β€Ή
96. Nama yang Masih Tertulis di Sertifikat

Nama yang Masih Tertulis di Sertifikat

Pundak Pertama β€’ 1,268 kata

Ilustrasi Nama yang Masih Tertulis di Sertifikat

Keesokan harinya, tepat seperti yang dikatakan Bapak, kami membuka lagi semua map di meja makan setelah sarapan. Ibu menggeser piring-piring ke sisi meja, Nadia membawa buku catatan kecil, dan Bapak meletakkan tas kain cokelat itu di tengah, seperti seorang yang membuka kotak peralatan sebelum mulai bekerja. Di luar, matahari pagi belum terlalu terik, dan kamar belakang yang baru dicat itu tampak terang dari pintu yang terbuka.

"Pelan-pelan saja," kata Bapak. "Kita urutkan dari yang paling mudah. PBB dulu, lalu Kartu Keluarga, lalu yang lain."

Kami pun mulai. Lembar PBB dari tahun-tahun terakhir kami susun berdasarkan tahunnya, dari yang paling lama sampai yang paling baru. Sebagian warnanya sudah menguning, sebagian masih cukup jelas. Ibu membantu memeriksa angka-angkanya, memastikan tidak ada tahun yang terlewat. Nadia menulis di buku catatan, tahun berapa saja yang sudah ada, dan tahun berapa saja yang perlu dicari fotokopinya di tempat lain.

Setelah PBB beres, kami beralih ke Kartu Keluarga dan fotokopi Kartu Tanda Penduduk. Bagian ini relatif cepat, karena namanya sudah jelas, alamatnya sudah sama, dan tidak ada yang perlu diperdebatkan. Bapak sesekali bercerita pendek tentang kapan Kartu Keluarga itu terakhir diperbarui, yaitu ketika ada perubahan jumlah anggota keluarga, dan bagaimana dulu ia harus bolak-balik ke kantor kelurahan hanya untuk satu tanda tangan.

Kemudian tibalah giliran map yang paling tebal, map yang berisi sertifikat dan Akta Jual Beli. Bapak membukanya dengan lebih hati-hati dari map yang lain. Ia mengeluarkan sertifikat tanah itu, meletakkannya di atas meja, dan kami bertiga menunduk untuk membaca bersama. Pada awalnya, semuanya tampak biasa saja. Luas tanahnya sama seperti yang disebutkan Bapak kemarin di kantor kelurahan. Letaknya sama. Batas-batasnya pun sama.

Lalu mataku berhenti pada satu baris di bagian nama pemegang hak. Nama yang tertulis di sana bukanlah nama Bapak. Nama itu adalah nama almarhum kakekku, ayah dari Bapak, yang sudah lama meninggal sebelum aku benar-benar memahami apa arti sebuah sertifikat. Aku membacanya dua kali, memastikan aku tidak salah baca, lalu aku menatap Bapak.

Bapak tidak terkejut. Ia hanya menghela napas pelan, seperti orang yang sudah lama tahu, tapi baru hari ini benar-benar mengatakannya dengan suara jelas. "Iya, Gas," katanya. "Sertifikat ini memang masih atas nama Mbahmu."

Ruangan itu mendadak terasa lebih hening dari biasanya. Ibu berhenti menyusun lembar PBB. Nadia berhenti menulis. Aku sendiri tidak langsung bertanya apa-apa, karena aku sedang mencoba memahami apa artinya. Rumah yang selama ini kutinggali, rumah yang atapnya baru diperbaiki, dindingnya baru dicat, ternyata secara surat masih tercatat atas nama orang yang sudah tiada, bukan atas nama Bapak yang merawatnya puluhan tahun.

"Kenapa belum dibalik nama, Pak?" tanyaku akhirnya, dengan suara yang kujaga agar tidak terdengar menyalahkan.

Bapak tersenyum tipis, senyum orang tua yang tidak sedang membela diri, melainkan sedang menjelaskan sebuah kenyataan hidup. "Dulu, waktu Mbahmu meninggal, Bapak sibuk mengurus pemakaman, mengurus Ibu yang masih berduka, mengurus adik-adik Bapak yang masih sekolah. Setelah itu, Bapak sibuk bekerja, sibuk membesarkan kalian. Balik nama itu perlu biaya, perlu waktu, perlu datang berkali-kali. Bapak selalu berpikir, nanti saja, kalau sudah longgar. Lalu tahun berganti tahun, dan ternyata tidak pernah benar-benar longgar."

Penjelasan itu sederhana, tapi ia membuatku berhenti sejenak, lebih lama dari yang kuduga. Aku memikirkan kembali semua hal yang pernah kutunda dalam hidupku sendiri, semua hal yang selalu kuberi alasan nanti saja, dan bagaimana nanti saja itu bisa berubah menjadi bertahun-tahun tanpa disadari. Aku juga memikirkan Bapak yang selama ini kupandang sebagai orang yang menyelesaikan segalanya, ternyata juga manusia yang menunda satu hal penting, bukan karena malas, melainkan karena hidup terus berjalan dan selalu ada hal lain yang terasa lebih mendesak.

