β€Ή
17. Barisan dari Langit Atas

Barisan dari Langit Atas

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,284 kata

Ilustrasi Barisan dari Langit Atas

Tengah malam tidak datang dengan sunyi. Ia datang dengan tarikan.

Aku terbangun karena lenganku ditarik ke atas β€” bukan oleh tangan, melainkan oleh benang-benangku sendiri. Urat-urat cahaya keemasan yang mengukir diri dari pergelangan hingga bahuku berdenyut keras, tiga kali, seperti ketukan di pintu yang tidak bisa kutolak. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Dan pada ketukan ketiga, aku mendengarnya lagi: langkah-langkah itu. Banyak. Teratur. Semakin dekat.

Aku berlari keluar dari pondok kecil tempatku mencoba tidur, dan menengadah.

Mereka turun dari tirai cahaya Langit Atas seperti hujan yang memutuskan untuk berjalan.

Barisan itu menyusuri benang-benangku β€” benang-benang emas yang kujulurkan ke langit saat aku memilih menjadi jangkar β€” dan mereka berjalan di atasnya seolah itu tali yang dibentangkan khusus untuk mereka. Setiap langkah membuat benangku bergetar, dan setiap getaran menjalar turun ke lenganku seperti sengatan kecil. Aku menggigit bibir menahan perih, tapi aku tidak memutus benang itu. Kalau kuputus, mereka akan jatuh β€” dan aku tidak tahu apa yang terjadi pada langit jika mereka jatuh. Atau apa yang terjadi padaku.

Sayap mereka perak. Itu hal pertama yang kusadari, dan hal itu membuat dadaku sesak dengan cara yang aneh. Sayap Danan penuh jahitan β€” garis-garis gelap tempat ibuku menyatukan kembali bulu-bulu yang patah. Sayap para Penjaga ini tidak punya satu pun jahitan. Mulus. Sempurna. Dingin seperti cermin yang belum pernah memantulkan wajah siapa pun cukup lama untuk mengingatnya.

Wajah mereka pun begitu β€” mulus tanpa bekas. Tidak ada garis tawa di sudut mata, tidak ada parut, tidak ada apa pun yang menunjukkan mereka pernah hidup cukup lama untuk terluka. Aku tiba-tiba teringat kata-kata Bima: anomali harus dirapikan. Aku bertanya-tanya, apakah mereka merapikan diri mereka sendiri juga, setiap pagi, sampai tidak ada lagi yang tersisa selain kerapian.

Di antara langkah-langkah yang teratur itu, aku mencoba mencari tawa Bima β€” tawa ketakutan yang kudengar tadi. Tidak ada. Yang ada hanya derap yang semakin dekat, dan dari jauh di atas sana, sesuatu yang mirip tawa β€” samar, memudar, seperti seseorang yang tertawa sambil diseret pergi. Bulu kudukku berdiri. Ke mana mereka membawanya?

Danan sudah di udara sebelum aku sempat memanggilnya. Sayapnya yang berjahitan terkembang penuh, menutupi langit di atasku seperti perisai, dan suaranya menggelegar β€” bukan suara paman yang memelukku di senja tadi, melainkan suara penjaga perbatasan yang pernah membuat Bima kabur ketakutan.

"Berhenti di situ!"

Barisan itu berhenti. Serempak. Seperti satu tubuh dengan banyak kaki.

Dari tengah barisan, seseorang melangkah maju β€” atau mungkin ia selalu di depan dan aku baru menyadarinya sekarang. Ia lebih tinggi dari yang lain, dan sayap peraknya berpola seperti gerbang: garis-garis vertikal yang bertemu di satu titik di atas kepalanya, seperti jeruji yang indah. Ketika ia bicara, suaranya bukan satu suara. Ia bergema, seolah banyak mulut mengucapkan kata yang sama pada saat yang sama.

"Kami datang untuk merapikan."

Di bawah, dari arah pintu cahaya, aku mendengar Sekar memanggil Rangga β€” pendek, tajam β€” dan bocah itu ditarik mundur ke balik lengkungan cahaya. Sekar berdiri di depan putranya, kedua tangannya terangkat, dan pintu cahaya di belakang mereka berdenyut lebih terang, seolah ikut waspada.

Aku melangkah maju, berdiri di bawah sayap Danan. "Aku Naya," kataku, dan suaraku terdengar kecil di antara gema mereka, tapi aku tidak mundur. "Jahitan ini milikku. Katakan apa maumu."

Pemimpin itu memiringkan kepala, mempelajari urat-urat cahaya di lenganku seperti seorang pedagang mempelajari kain.

"Kau adalah anomali," katanya. "Seseorang yang menjahit langit ke tanah. Bagi kami, hanya ada dua: langit di atas, atau tanah di bawah. Yang kau lakukan β€” jalan ketiga ini β€” tidak ada dalam tatanan."

"Kalau begitu ubah tatanan kalian."

Beberapa pasang sayap di belakangnya bergerak gelisah. Tapi pemimpin itu hanya tersenyum β€” senyum yang rapi, tanpa bekas.

"Kami memberimu dua pilihan, karena kami murah hati. Pertama: bongkar jahitanmu sendiri. Cabut benangmu dari langit, biarkan parut itu menutup dengan sendirinya, dan kembalilah menjadi gadis desa biasa. Kami akan melupakanmu."

"Dan kedua?"

"Kedua: ikut kami ke Langit Atas." Ia merentangkan tangannya, dan di antara kedua telapaknya cahaya berputar membentuk sesuatu yang mirip gerbang kecil. "Bima kabur sebelum sempat menjadi kunci. Gerbang masih membutuhkan kunci yang hidup β€” kunci yang tidak bisa menolak. Kau sudah terikat pada jahitan ini, Naya. Kau sudah menjadi jangkar. Yang kami minta hanya memindahkan jangkarmu ke tempat yang seharusnya."

