Tulang Punggung Cadangan
Pundak Pertama β’ 1,268 kata
Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam hidup Bagas, ia bangun sebelum ayam berkokok. Bukan karena ia rajin — melainkan karena semalam ia sudah memutuskan sesuatu, dan keputusan itu membuatnya tidak bisa tidur.
Tahun 2005. Bagas sepuluh tahun, duduk di kelas lima SD. Kemarau tahun itu panjang dan kejam. Proyek perumahan tempat Bapak bekerja sudah selesai tiga bulan lalu, dan mandor hanya berkata, “Tunggu dulu, Met. Nanti kalau ada proyek baru, kamu yang pertama saya panggil.” Proyek baru itu tidak kunjung datang.
Bapak mulai batuk. Batuk kering yang tidak sembuh-sembuh, yang membuatnya terbangun tengah malam dan menahannya dengan bantal agar tidak membangunkan anak-anak. Badannya makin kurus; kaus oblong lusuhnya seperti kebesaran. Tapi setiap pagi ia tetap berangkat — mencari kerja serabutan ke mana saja: mengangkut pasir, mengecat rumah orang, membetulkan atap bocor tetangga. Pulang dengan upah yang makin lama makin tidak menentu.
Ibu mengambil jahitan seragam sekolah dari sebuah konveksi kecil di kota kecamatan. Upahnya dihitung per potong, kecil sekali, sehingga ia harus menjahit sampai jam sebelas malam di bawah lampu neon yang redup. Jari-jarinya pecah-pecah karena terus menusuk jarum; matanya mulai sering berair. Tapi ia tidak pernah mengeluh — setidaknya, tidak di depan anak-anaknya.
Sinta sudah delapan tahun, kelas dua SD. Tas yang dibelikan Bagas tiga tahun lalu masih ia pakai setiap hari — sudutnya sudah ditambal dengan jahitan tangan Ibu, tapi Sinta merawatnya seperti harta karun. Dimas berumur empat tahun, cerewetnya bukan main, dan selalu bertanya kenapa: kenapa langit biru, kenapa ayam berkokok, kenapa Bapak pulangnya malam terus.
Suatu sore, Dimas merengek minta dibelikan mobil-mobilan plastik di warung depan gang. Harganya dua ribu rupiah. Bapak hanya diam, mengusap kepala Dimas dengan tangan kasarnya, lalu berkata pelan, “Besok ya, Nak. Kalau Bapak dapat kerja.” Dimas mengangguk, tapi matanya kecewa. Bagas melihat itu dari ambang pintu, dan dadanya seperti diremas tangan tak kasat mata.
Malam itu Bagas tidak bisa tidur. Ia mendengar Ibu masih mengayuh mesin Singer di ruang depan. Ia mendengar Bapak terbatuk di dipan, pelan, ditahan-tahan. Dan ia teringat kata-kata Bapak bertahun-tahun lalu: kamu harus sekolah tinggi. Bagaimana ia bisa sekolah tinggi kalau perut adik-adiknya saja tidak terjamin?
Keesokan harinya di sekolah, temannya Wawan bercerita bahwa ia menjadi loper koran: bangun subuh, mengambil koran di agen, mengantar ke pelanggan tetap sebelum sekolah. Komisinya lumayan — cukup untuk jajan dan menabung. Mata Bagas berbinar. Sore itu juga ia meminta izin kepada Ibu.
“Bu, Bagas mau jadi loper koran,” katanya.
Ibu berhenti mengayuh mesin jahit. “Kamu masih kecil, Gas. Sekolahmu bagaimana?”
“Sebelum sekolah, Bu. Bagas bangun subuh, antar koran, terus berangkat sekolah seperti biasa. Janji nggak akan ganggu sekolah.”
Ibu menatap anak sulungnya lama. Ada sesuatu di mata Bagas yang membuatnya tidak tega menolak — tekad yang terlalu dewasa untuk anak sepuluh tahun. Akhirnya ia mengangguk, dengan syarat: kalau nilai turun, pekerjaan itu harus berhenti.
Maka dimulailah rutinitas baru Bagas. Jam setengah empat pagi, ia mengayuh sepeda ontel tua peninggalan kakeknya menembus gelap. Anjing-anjing menggonggong di kejauhan. Di agen koran, Pakde Karso memberinya tiga puluh eksemplar koran pagi yang masih berbau tinta. Bagas mengantarnya satu per satu: ke rumah pak dokter, ke rumah pak lurah, ke warung kopi di perempatan. Tangannya yang kecil membeku oleh angin subuh, tapi hatinya hangat setiap kali menerima upah harian dari Pakde Karso.
Di sekolah ia sering mengantuk. Nilainya sempat turun, dan Bu Lastri, wali kelasnya, menegurnya dengan lembut namun tegas. Bagas tidak bercerita apa-apa — ia hanya berjanji akan belajar lebih giat. Maka setiap malam, setelah Ibu selesai menjahit, Bagas belajar di bawah lampu yang sama, dengan buku-buku yang sudah lecek.
