β€Ή
38. Tangan yang Terangkat

Tangan yang Terangkat

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,187 kata

Ilustrasi Tangan yang Terangkat

Tangan yang terangkat sendiri adalah tangan yang belum memilih. Aku berdiri di ujung taman Sela dengan tanganku melayang di udara β€” setengah jalan menuju pintu perak-emas itu β€” dan aku mengerti, dengan kejernihan yang mengerikan, beginilah cara Dewan bekerja. Mereka tidak mencengkeram lehermu. Mereka membuat tubuhmu sendiri berkhianat β€” satu tangan terangkat, satu langkah maju, satu ketukan yang bukan kau yang mengetuk. Dingin mereka bukan suhu. Dingin mereka adalah: kau tidak lagi tahu mana keinginanmu dan mana perintah mereka.

β€œNaya.” Suara itu datang lagi dari balik pintu β€” dari sela-sela anyaman perak dan emas yang tak terpisahkan. Lembut. Sedikit serak di ujungnya, seperti suara orang yang baru bangun tidur. Persis seperti suara ibuku setiap pagi buta, waktu ia membangunkanku untuk sekolah: β€œNaya... bangun, sayang... air sudah panas.” Lututku melemas. Ada hal-hal yang tidak bisa dilawan dengan keberanian β€” suara ibu adalah salah satunya.

β€œJangan!” Tangan kecil menyentak ujung bajuku. Sela. Ia berdiri di sampingku β€” delapan tahun, berani, gemetar. β€œNaya, jangan buka. Kumohon.” Ia tidak bilang kenapa. Ia tidak perlu. Di matanya ada pantulan pintu itu β€” perak dan emas β€” dan ada sesuatu yang lain: pengenalan. Ia pernah mendengar suara seperti ini sebelumnya. Dari balik pintunya sendiri, selama ratusan tahun mengetuk.

Aku memaksa kakiku diam. Memaksa napasku pelan. Dan aku berpikir β€” berpikir keras, karena berpikir adalah satu-satunya hal yang masih sepenuhnya milikku malam ini. Ibuku ada di desa. Lenteranya menyala β€” aku melihatnya sendiri, dari lorong, waktu cahaya itu kembali. Ia perempuan berselendang lusuh yang menengadah ke langit dan tersenyum pada cahaya yang tidak ia tahu asalnya. Ia tidak tahu apa-apa tentang lorong ini. Tentang benang. Tentang pilihan. Tentang aku yang sebenarnya. Jadi β€” bagaimana mungkin ia ada di balik pintu ini, memanggilku dengan irama jantungku sendiri?

Irama itu. Tuk. Tuk. Tuk. Jeda. Tuk. Tuk. Tuk. Itu iramaku β€” jantungku yang meleset sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di lorong. Ibuku tidak pernah mendengar jantungku dari dalam. Tidak ada ibu yang bisa. Jadi suara ini β€” betapapun miripnya β€” mempelajari irama itu dari tempat lain. Dari benang-benang yang mereka curi. Dari cahaya lentera yang mereka alihkan ke atas.

Tanganku masih terangkat. Masih bergerak β€” pelan, seperti didorong arus yang tidak terlihat. Aku tidak melawannya dengan otot. Otot sudah kalah. Aku melawannya dengan hal yang kupelajari malam ini: aku menguraikan sehelai benang dari simpulku sendiri β€” simpulku yang utuh β€” dan melilitkannya mengelilingi pergelangan tanganku yang terangkat, lalu mengikatnya ke bahuku sendiri. Satu simpul. Erat. Simpul yang berkata: tangan ini menjawab padaku. Bukan pada pintu. Bukan pada suara. Padaku.

β€œKalau kau ibuku,” kataku ke pintu itu β€” suaraku pecah di tengah, dan aku tidak peduli β€” β€œjawab satu hal. Satu saja.” Hening. Bahkan ketukan irama jantung itu berhenti. Di belakangku, Sela menahan napas.

β€œWaktu aku tujuh tahun,” lanjutku, β€œaku melempar gelangku ke semak-semak dan berteriak pada angin. Malam itu β€” apa yang Ibu katakan padaku?” Aku tahu jawabannya. Aku sudah menceritakannya pada Sela tadi malam, waktu aku mendekapnya di pangkuanku: tentang ibu yang berkata β€”

β€œKau harus kuat,” kata suara dari balik pintu β€” hangat, yakin, tanpa ragu sedikit pun β€” β€œkarena kau anak pertama.” Dadaku retak. Kata demi kata β€” persis. Bahkan jeda di tengahnya β€” persis seperti malam itu, waktu ibu duduk di tepi dipanku dan mengelus rambutku yang masih basah oleh air mata. Air mataku jatuh. β€œIbu—”

β€œKarena kau penjaga kami semua, Naya.” Suara itu melanjutkan β€” masih hangat, masih lembut β€” β€œBuka pintunya, sayang. Ibu kedinginan di sini.” Dan kata itu β€” penjaga β€” jatuh di antara kami seperti batu ke dalam kuah. Ibuku tidak pernah mengucapkan kata itu. Kata itu tidak ada di dunianya. Di dunia ibuku hanya ada: anak, ibu, dapur, hujan, teh jahe di cangkir retak, selendang lusuh yang berbau kayu bakar. Tidak ada penjaga. Tidak ada lorong. Tidak ada Dewan. Suara ini tahu kenanganku β€” tapi tidak tahu ibuku.