Aku merasakan darahku menjadi dingin. Kunci yang hidup. Kunci yang tidak bisa menolak. Itu yang Bima kabur darinya dengan merobek langit. Itu yang membuat ibuku harus menjadi jahitan pertama. Dan sekarang mereka menginginkannya dariku β€” dibungkus dalam kata "seharusnya".

"Jangan berani-beraninya," geram Danan, turun melayang hingga berdiri di depanku, sayapnya masih terkembang menutupi seluruh tubuhku. "Perbatasan ini bukan wilayah kalian. Jahitan ini bukan urusan dewan langit. Dan keponakanku bukan barang yang bisa kalian ambil!"

Pemimpin itu menatap Danan lama. Lalu ia berkata, pelan, tetapi gema suaranya membuatnya terdengar seperti vonis:

"Sayap berjahitan tidak bersuara di dewan langit."

Danan tersentak seperti ditampar. Aku melihat rahangnya mengeras dan tangannya bergerak ke arah sayapnya β€” aku tahu gerakan itu. Ia akan mencabut sehelai bulu sebagai sumpah perang, seperti yang pernah dilakukannya dulu sebelum ia jatuh. Dan barisan ini akan menjawab dengan sesuatu yang tidak bisa dijahit kembali.

Aku mencengkeram lengan Danan. "Jangan," bisikku. "Ingat kata Bima. Sebagian hal tidak bisa dijahit. Sebagian hal harus dihadapi."

"Ini bukan dihadapi, Naya. Ini dibantai."

"Tidak β€” kalau aku yang bicara." Aku melangkah keluar dari balik sayapnya, dan aku merasakan benang-benangku berdenyut protes saat aku bergerak menjauh dari perlindungan Danan. Dinginnya malam perbatasan menusuk kulitku, tetapi urat-urat cahaya di lenganku menghangatkanku dari dalam. "Aku minta waktu," kataku kepada pemimpin itu. "Sampai bintang pagi terbit. Untuk memutuskan."

"Bintang pagi," ulang pemimpin itu. Ia menengadah, seolah mengukur langit. "Baik. Kami bisa menunggu. Kami sudah menunggu sangat lama untuk Bima β€” beberapa jam lagi bukan apa-apa." Ia menurunkan pandangannya kepadaku. "Tetapi setiap penantian membutuhkan jaminan."

Jantungku berdebar. "Jaminan apa?"

Ia mengangkat satu jari β€” jari yang panjang dan mulus β€” dan menunjuk ke langit, ke satu titik kecil yang berdenyut lembut di antara parut emas.

Simpul jalan pulangku. Simpul kecil yang kusisakan untuk ibuku.

"Simpul itu bukan bagian dari jahitan," katanya. "Itu selundupan. Sesuatu yang kau sembunyikan di dalam tatanan kami. Kami akan memegangnya sampai bintang pagi β€” sebagai jaminan kau tidak kabur seperti Bima."

"Tidak." Kata itu keluar dari mulutku sebelum aku sempat berpikir. "Jangan sentuh itu. Itu untuk ibuku."

"Justru karena itu." Senyum rapinya tidak berubah. "Yang paling berharga adalah jaminan yang paling baik."

Aku merasakan benang-benangku memanas di telapak tanganku β€” marah, liar, ingin melesat dan menjahit mulutnya yang rapi itu hingga tertutup. Aku menahannya dengan seluruh kekuatanku. Bukan sekarang. Bukan dengan cara mereka.

"Kalau begitu aku yang memberi syarat," kataku, dan aku heran betapa tenangnya suaraku. "Sampai bintang pagi: tidak ada yang menyentuh simpul itu. Tidak ada yang menyentuh desaku. Kalau satu pun dari kalian melanggar, kesepakatan batal β€” dan aku akan merobek jahitan ini sendiri sebelum kalian sempat menggunakannya."

Keheningan. Bahkan gema suaranya pun diam sejenak.

Lalu pemimpin itu tertawa β€” tawa yang rapi, pendek, tanpa kegembiraan. "Baik," katanya. "Kami tidak akan menyentuhnya. Kami tidak perlu."

Ia berbalik, dan barisan itu bergerak β€” bukan pergi, melainkan menyebar, melingkar, berkemah di sekeliling perbatasan seperti jerat yang dipasang dengan sabar. Satu per satu mereka hinggap di udara, sayap perak terlipat rapi, mata tanpa bekas itu menatapku tanpa berkedip.

Danan mendarat di sisiku, napasnya memburu. "Kau tidak seharusnya bernegosiasi dengan mereka, Naya. Mereka tidak mengenal kata itu. Mereka hanya mengenal tatanan."

"Aku tahu," bisikku. "Tapi aku butuh waktu. Dan waktu adalah satu-satunya yang kumiliki."

Dan saat itulah aku merasakannya.

Tarikan di lenganku β€” pelan, teratur, hampir lembut. Dan setiap kali benangku ditarik, aku merasakan sesuatu yang lain: satu lilitan kecil terlepas dari simpul jalan pulang ibuku. Satu. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi.

Mereka tidak perlu menyentuh simpul itu.

Mereka hanya perlu menarik benangku β€” benang yang terhubung ke segalanya β€” dan simpul itu terurai sendiri, lilitan demi lilitan, seperti benang yang ditarik dari ujung kain.

Bintang pagi bukan batas waktu.

Bintang pagi adalah batas simpul.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!