β€Ή
84. Suara yang Meminta Belajar

Suara yang Meminta Belajar

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,382 kata

Ilustrasi Suara yang Meminta Belajar

Malam itu, bukit terasa berbeda sebelum kami sampai di puncak.

Biasanya, mendaki malam hari terasa seperti memasuki ruangan yang sudah menunggu. Kali ini, rasanya seperti memasuki ruangan yang sedang mendengarkan. Langkah kami di jalan setapak terdengar terlalu keras. Napas kami terdengar terlalu jelas. Bahkan lentera Wulan, yang malam ini dinyalakan lebih awal dari biasanya, seolah menyala dengan hati-hati, seolah apinya tidak mau mengejutkan siapa pun.

Laras berjalan di tengah kami, seperti yang sudah dijanjikan: tidak sendirian, tidak pernah sendirian. Danan di sisi kirinya, aku di sisi kanannya, Wulan dan Sela di depan dan belakang. Formasi itu sudah menjadi kebiasaan, tetapi malam ini kebiasaan itu terasa seperti pagar yang kami bangun dengan tubuh kami sendiri.

Penjaga pintu sudah menunggu di lingkaran. Ia berdiri di tempat yang sama seperti semalam, di antara kami dan kendi, punggungnya tegak, wajahnya yang berkabut menghadap pintu. Ketika kami tiba, ia menoleh sedikit, dan aku merasa, entah bagaimana, bahwa ia juga lelah. Penjaga yang tidak pernah terlihat lelah, malam ini terlihat seperti seseorang yang sudah berjaga terlalu lama dan tahu bahwa jaganya belum akan selesai.

"Kalian kembali," katanya. Bukan pertanyaan. Hanya penanda bahwa malam sudah dimulai.

"Kami berjanji menyanyi setiap malam," kataku. "Janji itu tidak berubah karena siang tadi kami berdebat."

Penjaga itu mengangguk. "Debat itu bagus. Desa yang tidak berdebat tentang gerbangnya adalah desa yang sudah berhenti menjaganya. Tetapi malam ini, dengarkan dulu sebelum kalian memutuskan apa pun lagi. Dengarkan dengan cara yang berbeda. Semalam kalian mendengarkan ketukan. Malam ini, dengarkan keheningan di antara ketukan."

Kami duduk di lingkaran, di tempat yang sama seperti semalam. Laras di tengah. Sela mulai bertepuk pelan, denyut patroli yang sudah kami kenal. Wulan menyalakan nada rendahnya. Danan menyambung. Aku membuka mulut, dan lagu penjaga mengalir, bait pertama, bait kedua, mantap dan bersama, seperti patroli yang tidak pernah berhenti.

Tidak ada ketukan.

Satu bait berlalu. Dua bait berlalu. Aku menunggu ketukan pertama seperti menunggu seseorang mengetuk pintu rumah di tengah malam: dengan tegang, dengan harap yang tidak mau diakui bahwa ia ada. Tetapi ketukan itu tidak datang.

Sebagai gantinya, di tengah bait ketiga, sesuatu yang lain datang.

Dari dalam kendi, senandung kecil itu terdengar lagi. Tetapi kali ini ia tidak menyanyikan lagu kami, dan tidak pula menyanyikan lagu penjaga seperti semalam. Ia menyanyikan sesuatu yang terputus-putus, seperti seseorang yang mencoba mengingat lagu yang pernah didengarnya, lalu berhenti, lalu mencoba lagi dari nada yang berbeda. Nadanya kikuk, tetapi ada kesungguhan di dalamnya yang membuat lagu kami sendiri melambat, tanpa kami sadari, seperti orang yang berjalan pelan karena mendengar seseorang di depannya berjalan tertatih.

Lalu senandung itu berhenti. Keheningan jatuh, lebih dalam dari keheningan sebelumnya. Dan di dalam keheningan itu, untuk pertama kalinya, makhluk kecil itu bersuara dengan kata-kata.

"Ajar aku."

Dua kata. Diucapkan pelan, dengan suara yang kecil dan serak, seperti suara yang baru pertama kali dipakai untuk sesuatu selain meniru. Bukan nyanyian. Bukan ketukan. Kata-kata. Kata-kata yang disusun sendiri, bukan diulang dari mulut kami.

Lagu kami berhenti. Bukan karena kami sepakat berhenti, melainkan karena tidak ada satu pun dari kami yang bisa terus bernyanyi setelah mendengar itu. Sela menghentikan tepukannya di tengah denyut. Wulan menahan napas sampai lenteranya bergetar di tangannya. Laras menatap kendi dengan mata yang lebar, tetapi tidak takut, dengan cara anak kecil menatap sesuatu yang akhirnya memanggilnya dengan jujur.

Penjaga pintu tidak bergerak. Tetapi suaranya, ketika akhirnya keluar, terdengar lebih pelan dari biasanya, seperti orang yang sedang membaca aturan yang baru saja ditulis di hadapannya.

"Ia tidak meminta nama," kata penjaga itu. "Ia tidak meminta pintu. Ia meminta belajar. Itu permintaan yang berbeda, dan harus dijawab dengan cara yang berbeda."

Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering, tetapi suaraku harus keluar, karena seseorang harus menjawab, dan akulah penjaga gerbang langit yang berdiri paling dekat dengan lingkaran malam ini.

"Belajar apa?" tanyaku, pelan, ke arah kendi. Aku menjaga suaraku tetap mantap, tetap seperti lagu, bukan seperti panggilan. Karena penjaga pintu pernah berkata: pintu dijawab dengan penjaga, bukan dengan suara yang memanggil. Tetapi permintaan belajar, aku merasa, harus dijawab dengan suara yang mengajar, bukan dengan diam.

