Rumah yang Lengkap Lagi
Pundak Pertama β’ 1,315 kata
Tanganku menangkap lengan Pak Suryo sebelum tubuhnya sempat kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Ia tidak jatuh β tapi ia juga tidak berdiri dengan kokoh. Ia bertumpu padaku, napasnya pendek-pendek, satu tangannya mencengkeram bahuku dan satu tangannya lagi memegangi lutut kanannya.
"Pelan, Pak," kataku, menuntunnya duduk di kursi plastik terdekat yang masih tersisa di halaman. "Duduk dulu. Jangan dipaksa berdiri."
Nadia yang mendengar suaraku langsung berlari dari dapur, masih dengan celemek di atas kebayanya. Ibunya menyusul dengan wajah yang langsung pucat.
"Yah, kenapa lagi?" tanya ibunya, setengah berbisik.
"Bukan jatuh, Bu," kataku cepat, sebelum kepanikan sempat membesar. "Lututnya bunyi lagi. Bapak sendiri yang bilang rasanya beda."
Pak Suryo duduk, mengulurkan kakinya lurus ke depan dengan hati-hati. Ia menekuknya pelan, lalu meluruskannya lagi. Wajahnya meringis, tapi tidak sepucat malam sebelum tenda dipasang itu.
"Sakitnya tidak seperti kemarin, Gas," katanya, berusaha jujur pada tubuhnya sendiri β sesuatu yang, tiga bulan lalu, mungkin tidak akan ia lakukan. "Kemarin itu seperti ditusuk. Ini... seperti ada yang geser sedikit, terus balik lagi. Ngilu, tapi masih bisa ditekuk."
Adik Nadia sudah mengambil ponselnya. "Aku telepon klinik, Kak? Yang kemarin?"
Aku mengangguk. "Telepon. Tanya apakah ini harus dibawa malam ini, atau cukup kompres dan istirahat, terus kontrol besok."
Sambil menunggu jawaban klinik, aku mengambil es dari dapur, membungkusnya dengan handuk kecil, dan mengompres lutut Pak Suryo seperti yang diajarkan dokter tiga bulan lalu. Nadia duduk di samping ayahnya, memegangi tangannya. Ibunya duduk di sisi lain, mengusap punggung suaminya pelan-pelan. Tidak ada yang berbicara keras. Di halaman yang sudah sepi itu, hanya ada suara jangkrik dan suara napas kami berempat yang berusaha tetap tenang.
Jawaban klinik datang sepuluh menit kemudian: dokter jaga berkata, selama lutut masih bisa ditekuk dan diluruskan, tidak bengkak hebat, dan tidak ada rasa sakit yang menusuk terus-menerus, kemungkinan besar itu hanya otot dan sendi yang kelelahan setelah dipaksa bekerja seharian β empat puluh langkah di pagi hari, berdiri berjam-jam menerima tamu, dan berdiri lagi sore ini. Instruksinya jelas: kompres dingin, obat antiradang yang masih tersisa, istirahat total malam ini, dan kontrol besok pagi kalau bengkaknya bertambah.
"Syukurlah," kata ibunya Nadia, mengusap dada.
Pak Suryo menghela napas panjang. "Jadi... saya tidak rusak lagi?"
"Belum tentu rusak, Pak," kataku, "tapi Bapak sudah membuktikan satu hal hari ini: lutut Bapak bisa dipakai untuk hal yang paling penting. Sisanya, besok-besok, kita rawat pelan-pelan. Tidak ada lagi yang harus diburu."
Ia mengangguk, lalu β dengan cara yang sangat Pak Suryo β berkata, "Besok saya istirahat. Tapi lusa saya mau jalan lagi. Pelan-pelan. Bukan ke pelaminan, tapi ke warung depan. Itu target baru saya."
Kami semua tertawa, lega yang akhirnya boleh keluar. Adik Nadia mencatat target baru itu di buku kecilnya, di bawah catatan latihan tiga bulan, dengan huruf besar: TARGET BARU β WARUNG DEPAN.
Malam itu, setelah Pak Suryo tidur dengan lutut yang dikompres dan kaki yang diganjal bantal, rumah itu kembali menjadi rumah β bukan lagi tempat pesta. Dapur masih beraroma rendang sisa, piring-piring sudah dicuci dan ditumpuk, tenda yang setengah terlipat menunggu dilipat penuh besok pagi. Ibunya Nadia tertidur di kursi ruang tengah, tasbih masih di tangannya. Adik Nadia tertidur di kamar, ponselnya masih menyala di samping bantal.
Dan aku dan Nadia β untuk pertama kalinya sebagai suami istri β duduk berdua di teras, di tempat yang sama dengan tiga bulan lalu, hanya saja kali ini bukan lagi dua orang yang menunggu jawaban. Kali ini kami adalah dua orang yang sudah mendapatkan jawabannya, dan kini harus belajar menjalani jawaban itu setiap hari.
Nadia masih memakai kebayanya, tapi celemek sudah dilepas, rambutnya sudah dibiarkan tergerai setengah. Ia bersandar di bahuku, diam cukup lama, sampai aku pikir ia tertidur. Ternyata tidak. Ia hanya sedang mengumpulkan kata.
