β€Ή
12. Gelang Ibu

Gelang Ibu

Pundak Pertama β€’ 1,393 kata

Ilustrasi Gelang Ibu

Bagas tidak tidur malam itu. Ia berbaring di dipan bambu kamarnya yang sempit, menatap langit-langit seng yang berembun, mendengarkan napas Bapak dari kamar sebelah — pelan, teratur, hidup. Setiap kali napas itu terdengar, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Di dompetnya, surat gadai itu seperti bara api yang tidak padam-padam.

Tiga ratus ribu. Untuk itulah Ibu melepas dua puluh enam tahun dari pergelangan tangannya.

Bagas bangkit sebelum subuh. Ia tidak membangunkan siapa pun. Dengan ember dan sikat ijuk, ia masuk ke kamar mandi di samping rumah — kamar mandi tempat Bapak jatuh.

Lantainya licin. Lumut hijau tumbuh di sela-sela semen yang tidak pernah kering, karena atapnya bocor sedikit dan cahaya matahari tidak pernah masuk. Bagas mengerti sekarang kenapa Bapak terpeleset: malam itu habis hujan, lantai basah, dan Bapak — yang kepalanya sudah sering pusing — tidak melihat.

Ia menyikat lantai itu sampai tangannya perih. Sampai lumutnya hilang. Sampai semennya terlihat lagi. Lalu ia menggelar karung goni bekas di depan pintu — sebagai keset darurat, supaya tidak licin.

Hal kecil. Tapi semalam ia berjanji pada dirinya sendiri: tidak ada lagi “nanti”. Semua yang bisa ia kerjakan hari ini, ia kerjakan hari ini.

“Mas?”

Dimas berdiri di ambang pintu kamar mandi, masih mengucek mata. Adiknya yang tujuh belas tahun itu menatap lantai yang sudah bersih, lalu menatap kakaknya.

“Kamu ngapain?”

“Biar Bapak nggak jatuh lagi,” kata Bagas singkat.

Dimas diam. Lalu, tanpa diminta, ia mengambil ember kedua dan mulai membantu menyiram. Mereka bekerja dalam diam — dua bersaudara yang tidak pandai bicara soal perasaan, tapi pandai bicara lewat tangan.

Sarapan pagi itu terasa seperti lebaran. Ibu memasak sayur lodeh dan menggoreng ikan asin — lauk “mewah” yang biasanya hanya muncul kalau ada tamu. Mereka makan berlima di tikar pandan ruang tengah: Ibu, Bagas, Sinta, Dimas — dan Bapak, yang bersikeras duduk meski Ibu melarang, dengan perban masih melingkar di kepalanya.

“Bapak bandel,” gerutu Ibu, tapi tangannya dengan lembut menyangga punggung suaminya.

“Masa makan enak Bapak di kamar,” kata Bapak, tersenyum tipis. “Rugi.”

Semua tertawa — tawa pertama di rumah itu setelah dua hari penuh air mata. Sinta bercerita soal ulangan matematikanya. Dimas — yang biasanya diam — bercerita soal Pak RT yang sampai begadang menemani di puskesmas. Ibu menambahi sayur ke piring Bagas, dua kali, tiga kali, sampai Bagas protes sambil tertawa.

Di tengah tawa itu, Bagas menatap sekeliling meja — wajah-wajah yang ia cintai, yang seminggu ini hanya ia rindukan lewat telepon — dan dadanya terasa penuh sekaligus perih.

Ini yang harus aku jaga, pikirnya. Dengan tanganku sendiri.

Sore harinya, Bapak memanggil Bagas ke teras. Lelaki lima puluh satu tahun itu duduk di kursi bambu, menatap kebun singkong di belakang rumah yang mulai menguning. Bagas duduk di lantai teras, seperti waktu kecil dulu.

Lama mereka diam. Lalu Bapak bicara — pelan, seperti orang yang menimbang setiap kata.

“Le... Bapak mau jujur sama kamu.”

“Ya, Pak?”

“Sebetulnya... kepala Bapak sudah sering muter. Sudah berminggu-minggu. Kalau berdiri terlalu cepat, dunia kayak goyang.” Bapak menatap jauh. “Dokter di puskesmas bilang darah Bapak tinggi. Disuruh istirahat. Disuruh minum obat tiap hari.”

Bagas menatap bapaknya. “Kenapa Bapak nggak cerita?”

“Kalau Bapak cerita, Ibumu makin kepikiran. Kamu makin kepikiran.” Bapak tersenyum miris. “Anak pertama itu pundaknya buat mikul, Le. Bukan buat ditambahin beban.”

Kata-kata itu menghantam Bagas seperti palu godam.

Pundaknya buat mikul.

Selama ini Bagas mengira ia sudah memikul — bekerja di bengkel, menyerahkan sebagian gaji untuk rumah. Tapi malam ini ia mengerti: yang dipikulnya selama ini hanya sebagian kecil. Bapak — dengan kepala yang sering pusing, dengan tubuh yang menua — selama ini memikul sisanya dalam diam, agar pundak anak pertamanya tidak terlalu berat.

“Bapak...” Suara Bagas bergetar.

“Kamu selesaikan kursusmu,” potong Bapak — tapi nadanya bukan memerintah, melainkan memohon. “Tiga bulan. Sampai dapat sertifikat. Itu... itu perintah Bapak. Satu-satunya perintah Bapak yang tidak boleh kamu langgar.”

Bagas menunduk. Air matanya jatuh ke lantai teras — satu, dua — dan ia tidak menghapusnya.

“Siap, Pak,” bisiknya.

