Ruangan di Belakang
Pundak Pertama β’ 1,360 kata
Minggu pagi, Ibu menjahit di ruang tengah seperti biasa, seolah percakapan kemarin di ambang ruangan belakang itu tidak pernah terjadi.
Tetapi aku tahu, percakapan itu terjadi. Ayah tahu. Nadia tahu. Dan Ibu, dengan caranya sendiri, juga tahu, karena pagi ini, ia beberapa kali menatap ke arah pintu belakang, ke arah ruangan yang kemarin kami bicarakan, dengan tatapan yang sebentar, tetapi tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Nadia yang pertama kali mengajak bicara lagi, bukan dengan cara mendesak, melainkan dengan cara yang paling ia kuasai: lewat pekerjaan yang dilakukan bersama-sama. Setelah sarapan, ia mengajakku ke ruangan belakang, membawa sapu, kain pel, dan ember, bukan untuk merapikan ruangan itu menjadi tempat jahit, melainkan, katanya, "sekadar dibersihkan, Mas, supaya tidak jadi sarang debu."
Ayah ikut, membawa kursi lipatnya, duduk di ambang pintu, mengawasi kami bekerja, sesekali memberi tahu barang mana yang masih dipakai dan mana yang sudah bisa dipindahkan. Ibu, dari ruang tengah, sesekali menengok, tetapi tidak ikut masuk, seolah ia masih menjaga jarak dari ruangan itu, dari rencana itu, dari semua yang kemarin ia tolak dengan lembut.
Kami bekerja pelan-pelan, karena ruangan itu sudah lama tidak dibersihkan, dan karena Ayah, yang duduk di ambang pintu, tidak boleh terlalu lelah membantu mengangkat barang berat. Kardus-kardus kami keluarkan satu per satu, kain-kain sisa kami lipat dan susun, dan lantai yang sudah lama tertutup debu itu mulai terlihat lagi, ubinnya yang dulu berwarna terang, kini agak kusam, tetapi masih utuh.
Di tengah pekerjaan itu, di bawah tumpukan kain yang paling bawah, Nadia menemukan sebuah buku pola lama, buku yang sampulnya sudah lusuh, halamannya sudah menguning, dan di dalamnya, ada pola-pola yang digambar dengan tangan, dengan pensil yang garisnya sudah agak pudar, tetapi masih bisa dibaca: pola kemeja, pola gaun, pola celana, semuanya ditulis dengan rapi, dengan ukuran-ukuran kecil di sampingnya.
"Bu," panggil Nadia dari ruangan belakang, "ini buku pola Ibu yang dulu?"
Ibu datang, pelan, berdiri di ambang pintu, menatap buku itu, dan wajahnya berubah, bukan menjadi wajah orang yang sedang menolak sesuatu, melainkan menjadi wajah orang yang sedang bertemu kembali dengan dirinya yang dulu, dirinya yang masih muda, yang menggambar pola dengan pensil, yang mengukur kain dengan pita meteran yang dilingkarkan di lehernya.
"Iya," kata Ibu, sambil mengambil buku itu dengan hati-hati, seperti mengambil sesuatu yang rapuh. "Ini buku pola pertama Ibu. Waktu itu, Ibu menggambar sendiri, karena Ibu tidak punya uang untuk membeli pola jadi. Jadi Ibu menggambar dari baju-baju yang Ibu lihat, dari baju tetangga, dari baju yang Ibu perbaiki. Satu pola, Ibu pakai berkali-kali, sampai hafal."
Ia membuka halaman demi halaman, dan setiap halaman membuatnya tersenyum kecil, senyum yang mengenang, senyum yang tidak dibuat-buat. "Ini pola kemeja pertama yang Ibu buat untuk Ayah," katanya, menunjuk satu halaman. "Kerahnya sempat salah, jadi Ayah memakainya dengan kerah yang agak miring, tetapi Ayah tetap memakainya ke mana-mana, karena Ayah bilang, kerah miring itu tidak apa-apa, yang penting, kemejanya dibuatkan oleh istrinya."
Ayah tertawa dari kursinya, tawa yang pelan, tawa orang yang mengingat hal yang sama, dari sisi yang berbeda. "Iya, Ayah ingat. Kerahnya miring, tetapi Ayah bangga. Karena waktu itu, kami tidak punya apa-apa, tetapi kami punya satu sama lain, dan itu sudah cukup."
Kami semua tertawa, tawa yang ringan, tawa yang membuat ruangan belakang yang pengap itu terasa lebih lapang, seolah tawa itu sendiri yang membuka jendelanya. Ibu duduk di kursi lipat yang lain, membuka buku pola itu di pangkuannya, dan untuk beberapa menit, ia tidak lagi menjaga jarak dari ruangan itu. Ia sudah berada di dalamnya, bersama kami, bersama masa lalunya sendiri, dan bersama rencana yang kemarin ia tolak, tetapi hari ini, tanpa ia sadari, ia sudah mulai mendekatinya lagi.
"Bu," kata Nadia pelan, setelah tawa itu mereda, "kalau buku pola ini disimpan di ruangan ini, di lemari kecil, Ibu tidak perlu lagi mencarinya di lemari besar setiap kali mau melihat pola lama. Dan kalau meja jahit Ibu di sini, Ibu bisa membuka buku ini kapan saja, tanpa harus menggeser meja dulu."
