β€Ή
71. Angka di Atas Meja

Angka di Atas Meja

Pundak Pertama β€’ 1,740 kata

Ilustrasi Angka di Atas Meja

Ponsel saya baru saja saya letakkan ketika ia bergetar. Saya sudah merebahkan diri di tepi kasur, di sudut kamar kos yang sudah saya rapikan untuk Nadia β€” taplak krem, gelas kosong, buku catatan cokelat yang halaman keduanya baru saya tulisi malam ini. Nama Nadia muncul di layar. Saya mengangkatnya dengan santai, mengira ia menelepon karena ada yang lupa ia sampaikan. Tapi sebelum saya sempat bicara, ponsel bergetar lagi β€” panggilan kedua, dari nomor Ibu, masuk tepat di detik yang sama, menumpuk di layar di bawah nama Nadia.

Dua telepon. Hampir bersamaan. Satu dari Cirebon, satu dari keluarga saya.

Jari saya berhenti di atas layar. Nadia tidak pernah menelepon dua kali dalam satu malam tanpa alasan. Ibu tidak pernah menelepon malam-malam setelah telepon pagi yang sudah saya jawab dengan "aku pikirkan dulu." Satu panggilan mungkin tentang Pak Suryo β€” kabar yang bisa mengubah semua rencana pindah bertahap itu. Satu panggilan mungkin tentang adik saya β€” sesuatu yang tidak bisa menunggu sampai besok pagi. Siapa pun yang saya angkat kedua akan menunggu, dan menunggu, dalam keadaan seperti ini, punya konsekuensi.

Saya memilih Nadia. Bukan karena Ibu kurang penting, melainkan karena Nadia tidak pernah mengulang telepon tanpa alasan, dan karena kepada Ibu saya masih punya janji yang belum lewat batasnya: saya bilang akan mengabari malam ini atau besok pagi. Saya menekan tombol hijau di nama Nadia, dan dengan tangan yang lain saya menyiapkan pesan singkat untuk Ibu: "Bu, aku telepon balik lima menit lagi."

"Mas, maaf aku telepon lagi," kata Nadia, suaranya cepat, seperti orang yang takut lupa. "Aku baru ingat satu hal yang belum aku sampaikan tadi. Tadi sore Ayah tanya, apa kamu bisa datang waktu evaluasi minggu depan? Beliau bilang, beliau mau kamu ada di sana waktu dokter menjelaskan rencana latihan berikutnya. Katanya, biar keputusannya diputuskan bertiga, bukan cuma aku yang menyampaikan ke kamu."

Saya mengembuskan napas. Bukan kabar buruk. Bukan kabar yang membalikkan rencana. Hanya permintaan yang wajar dari seorang ayah yang ingin menantunya duduk di meja yang sama ketika masa depannya dibicarakan. "Iya," kata saya. "Aku usahakan datang. Nanti kita atur harinya."

Setelah telepon ditutup, saya langsung menelepon Ibu, seperti yang saya janjikan dalam pesan singkat. Suara Ibu terdengar pelan, seperti orang yang juga belum bisa tidur. "Gas, maaf Ibu telepon malam-malam," katanya. "Ibu cuma mau nambah satu hal dari cerita tadi pagi. Tadi sore adikmu bilang ke Ibu, suruh bilang ke kamu: dia ikut cari jalan. Dia tidak mau kamu menanggung semuanya. Ibu cuma tidak mau kamu tidak tidur gara-gara cerita Ibu."

Kalimat itu membuat dada saya terasa lebih lapang, sedikit. Adik saya, yang selama ini hanya saya dengar lewat cerita Ibu, ternyata sudah menitipkan kalimatnya sendiri. "Iya, Bu," kata saya. "Besok aku hitung dulu, lalu aku bicara langsung dengan dia. Ibu tidur yang tenang."

Malam itu saya tidur dengan dua kabar yang tidak saling bertabrakan: Pak Suryo ingin saya hadir di evaluasi, dan adik saya ingin ikut memikul. Pagi harinya, saya bangun dengan janji yang menuntut wujudnya: angka, kertas, dan kejujuran.

Saya membuat kopi, bukan yang istimewa, hanya kopi tubruk yang ampasnya mengendap di dasar gelas. Sambil menunggu air mendidih, saya membuka buku catatan kecil yang sudah lama saya pakai untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran. Buku itu tidak rapi. Ada coretan, ada halaman yang robek ujungnya, ada angka yang saya coret lalu tulis ulang. Tapi buku itu jujur, dan pagi ini saya butuh kejujuran lebih dari kerapian.

