Giliran Bersandar
Pundak Pertama β’ 1,505 kata
"Di rest area, Mas." Suara Nadia pecah. "Lututnya... lututnya kletek pas beliau turun dari truk. Terus jatuh. Nggak bisa berdiri. Satpam rest area yang bawa ke rumah sakit."
Ibunya menelepon sambil menangis β ayahnya memaksa menyetir padahal lututnya sudah bengkak seminggu, tidak mau istirahat karena katanya truk tidak bisa jalan sendiri dan cicilan tidak bisa menunggu.
"Rumah sakit mana?" tanyaku, sudah berdiri dan meraih jaket.
"RSUD di Cirebon. Ibu sudah di sana. Mas... aku harus ke sana. Sekarang."
"Kita," kataku. "Kita ke sana. Sekarang."
Nadia menatapku. "Mas, ini... keluarga Mas lagi kumpul. Aku nggak enakβ"
"Nad," potongku, "waktu aku bilang ke ayahmu aku mau jaga kamu, aku serius."
Rumah yang baru saja tenang kembali riuh β tapi riuh yang berbeda. Dimas bangun, langsung menelepon travel langganannya. "Ada yang jalan jam setengah satu ke Cirebon? Dua orang. Ya, sekarang."
"Dimas," kataku, "makasih."
"Udah, jangan mewek," katanya, tapi ia menepuk bahuku dua kali. "Hati-hati di jalan. Kabarin terus."
Ibu masuk dapur β menyalakan kompor tengah malam, membungkus nasi dan sisa opor makan malam ke dalam rantang. "Buat di jalan. Jangan jajan sembarangan."
"Ini sambalnya dibungkus double, biar nggak tumpah. Obat masuk angin ada di saku depan tas." Ibu cerewet seperti biasa β dan seperti biasa, aku tidak protes. Cerewetnya Ibu adalah bahasa sayangnya.
Bude menyelipkan amplop ke tangan Nadia. "Buat pegangan, Nduk. Jangan nolak."
Nadia mencoba menolak β Bude memelototi. "Jangan nolak!" Nadia menerimanya dengan mata berkaca.
Nenek memegang kedua tangan Nadia, berdoa pelan. Lalu menatapku: "Gas, jaga dia. Kayak kamu jaga kami."
"Iya, Nek."
Pukul setengah satu dini hari, travel melaju menembus tol yang sepi. Nadia duduk di sebelahku, menatap kaca yang berembun. Sesekali bahunya berguncang β menangis diam-diam.
Aku menggenggam tangannya. Dingin.
"Mas takut nggak?" bisiknya tiba-tiba.
"Takut," kataku jujur. "Tapi takutnya bareng-bareng lebih enak daripada takut sendirian."
Ia tertawa kecil di sela tangisnya β tawa yang patah. "Dulu waktu kecil," katanya menatap kaca yang berembun, "aku selalu nunggu suara truk ayahku pulang. Knalpotnya bunyinya khas β brek-brek-brek. Kalau kedengeran dari gang, aku lari ke depan."
"Terus?"
"Terus ayahku turun, bau solar, baju kotor, tapi selalu bawa sesuatu. Kadang roti, kadang mainan dari kota. Aku nggak peduli isinya apa. Yang penting... ayahku pulang."
Suaranya pecah lagi. Aku mengusap punggungnya, tidak tahu harus berkata apa β jadi aku tidak berkata apa-apa.
"Ayahku nggak pernah absen, Mas. Lebaran, ulang tahunku, wisudaku β beliau selalu ada. Sekarang..." ia menarik napas panjang, "sekarang giliran aku yang ada buat beliau."
Lalu kepalanya bersandar di bahuku. Lagi. Seperti di bus tadi malam β tapi kali ini bukan kantuk, melainkan butuh.
Dulu aku kira pundak pertama itu takdirku sendirian β memikul keluargaku, sendirian, selamanya. Ternyata pundak ini bisa dipakai dua orang. Ternyata "pundak pertama" bukan soal siapa yang memikul paling banyak. Tapi soal siapa yang berani jadi tempat bersandar.