Ibu tidak langsung menjawab. Ia menatap buku pola itu, lalu menatap jendela yang menghadap ke halaman, jendela yang kacanya sudah mulai dibersihkan Nadia, sehingga cahaya pagi masuk lebih terang daripada sebelumnya. Ia menatap ruangan itu, yang kini sudah setengah bersih, yang lantainya sudah terlihat, yang udaranya sudah tidak sepengap tadi.
"Kalau begitu," katanya akhirnya, dengan suara yang pelan, tetapi bukan lagi suara penolakan, melainkan suara orang yang sedang memberi syarat, "Ibu mau, dengan satu syarat. Ruangan ini tidak boleh dibuat dengan uang besar. Tidak boleh pakai tukang yang mahal, tidak boleh beli meja baru yang mahal. Kita pakai yang sudah ada. Meja lama diperbaiki, lemari lama dicat ulang, jendela dibersihkan. Dan yang paling penting, meja jahit Ibu tetap boleh keluar ke ruang tengah kalau Ibu mau, kalau Ibu kangen menjahit sambil mendengar kalian bicara. Ruangan ini bukan penjara. Ruangan ini cuma tempat tambahan."
Ayah mengangguk cepat, seperti orang yang baru saja diberi sesuatu yang lebih besar daripada yang ia minta. "Setuju, Bu. Tidak ada yang mahal. Semuanya dari yang sudah ada. Dan Ibu bebas, mau menjahit di mana saja. Ruangan ini cuma supaya Ibu punya pilihan."
Aku menatap Nadia, dan Nadia menatapku, dan kami berdua sama-sama mengerti bahwa Ibu tidak menolak ruangan itu karena ia tidak menginginkannya. Ibu menolaknya karena ia tidak mau menjadi beban. Dan begitu ia yakin bahwa ruangan itu tidak akan menjadi beban, tidak akan menghabiskan uang besar, tidak akan merepotkan siapa pun, ia pun membuka pintunya, pelan-pelan, dengan caranya sendiri.
Siang itu, kami melanjutkan membersihkan ruangan, tetapi kali ini, Ibu ikut masuk, bukan hanya menengok dari ambang pintu. Ia ikut memilah kain, ikut menunjukkan mana pola yang masih dipakai dan mana yang sudah bisa disimpan di tempat lain, ikut memutuskan di mana lemari kecil itu sebaiknya diletakkan, di dekat jendela, supaya cahaya jatuh tepat di atas buku polanya.
Ayah, yang duduk di kursinya, sesekali berdiri, membantu menggeser kardus yang ringan, tetapi setiap kali ia membungkuk terlalu lama, Nadia menegurnya dengan pelan, "Yah, duduk dulu, biar Mas Bagas yang angkat." Ayah menurut, tetapi dengan wajah yang agak kesal, wajah orang yang masih merasa dirinya kuat, tetapi mulai belajar bahwa kuat itu bukan berarti harus mengangkat semuanya sendiri.
Sore harinya, ruangan itu sudah jauh lebih bersih. Lantainya sudah dipel, jendelanya sudah dibuka, udaranya sudah berganti. Kami meletakkan meja lama di dekat jendela, meja yang kakinya agak goyang, tetapi masih bisa diperbaiki, dan lemari kecil di sudutnya, lemari yang pintunya sudah seret, tetapi masih bisa dipakai. Ruangan itu belum jadi, belum sempurna, tetapi ia sudah mulai terlihat seperti sebuah tempat, bukan lagi sekadar gudang.
Ibu berdiri di tengah ruangan itu, menatap meja lama yang sudah diletakkan di dekat jendela, menatap cahaya sore yang masuk dan jatuh di atas meja itu, dan ia diam sebentar, diam yang panjang, diam yang membuat kami semua ikut diam, karena kami tahu, ia sedang membayangkan dirinya duduk di sana, menjahit, dengan cahaya yang cukup, dengan udara yang segar, dengan buku polanya di samping.
Tetapi sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, Ayah, yang sedang membantu menggeser lemari kecil itu ke sudut, berhenti, menatap dinding di belakang lemari, dinding yang selama puluhan tahun tertutup oleh lemari itu, dan wajahnya berubah. Ia mendekat, menyentuh dinding itu dengan telapak tangannya, lalu menatap tangannya yang basah.
"Gas," katanya pelan, "coba lihat ini. Dinding di belakang lemari ini, basah. Bukan basah karena baru dipel. Basah karena air dari atas, dari atap, sudah lama merembes ke sini, pelan-pelan, tanpa kita sadari, karena tertutup lemari."
Kami semua mendekat, dan memang, dinding itu lembap, catnya mengelupas, dan di sudutnya, ada bercak yang sudah lama, bercak yang menunjukkan bahwa air itu bukan datang kemarin, melainkan sudah datang selama bertahun-tahun, diam-diam, di balik lemari, di balik tumpukan barang, di balik semua hal yang kami simpan tanpa pernah memindahkannya.
Minggu itu ditutup bukan dengan jawaban, melainkan dengan dinding yang basah di belakang lemari, di ruangan yang baru saja kami bersihkan, dan dengan satu kesadaran yang menggantung di antara kami: bahwa rencana kecil untuk membuatkan Ibu tempat menjahit itu, ternyata, menyimpan satu pekerjaan yang lebih besar, yang sudah lama menunggu, di balik dinding yang tidak pernah kami lihat.