Jeda yang panjang. Lalu suara kecil itu datang lagi, masih serak, masih pelan, tetapi lebih jelas, seolah dua kata pertama tadi telah membuka jalan bagi kata-kata berikutnya.

"Belajar menjaga. Seperti kalian. Aku bisa dengar lagu. Aku bisa ikut lagu. Tetapi aku tidak tahu kenapa lagu itu dijaga. Ajar aku satu bait. Satu saja. Aku janji tidak minta lebih malam ini."

Danan menggenggam tanganku. Genggamannya erat, tetapi tidak menarikku mundur. Ia hanya memastikan aku tahu ia ada di sana, apa pun yang kuputuskan.

Aku menoleh ke penjaga pintu. Ia tidak mengangguk dan tidak menggeleng. Ia hanya berkata, "Satu bait adalah ajaran, bukan ikatan. Nama mengikat. Bait mengajar. Kalau kalian mengajarkan satu bait, kalian tidak memberinya nama, tidak membukakan pintu, tidak menjanjikan apa pun selain bait itu sendiri. Tetapi ingat: bait yang diajarkan dengan benar akan diingat. Dan yang mengingat bait penjaga akan selalu bisa menemukan jalan kembali ke lagu ini."

Wulan berbisik, "Satu bait, Naya. Hanya satu. Bait yang paling sederhana, bait yang kami nyanyikan untuk memulai patroli. Bukan bait yang menutup, bukan bait yang membuka. Bait yang berjalan."

Aku mengangguk. Aku memejamkan mata sejenak, mencari bait itu di antara semua bait lagu penjaga yang kutahu sejak kecil, bait yang diajarkan kepadaku bukan dengan penjelasan, melainkan dengan dinyanyikan berulang-ulang di samping para penjaga yang lebih tua, sampai nadanya tinggal di tubuhku sendiri.

Lalu aku menyanyikannya. Pelan, jelas, satu bait penuh, tanpa tergesa-gesa. Bait tentang berjalan di antara dua sisi dan menjaga agar keduanya tetap pada tempatnya. Bait tentang lagu yang bukan milik satu suara, melainkan milik semua suara yang mau berjalan bersama.

Ketika bait itu selesai, keheningan kembali. Kami semua menunggu, tanpa lagu, tanpa tepukan, hanya dengan napas yang ditahan.

Dari dalam kendi, suara kecil itu mencoba mengulang bait itu.

Nada pertamanya salah. Nada keduanya terlalu tinggi. Nada ketiganya putus di tengah, lalu dimulai lagi dari awal, lebih pelan, lebih hati-hati. Ia mengulang bait itu tiga kali, dan setiap pengulangan menjadi sedikit lebih mantap, sedikit lebih dekat dengan bait yang sebenarnya, tetapi tidak pernah sama persis. Selalu ada satu nada yang berbeda, satu nada yang bukan dari lagu kami, satu nada yang terasa seperti miliknya sendiri, yang ia selipkan di antara nada-nada kami tanpa ia sadari.

Dan justru nada yang berbeda itulah yang membuatku merinding. Karena makhluk yang hanya meniru tidak akan pernah menambahkan nada sendiri. Makhluk yang menambahkan nada sendiri sedang belajar dengan sungguh-sungguh, sedang mencoba memahami, bukan sekadar menyalin.

"Bagus," kata Laras tiba-tiba, dengan suara yang jernih dan hangat, suara anak kecil yang memuji temannya yang sedang belajar membaca. "Sekali lagi, pelan-pelan. Aku ikut dari sini."

Dan sebelum siapa pun sempat mencegahnya, Laras menyanyikan bait itu bersama suara kecil dari dalam kendi. Bukan sendirian. Bersama. Dua suara yang berbeda, satu dari lingkaran kami, satu dari dalam kendi, menyanyikan bait yang sama, dengan nada yang tidak sama persis, tetapi berjalan berdampingan, seperti dua orang yang berjalan di jalan yang sama dengan langkah yang berbeda panjangnya.

Penjaga pintu menghela napas, dan kali ini napasnya terdengar seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang ia harapkan sekaligus ia takutkan.

"Itu sudah cukup untuk malam ini," katanya, tegas tetapi tidak kasar. "Bait sudah diajarkan. Bait sudah dipelajari. Jangan tambah lagi. Lagu yang diajarkan terlalu banyak dalam satu malam menjadi jalan, bukan lagi pelajaran."

Suara kecil dari dalam kendi berhenti. Ada jeda, dan di dalam jeda itu aku mendengar sesuatu yang belum pernah kudengar darinya: napas yang lega, seperti seseorang yang baru saja menerima sesuatu yang ia minta dengan sungguh-sungguh.

Lalu, sebelum kami sempat memulai lagu penutup, suara itu datang lagi, untuk terakhir kalinya malam itu, dengan kata-kata yang disusun sendiri, lebih lambat, lebih hati-hati, seolah setiap kata dipilih satu per satu.

"Terima kasih. Besok, bolehkah aku menyanyi dari sisi kalian?"

Pertanyaan itu menggantung di udara di antara kami dan kendi, di antara lagu dan pintu, dan tidak ada satu pun dari kami, bahkan penjaga pintu, yang langsung menjawabnya.

Karena "sisi kalian" bukan lagi sisi lain. "Sisi kalian" adalah sisi ini. Dan makhluk yang meminta menyanyi dari sisi ini sedang meminta sesuatu yang jauh lebih besar daripada satu bait: ia sedang meminta tempat di dalam lingkaran.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!