Malam itu, Ibu bercerita soal gelang itu — tanpa diminta, sambil melipat baju di kamar, seolah bercerita pada diri sendiri.

“Dulu, waktu umur pernikahan kita sepuluh tahun,” kata Ibu, “Bapak pulang bawa kotak kecil. Katanya, ‘Mi, ini bukti kalau kerja keras itu ada hasilnya.’ Bapak nabung berbulan-bulan dari proyek, nggak jajan, nggak ngerokok — cuma buat beliin Ibu gelang.”

Ibu tersenyum, matanya berkaca. “Ibu marah waktu itu. Bilang uangnya mending buat benerin atap. Tapi Bapak bilang...” Ia menirukan suara suaminya, “‘Atap bisa nunggu. Tapi istriku harus punya sesuatu yang bagus. Sekali saja.’”

Bagas memejamkan mata. Di dompetnya, surat gadai itu terasa semakin berat.

Sekali saja. Dan Ibu melepasnya — tanpa ragu, tanpa drama — demi Bapak.

Inilah perempuan-perempuan di keluarganya, pikir Bagas. Ibu yang melepas gelangnya. Sinta yang membongkar celengannya. Mereka memberi tanpa menghitung — dan ia, anak pertama, laki-laki tertua, justru yang paling sering menghitung: menghitung gaji, menghitung ongkos, menghitung hari.

Malam itu juga ia berjanji — bukan pada Ibu, bukan pada Bapak, tapi pada dirinya sendiri: gelang itu akan kembali ke pergelangan Ibu. Sebelum lelang. Apapun caranya.

Minggu malam, Bagas berkemas. Tas ransel bututnya sudah siap di sudut kamar. Ibu membungkus nasi dan tempe goreng dengan daun pisang — bekal untuk perjalanan. Sinta mondar-mandir di ambang pintu, pura-pura sibuk, tapi matanya merah.

“Mas...” Sinta menyodorkan selembar kertas yang terlipat. “Buat Mas. Dibuka di bus ya.”

Itu gambar crayon: lima orang bergandengan tangan di depan rumah papan. Bapak digambar dengan perban di kepala seperti pahlawan. Ibu tersenyum lebar. Dimas dan Sinta di tengah. Dan Bagas — digambar paling besar, memakai topeng las seperti robot.

“Mas kayak robot keren,” kata Sinta bangga.

Bagas tertawa — tawa yang setengah tangis. Ia memeluk adiknya lama.

Dimas muncul di ambang pintu, canggung seperti biasa. Ia mengulurkan tangan — jabat tangan kaku ala anak SMA.

“Mas... cepet lulus,” katanya. Lalu, dengan suara lebih pelan, “Aku jagain rumah. Jangan khawatir.”

Bagas menatap adik laki-lakinya. Tujuh belas tahun — dan malam ini, untuk pertama kalinya, Bagas melihatnya bukan sebagai “adik kecil”, tapi sebagai laki-laki yang mulai memikul bagiannya.

“Makasih, Dimas.”

Senin dini hari, pukul setengah tiga, Bagas berangkat. Gang masih gelap dan sepi. Ibu mengantar sampai pintu, membenarkan kerah bajunya tiga kali — kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak Bagas kecil.

Dan di ambang pintu — berdiri Bapak.

“Pak! Bapak ngapain bangun?” Ibu panik. “Dokter bilang istirahat!”

“Bapak mau lihat anak Bapak berangkat,” kata Bapak tenang, bersandar di kusen pintu. Perbannya sudah diganti yang bersih. Wajahnya masih pucat, tapi matanya tegas.

Bagas menghampiri dan memeluk bapaknya — hati-hati, takut menyentuh lukanya. Tubuh Bapak terasa lebih kurus dari yang ia ingat. Kapan terakhir ia memeluk Bapak seperti ini? Mungkin waktu ia masih SD.

“Jam berapa?” tanya Bapak tiba-tiba.

Bagas melirik jam tangan di pergelangannya. “Setengah tiga, Pak.”

“Jalan. Hati-hati.” Bapak menepuk pundaknya — pundak pertama, pundak yang akan memikul. “Waktu berpihak sama kamu, Le. Jangan kayak Bapak.”

Bagas mengangguk, tidak sanggup bicara. Ia berjalan menyusuri gang yang gelap, dan setiap beberapa langkah ia menoleh — sampai sosok Bapak di ambang pintu menghilang di tikungan.

Di bus yang melaju menembus dini hari menuju Cikarang, Bagas membuka lipatan gambar Sinta. Di baliknya — di halaman terakhir buku catatan kecil yang diselipkan Sinta ke tasnya dulu, buku yang bertuliskan BUAT NULIS SURAT BUAT KAMI YA MAS! — ada tulisan besar-besar dengan crayon merah:

MAS, KEMARIN BAPAK BILANG MAU KERJA LAGI BESOK. TOLONG BILANGIN BAPAK JANGAN YA.

Darah Bagas berdesir dingin.

Bapak mau kerja lagi. Besok. Dengan kepala yang masih diperban. Dengan darah tinggi yang disuruh istirahat dokter.

Ia meraih ponselnya — mati. Baterai habis. Ia merogoh saku mencari koin untuk telepon umum — tidak ada telepon umum di bus antar kota jam setengah empat pagi.

Ia tidak bisa menghubungi siapa pun. Tidak bisa menghentikan Bapak.

Di luar jendela, langit timur mulai memutih. Apel jam enam. Dan di antara deru bus yang melaju, Bagas hanya bisa menatap jam tangannya — tik, tik, tik — dan berharap, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, agar waktu berjalan lebih lambat.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!