β€Ή
28. Pasangan Gelang

Pasangan Gelang

Pundak Pertama β€’ 1,345 kata

Ilustrasi Pasangan Gelang

Pagi itu aku berdiri di depan sebuah toko tua di sudut jalan, menatap papan nama kayu yang catnya sudah mengelupas: "Sutomo Antik β€” Jual Beli Barang Antik & Kuno". Jantungku berdegup begitu kencang sampai aku harus menarik napas dalam-dalam tiga kali sebelum berani mendorong pintu kayunya yang berderit.

Di dalam, udara berbau kayu tua, kapur barus, dan sesuatu yang manis β€” seperti bau kenangan yang disimpan terlalu lama. Rak-rak kayu penuh dengan barang-barang dari zaman yang sudah lewat: piring keramik bermotif naga, lampu minyak kuningan, wayang kulit yang tergantung di dinding, dan lemari-lemari kaca berisi perhiasan-perhiasan tua yang berkilau redup.

"Mas Bagas!" Pak Tomo muncul dari balik tirai di ujung toko, tersenyum lebar. "Masuk, masuk. Terima kasih sudah datang. Operasinya bagaimana?"

"Berhasil, Pak. Alhamdulillah," jawabku. "Dokter bilang kondisinya stabil. Tadi pagi sebelum ke sini saya sempat menjenguk β€” dia sudah bisa tersenyum."

"Syukurlah," kata Pak Tomo tulus. Beliau lalu memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. "Mari ke belakang. Yang ingin saya ceritakan... lebih enak dibicarakan sambil duduk, dengan teh hangat."

Ruang belakang toko itu lebih sederhana β€” sebuah meja kayu, dua kursi, dan jendela kecil yang menghadap ke kebun pisang. Seorang perempuan paruh baya β€” mungkin istri Pak Tomo β€” menghidangkan dua cangkir teh melati lalu pergi tanpa banyak bicara. Aroma melati memenuhi ruangan.

Pak Tomo menyeruput tehnya perlahan, seolah sedang menyusun kata-kata yang sudah lama disimpannya. "Mas," katanya akhirnya, "semalam saya menelepon Bude Mas. Saya harap Mas tidak keberatan. Saya hanya merasa... Mas berhak tahu semuanya."

"Tentang pasangan gelang itu, Pak?" tanyaku langsung. Semalaman aku tidak tidur memikirkan pesan Bude.

Pak Tomo mengangguk. Beliau berdiri, membuka sebuah lemari besi tua di sudut ruangan, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu berukir. Dari dalamnya, beliau mengambil sesuatu yang dibungkus kain beludru β€” dan ketika kain itu dibuka, napasku tercekat.

Gelang Nenek. Gelang yang sama yang kemarin berpindah tangan. Berkilau lembut di atas kain beludru biru tua.

"Saya simpan di sini, di tempat paling aman," kata Pak Tomo. "Tapi bukan itu yang ingin saya tunjukkan." Beliau duduk kembali, menatapku lekat-lekat. "Mas Bagas... saya kenal Nenek Mas. Bukan sekadar kenal β€” beliau dulu pelanggan saya. Sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu."

Aku terpana. "Nenek... pernah ke toko ini?"

"Bukan toko ini," kata Pak Tomo sambil tersenyum mengenang. "Dulu toko saya masih di pasar lama, sebuah kios kecil. Nenek Mas datang suatu sore, membawa dua buah gelang. Sepasang. Beliau meminta saya memperbaiki pengait salah satunya yang longgar." Beliau berhenti sejenak, menatap gelang di atas meja. "Gelang yang ini. Yang pengaitnya ternyata menyimpan surat."

Tanganku meremas lututku sendiri. "Dua gelang... sepasang?"

"Iya, Mas. Sepasang." Pak Tomo menghela napas panjang. "Waktu itu saya masih muda, dan saya bertanya kepada beliau β€” untuk apa dua gelang yang sama persis? Nenek Mas tersenyum, lalu berkata sesuatu yang sampai hari ini tidak pernah saya lupakan."

