β€Ή
61. Dua Pundak

Dua Pundak

Pundak Pertama β€’ 1,328 kata

Ilustrasi Dua Pundak

Kalimat itu β€” "Jual aja, Nduk. Ayah udah nggak kuat." β€” menggantung di koridor seperti asap. Nadia mengulanginya dua kali, seolah tidak percaya telinganya sendiri.

"Tiga puluh tahun, Mas," bisiknya. "Tiga puluh tahun ayahku sama truk itu. Truk itu saksi aku lahir, saksi aku wisuda. Dan sekarang ayahku sendiri yang bilang... jual aja."

Aku merangkulnya. "Itu bukan nyerah, Nad. Itu sayang. Ayahmu milih kamu daripada truknya."

Kami masuk ke ruangan bersama. Pak Suryo terbaring dengan mata terbuka, menatap plafon. Begitu melihatku, ia berkata pelan β€” tanpa basa-basi, seperti orang yang sudah memutuskan semalaman:

"Gas, kamu yang urus. Kamu ngerti beginian."

"Pakβ€”"

"Slamet cerita ke saya tadi. Pakdenya mau beli, nutup cicilan, masih sisa." Ia menoleh padaku. "Saya cuma minta satu: jangan sampai Slamet kehilangan kerja. Anak itu baik. Dia yang bawa truk saya pulang waktu saya jatuh."

"Slamet tetap kerja, Pak," kataku. "Pakdenya mau dia yang bawa truk itu. Gajinya malah naik."

Pak Suryo mengangguk pelan. Lalu menatap Nadia. "Nduk, ayah minta maaf."

"Buat apa, Yah?"

"Buat... bikin kamu jadi kayak ayah." Suaranya bergetar. "Ayah lihat kamu tadi β€” ngatur-ngatur di kantin, nelpon leasing. Itu... itu ayah banget waktu muda. Mikirin cicilan sambil senyum biar ibu kamu nggak panik." Ia mengulurkan tangan, Nadia menyambutnya. "Maaf ya, Nduk. Harusnya kamu nggak perlu secepat ini."

Nadia menggeleng sambil menangis. "Yah, denger ya. Aku nggak keberatan. Beneran." Ia menggenggam tangan ayahnya erat. "Mas Bagas pernah bilang: pundak pertama itu bukan kutukan. Itu... kepercayaan."

Pak Suryo menatapku. "Kamu ngajarin anak saya yang aneh-aneh ya."

"Saya ngajarin yang bener, Pak," kataku sambil tersenyum β€” dan ruangan itu tertawa kecil di tengah air mata.

Keesokan paginya β€” hari ketiga kami di Cirebon β€” semuanya bergerak cepat. Slamet datang dengan pakdenya: pria lima puluhan yang tegas tapi ramah, langsung memeriksa truk di halaman rumah β€” difoto, dicoba mesinnya, dinego sedikit, deal.

Aku yang mengurus administrasinya β€” ditemani Nadia. Balik nama, pelunasan sisa cicilan ke leasing, surat-surat. Uang muka dari pakde Slamet cukup untuk menutup kekurangan biaya rumah sakit dan β€” ini yang bikin Nadia menangis di depan kantor leasing β€” melunasi tunggakan BPJS tiga bulan sekaligus.

"BPJS-nya aktif lagi mulai hari ini, Mbak," kata petugasnya. "Kontrol berikutnya bisa pakai BPJS."

Di parkiran kantor leasing, Nadia memelukku β€” lama. "Mas, utangku makin banyak."

"Catat aja dulu," kataku. "Nanti kita hitung bareng. Bunga nol persen, tenor seumur hidup."

"Enak aja seumur hidup."

"Ya namanya juga keluarga."

Siang itu ada satu adegan yang tidak akan pernah kulupakan. Sebelum truk dibawa pakde Slamet, Pak Suryo β€” yang seharusnya istirahat total β€” memaksa diantar ke halaman rumah dengan kursi roda. Ibunya Nadia mendorong, kami semua mengikuti.

Truk itu terparkir di bawah pohon mangga β€” truk tua berwarna biru pudar, baknya penyok di sana-sini, tapi mesinnya masih meraung sehat. Tiga puluh tahun menempuh jalanan Jawa.

Pak Suryo meminta didorong sampai ke pintu kemudi. Lalu β€” dengan tangan gemetar β€” ia membuka pintu, naik satu anak tangga kursi roda tidak memungkinkan, jadi ia hanya berdiri berpegangan di gagang pintu, dan mengelus setirnya. Lama.

"Brek-brek-brek," gumamnya pelan, menirukan bunyi knalpot. "Tiga puluh tahun kamu bunyi begitu tiap pulang."

Nadia menangis diam-diam di belakangku. Adiknya memeluk ibunya.

"Makasih ya," kata Pak Suryo pada truknya β€” dan aku bersumpah, suaranya seperti bicara pada sahabat lama. "Kamu udah bawa saya pulang berkali-kali. Sekarang giliran kamu dibawa orang."

Ia menoleh pada Slamet. "Met, jaga dia. Jangan ngebut. Ganti oli tepat waktu."

"Siap, Pak," kata Slamet dengan suara bergetar. "Saya janji."

Pak Suryo turun pelan, kembali ke kursi roda. Ia melambaikan tangan saat truk itu dinyalakan β€” brek-brek-brek β€” dan perlahan keluar dari halaman. Ia melambaikan terus sampai truk itu hilang di tikungan.

