β€Ή
73. Harga Tiga Suara

Harga Tiga Suara

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,376 kata

Ilustrasi Harga Tiga Suara

Sosok di ambang pintu itu tersenyum dengan senyumku, dan untuk sesaat aku tidak tahu apakah aku sedang melihat ke cermin atau sedang dilihat oleh sesuatu yang telah belajar menjadi aku.

"Kau bukan Nenek Buyut," kataku, suaraku lebih mantap dari yang kurasakan. "Kau menyanyikan bagiannya, tapi kau bukan beliau. Kau tersenyum seperti aku. Jangan berpura-pura menjadi orang lain di hadapanku."

Sosok itu memiringkan kepala, persis seperti caraku memiringkan kepala saat aku sedang berpikir. Gerakan itu begitu tepat sehingga Wulan tersentak di sampingku. "Naya," bisik Wulan, "ia meniru gerakanmu juga. Bukan hanya suara dan napas dan langkah. Ia meniru caramu memiringkan kepala."

"Aku tidak berpura-pura," kata sosok itu. Suaranya membuatku merinding, karena suaranya adalah suaraku, tapi diucapkan dengan ketenangan yang tidak kumiliki. "Aku hanya memakai apa yang diberikan kepadaku. Lagumu memberikannya. Tiga suara menyatu, dan dari penyatuan itu lahir suara keempat. Aku."

Danan melangkah setengah ke depan, jaring emasnya berkilau terang, siap menahan. "Kalau kau lahir dari lagu kami, katakan apa maumu. Yang lahir dari lagu tidak datang tanpa alasan."

Sosok itu menatap Danan, lalu menatapku lagi. "Aku datang untuk menagih harga," katanya pelan. "Setiap lagu yang membuka memiliki harga. Lagu tiga suara membuka retakan di kendi, membuka jalan ke langit kedua, dan membuka aku. Harga itu belum dibayar. Dan harga itu bukan barang. Harga itu adalah suara."

Aku merasakan tali di pergelangan tanganku menegang, seolah Danan tanpa sadar menariknya. Senandung penahannya mulai terdengar pelan, bukan sebagai lagu, melainkan sebagai getaran yang menahan dadaku agar tetap tenang.

"Suara siapa?" tanyaku. "Suara apa?"

"Suara yang paling sering kau pakai untuk memanggil orang yang kau sayangi," jawab sosok itu. "Bukan suaramu seluruhnya. Hanya satu nama. Satu nama yang jika kau memberikannya kepadaku, kau tidak akan bisa lagi mengucapkannya dengan cara yang sama. Nama itu akan menjadi milikku, dan setiap kali kau mencoba memanggilnya, yang keluar adalah gema, bukan panggilan."

Wulan mencengkeram lenganku lebih erat. "Jangan," bisiknya. "Naya, jangan berikan apa pun. Ini tipuan. Yang meniru selalu meminta sedikit, lalu meminta lebih banyak."

Aku menatap sosok itu lekat-lekat. Ia tidak tampak jahat. Ia tidak mengancam. Ia berdiri di ambang pintu pos penjagaan tua dengan tenang, seperti penjaga yang sedang menunggu giliran jaga. Dan justru ketenangan itu yang paling menakutkan. Sesuatu yang tidak mengancam tidak perlu dibujuk. Ia hanya perlu menunggu sampai kita lelah dan menyerah.

"Nama siapa?" tanyaku, meski aku takut pada jawabannya.

Sosok itu tersenyum lagi, senyumku, dan berkata dengan lembut: "Nama orang yang senandungnya menahanmu sekarang."

Darahku terasa berhenti mengalir sesaat. Danan. Ia meminta nama Danan. Bukan nama yang tertulis, bukan nama panggilan biasa, melainkan nama yang kupakai saat aku memanggilnya dengan seluruh hatiku, nama yang membuat suara keduanya menemukan jalannya kepadaku. Jika aku memberikan nama itu, apakah suara Danan masih bisa menemukanku? Apakah tali di pergelangan kami masih berarti?

"Tidak," kata Danan, sebelum aku sempat menjawab. Suaranya tegas, tanpa ragu. "Naya tidak akan membayar dengan namaku. Cari harga lain. Harga tidak boleh berupa orang yang masih hidup dan masih menjaga."

Sosok itu menggeleng pelan. "Aku tidak memilih harga ini. Lagu yang memilih. Lagu tiga suara itu terdiri dari suaramu, suara Nenek Buyut, dan suara Wulan, dinyanyikan bersama suara kedua Danan. Suara kedua itu adalah penopang lagu. Dan penopang selalu menjadi harga pertama yang ditagih oleh pintu yang terbuka."

Aku teringat kata-kata Danan di beranda tadi: yang membuka belum tentu mengundang. Sekarang aku mengerti maksudnya dengan cara yang pahit. Kami membuka dengan lagu, dan yang terbuka kini menagih penopangnya.

"Tunggu," kata Wulan tiba-tiba, suaranya bergetar tapi jelas. "Kalau lagu itu milik kami bertiga, kenapa hanya Naya yang ditagih? Aku juga menyanyi. Nenek Buyut juga menyanyi. Kenapa harga tidak dibagi?"

Sosok itu menoleh pada Wulan, dan untuk pertama kalinya senyumnya berubah. Bukan lagi senyumku. Senyum yang lebih tua, lebih sedih, seperti senyum dari dalam lagu tiga suara itu. "Karena Naya yang memimpin lagu itu," katanya. "Pemimpin lagu adalah yang membuka pintu. Dan yang membuka pintu adalah yang membayar."