Saya menuliskan tiga kolom di halaman baru: yang pasti keluar, yang bisa ditunda, dan yang belum tahu. Di kolom pertama, saya tulis cicilan, listrik, air, internet, makan sehari-hari, ongkos kerja, dan kiriman rutin untuk Ibu. Di kolom kedua, saya tulis hal-hal yang selama ini saya tunda tanpa merasa bersalah: sepatu kerja yang solnya sudah tipis, kemeja yang kerahnya mulai pudar, langganan yang sebenarnya bisa berhenti. Di kolom ketiga, saya tulis dua hal dari telepon Ibu kemarin pagi: selisih kenaikan kos adik saya bulan depan, dan uang pangkal semester yang belum lunas.

Menuliskan angka-angka itu membuat dada saya sedikit lega, bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena masalahnya akhirnya punya bentuk. Selama ini, kalau Ibu bercerita soal uang, yang saya rasakan hanya berat yang tidak bernama. Sekarang berat itu punya nama dan jumlah. Selisih kos itu tidak sebesar yang saya takutkan, tapi juga tidak kecil. Uang pangkal itu lebih besar, dan tidak bisa dibayar dengan cara mengencangkan ikat pinggang satu bulan saja. Saya menggarisbawahi keduanya, lalu menulis di bawahnya satu kalimat untuk diri sendiri: saya tidak harus menyelesaikan semuanya sendirian.

Kalimat itu terasa asing. Seumur hidup, sebagai anak pertama, saya terbiasa berpikir bahwa kalau ada masalah di keluarga, jawabannya adalah saya. Ibu tidak pernah berkata begitu, tapi saya yang menafsirkannya begitu. Setiap kali Ibu bercerita, saya mendengar permintaan, padahal mungkin Ibu hanya ingin didengar. Kemarin pagi Ibu tidak memaksa. Ia hanya bercerita, dengan suara yang dijaga agar tidak terdengar khawatir. Dan justru karena ia tidak memaksa, saya merasa lebih bertanggung jawab, bukan lebih bebas. Itulah bagian yang paling sulit dari menjadi anak pertama: tidak ada yang menyuruh, tapi rasanya tetap ada yang menunggu.

Siang harinya, saya menelepon Nadia. Bukan untuk meminta jawaban, melainkan untuk berpikir bersama, seperti yang sudah kami sepakati. Saya ceritakan angka-angka yang sudah saya tulis, tanpa dibesar-besarkan dan tanpa dikecilkan. Nadia mendengarkan sampai selesai, lalu diam sejenak. Saya sudah hafal diamnya Nadia: itu bukan diam karena tidak peduli, melainkan diam karena ia sedang menyusun kalimat yang tidak melukai siapa pun.

"Mas," katanya akhirnya, "kita bantu sebisa kita, tapi jangan sampai kita yang roboh. Adikmu juga perlu belajar menanggung sebagian, bukan karena kita tidak sayang, tapi karena itu bagian dari dewasanya dia."

Saya mengangguk, padahal ia tidak bisa melihat. "Aku juga mikir begitu," jawab saya. "Mungkin kita bisa bantu selisih kosnya untuk beberapa bulan, sementara uang pangkalnya kita cari jalan bertahap. Tapi aku belum bicara dengan adikku langsung. Aku tidak mau memutuskan dari belakang punggungnya."

"Bagus," kata Nadia. "Bicara dulu dengan dia. Jangan lewat Ibu terus. Dia sudah cukup besar untuk diajak bicara sebagai orang dewasa."

Percakapan itu tidak menghasilkan keputusan final, dan saya bersyukur karenanya. Dulu, saya terbiasa memutuskan cepat agar rasa bersalah cepat pergi. Sekarang saya belajar bahwa keputusan yang cepat belum tentu keputusan yang baik. Kami sepakat: saya akan menghubungi adik saya malam ini, bukan untuk mengumumkan bantuan, melainkan untuk mendengar dulu dari mulutnya sendiri seperti apa situasinya. Berapa sebenarnya kekurangannya, apa yang sudah ia usahakan, dan apa yang ia butuhkan, bukan apa yang saya bayangkan ia butuhkan.

Sore hari, saya menata ulang angka-angka itu di ponsel, dalam bentuk yang lebih rapi, supaya kalau nanti saya bicara dengan adik saya, saya tidak mengarang. Saya menghitung tiga skenario: kalau kami membantu penuh, kalau kami membantu sebagian, dan kalau kami membantu dengan batas waktu. Skenario pertama membuat tabungan kami tipis sampai nyaris habis, dan saya tahu Nadia tidak akan tenang dengan itu, apalagi dengan rencana pindah bertahapnya yang masih menggantung. Skenario ketiga terasa paling masuk akal: bantuan dengan jangka waktu yang jelas, supaya adik saya bisa merencanakan, dan kami pun bisa bernapas.

