β€Ή
90. Tiga Ketukan Lama

Tiga Ketukan Lama

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,523 kata

Ilustrasi Tiga Ketukan Lama

Penjaga pintu tidak menjawab ketukan itu.

Itu hal pertama yang membuatku takut, karena penjaga pintu selalu menjawab ketukan, dengan ketukan balasan, atau dengan lagu, atau setidaknya dengan anggukan. Tetapi malam itu, setelah tiga ketukan dari dalam kendi itu berhenti, penjaga pintu hanya berdiri diam, dengan wajah yang tidak bisa kubaca dalam cahaya lentera, dan tangannya terkepal di sisi tubuhnya, seperti seseorang yang sedang menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan.

"Tiga ketukan itu," kata Wulan pelan, memecah keheningan, "isyarat apa?"

Penjaga pintu tidak langsung menjawab. Ia menatap kendi itu, lalu menatapku, lalu menatap jalan setapak yang menurun ke desa, seolah ia sedang menimbang apakah jawaban itu boleh diucapkan di tempat terbuka, atau hanya di balai, di depan para tetua.

"Dulu," katanya akhirnya, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, "ketika lingkaran masih dijaga oleh banyak penjaga, bukan hanya segelintir seperti sekarang, ada isyarat untuk penjaga yang sedang berjaga sendirian. Tiga ketukan, dengan jeda yang sama persis seperti yang baru saja kita dengar, artinya: aku masih di sini, aku masih menjaga, jangan khawatir. Isyarat itu dipakai oleh penjaga yang posnya jauh, yang tidak bisa dilihat dari lingkaran, supaya lingkaran tahu bahwa ia belum pergi."

"Dan isyarat itu tidak diajarkan lagi?" tanya Sela.

"Tidak diajarkan lagi," kata penjaga itu, "karena tidak ada lagi penjaga yang berjaga sendirian sejauh itu. Lingkaran menyusut. Pos-pos jauh ditinggalkan. Isyarat itu berhenti dipakai sebelum kamu lahir, Naya. Sebelum Wulan lahir. Aku sendiri hanya mendengarnya sekali, dari penjaga tua yang sudah lama pergi, dan aku tidak pernah mendengarnya lagi, sampai malam ini."

Danan menatap kendi itu, lalu menatapku. "Jadi makhluk itu bukan hanya pernah menyanyi di lingkaran. Ia pernah berjaga. Ia pernah menjadi penjaga di pos yang jauh."

"Atau ia pernah mendengar penjaga di pos yang jauh," kata penjaga itu, hati-hati. "Mendengar bukan berarti menjadi. Tetapi ketukan itu terlalu persis untuk sekadar didengar dari jauh. Jeda di antara ketukan itu bukan jeda yang bisa ditiru dengan mendengar sekali. Jeda itu adalah jeda yang dilatih, malam demi malam, oleh tangan yang mengetuknya sendiri."

Laras, yang sejak tadi diam, bertanya dengan suara kecil, "Kalau dia dulu penjaga, kenapa dia sekarang di dalam kendi?"

Tidak ada yang menjawab, karena tidak ada yang tahu. Dan pertanyaan anak kecil itu, yang sederhana dan jujur, terasa lebih berat daripada semua perdebatan para tetua di balai, karena pertanyaan itu menunjuk ke satu kemungkinan yang belum pernah kami ucapkan: bahwa makhluk di dalam kendi itu bukan makhluk asing yang ingin masuk, melainkan penjaga yang tertinggal di sisi yang salah, dan kendi itu bukan penjara yang kami jaga, melainkan pos yang tidak pernah ditinggalkan dengan benar.

Kami pulang dalam diam yang lebih berat dari malam sebelumnya. Di rumah, Laras tertidur dengan cepat, tetapi tidurnya tidak tenang. Alisnya berkerut, dan sekali, di tengah malam, ia menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan jelas, tetapi nadanya seperti ketukan: tiga bunyi pendek, dengan jeda yang sama.

Aku tidak membangunkannya. Aku hanya duduk di sampingnya, dan aku mendengarkan, sampai napasnya kembali teratur, dan gumaman itu hilang.