Dan saat itulah aku mengerti sepenuhnya β€” dengan kemarahan yang jernih dan panas. Waktu tangan-tangan perak mengalihkan cahaya lentera desaku ke atas β€” waktu itu, mereka tidak hanya mencuri cahaya. Mereka mencuri kehangatan yang terjalin di dalamnya: lagu-lagu nina-bobo, omelan pagi buta, bau kayu bakar di selendang. Mereka menenunnya menjadi jaring. Umpan. Umpan yang paling kejam di dunia β€” karena dibuat dari sesuatu yang nyata.

Emas itu bernapas β€” aku melihatnya sekarang, dalam cahaya kunang-kunang yang berputar cemas. Anyaman pintu itu mengembang dan mengempis β€” pelan β€” seperti dada yang tidur. Itu bukan sihir Dewan. Itu sisa-sisa dari semua yang dicuri β€” kehangatan yang menolak mati, bahkan di dalam jaring pencurinya. Bahkan suara ibuku, yang dipenjara di sana, masih berusaha menjadi dirinya sendiri.

Aku teringat Danan β€” jangkarnya yang ia pasang kembali bukan karena sumpah, melainkan karena ia mau. Aku teringat Sela β€” kecil, tegak, berkata β€œkarena aku mau” hingga seluruh taman bangkit menjawabnya. Aku teringat diriku sendiri β€” yang malam ini mengikat tanganku sendiri dengan benangku agar tetap menjadi milikku. Dewan bisa mencuri suara. Bisa mencuri cahaya. Bisa meniru irama jantung hingga nyaris sempurna. Tapi ada satu hal yang tidak bisa mereka curi, tidak bisa mereka tiru, tidak bisa mereka tenun menjadi umpan: kemauan. Pilihan tidak bisa dipanen β€” hanya bisa diberikan. Dan aku β€” belum memberikannya.

β€œKau mencuri suara ibuku,” bisikku. Pintu itu berdenyut β€” pelan, dalam. Suara itu goyah β€” lalu mencoba lagi, lebih pelan, lebih memelas: β€œNaya... sayang...” Aku menatap anyaman perak dan emas itu β€” dua sungai yang bertemu, tak terpisahkan. Emasnya β€” aku sadar sekarang β€” adalah curian. Peraknya adalah pencuri. Dan keduanya dijalin begitu rapat sehingga aku tidak bisa mengambil yang satu tanpa menyentuh yang lain.

Di belakangku, Sela berbisik: β€œNini bilang β€” mereka menyimpan suara-suara di gudang. Supaya penjaga datang sendiri. Supaya tidak perlu diikat.” Suaranya kecil. β€œNaya β€” ibuku juga ada di sana. Mungkin.” Ia tidak menangis. Anak delapan tahun yang sudah ratusan tahun mengetuk pintu tidak menangis untuk hal seperti ini. Tapi tangannya β€” yang memegang ujung bajuku β€” gemetar.

Aku menatap tanganku β€” yang terikat pada bahuku sendiri oleh benangku. Aku menatap pintu itu. Dan aku membuat keputusan β€” bukan dengan keberanian, melainkan dengan perhitungan seorang penjaga: jika aku tidak membukanya, suara ibuku tetap menjadi senjata mereka selamanya. Mereka akan memakainya melawanku β€” dan melawan setiap penjaga setelahku, dan mungkin melawan desaku sendiri. Jika aku membukanya β€” aku berjalan ke dalam perangkap mereka. Dua-duanya buruk. Jadi aku memilih yang ketiga β€” yang selalu kupilih sejak malam pertama di lorong ini: aku membukanya β€” bukan karena aku percaya. Melainkan karena mereka mencuri milik ibuku β€” dan aku datang untuk mengambilnya kembali.

Aku melepas simpul di pergelanganku β€” bukan untuk menyerah, melainkan karena tangan yang terikat tidak bisa bertarung. Sela mencengkeram bajuku lebih erat. β€œAku ikut.” β€œTidak.” β€œJanji penjaga,” katanya β€” mengutip kata-kataku sendiri kembali padaku, dengan khidmat yang membuat dadaku sesak β€” β€œkau menepati semuanya. Maka tepati ini juga: kau kembali.” Tenggorokanku tercekat. β€œAku kembali, Sela. Janji penjaga.”

Aku melangkah maju. Kunang-kunang benang mengikutiku beberapa langkah β€” lalu berhenti, berputar-putar cemas di udara, seperti mereka tahu sesuatu yang aku tidak tahu. Aku mengangkat tanganku β€” tanganku sendiri, kali ini, atas pilihanku β€” dan menekannya ke pintu perak-emas itu. Dingin dan hangat sekaligus. Seperti fajar di musim hujan. Seperti dua sungai yang bertemu. Aku mendorong β€” dan pintu itu tidak terbuka ke luar. Ia terbuka ke dalam. Ke arahku. Seolah selama ini bukan aku yang hendak masuk β€” melainkan sesuatu di baliknya yang hendak keluar. Dan di antara celah yang melebar itu β€” aku melihatnya sekilas: bukan ruangan, bukan cahaya β€” melainkan kegelapan yang berdenyut, dan di dalamnya β€” ribuan titik perak yang berkedip seperti mata yang baru bangun.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!