Tentang Ayahmu
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,250 kata
"Dengarkan Ibu baik-baik," kata Ibu β dan dadaku sesak, karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, suara itu tidak datang dari mimpi, tidak datang dari foto kusam di dinding kamar Nek Wulan. Suara itu datang dari bibir yang hangat. Dari tangan yang nyata, yang menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku menghilang. "Tentang ayahmu."
Di belakangku, Danan memucat. Bukan pucat seperti orang ketakutan β pucat seperti orang yang rahasianya baru saja dibuka paksa. Penjaga Pertama menundukkan kepalanya yang bercahaya, dan aku tahu: apa pun yang akan Ibu katakan, mereka berdua sudah mengetahuinya sejak lama.
"Ayahmu bernama Bagas," kata Ibu. "Dan dia bukan orang biasa, Nayara. Sama sepertimu β dia keturunan penjaga. Penenun Gerbang Timur."
Nama itu menghantamku seperti palu. Bagas. Selama dua puluh tahun aku hidup tanpa nama itu β Nek Wulan hanya bilang ayahku "pergi sebelum aku lahir", Sari bahkan tidak pernah berani bertanya. Dan sekarang nama itu diucapkan ibuku sendiri, di menara di antara dua dunia, dengan kain semesta yang baru saja kujahit utuh berdenyut pelan di belakang kami.
"Seratus tahun yang lalu," Ibu melanjutkan, matanya menerawang, "robekan pertama terbuka. Luka pertama. Para penjaga berkumpul dan memutuskan: segel harus dipasang, atau kedua dunia akan saling menelan." Tangannya mengusap pipiku. "Tapi segel butuh penahan dari dalam. Seseorang harus tinggal di sisi gelap β menahan mereka yang tersesat agar tidak berubah menjadi lapar."
"Ayahmu yang mengajukan diri."
"Dia pemimpin mereka," sela Penjaga Pertama pelan. "Yang paling berani di antara kami. Yang paling... bodoh, kataku waktu itu." Ada senyum getir di wajah cahayanya. "Malam sebelum pemungutan suara dewan, dia datang kepadaku. Aku bilang: Bagas, kau punya istri yang mengandung tujuh bulan, jangan gila. Dia hanya tersenyum dan bilang: justru karena aku akan menjadi ayah, aku tidak bisa membiarkan dunia anakku ditelan."
Ibu mengangguk, air matanya berubah menjadi cahaya sebelum jatuh. "Malam itu juga dia pulang dan menenunkan aku pita rambut dari benang cahaya β katanya supaya aku selalu membawa terang ke mana pun pergi." Ibu menyentuh rambutnya yang disanggul β dan aku melihat, terselip di sanggul sederhananya, pita cahaya yang sudah redup tapi tidak padam. "Dia berlutut di depanku, mencium perutku, dan berkataβ" suaranya pecah. "'Aku akan kembali sebelum panen.'"
Dunia berhenti berputar. Janji itu. Janji yang sama β kata demi kata β yang bocor keluar dari dada berlubang sosok bayangan yang mendekatiku di dalam belahan tadi. Tangan kecil seorang anak yang digenggam erat. Tawa di beranda bambu. Janji yang tidak pernah ditepati karena segel dipasang keesokan harinya.
"Itu... itu dia," bisikku. "Sosok di dalam belahan tadi. Yang mendekatiku. Itu Ayah."
"Dia mengenalimu," kata Ibu lembut. "Darah mengenali darah, bahkan setelah seratus tahun menjadi bayangan. Dialah yang menahan Kaum Bayang agar tidak menelanmu saat kau masuk, Sayang. Tanpa dia, kau sudah diurai habis di dalam sana."
Aku menoleh ke Danan. "Kau tahu. Selama ini kau TAHU." Suaraku bergetar β bukan marah, lebih buruk dari marah: kecewa. "Kau menjagaku sejak kecil, kau menggenggam pergelanganku di hutan jati, kau bilang 'jangan sentuh kuncinya' β dan kau tidak pernah bilang bahwa ayahku masih hidup di dalam kegelapan itu?"
Tiba-tiba aku teringat semua sore masa kecilku β aku yang duduk di beranda bambu rumah Nek Wulan, bertanya untuk keseratus kalinya: "Nek, ayahku ke mana?" Dan Nek Wulan yang selalu menjawab sama: "Ayahmu orang baik, Nduk. Dia pergi menjaga kita semua." Aku dulu mengira itu dongeng untuk anak kecil. Ternyata itu kebenaran yang dipoles agar tidak melukai.
Danan tidak menjawab. Sayapnya β sayap megah yang berjahitan itu β terkulai. Dan aku teringat jahitan-jahitan kasar di sepanjang sayapnya, yang selama ini kukira luka perang.
"Karena dialah yang menutup segel itu," kata Ibu pelan. Danan mengangkat wajahnya, terkejut β seolah tidak menyangka Ibu akan mengatakannya. "Bagas memerintahkannya. Sebagai adiknya."
"Adik?" Aku menatap Danan. "Kau... pamanku?"
Danan tertawa β tawa pahit yang tidak ada humornya. "Paman yang gagal. Aku bersumpah pada kakakku malam itu: aku akan menjaga istrimu dan anakmu. Aku akan mengeluarkanmu dari sana, atau aku mati mencoba." Dia merentangkan sayapnya, menunjukkan jahitan-jahitan itu. "Tiga puluh tahun setelah segel dipasang, aku mencoba merobeknya. Sendirian. Dewan Penjaga menangkapku dan menjahit sayapku sebagai peringatan β setiap jahitan ini adalah tahun-tahun aku dilarang mendekati gerbang."