Pukul empat pagi, kami tiba di RSUD Cirebon. Koridor rumah sakit dini hari β bau karbol, lampu putih, sepi yang menekan.
Ibunya Nadia menunggu di depan ruang observasi β perempuan paruh baya dengan mata bengkak dan kerudung kusut. Begitu melihat Nadia, ia langsung memeluknya.
"Nduk..." suaranya serak. "Maaf ya, Nduk, Ibu panik."
"Ibu nggak salah, Bu," kata Nadia.
Lalu ibunya menoleh padaku β menatap lama, seperti menakar. "Ini...?"
"Bagas, Bu. Temannya Nadia," kataku, menyalami dan mencium tangannya.
"Oh..." Beliau mengangguk pelan. "Makasih sudah antar anak saya jauh-jauh."
"Sama-sama, Bu."
"Ayahmu di dalam, Nduk. Sudah sadar. Ngomel terus."
Pak Suryo terbaring dengan kaki kanan ditopang bantal, lututnya dibebat. Begitu melihat kami, ia meringis β bukan kesakitan, melainkan malu.
"Cuma kecetit," katanya cepat, sebelum siapa pun bicara. "Kok pada heboh."
"Kecetit sampai nggak bisa berdiri, Yah?" Nadia duduk di tepi ranjang, matanya masih basah tapi nadanya tegas β nada anak yang sayang tapi kesal.
"Truknya gimana?" tanya ayahnya β pertanyaan pertama seorang supir.
"Aman. Dibawa pulang Slamet, keneknya," kata ibunya. "Katanya besok dia balik lagi. Anak baik itu."
"Slamet..." Pak Suryo mengangguk pelan. "Tolong bilangin, jangan ngebut. Dia itu kalau nyetir..."
"Iya, Yah, nanti aku yang bilangin," kata Nadia cepat. "Sekarang ayah istirahat."
Pagi harinya dokter visit β dokter muda dengan wajah lelah tapi ramah. Ia menunjukkan hasil rontgen: "Ligamennya robek, Pak. Harus operasi kecil. Dan setelah ini..." ia berhenti sejenak, "Bapak tidak boleh lagi menyetir jarak jauh. Lututnya tidak akan kuat."
"Operasinya kapan, Dok?" tanya ibunya, suaranya kecil.
"Besok pagi, Bu. Operasi kecil, sekitar satu jam. Tapi pemulihannya... tiga bulan tidak boleh kerja berat." Dokter itu menatap Pak Suryo. "Dan menyetir jarak jauh sebaiknya dihentikan total, Pak."
Pak Suryo menatap plafon. "Terus truk saya gimana, Dok?"
"Bisa disewakan ke kenek, Pak. Atau dijual. Nanti dipikirkan setelah operasi." Dokter itu tersenyum menenangkan, tapi kami semua tahu: kalimat "nanti dipikirkan" adalah kalimat paling berat di dunia.
Ruangan itu sunyi. Aku melihat wajah Pak Suryo β bukan takut operasi, tapi... hitungan. Cicilan truk. Biaya adik kuliah keperawatan. Warung ibu yang sepi.
Aku melihat wajah Nadia β dan aku kenal persis wajah itu. Wajahku sendiri, tiga belas tahun lalu, waktu pertama kali sadar bahwa aku adalah pundak pertama.
Sekarang giliran dia. Dan rasanya... sakit melihatnya. Seperti melihat adik sendiri jatuh ke lubang yang sama.
Siang itu di bagian administrasi, ibunya Nadia kebingungan mengisi formulir uang muka. Tangannya gemetar. Jumlahnya β tidak besar untuk orang kaya, tapi besar untuk kami.
"BPJS ayahmu?" bisikku pada Nadia.
"Nunggak tiga bulan, Mas. Semenjak sepi orderan."
Aku mengambil formulir itu pelan-pelan. "Biar saya, Bu."
"Jangan, Nak Bagasβ"
"Bu," kataku, "ini tabungan darurat saya. Tiga tahun kukumpulkan, sedikit demi sedikit, buat 'kalau-kalau'." Aku tersenyum. "Ini 'kalau-kalau'-nya."