Pagi harinya, di balai, perdebatan berlangsung lebih cepat daripada biasanya, karena kabar tentang tiga ketukan itu membuat para tetua tidak lagi berdebat tentang apakah makhluk itu layak diberi tempat. Mereka berdebat tentang hal yang lebih mendasar: apakah makhluk itu adalah penjaga yang hilang, dan kalau benar, apakah desa pernah meninggalkannya, atau apakah ia sendiri yang memilih untuk tinggal di sisi lain.

Seorang tetua yang paling tua, yang jarang bicara, akhirnya berkata, "Kalau ia adalah penjaga yang tertinggal, maka memberinya nama bukan hadiah. Memberinya nama adalah mengakui bahwa ia tidak pernah berhenti menjadi penjaga, meskipun kami berhenti memanggilnya. Tetapi pengakuan seperti itu tidak bisa diberikan dengan tergesa-gesa, karena kalau kami salah, kami membuka lingkaran untuk sesuatu yang hanya meniru penjaga dengan sempurna."

Tetua yang lain berkata, "Kalau ia bukan penjaga yang tertinggal, melainkan sesuatu yang belajar meniru dengan sempurna, maka tiga ketukan itu adalah ujian yang lebih berbahaya daripada permintaan nama. Karena ketukan itu membuat kita merasa kasihan, dan rasa kasihan adalah jalan tercepat untuk membuka lingkaran tanpa lagu."

Keputusan yang akhirnya diambil adalah keputusan yang paling hati-hati: tiga malam ujian. Tiga malam, kami menyanyi bersamanya seperti biasa, tetapi kami tidak mengajarinya bait baru, tidak memberinya nama, tidak menjanjikan apa-apa. Kami hanya menyanyi, dan kami memperhatikan: apakah ia tetap menjaga ketika tidak ada yang memintanya, apakah ia tetap menyanyi ketika tidak ada imbalan, apakah ia tetap menutup dari dalam ketika tidak ada yang melihat.

"Tiga malam," kata tetua tertua itu kepadaku, "dan setelah tiga malam, desa akan berkumpul lagi, dan kami akan memutuskan bersama, dengan apa yang kami dengar, bukan dengan apa yang kami rasakan."

Aku membawa keputusan itu ke bukit, dan aku menyampaikannya ke arah kendi, dengan jelas, supaya makhluk itu mendengar bukan hanya keputusannya, melainkan juga alasannya.

"Tiga malam," kataku. "Bukan karena kami tidak percaya. Karena kepercayaan dibangun dengan malam-malam yang tidak dijanjikan apa-apa. Kalau kamu tetap menjaga selama tiga malam itu, tanpa bait baru, tanpa nama, tanpa janji, maka desa akan mendengarnya, dan desa yang akan memutuskan."

Dari dalam kendi, tidak ada jawaban. Tidak ada ketukan. Tidak ada lagu. Hanya diam yang panjang, yang entah kenapa terasa lebih tenang daripada diam-diam sebelumnya, seperti seseorang yang sedang menerima tugas, bukan penolakan.

Malam pertama ujian itu, kami mendaki seperti biasa. Laras di tengah, Danan dan aku di sisinya, Wulan dan Sela di depan dan belakang. Penjaga pintu sudah menunggu, dan kami duduk, dan kami menyanyi.

Makhluk itu ikut menyanyi, bait demi bait, dengan nada miliknya sendiri yang tipis di antara nada kami, tidak sempurna, tidak meniru, hanya menyanyi di samping kami, seperti yang diajarkan Laras sore itu: suara sendiri, di samping suara orang lain.

Ketika lagu penutup selesai, kami pulang, dan malam pertama itu berlalu tanpa permintaan, tanpa ketukan, tanpa bait baru. Aku sempat berpikir bahwa ujian itu akan berjalan dengan tenang, bahwa tiga malam akan berlalu seperti tiga malam biasa, dan desa akan memutuskan dengan tenang pula.