"Mas," katanya akhirnya, pelan, "tadi pagi, waktu ayahku berhenti di langkah tiga puluh satu, aku sempat berpikir... ya Allah, jangan sekarang. Jangan di depan semua orang."
"Aku juga," kataku. "Tapi ternyata berhenti itu bukan gagal, Nad. Berhenti itu cuma... jeda. Yang penting, setelah jeda, ada yang datang menjemput."
Ia mengangkat kepala, menatapku. "Mas yang datang menjemput itu. Mas sadar nggak, dari dulu Mas selalu begitu? Waktu aku capek jadi pundak pertama, Mas datang. Waktu ayahku jatuh, Mas datang. Mas itu... kayak orang yang memang ditugaskan untuk datang di saat jeda."
Aku tersenyum, tapi senyumku tidak bertahan lama, karena kalimat itu membawaku ke pertanyaan yang sejak pagi tadi belum sempat kami bicarakan: apa setelah ini? Aku bekerja di Jakarta. Nadia tinggal di Cirebon, bersama orang tuanya yang masih butuh dirawat. Pernikahan kami sah, tapi rumah kami β rumah yang benar-benar kami tinggali berdua β belum ada bentuknya.
Seolah membaca pikiranku, Nadia berkata, "Mas, kita harus bicara soal ini. Bukan malam ini juga harus diputuskan, tapi... aku nggak mau kita pura-pura tidak ada pertanyaan itu."
"Pertanyaan yang mana?" tanyaku, walau aku sudah tahu jawabannya.
"Aku ikut Mas ke Jakarta, atau Mas... atau kita tetap di sini dulu?" Ia menelan ludah. "Ayahku belum sembuh total. Ibuku sudah tua. Adikku masih sekolah. Kalau aku langsung pergi ke Jakarta minggu ini, siapa yang menemani ayah latihan ke warung depan? Tapi kalau aku tetap di sini, kita... kita ini suami istri yang tinggal di dua kota."
Aku menggenggam tangannya. Tangan yang tadi pagi kuterima dari ayahnya, kini terasa lebih nyata β hangat, sedikit kasar karena seharian membantu di dapur, dan gemetar halus karena lelah.
"Nad," kataku, "aku tidak akan memintamu memilih antara aku dan ayahmu. Itu pilihan yang tidak adil, dan aku sudah berjanji tidak akan memintamu berhenti jadi pundak pertama. Jadi begini: kita tidak usah memutuskan semuanya malam ini. Besok kita antar ayahmu kontrol dulu. Lusa, kita hitung sama-sama: biaya kos di Jakarta, jadwal kerjaku, jadwal latihan ayahmu. Keputusan yang diambil sambil capek itu biasanya keputusan yang disesali. Keputusan yang diambil sambil tenang, itu yang bertahan."
Nadia mengangguk, air matanya jatuh diam-diam. "Mas, aku bersyukur... aku bersyukur ayahku tadi bilang, pundak yang dibagi itu bukan pundak yang lemah. Karena mulai malam ini, pundakku... ada yang bantu pegang. Dan pundak Mas juga. Aku juga mau pegang pundak Mas, kalau Mas capek."
Kalimat itu membuat dadaku sesak dengan cara yang baik β sesak seperti orang yang akhirnya boleh meletakkan sesuatu yang sudah terlalu lama ia pikul sendirian, walau hanya sebentar, walau hanya di teras rumah yang lampunya redup.
Kami duduk diam lagi, mendengarkan jangkrik, sesekali mendengar Pak Suryo batuk kecil dari dalam rumah β batuk orang tidur yang nyenyak, bukan batuk orang kesakitan. Itu cukup untuk membuatku bernapas lega.
Sudah hampir tengah malam ketika Nadia menggeliat, menguap, dan berkata, "Mas, kita tidur, yuk. Besok pagi-pagi kita ke klinik."
Aku mengangguk, berdiri, membantunya berdiri. Kami melangkah masuk, melewati ruang tengah tempat ibunya tertidur, menuju kamar yang β mulai malam ini β menjadi kamar kami. Kamar itu sederhana: kasur yang sudah diganti seprainya oleh ibunya Nadia, lemari kecil, dan di atas meja ada buket bunga kecil dari adik Nadia, dengan kartu tulisan tangan: selamat, Kak, semoga kalian kuat bareng-bareng.
Nadia berdiri di ambang kamar, menatap buket itu lama. Lalu ia berbalik padaku, dan wajahnya berubah β bukan wajah lelah lagi, melainkan wajah seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang penting, sesuatu yang ia simpan sepanjang hari karena tidak ada waktu yang tepat untuk mengatakannya.
"Mas," katanya, suaranya turun sampai hampir berbisik, "sebelum tidur, aku harus cerita satu hal. Tentang ayah. Dan tentang rumah ini. Sesuatu yang... belum pernah aku ceritakan ke siapa pun, bahkan ke adikku. Dan aku takut, kalau aku tidak cerita malam ini, besok aku tidak akan berani lagi."
Ia menggenggam ujung kebayanya dengan kedua tangan, seperti orang yang sedang menahan sesuatu agar tidak jatuh β dan aku, yang berdiri di depannya, tiba-tiba sadar bahwa hari ini, hari yang kukira sudah selesai dengan akad dan langkah empat puluh itu, ternyata masih menyimpan satu pintu lagi yang belum dibuka.