β€Ή
14. Kamar Tujuh

Kamar Tujuh

Pundak Pertama β€’ 1,411 kata

Ilustrasi Kamar Tujuh

Pukul tiga lewat empat puluh menit dini hari, Bagas terbangun — dan selama beberapa detik ia tidak tahu di mana ia berada.

Lalu suara itu datang: tik, tik, tik. Jam tangan Bapak di pergelangan tangannya, berdetak setia dalam gelap. Bagas mengembuskan napas. Kamar tujuh. Balai Latihan Kerja Cikarang. Bukan rumah. Sudah sembilan hari ia berada di sini, dan setiap pagi ia masih terbangun dengan harapan setengah sadar bahwa bau di sekitarnya adalah bau dapur ibunya — bukan bau cat baru dan keringat lama yang menurut Wahyu adalah “bau resmi semua asrama di Indonesia”.

Di ranjang atas, Wahyu mendengkur pelan sambil memeluk bantal. Dari sudut seberang terdengar dengkuran Yoga — halus, hampir tidak terdengar, seperti anak kecil. Tiga penghuni lainnya masih terlelap dalam posisi masing-masing yang sudah hafal di luar kepala oleh Bagas. Kipas angin gantung berputar dengan bunyi berdecit, mengaduk udara panas yang tidak mau pergi.

Bagas menatap langit-langit yang bernoda rembesan. Kemarin — Senin — masih terasa seperti luka baru. Ia tiba di gerbang kompleks pukul 05.57, tiga menit sebelum apel, dengan tas ransel yang masih berbau bus malam dan mata yang masih berbau rumah sakit. Sepatu trainingnya belum sempat ia kenakan dengan benar. Dan Pak Bambang — lelaki berwajah keras itu — menatapnya lama, lalu nyaris tak terlihat mengangguk. Anggukan yang menyelamatkan nyawanya hari itu.

Bel asrama meraung tepat pukul empat, seperti biasa.

Kamar tujuh berubah menjadi medan perang kecil yang tertib. Wahyu melompat turun sambil berteriak “Hidup!”, Yoga turun dengan wajah masam seperti setiap pagi, dan Bagas sudah lebih dulu berdiri — ia memang selalu bangun sebelum bel, entah karena kebiasaan di rumah atau karena cemas ketinggalan seperti Senin lalu.

Antrean kamar mandi adalah ujian kesabaran yang sesungguhnya. Empat kamar mandi untuk enam puluh peserta. Airnya dingin menusuk tulang, gayungnya berebut, dan siapa pun yang mandi lebih dari lima menit akan diteriaki satu koridor. Bagas sudah belajar mandi dalam tiga menit: basuh muka, sabun, bilas, selesai. Di rumah, ia biasa mandi lebih lama sambil mendengarkan ibunya menanak nasi. Di sini, tidak ada suara dapur. Yang ada hanya suara gayung beradu dan keluhan orang-orang yang kedinginan.

Pukul lima tepat, enam puluh peserta berbaris di lapangan. Pak Bambang berjalan di depan barisan dengan langkah pelan, tangan di belakang punggung, matanya menyapu satu per satu seperti mercusuar. Tidak ada yang berani batuk. Sejak hari pertama ia sudah berkata: “Di sini tidak ada anak emas. Yang ada hanya tiga hal: api, besi, dan kejujuran.”

Inspeksi kamar setelah apel adalah bagian yang paling dibenci semua orang. Selimut harus dilipat membentuk kotak sempurna, bantal tegak di tengah, lantai tidak boleh ada sehelai rambut pun. Pak Bambang memeriksa kamar tujuh lebih lama dari kamar lain — Bagas tahu kenapa: Senin kemarin. Tetapi semuanya lolos hari itu, bahkan lipatan selimut Yoga yang biasanya seperti adonan gagal.

“Bagus,” kata Pak Bambang singkat, dan berlalu.

Satu kata itu membuat dada Bagas hangat sampai sarapan.

Sarapan adalah bubur encer dengan sepotong ubi rebus dan teh manis yang lebih banyak airnya daripada tehnya. Bagas makan dengan lahap — di rumah pun ia terbiasa makan sederhana. Wahyu duduk di sebelahnya, bercerita tentang Semarang dengan mulut penuh, sementara Yoga duduk di seberang — masih menjaga jarak, tetapi sudah tidak lagi duduk di meja lain. Sejak malam Bagas mengajarinya arti simbol segitiga terbalik itu, Yoga tidak pernah lagi menyindirnya di depan orang. Di asrama laki-laki, itu sudah cukup sebagai perdamaian.

“Eh, Gas,” kata Wahyu tiba-tiba, “kemarin Senin kamu kenapa? Pucat kayak mayat hidup. Kukira kamu mau pingsan di barisan.”

Bagas mengaduk buburnya. “Kurang tidur. Naik bus malam.”

“Dari mana?”

“Rumah.”

Wahyu mengangguk, tidak mendesak. Yoga melirik sekilas, lalu kembali ke ubinya. Bagas bersyukur — ada hal-hal yang belum bisa ia ceritakan, bahkan kepada teman sekamar.

Pelajaran teori pagi itu tentang membaca gambar teknik lanjutan. Bagas mencatat dengan rajin di buku tulisnya yang sudah setengah penuh, hurufnya kecil dan rapat — kebiasaan dari zaman sekolah malam, ketika satu buku tulis harus cukup untuk satu semester. Sesekali ia melirik Yoga yang mengernyitkan dahi; tanpa diminta, ia menggeser bukunya sedikit agar terlihat dari seberang meja. Yoga menatapnya, ragu, lalu menyalin catatan itu. Tidak ada terima kasih. Tidak apa-apa.