Malam kedua, kami mendaki lagi, dan kali ini, makhluk itu tidak menyanyi.

Bukan karena ia marah. Bukan karena ia menolak. Ia hanya diam, dari awal sampai akhir, mendengarkan lagu kami tanpa ikut menyanyi, tanpa mengetuk, tanpa memberi tanda apa pun bahwa ia masih di sana, kecuali cahaya hangat dari dalam retak yang masih menyala, tenang, seperti lentera yang dijaga dari dalam oleh seseorang yang sedang tidak ingin bicara.

Wulan menatapku di tengah lagu, dengan mata yang bertanya. Sela mengerutkan kening. Danan memegang tangan Laras lebih erat. Tetapi kami terus menyanyi, karena lagu penjaga tidak berhenti hanya karena satu suara tidak ikut. Lagu penjaga dinyanyikan oleh lingkaran, bukan oleh satu suara, dan lingkaran tidak boleh berhenti hanya karena satu suara memilih diam.

Setelah lagu selesai, aku berkata ke arah kendi, pelan, "Kami tetap menyanyi, meskipun kamu diam. Lingkaran tidak berhenti karena satu suara. Tetapi lingkaran juga memperhatikan suara yang diam. Diam adalah jawaban juga, dan kami akan membawanya ke desa, seperti kami membawa semua kabar dari bukit."

Tidak ada jawaban. Tidak ada ketukan. Hanya cahaya hangat yang tetap menyala, dan diam yang panjang.

Di jalan turun, Laras bertanya, "Naya, apakah dia marah kepada kita?"

Aku tidak langsung menjawab, karena aku sendiri tidak tahu. Diam bisa berarti marah. Diam bisa berarti lelah. Diam bisa berarti seseorang yang sedang menguji dirinya sendiri, untuk melihat apakah ia bisa menjaga tanpa menyanyi, tanpa didengar, tanpa dipuji.

"Aku tidak tahu," kataku akhirnya, jujur, karena anak kecil lebih pantas mendapat jawaban yang jujur daripada jawaban yang menenangkan tetapi salah. "Tetapi diamnya malam ini akan kami bawa ke desa, dan desa yang akan menimbangnya bersama diam-diam yang lain."

Malam ketiga, malam terakhir ujian, kami mendaki dengan perasaan yang berbeda. Bukan tegang, bukan lega, melainkan perasaan seseorang yang akan mendengar jawaban yang sudah lama ditunggu, tanpa tahu apakah jawabannya akan menenangkan atau menambah pertanyaan baru.

Kami duduk, dan kami menyanyi. Dan malam itu, makhluk itu juga tidak menyanyi. Ia diam lagi, seperti malam kedua, dari awal sampai akhir, tanpa ketukan, tanpa lagu, tanpa tanda.

Tetapi ada yang berbeda. Cahaya hangat dari dalam retak itu, yang selama dua malam tetap menyala dengan tenang, malam ini perlahan meredup. Bukan seperti api yang ditutup. Seperti api yang ditinggalkan, yang perlahan kehilangan penjaganya, yang cahayanya semakin kecil, semakin redup, sampai di akhir lagu penutup, ketika kami berhenti menyanyi dan berdiri untuk pulang, cahaya itu padam sepenuhnya.

Kendi itu gelap. Retak itu gelap. Dan dari dalam kendi, tidak ada suara apa pun.

Aku menempelkan telingaku ke dinding kendi, meskipun penjaga pintu mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk berhati-hati. Aku mendengarkan, lama, dengan napas yang kutahan, untuk memastikan bahwa yang kudengar adalah diam, bukan suara yang terlalu pelan untuk didengar.

Diam. Hanya diam.

Tetapi ketika aku mengangkat kepalaku, dan kami sudah berbalik untuk pulang, dari bawah kami, dari dalam tanah bukit itu sendiri, bukan dari kendi, datang satu ketukan. Satu ketukan saja, pelan, dalam, seperti ketukan dari tempat yang jauh di bawah, yang tidak berasal dari makhluk yang kami kenal, dan tidak berasal dari tempat yang pernah kami jaga.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!