tapi rencana itu juga berarti hidup kami akan berjalan di antara dua kota untuk waktu yang tidak sebentar β€” ongkos bus yang terus berjalan, kamar kos yang setengah dihuni, rumah Cirebon yang setengah ditinggal. Rencana itu realistis, dan justru karena itu ia terasa berat.

"Gas," kata Nadia, "kita tidak harus memutuskan malam ini. Evaluasi satu bulan kan minggu depan. Kita bawa rencana ini ke evaluasi. Kita bicarakan bertiga β€” aku, kamu, dan ayah. Ayah berhak ikut memutuskan, bukan cuma menerima keputusan kita."

Saya mengangguk, meski ia tidak bisa melihat. "Iya. Bicarakan bertiga. Tidak ada keputusan sepihak. Itu aturan baru kita, kan?"

"Aturan baru kita," Nadia mengulang, dan saya mendengar senyumnya.

Setelah telepon itu, saya duduk di sudut kamar kos yang sudah saya rapikan β€” sudut untuk Nadia, dengan taplak krem dan gelas kosong dan buku catatan cokelat yang halaman pertamanya sudah saya tulisi. Saya membuka buku itu dan menulis di halaman kedua, pelan-pelan: "Minggu ketiga. Ayah Nadia: 58 langkah, sudah sampai warung depan. Adik: kos naik, uang pangkal belum lunas. Rencana: pindah bertahap, evaluasi minggu depan, diputuskan bertiga." Saya menutup buku itu dan merasa sedikit lebih teratur. Tidak lebih ringan β€” tapi lebih teratur. Dan kadang, teratur sudah cukup untuk membuat seseorang bisa tidur.

Saya baru saja merebahkan diri ketika ponsel saya bergetar. Satu panggilan masuk. Nama Nadia muncul di layar. Saya mengangkatnya dengan santai, mengira ia menelepon karena ada yang lupa ia sampaikan.

Tapi sebelum saya sempat bicara, ponsel saya bergetar lagi β€” panggilan kedua, dari nomor ibu saya, masuk tepat di detik yang sama, menumpuk di layar di bawah nama Nadia.

Dua telepon. Hampir bersamaan. Satu dari Cirebon, satu dari keluarga saya.

Jari saya berhenti di atas layar. Saya tahu, dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan tapi saya yakini sepenuhnya, bahwa kedua panggilan ini bukan panggilan biasa. Nadia tidak pernah menelepon dua kali dalam satu malam tanpa alasan. Ibu saya tidak pernah menelepon malam-malam setelah telepon pagi yang sudah saya jawab dengan "aku pikirkan dulu."

Satu panggilan tentang Pak Suryo β€” mungkin kabar baik, mungkin kabar yang membuat semua rencana pindah bertahap itu berubah total. Satu panggilan tentang keluarga saya β€” mungkin kabar dari adik saya, mungkin sesuatu yang tidak bisa menunggu sampai besok pagi.

Saya menatap layar yang terus bergetar. Saya harus memilih mana yang saya angkat dulu. Dan saya sadar, dengan perut yang mendadak dingin, bahwa pilihan ini bukan sekadar urutan. Siapa pun yang saya angkat kedua akan menunggu β€” dan menunggu, dalam keadaan seperti ini, adalah sesuatu yang punya konsekuensi. Kalau saya mengangkat Nadia dulu, ibu saya akan mengira saya mengabaikan keluarga asal saya. Kalau saya mengangkat ibu dulu, Nadia akan menunggu dengan kabar yang mungkin tidak bisa menunggu.

Ponsel itu terus bergetar di tangan saya. Dan untuk pertama kalinya sejak saya menikah, saya benar-benar mengerti apa artinya menjadi pundak pertama bagi dua keluarga sekaligus: bukan memikul semuanya sendirian. Tapi memilih, dalam hitungan detik, siapa yang didahulukan β€” sambil tahu bahwa siapa pun yang menunggu, tetap berhak atas saya juga.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!