Siang harinya, barulah bagian yang ditunggu-tunggu: praktik.

Bengkel praktik berada di ujung kompleks — bangunan panjang beratap seng, berisi dua puluh bilik las yang berderet. Begitu topeng las diturunkan dan busur api menyala, dunia menyempit menjadi satu titik cahaya biru-putih yang berdesis. Bau ozon dan logam panas memenuhi udara. Bagi kebanyakan peserta, ini menakutkan. Bagi Bagas, ini seperti pulang ke rumah yang lain: dua tahun di bengkel Pak Kardi telah mengajari tangannya bahasa api.

Hari itu latihannya sambungan sudut posisi tegak — melawan gravitasi, logam cair yang ingin jatuh, hanya kesabaran yang bisa menahannya. Manik las Bagas tersusun rapi seperti sisik ikan. Ketika ia mengangkat topengnya, ia melihat Pak Bambang berdiri dua bilik darinya, memperhatikan.

Di bilik sebelah, Yoga mengumpat pelan. Manik lasnya meleleh ke bawah, menggumpal seperti air mata besi. Wajahnya merah — bukan karena panas api, melainkan karena malu. Anak kontraktor yang bersinar di kelas teori itu ternyata punya tangan yang belum jinak.

Bagas menunggu sampai jam praktik selesai, lalu menghampiri Yoga yang masih menatap hasil kerjanya dengan rahang mengeras.

“Amperenya kebesaran,” kata Bagas pelan. “Coba turunkan sedikit. Terus gerakannya jangan didorong — diseret pelan, kayak... kayak menyapu lantai. Pelan saja.”

Yoga menatapnya lama. “Kenapa kamu bantu aku?”

Bagas mengangkat bahu. “Dulu aku juga diajarin. Sama bosku.”

“Bos bengkelmu.”

“Pak Kardi.”

Yoga mendengus — tetapi bukan dengusan mengejek. “Pak Bambang bilang dia satu angkatan sama bosmu itu.”

“Iya.”

Mereka berdiri diam sejenak di antara bilik-bilik las yang mulai sepi. Lalu Yoga berkata, pelan, hampir tidak terdengar: “Makasih.”

Itu kata pertama yang lembut yang pernah keluar dari mulutnya. Bagas tersenyum dan berlalu sebelum Yoga sempat menyesal mengatakannya.

Sore hari adalah waktu bebas. Sebagian peserta bermain bola, sebagian antre di warung dekat gerbang. Bagas memilih duduk di beranda asrama dengan buku catatan kecil dari Sinta — yang halaman pertamanya bertuliskan dengan huruf besar-besar: BUAT NULIS SURAT BUAT KAMI YA MAS!

Ia menulis. Bukan surat yang akan dikirim — perangko mahal, dan ceritanya terlalu panjang — melainkan surat-surat yang ia tulis untuk dirinya sendiri agar tidak lupa caranya merindukan rumah.

Ibu, Bagas sehat. Makan cukup. Pelatihannya keras tapi Bagas kuat.

Yang tidak ia tulis jauh lebih panjang: bahwa setiap malam ia memikirkan pergelangan tangan ibunya yang kini kosong; bahwa sejak malam itu Bapak belum mengucapkan satu kalimat pun kepadanya; bahwa kadang-kadang ia bertanya pada dirinya sendiri apakah keputusannya benar — dan tidak berani menjawabnya.

Kertas surat terlalu sempit untuk semua itu.

Malam hari, setelah makan malam, kamar tujuh punya ritual sendiri: Wahyu bercerita. Ceritanya selalu tentang Semarang — tentang temannya yang pernah tertidur di dalam gerbong kereta barang dan terbangun di kota lain, tentang ibunya yang menitipkan rendang lewat sopir bus. Semua orang tertawa, bahkan Yoga yang biasanya hanya menyeringai.

“Kamu sendiri, Gas,” kata Wahyu tiba-tiba. “Kok nggak pernah cerita tentang rumah?”

Bagas terdiam. “Tidak ada yang lucu di rumah saya.”

“Ya sudah, yang sedih juga boleh,” kata Wahyu ringan. “Sedih juga cerita.”

Yoga yang sedari tadi diam di ranjang atas angkat bicara — suaranya datar, tetapi tidak dingin. “Biarkan. Tidak semua orang butuh cerita untuk bertahan.” Ia terdiam sebentar. “Eh, Gas. Bapakmu... baik-baik saja?”

Pertanyaan itu menancap. Bagas menatap ranjang atas, tidak melihat wajah Yoga dalam gelap, hanya siluetnya.

“Belum tahu,” kata Bagas jujur. “Doakan saja.”

“Iya,” kata Yoga. “Aku doakan.”

Lama setelah bel istirahat berbunyi pukul sembilan dan lampu kamar dipadamkan, Bagas masih terjaga. Ia menatap retakan di kaca jendela yang disinari bulan, mendengarkan dengkuran halus dari ranjang-ranjang di sekitarnya, dan merasakan jam tangan Bapak berdetak di pergelangannya — tik, tik, tik — setia seperti janji, kejam seperti hitungan mundur.

Dari sini, ia tidak bisa melihat rumahnya. Tetapi ia bisa mendengarnya: suara ibunya menanak nasi, suara adik-adiknya berebut remote televisi, suara Bapak yang... yang sudah dua minggu tidak ia dengar.

Bagas memejamkan mata. Dan setiap detak jam itu membawa satu kenangan yang selama sembilan hari ini ia kubur dalam-dalam — kenangan tentang malam ketika semuanya berubah, tentang gelang ibunya, dan tentang kalimat terakhir Bapak kepadanya.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak tiba di Cikarang, Bagas tidak bisa tidur sama sekali.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!