Aku menelan ludah. Pemimpin. Aku memang memimpin, meski aku tidak pernah meminta peran itu. Aku yang mulai menyanyi, aku yang membawa dua suara lain bersamaku, aku yang membuat bukit mengikuti. Dan sekarang aku harus membayar karena aku yang memimpin. Rasanya tidak adil, tapi juga terasa benar dengan cara yang tidak bisa kubantah.

Danan menggenggam tanganku, tali di pergelangan kami bergetar hangat. "Dengarkan aku, Naya," katanya, menatapku langsung, tidak lagi menatap sosok itu. "Jangan berikan namaku. Bukan karena aku takut kehilangan namaku, tapi karena kalau kau memberikannya, suaraku tidak akan bisa menemukanmu lagi. Dan tanpa suara kedua itu, lagu berikutnya bisa menarikmu masuk ke dalam kendi, atau ke sisi lain jeda itu, dan kau tidak akan kembali."

Aku menatap mata Danan. Di sana ada ketakutan yang ia coba sembunyikan dengan ketegasan. Aku mengenal ketakutan itu, karena aku merasakannya juga. Kami berdua tahu bahwa pilihan ini bukan hanya tentang nama. Ini tentang apakah aku tetap bisa dijaga, atau apakah aku harus belajar menjaga diriku sendiri tanpa penahan.

"Ada cara lain?" tanyaku pada sosok itu. "Harga lain yang bisa kubayar tanpa memberikan nama Danan?"

Sosok itu diam lama. Angin bergerak di antara pepohonan, membawa bau lumut dan batu basah dari pos penjagaan. Ketukan dari bukit tidak terdengar sama sekali, seolah seluruh bukit sedang mendengarkan jawaban sosok itu.

"Ada," katanya akhirnya, pelan. "Tapi harga itu lebih berat, dan kau harus memilihnya sendiri, tanpa dibujuk siapa pun. Kau bisa membayar dengan kenangan. Satu kenangan tentang orang yang senandungnya menahanmu. Kenangan yang paling kau jaga. Jika kau memberikannya, kenangan itu menjadi milikku, dan kau akan mengingat orang itu, tapi tidak lagi mengingat momen itu. Kau akan tahu ia penting, tapi tidak tahu mengapa."

Wulan menahan napas. Danan menggeleng pelan, tapi tidak berkata apa-apa, karena ia tahu pilihan ini bukan miliknya. Pilihan ini milikku.

Aku memejamkan mata. Kenangan tentang Danan berkelebat di benakku: suaranya sebagai suara kedua di beranda sore kemarin, jaring emasnya yang terurai saat ia memilih menyanyi bersamaku, tangannya yang menggenggam tanganku saat lonceng bernada baru itu menyanyikan namaku. Kenangan mana yang paling kujaga? Semuanya terasa seperti bagian dari diriku. Memberikan satu saja terasa seperti merobek selembar halaman dari buku yang belum selesai kubaca.

Tapi memberikan nama Danan terasa lebih berbahaya. Nama adalah panggilan. Kenangan adalah cerita. Panggilan yang hilang membuat penjaga tidak bisa dipanggil. Cerita yang hilang masih menyisakan orangnya.

"Aku belum memutuskan," kataku akhirnya, membuka mata. "Aku tidak akan membayar di sini, di tempat kau berdiri, tanpa tahu apa yang terjadi pada kendi di rumah selama kami pergi. Sela menjaga retakan itu sendirian. Kalau aku membayar sekarang, dan retakan itu membesar saat kami tidak ada, siapa yang menjaga rumah?"

Sosok itu menatapku, dan senyumnya kembali menjadi senyumku, senyum seseorang yang merasa sudah menang setengah. "Kau menunda," katanya. "Penundaan juga punya harga. Tapi aku mengizinkannya, karena kau pemimpin lagu yang jujur. Kembalilah ke rumahmu. Lihat apa yang terjadi pada kendi itu. Lalu putuskan sebelum matahari tenggelam. Kalau matahari tenggelam dan harga belum dibayar, pintu yang terbuka tidak akan menunggu. Ia akan memilih sendiri apa yang diambilnya."

Kata-kata terakhir itu menghantamku lebih keras dari semua ancaman sebelumnya. Pintu yang memilih sendiri. Bukan sosok ini yang memilih. Bukan aku yang memilih. Pintu itu sendiri yang akan mengambil, dan kami tidak tahu apa yang akan diambilnya.

Kami berjalan turun dengan langkah cepat, tanpa menoleh ke belakang, meski aku merasakan tatapan sosok itu mengikuti kami sampai tikungan pertama. Nada lonceng tidak mengikuti kami kali ini. Keheningan mengikuti kami, keheningan yang penuh dengan pilihan yang belum dibuat.

Saat kami mendekati rumah, Sela sudah berdiri di beranda, wajahnya pucat, tangannya gemetar. Di belakangnya, kendi hitam itu tidak lagi hanya terbuka sebagian. Retakannya sudah bercabang, seperti akar, dan dari cabang-cabang itu cahaya pelan itu keluar semakin terang, menerangi beranda di siang hari yang seharusnya tidak membutuhkan cahaya tambahan.

Dan dari dalam retakan itu, terdengar kata yang sangat kukenal, kata yang membuat lututku lemas.

"Pulang."

Kata itu diucapkan dengan suara Danan, jelas dan hangat, padahal Danan berdiri tepat di sampingku, dan mulutnya tertutup rapat.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!