Di tengah menghitung itu, saya teringat sesuatu. Dulu, ketika saya masih kuliah dan kekurangan uang, Ibu pernah mengirimkan uang dari hasil yang ia sisihkan diam-diam, tanpa pernah menyebutnya sebagai pengorbanan. Ia hanya bilang, "Buat makan yang benar." Saya tidak pernah tahu berapa banyak yang ia sisihkan untuk itu. Sekarang, ketika giliran saya berada di posisi yang memberi, saya mengerti bahwa memberi tidak selalu berarti menutupi semuanya. Kadang memberi berarti menemani seseorang sampai ia bisa berdiri sendiri, bukan menggendongnya terus.

Menjelang magrib, saya duduk lagi dengan buku catatan itu. Saya menuliskan rencana pembicaraan untuk malam ini, bukan naskah kaku, hanya poin-poin: tanyakan kabarnya dulu, tanyakan kosnya, tanyakan kuliahnya, tanyakan apa yang sudah ia coba. Saya tidak ingin telepon itu berubah menjadi interogasi. Adik saya bukan bawahan yang harus melapor. Ia adik saya, yang mungkin sama malunya dengan saya dulu ketika harus mengakui bahwa uangnya tidak cukup.

Saya juga menuliskan satu batas untuk diri sendiri: kalau malam ini saya merasa dorongan untuk langsung berkata "ya" pada semua permintaan, saya akan menahan diri. Saya akan berkata bahwa saya perlu satu malam lagi untuk berpikir. Itu bukan penolakan. Itu cara saya menjaga agar bantuan yang saya berikan nanti tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari perhitungan yang jernih. Nadia pernah bilang, keputusan yang lahir dari takut biasanya akan disesali dua kali: sekali saat memberi, sekali saat lelah.

Di sela-sela itu, pikiran saya juga melayang ke Cirebon. Nadia sudah berminggu-minggu tinggal di sana, merawat ayahnya yang sedang belajar berjalan lagi. Lima puluh delapan langkah sampai warung depan, dengan istirahat dua kali, itu bukan angka kecil bagi seorang yang baru pulih. Saya membayangkan Nadia berjalan di samping ayahnya, satu tangan siaga, sambil menghitung langkah dalam hati dan menahan diri untuk tidak terlalu cepat membantu. Ia pasti lelah, bukan hanya fisik, tapi juga perasaan: antara ingin ayahnya mandiri dan takut ayahnya jatuh. Evaluasi satu bulan tinggal seminggu lagi, dan kami sudah sepakat membicarakan pindah bertahapnya ke Jakarta. Tapi pindah bukan sekadar memindahkan barang. Ia memindahkan juga rasa aman seorang ayah yang baru menemukan ritmenya lagi. Saya tidak mau keputusan soal adik saya dan keputusan soal kepindahan Nadia saling bertabrakan dan membuat kami mengambil jalan pintas. Keduanya penting, keduanya butuh kepala dingin, dan keduanya tidak boleh diputuskan dalam keadaan takut.

Ketika azan magrib berkumandang dari musala dekat rumah, saya menutup buku catatan itu dan menyeduh kopi kedua. Ponsel saya letakkan di atas meja, layarnya menghadap ke atas kali ini, supaya saya tidak pura-pura tidak menunggu. Saya tahu saya sudah berjanji pada Nadia untuk menghubungi adik saya malam ini, tapi saya juga tidak mau telepon itu datang seperti panggilan mendadak dari atasan. Saya menulis pesan singkat, saya baca ulang tiga kali, lalu saya kirim: "Dik, kalau sempat malam ini, Mas mau telepon sebentar. Tidak ada yang darurat. Mas cuma mau dengar kabarmu."

Balasannya datang lebih cepat dari yang saya kira. Bukan panggilan, melainkan pesan singkat: "Mas, nanti aku telepon balik ya, aku lagi di luar."

Saya menatap pesan itu lama. Janji telepon balik itu menggantung di udara kamar kos saya, seperti gelas kosong di sudut untuk Nadia: sudah disiapkan, belum terisi. Saya tidak tahu apakah telepon itu akan datang malam ini atau besok pagi. Yang saya tahu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, adik saya yang akan menelepon saya β€” dan saya belum tahu sama sekali apa yang akan ia katakan.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!