Ibu kemudian menambahkan dengan suara lembut, "Waktu itu Bapakmu juga tidak mau merepotkan adik-adiknya. Balik nama itu kan perlu persetujuan semua ahli waris. Bapakmu tidak enak hati mengajak adik-adiknya mengurus surat di tengah mereka masih berduka dan masih sibuk masing-masing."

Aku baru memahami sisi lain dari cerita ini. Sertifikat itu bukan hanya soal satu nama yang belum diganti, melainkan soal sebuah keluarga besar yang pernah kehilangan, dan soal Bapak yang memilih diam dan merawat rumah ini tanpa pernah menuntut pengakuan tertulis atas namanya sendiri. Ia merawat rumah ini sebagai anak, sebagai suami, sebagai bapak, tanpa perlu namanya tertulis paling depan.

Nadia, yang selama ini diam, akhirnya bertanya, "Lalu sekarang, apa yang harus dilakukan, Pak? Apakah susah?"

Bapak menjawab dengan tenang, "Tidak susah, tapi perlu langkah-langkahnya. Perlu surat keterangan ahli waris, perlu persetujuan adik-adik Bapak, perlu datang ke kantor lagi. Makanya kemarin Bapak bilang, sudah waktunya dibereskan. Bapak tidak mau kamu, Gas, nanti yang harus mencari-cari adik-adik Bapak satu per satu kalau Bapak sudah tidak ada."

Kalimat terakhir itu tidak ia ucapkan dengan nada sedih yang dibuat-buat. Ia mengucapkannya seperti orang yang sedang menyampaikan fakta, agar kami bisa bersiap, bukan agar kami takut. Tapi tetap saja, kalimat itu membuat dadaku terasa sesak. Aku menatap sertifikat itu lagi, dan nama kakekku di sana kini terasa berbeda. Ia bukan lagi sekadar nama lama yang tertinggal, melainkan pengingat bahwa rumah ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan setiap generasi punya tugasnya sendiri untuk menjaga agar warisan itu tetap jelas dan tidak menjadi beban bagi generasi setelahnya.

Siang itu, kami tidak langsung mengambil keputusan besar. Kami hanya melanjutkan pekerjaan kecil yang ada di depan mata. Kami memisahkan sertifikat itu ke dalam map tersendiri, kami menulis di buku catatan Nadia bahwa sertifikat masih atas nama almarhum kakek, dan kami menulis daftar langkah berikutnya yang perlu ditanyakan ke Pak Arman. Ibu membuatkan teh lagi, dan kami beristirahat sebentar di teras, memandang halaman yang rumputnya mulai tumbuh setelah hujan.

Sore harinya, Bapak mengajakku duduk berdua di teras belakang, di tempat yang sama seperti malam sebelum ia mengajakku ke kantor kelurahan. Ia tidak membahas sertifikat itu dengan panjang lebar. Ia hanya berkata, "Gas, Bapak tidak malu mengakui ini. Bapak justru lega akhirnya kamu tahu. Kalau dulu Bapak menyimpan ini sendirian, sekarang kamu sudah tahu, dan kita bisa membereskannya bersama."

Aku mengangguk, dan untuk pertama kalinya aku benar-benar memahami apa yang dimaksud Bapak malam itu, ketika ia menyentuh dinding yang dulu basah. Dinding itu ditemukan karena lemari digeser, lalu diperbaiki bersama. Surat ini pun sama. Ia ditemukan karena map dibuka bersama, dan ia akan dibereskan bersama, bukan karena Bapak kurang kuat, melainkan karena memang begitu seharusnya sebuah keluarga bekerja.

Malam itu, setelah makan malam, aku menulis di buku catatanku sendiri, bukan buku catatan Nadia, melainkan buku kecil yang kusimpan di kamar. Aku menulis bahwa sertifikat rumah masih atas nama kakek, bahwa Bapak menundanya bukan karena tidak peduli, melainkan karena hidupnya penuh dengan urusan lain yang juga penting, dan bahwa tugas kami sekarang bukan menyalahkan masa lalu, melainkan melanjutkan langkah yang tertunda itu dengan tenang.

Sebelum tidur, aku kembali ke meja makan dan melihat map-map itu sudah tersusun rapi, dengan map sertifikat diletakkan paling atas. Aku tahu, besok kami harus membicarakan ini sebagai keluarga, bukan hanya berdua, karena keputusan tentang sertifikat ini bukan keputusan Bapak seorang diri, dan bukan pula keputusanku seorang diri. Ia adalah keputusan keluarga, dan aku belum tahu apa tepatnya keputusan itu, tapi aku tahu kami akan mengambilnya bersama, di meja yang sama, dengan cara yang sama seperti kami mengecat dinding kemarin, pelan-pelan, satu bagian demi satu bagian.

Aku juga memikirkan sesuatu yang tidak kuucapkan sore tadi. Selama ini aku mengira warisan berarti rumah yang ditinggalkan untuk anaknya, padahal hari ini aku melihat warisan yang lain, yaitu cara Bapak menghadapi hal yang tertunda. Ia tidak menyembunyikannya selamanya, ia tidak pula terburu-buru menyelesaikannya dengan panik. Ia membukanya pada waktu yang ia rasa tepat, di hadapan keluarganya, dan meminta kami ikut menjaganya. Cara seperti itulah yang kini mulai kupahami sebagai warisan yang sesungguhnya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!