Beliau menirukan suara dan gaya bicara Nenek dengan begitu hidup sampai bulu kudukku merinding: "'Dua gelang, dua amanah, Nak Tomo. Yang satu untuk Ibu β€” untuk menjaga rumah tangganya, untuk mengingatkannya bahwa dia tidak sendirian. Yang satu lagi... untuk pundak pertama.'"

"Pundak pertama?" bisikku.

"Begitu kata beliau. 'Untuk anak pertama yang memikul keluarga. Gelang ini bukan untuk dipakai. Ini untuk hari di mana dia harus memilih antara menggenggam kenangan atau menyelamatkan yang hidup. Dan kalau hari itu tiba...'" Pak Tomo berhenti, menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, "'...artinya pundak pertama sudah menjalankan tugasnya.'"

Air mataku jatuh ke meja kayu tanpa bisa kutahan. Jadi selama ini... selama ini gelang itu memang disiapkan untukku. Bukan kebetulan. Bukan keputusan nekat seorang keponakan yang putus asa. Nenek β€” dengan kebijaksanaannya yang melampaui zamannya β€” sudah meramalkan hari ini. Beliau sudah menyiapkan jalan keluarnya, bahkan sebelum aku lahir ke dunia dan memikul beban ini.

"Nenek tidak meninggalkan gelang, Mas," kata Pak Tomo pelan. "Beliau meninggalkan cara untuk menjaga. Bahkan setelah beliau tiada."

Aku menangis dalam diam cukup lama. Pak Tomo membiarkanku, hanya sesekali menyeruput tehnya. Ketika tangisku mereda, beliau mengeluarkan selembar kertas dari laci meja β€” surat perjanjian yang sudah ditulis rapi dengan tangannya sendiri.

"Ini janji saya, Mas, seperti yang saya katakan semalam." Beliau mendorong kertas itu ke arahku. Di atasnya tertulis: gelang akan disimpan dan tidak dijual ke siapa pun selama satu tahun, dan Bagas berhak menebusnya kembali dengan harga yang sama β€” empat setengah juta rupiah. Sudah ditandatangani oleh Pak Tomo, lengkap dengan materai.

"Tanda tangani di sini, Mas, sebagai pegangan kita berdua," katanya sambil menyerahkan pulpen.

Tanganku masih bergetar ketika aku membubuhkan tanda tanganku di bawah tanda tangan beliau. Dua tanda tangan. Satu janji. Jembatan antara masa lalu dan masa depan.

"Terima kasih, Pak," kataku dengan suara serak. "Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Bapak."

"Tidak perlu dibalas, Mas," jawab Pak Tomo sambil berdiri dan menepuk bahuku. "Cukup satu: kalau suatu hari Mas sudah menebus gelang ini... ceritakan kisahnya kepada anak Mas nanti. Supaya mereka tahu, bahwa di keluarga ini, melepas bukan berarti kehilangan."

Aku keluar dari toko itu dengan langkah yang berbeda β€” lebih tegak, lebih ringan, seolah sebagian beban di pundakku telah berpindah menjadi sayap. Di jalan pulang, aku mampir ke sebuah warung dan membeli pulsa telepon yang banyak. Sudah waktunya. Sudah waktunya Ibu tahu semuanya.

Di kos, aku duduk di tepi kasur, menatap ponselku cukup lama sebelum akhirnya menekan nomor Ibu. Setiap nada sambung terasa seperti denting jam dinding di ruang tunggu rumah sakit kemarin.

"Halo, Le?" suara Ibu terdengar. Hangat. Khawatir. Seperti selalu.

"Bu..." suaraku pecah bahkan sebelum aku mulai bicara. "Gas mau cerita. Semuanya. Ibu jangan kaget, ya. Dan... maafkan Gas dulu sebelum Gas mulai."