Nadia menggenggam tanganku erat. "Mas inget nggak ceritaku di travel kemarin? Soal aku yang selalu nunggu suara truk ayah pulang?"

"Aku inget."

"Setiap denger brek-brek-brek dari gang, aku lari ke depan." Ia tersenyum di sela air matanya. "Tiga puluh tahun suara itu artinya ayah pulang. Sekarang suaranya pergi."

Aku merangkulnya. "Suaranya pergi, orangnya tetap di sini, Nad. Dan mulai sekarang, yang pulang bawa roti dan mainan... gantian kita."

Ia tertawa kecil sambil mengusap air mata. "Mas Pundak mulai gombal lagi."

"Belajar dari yang terbaik," kataku, melirik Pak Suryo yang masih melambaikan tangan ke tikungan yang sudah kosong.

Lalu ia menatapku. "Udah, Gas. Ayah udah pamit."

Malam itu di rumah sakit β€” malam terakhir rawat inap, besok pagi Pak Suryo boleh pulang β€” suasananya aneh. Lega, tapi juga... kosong. Seperti habis pindahan rumah.

Dokter visit terakhir: luka operasi bagus, gula stabil dengan obat, kontrol dua minggu lagi. "Ingat, Pak," kata dokter, "obatnya jangan putus. Kontrolnya jangan telat."

"Siap, Dok," kata Pak Suryo β€” dan untuk pertama kalinya, ia tidak membantah dokter.

Setelah dokter pergi, ibunya Nadia mengeluarkan rantang β€” opor sisa yang dihangatkan. Kami makan berlima di ruangan itu β€” aku, Nadia, ibunya, adiknya, dan Pak Suryo yang makan sambil duduk. Sederhana. Hangat. Seperti lebaran yang datang lebih awal.

"Gas," kata ibunya Nadia tiba-tiba, "kamu udah izin kerja berapa hari?"

"Tiga hari, Bu. Besok saya balik ke Jakarta."

"Kerjaanmu nggak apa-apa?"

Aku mengangguk. "Udah aku kabarin. Bosku ngerti."

Nadia menatapku. "Mas, soal uangkuβ€”"

"Nanti," potongku cepat. "Malam ini nggak ada omongan uang. Perintah dokter."

"Perintah dokter kok ngatur uang," gerutu Nadia β€” tapi ia tersenyum.

Adiknya tiba-tiba berkata, "Kak, nanti aku yang temenin ayah kontrol ya? Jadwal kuliahku bisa diatur. Aku kan calon perawat β€” sekalian praktik."

Pak Suryo menatap anak bungsunya. "Kamu nggak usah bolos kuliah."

"Nggak bolos, Yah. Aku atur." Adiknya tersenyum. "Lagian, kakak udah jadi pundak pertama. Aku jadi pundak kedua. Ayah jadi... ayah aja. Yang tugasnya sembuh."

Ruangan itu hening sejenak β€” lalu kami semua tertawa. Pak Suryo tertawa sampai batuk, ibunya menepuk-nepuk punggungnya.

"Dasar," kata Pak Suryo sambil mengelap air mata β€” entah karena tertawa atau apa. "Anak-anak ayah..."

Sekitar jam sembilan malam, aku dan Nadia keluar ke teras rumah sakit β€” tempat kami dua malam terakhir. Langit Cirebon cerah, bintang-bintang terlihat jelas. Angin malam membawa bau laut dari kejauhan.

Besok semuanya berubah lagi: aku kembali ke Jakarta, Nadia kembali ke rutinitasnya, ayahnya mulai hidup baru tanpa truk. Tapi malam ini, kami punya jeda.

"Mas," kata Nadia pelan, menatap langit, "aku kepikiran sesuatu."

"Apa?"

Ia menoleh padaku. Wajahnya serius β€” tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya.

"Waktu Mas ngelamar aku," katanya, "Mas bilang mau jaga aku. Terus ayahku bilang, sekarang giliran Mas yang jagain aku." Ia menggenggam tanganku. "Aku mau ayahku yang antar aku jalan ke pelaminan nanti, Mas. Pegang tanganku, jalan bareng, sampai depan."

Aku menatapnya β€” jantungku mulai berdebar.

"Dokter bilang tiga bulan baru bisa jalan normal." Ia menatapku dalam-dalam. "Jadi... Mas mau nunggu? Nungguin aku, nungguin ayahku sembuh, tiga bulan?"

Angin malam berhembus. Bintang-bintang diam. Nadia menatapku β€” menunggu jawaban.

Dan aku β€” aku membuka mulutku untuk menjawab, ketika dari dalam ruangan terdengar suara Pak Suryo memanggil, "Nduk! Nadia! Sini sebentar!"

Nadia menoleh ke arah suara, lalu kembali menatapku. "Jawabnya nanti aja, Mas. Ayah manggil."

Ia berlari kecil masuk ke dalam β€” meninggalkanku sendirian di teras, dengan pertanyaan yang menggantung di antara bintang-bintang.

Aku tersenyum sendiri dalam gelap. Tiga bulan. Setelah tiga belas tahun memikul sendirian, apa sih artinya tiga bulan menunggu β€” kalau yang ditunggu adalah seseorang yang mau memikul bersamaku?

Dari dalam ruangan, kudengar tawa mereka β€” Pak Suryo, istrinya, dua anak perempuannya. Keluargaku yang baru.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, kata "pundak pertama" tidak terdengar seperti beban.

Terdengar seperti rumah.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!