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Karena Bagas memintaku untuk tidak melakukannya." Danan menatapku β dan untuk pertama kalinya, aku melihat air mata di mata penjaga yang selalu tenang itu. "Dia bilang: biarkan anakku tumbuh tanpa beban luka ini. Biarkan dia menjadi manusia biasa. Itu... itu satu-satunya permintaannya. Dan aku menepatinya sampaiβ" dia menatap kain tenunan yang utuh. "βsampai kau sendiri yang memilih jalan ketiga."
Penjaga Pertama mendekat. "Ada yang harus kau pahami tentang ibumu juga, Nak. Ratna bukan gema biasa."
Ibu tersenyum sedih. "Setelah ayahmu tidak kembali, aku pergi ke gerbang. Setiap malam selama setahun penuh, aku berdiri di ambang dan memanggil namanya β Bagas... Bagas... Sampai suatu malam, segel yang belum sempurna itu menangkap suaraku β dan aku." Dia menatap tangannya sendiri, seolah masih tidak percaya tangan itu nyata. "Aku menjadi gema: tidak hidup, tidak mati. Hanya suara. Hanya lagu nina bobo yang bisa kuingat, lagu yang dulu kunyanyikan sambil mengelus perutku yang membesar..." Dia menangkup wajahku. "Lagu yang kaujadikan benang pertama tadi β itu sebabnya pintunya terbuka untukku, Sayang. Gema tidak bisa tinggal di kain yang utuh. Ia harus menjadi nyata, atau pergi. Dan cintamu... membuatku memilih nyata."
"Lalu kenapa pintunya tidak terbuka untuk ibu Rangga?" tanyaku. "Dia juga menunggu seratus tahun."
Keheningan. Ibu dan Penjaga Pertama saling pandang.
"Sekar," kata Penjaga Pertama akhirnya. "Nama ibu Rangga adalah Sekar. Dia juga salah satu yang memilih tinggal di dalam β bersama ayahmu. Mereka berdua menahan Kaum Bayang dari dalam, berdua."
"Titik cahaya di dadanya," bisikku, teringat perempuan bayangan itu. "Itu cintanya pada Rangga."
"Dan selama dia masih menggenggam luka itu β selama dia masih percaya dia HARUS menderita untuk menebus sesuatu β pintu tidak akan mengakuinya." Ibu menggenggam tanganku lebih erat. "Pintu ini, Nayara, tidak memilih siapa yang paling menderita. Ia memilih siapa yang sudah merelakan."
"Merelakan apa?"
"Lukanya." Ibu menatapku dalam-dalam. "Itu sebabnya aku bisa lewat. Saat kau menjahitku menjadi nyata, aku melepaskan seratus tahun penantianku. Aku merelakan Bagas. Dan justru karena itulah..." suaranya bergetar, "aku bisa kembali memanggilnya."
Aku mencerna kata-katanya β dan perutku mulas. Karena aku mengerti apa artinya bagi Rangga. Sekar telah menjadikan penderitaannya sebagai identitas selama seratus tahun β sebagai bukti cintanya pada anaknya. Memintanya melepaskan luka itu sama seperti memintanya berhenti menjadi ibu.
"Dia tidak akan bisa," bisikku. "Tidak dalam semalam."
"Tidak ada yang bisa dipaksa merelakan, Nak," kata Penjaga Pertama dengan duka yang dalam. "Itu sebabnya jarum kristal di tangan anak itu membuatku takut. Orang yang putus asa tidak membujuk pintu β dia mendobraknya."
Aku ingin bertanya lebih banyak β tentang bagaimana membuat pintu mengakuinya, tentang apa yang harus kulakukan pada Rangga β tapi lantai cahaya di bawah kami BERGETAR.
Bukan getaran kain. Getaran langkah. Berat. Marah. Menanjak.
Penjaga Pertama menegakkan tubuhnya. "Dia datang."
Danan langsung berdiri di depanku, sayap berjahitannya terbentang lebar. Ibu menarikku ke belakangnya. Dan dari tangga menara yang berputar β muncul Rangga, napasnya memburu, pecahan kristal tergenggam di tangannya seperti belati. Di belakangnya, melayang dengan anggun yang mengerikan, perempuan bayangan itu. Sekar. Ibunya.
"NAYARA!" suara Rangga menggema di menara. Matanya merah β bukan merah marah, merah karena menangis. "Kau dapat ibumu kembali! KENAPA IBUKU TIDAK?!"
Sebelum aku sempat menjawab β kain tenunan di belakang kami BERDENYUT. Bukan denyut pintu. Denyut yang lebih dalam, lebih tua, seperti jantung raksasa yang terbangun dari tidur seratus tahun.
Dan dari dalam kain itu β tepat di samping pintu cahaya β sebuah TANGAN mendorong keluar. Tangan yang separuh bayangan, separuh benang cahaya. Tangan seorang laki-laki yang kukenal dari kenangan yang bocor tadi β tangan yang pernah menggenggam tangan kecilku.
Suara itu β dalam, retak, dan penuh rindu yang tak tertahankan: "Ratna... benarkah itu kau...?"
Ibu membeku. "Bagas."