"Le, kamu membuat Ibu takut. Ada apa?"

Lalu aku bercerita. Semuanya. Tentang jam tangan Bapak yang kugadaikan di toko Pak Haji untuk menutup kekurangan biaya operasi. Tentang gelang Nenek yang kuminta Bude jual ke juragan seharga empat setengah juta. Tentang surat Nenek yang tersembunyi di dalam pengait gelang. Tentang janji Pak Tomo untuk menyimpannya selama satu tahun. Tentang rahasia pasangan gelang yang baru kuketahui pagi ini.

Aku bercerita sambil menangis, dan di seberang sana, aku bisa mendengar Ibu menangis juga. Tidak ada interupsi. Tidak ada kemarahan. Hanya isak tangis yang sesekali terdengar, dan suara napas yang berat.

Ketika aku selesai, keheningan panjang menyelimuti pembicaraan kami. Aku bisa mendengar suara ayam berkokok dari kampung di latar belakang β€” suara rumah yang sudah lama tidak kudengar langsung.

"Le..." suara Ibu akhirnya terdengar, parau dan bergetar. "Bapakmu... pasti bangga sekali padamu. Nenek juga."

"Tapi Gas menjual peninggalan Nenek, Bu. Gas menggadaikan jam Bapak. Gasβ€”"

"Dengarkan Ibu, Le," potong Ibu lembut tapi tegas. "Kamu tidak menjual kenangan. Kamu menyelamatkan nyawa. Nenekmu menulis surat itu justru supaya kamu tidak merasa bersalah. Dan jam Bapakmu..." Ibu berhenti sejenak, menarik napas, "Bapakmu memberikan jam itu supaya kamu menghargai waktu. Dan kemarin, kamu menggunakan waktumu β€” waktumu yang paling berharga β€” untuk menjaga keluargamu. Tidak ada penggunaan waktu yang lebih Bapak banggakan selain itu."

Aku terisak. Semua bendungan yang kutahan selama dua hari ini jebol sudah. "Maafkan Gas, Bu. Maaf karena tidak cerita dari awal. Maaf karenaβ€”"

"Sudah, Le. Sudah," kata Ibu. "Ibu tidak marah. Ibu justru... Ibu justru bangga. Kamu melakukan apa yang Nenek harapkan. Apa yang Bapak harapkan."

Aku menyeka air mataku, merasa untuk pertama kalinya dalam dua hari ini aku bisa bernapas lega. Beban rahasia yang kupikul sendirian akhirnya terbagi. "Terima kasih, Bu."

"Le..." suara Ibu tiba-tiba berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati. Seperti seseorang yang akan membuka pintu yang sudah lama terkunci. "Kalau kamu sudah jujur kepada Ibu... Ibu juga harus jujur kepadamu."

Jantungku berdegup kencang. "Jujur tentang apa, Bu?"

"Tentang gelang yang satu lagi," kata Ibu perlahan. "Gelang yang Nenek berikan kepada Ibu saat Ibu menikah dengan Bapakmu. Yang Ibu simpan selama ini di dalam kotak kayu di lemari." Beliau berhenti, dan aku bisa mendengar suaranya bergetar. "Kemarin malam, setelah kamu menelepon dari rumah sakit... Ibu membukanya, Le. Ibu membuka pengaitnya."

Duniaku seakan berhenti berputar. "Dan...?"

"Di dalamnya juga ada surat, Le," bisik Ibu. "Surat dari Nenek. Untuk Ibu. Tapi ada satu kalimat di akhir surat itu... yang ditujukan untukmu."

Genggamanku pada ponsel mengerat. Di luar jendela kos, langit sore mulai berwarna jingga, dan angin bertiup pelan membawa bau hujan yang akan turun. "Apa... apa isinya, Bu?"

Ibu menarik napas panjang di seberang sana. "Ibu bacakan ya, Le. Dengarkan baik-baik..."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!