Di kasir, aku menggesek kartu debit untuk nominal terbesar yang pernah kukeluarkan selain... ya, selain semuanya. Tanganku tidak gemetar. Aneh β untuk pengeluaran terbesar dalam hidupku, tanganku tidak gemetar sama sekali.
Aku membayar β dan untuk pertama kalinya, uangku keluar bukan tanggal lima, bukan ke kampungku, tapi ke sini. Rasanya aneh. Rasanya... benar.
Di koridor, kuceritakan pada Nadia. Ia menatapku lama, lalu berkata pelan: "Mas... nanti aku ganti."
"Nanti kita pikirin bareng," kataku. "Sekarang fokus ayah dulu."
"Mas nggak keberatan? Itu tabungan Mas..."
"Nad," kataku, "tiga belas tahun aku nabung buat keluargaku. Sekarang keluargaku... nambah satu orang. Ya tabungannya ikut nambah fungsinya."
Ia menangis β tapi kali ini sambil tersenyum. Ia memukul pelan bahuku. "Mas Pundak..."
Sore harinya ayahnya tertidur β efek obat. Kami duduk di koridor, berbagi rantang Ibu: nasi dan opor yang masih hangat.
Ponselku bergetar β Ibu. "Gas? Kalian di mana?"
"Di rumah sakit, Bu. Ayahnya Nadia mau operasi besok."
"Ya Allah." Hening sejenak. "Gas, dengerin Ibu. Uang di amplop Bude itu pakai kalau kurang. Jangan sungkan. Keluarga itu... ya, keluarga."
"Iya, Bu."
"Nenek kirim doa. Bilang ke Nadia: yang kuat."
Aku menoleh ke Nadia, menyampaikan pesan itu. Ia mengangguk dengan mata berkaca. "Sampaikan terima kasihku, Mas. Buat semuanya."
Tidak lama, ponsel Nadia berdering β adiknya. "Kak! Aku mau ke sana!"
"Kamu ujian, Dek."
"Ujian bisa susulan, Kak!"
"Dek, dengerin kakak. Kamu di sana, belajar yang bener, lulus, jadi perawat. Itu bantuan paling besar buat ayah." Adiknya menangis di telepon. Nadia menutup telepon dengan tangan gemetar. "Dia nangis," bisiknya. "Aku juga mau nangis. Tapi kalau kita semua nangis, siapa yang waras?"
"Mas," kata Nadia pelan, menatap kosong ke ujung koridor, "kayaknya sekarang aku yang jadi pundak pertama."
Aku mengangguk. "Kayaknya iya."
"Berat ya, Mas?"
"Berat," kataku jujur. "Tapi..." aku menatapnya, "kita gantian. Itu gunanya punya dua pundak."
Ia bersandar lagi di bahuku β dan kali ini aku tidak kaku. Aku sudah hafal rasanya.
Sebelum tertidur, Pak Suryo sempat memanggilku pelan. Aku mendekat ke ranjangnya.
"Kamu..." katanya lirih, "kamu yang ditelepon ayah kemarin?"
"Iya, Pak."
"Janji masih berlaku?"
Tenggorokanku tercekat. "Berlaku, Pak."
Beliau mengangguk pelan, lalu memejamkan mata. "Bagus. Soalnya sekarang... kayaknya giliran kamu yang jagain dia. Ayah... ayah istirahat dulu."
Aku keluar dari ruangan itu dengan dada sesak β bukan sesak cemas, tapi sesak karena dipercaya.
Lalu langkah kaki mendekat. Dokter yang tadi β dengan map di tangan, wajah serius.
"Keluarga Bapak Suryo?"
Kami berdiri. "Iya, Dok."
"Ada hasil pemeriksaan yang perlu kami sampaikan. Bisa ikut ke ruangan sebentar?"
Nadia menggenggam tanganku β erat sekali.
Dan koridor rumah sakit yang putih itu tiba-tiba terasa sangat panjang.