Gaji minggu pertamanya ia gunakan seluruhnya untuk membeli obat saat Dimas demam dan batuk pilek. Ia juga membelikan bubur ayam untuk Dimas, dan menyisakan sedikit untuk Sinta jajan di sekolah. Malam itu, dari dapur, ia mendengar Ibu menangis pelan — bukan tangis sedih, melainkan tangis seorang ibu yang melihat anak sulungnya tumbuh terlalu cepat. Bagas pura-pura tidak mendengar. Ia masuk ke kamarnya dan tersenyum dalam gelap.
Suatu malam, Bagas pulang lebih larut karena membantu Ibu mengantar jahitan ke konveksi. Rumah sudah sepi. Di ruang depan, Ibu tertidur di depan mesin Singer dengan jarum masih menancap di kain — ia bahkan tidak sempat mematikan lampu. Di kamar, Bapak terbatuk dalam tidurnya, tubuh kurusnya meringkuk di dipan bambu. Bagas berdiri di ambang pintu, tas korannya masih tergantung di bahu.
Dan malam itu, Bagas mengerti sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun: bahwa di rumah ini ada dua pundak yang selama ini memikul segalanya — dan kedua pundak itu mulai retak. Kalau keduanya tumbang, siapa yang akan berdiri? Jawabannya membuat tenggorokannya tercekat.
Aku. Aku pundak cadangannya.
Sejak malam itu, Bagas bekerja lebih giat. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta apa-apa untuk dirinya sendiri. Bola yang dulu ia impikan sudah lama ia lupakan. Setiap rupiah dari koran pagi ia catat dengan rapi di buku tulis bekas: untuk obat, untuk jajan adik-adik, untuk Ibu.
Di antara pelanggan korannya ada Pak Haji di ujung gang yang selalu memberi uang lebih — “buat jajan” — yang Bagas tolak tiga kali sebelum akhirnya menerima dengan membungkuk dalam-dalam. Ada juga Mbok Darmi, pemilik warung kopi di perempatan, yang setiap pagi menyisakan teh hangat dan singkong rebus untuknya. “Makan dulu, Le, sebelum berangkat sekolah,” katanya. Kebaikan-kebaikan kecil itu tidak Bagas catat di buku — ia menyimpannya di hati, di tempat yang lebih aman.
Uang koran ia simpan di kaleng biskuit bekas di bawah tempat tidur, dipisah dengan rapi memakai kertas lipatan: satu untuk Ibu, satu untuk jajan adik-adik, dan satu untuk dirinya sendiri yang tidak pernah ia pakai. Wawan pernah mengajaknya main layangan sore hari; Bagas menolak karena harus membantu Ibu mengantar jahitan ke konveksi. “Kamu kayak orang tua, Gas,” canda Wawan. Bagas hanya tersenyum — ia tidak tahu harus menjawab apa, karena jauh di dalam hatinya ia tahu Wawan tidak sepenuhnya bercanda.
Suatu pagi yang dingin, ban sepeda ontelnya bocor di tengah jalan. Ia menuntun sepeda sejauh dua kilometer sambil memanggul tumpukan koran agar pelanggan tidak menunggu. Pakde Karso yang mengetahuinya memberinya ban dalam bekas yang masih bagus, gratis. “Kamu anak baik, Gas. Rezeki anak baik itu dijaga langit,” kata Pakde Karso. Bagas tidak sepenuhnya mengerti maksudnya, tapi ia mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Nilai-nilainya perlahan kembali naik. Suatu siang Bu Lastri memanggilnya dan bertanya kenapa ia sering mengantuk di kelas. Bagas akhirnya bercerita — sedikit saja, tentang koran pagi. Bu Lastri terdiam lama, lalu mengelus kepalanya. “Bapak-Ibumu beruntung punya kamu, Nak,” katanya. Hari itu Bagas pulang dengan dada membusung — bukan karena dipuji, melainkan karena untuk pertama kalinya ada orang dewasa yang mengakui apa yang ia lakukan.
Musim hujan tahun 2007 datang lebih awal. Suatu sore, Bapak pulang lebih awal dari biasanya — wajahnya pucat seperti kertas, kausnya basah bukan hanya karena hujan. Ia duduk di bangku bambu di teras, napasnya tersengal, lalu memanggil Bagas.
“Gas, sini. Bapak mau ngomong.”
Bagas duduk di sampingnya. Bapak menatap hujan yang turun di halaman, lama, sebelum akhirnya berkata dengan suara parau, “Kalau suatu hari nanti... Bapak nggak bisa kerja lagi...”
“Pak, jangan ngomong gitu,” potong Bagas cepat. Suaranya bergetar, dan ia membenci itu.
Bapak tersenyum tipis — senyum yang tidak sampai ke matanya — lalu mengelus kepala anaknya. Tangan itu gemetar.
Malam itu hujan turun deras, menampar atap seng rumah mereka. Bagas tidak bisa tidur. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berdoa bukan untuk dirinya sendiri — melainkan untuk pundak bapaknya, agar Tuhan memberinya waktu sedikit lebih lama. Karena Bagas tahu, jauh di dalam hatinya yang masih dua belas tahun, bahwa waktunya menjadi pundak cadangan hampir tiba.