Lagu Penjaga
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,325 kata
Langkah itu mengikuti lagu kami, dan itu jauh lebih mengerikan daripada langkah yang berjalan sendiri.
Langkah yang berjalan sendiri bisa dihindari. Langkah yang mengikuti irama tidak bisa dibingungkan. Ia tahu ke mana harus melangkah, karena lagu kamilah yang memberitahunya. Setiap ketukan Sela menjadi pijakan. Setiap nada Wulan menjadi penunjuk arah. Setiap bait yang kami nyanyikan menjadi peta yang kami gambar sendiri untuk makhluk yang sedang mendekat.
"Berhenti bernyanyi?" bisik Wulan di sela bait, suaranya gemetar.
"Jangan," kata penjaga pintu dengan cepat. "Kalau lagu berhenti sekarang, ia akan tahu kalian takut. Dan yang takut lebih mudah didatangi daripada yang bernyanyi. Lagu adalah pagar. Pagar yang berhenti dijaga akan roboh."
"Jadi kita terjebak," kata Sela, tapi tepukannya tidak goyah sedikit pun. "Bernyanyi berarti memandunya. Berhenti berarti mengundangnya."
"Bukan terjebak," kata penjaga itu. "Bernyanyi bersama berarti kalian memegang kendali atas irama. Selama kalian yang menentukan tempo, ia hanya bisa mengikuti. Ia belum bisa memimpin. Itu bedanya, dan beda itu adalah seluruh pertahanan kita malam ini."
Aku memahami maksudnya dengan cara yang membuat perutku mual. Kami bukan lagi sekadar bernyanyi. Kami sedang menggiring sesuatu yang tidak terlihat, dengan lagu sebagai tali kekang. Satu nada yang salah, satu ketukan yang meleset, dan kendali itu bisa berpindah tangan.
Maka kami mengubah lagu itu. Bukan melodinya, melainkan temponya. Perlahan, hampir tidak terasa, Sela memperlambat tepukannya. Bukan berhenti, bukan melompat, hanya melambat, seperti seseorang yang berjalan menuruni bukit dengan hati-hati.
Danan menyadari apa yang dilakukan Sela dan menyesuaikan nadanya. Wulan mengikuti. Aku mengikuti. Laras, yang menyanyikan bagiannya di tengah-tengah kami, mengikuti juga, nadanya merapat ke nada kami seperti anak yang berpegangan pada orang tuanya di keramaian.
Langkah-langkah dari sisi lain ikut melambat.
Aku hampir tersenyum. Hampir. Karena itu berarti penjaga itu benar: selama kami memegang tempo, ia hanya mengikuti.
Tapi kemudian Laras melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan. Di tengah bait ketiga, suaranya meninggi sedikit, bukan karena ia kehilangan kendali, melainkan karena ia menambahkan sesuatu: satu nada baru, kecil dan berani, yang belum pernah ada dalam lagu kami sebelumnya.
Nada itu seperti pertanyaan.
Dan langkah-langkah dari sisi lain berhenti.
Bukan melambat. Berhenti total. Keheningan yang mengikutinya begitu pekat sehingga aku bisa mendengar api lentera Wulan berdesis.
"Laras," bisikku. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku bertanya," kata Laras pelan, tanpa menghentikan nyanyiannya. "Bukan dengan kata-kata. Dengan nada. Aku bertanya siapa dia, tanpa memanggilnya, tanpa menamainya. Pertanyaan bukan nama. Pertanyaan tidak mengikat."
Penjaga pintu itu menoleh tajam. "Nada pertanyaan adalah pintu yang setengah terbuka," katanya, suaranya tegang. "Ia bisa dijawab."
Dan memang, dari sisi lain, jawaban itu datang.
Bukan dalam bentuk kata-kata. Dalam bentuk nada yang sama persis dengan nada pertanyaan Laras, dinyanyikan kembali, tapi dengan sesuatu yang ditambahkan di ujungnya: satu nada yang lebih dalam, lebih tua, lebih sedih, seperti jawaban dari seseorang yang sudah menunggu sangat lama untuk ditanya.
Laras tersentak. Tali di pergelangannya berdenyut keras sekali, lalu mereda.
"Dia menjawab," kata Laras, matanya membesar. "Bukan meniru. Menjawab. Nada yang ia tambahkan itu bukan dari lagu kita. Itu dari dia."
Sela menghentikan tepukannya sejenak. Kesalahan kecil itu cukup untuk membuat langkah-langkah dari sisi lain bergerak lagi, kali ini lebih cepat, seperti seseorang yang merasa pintunya baru saja terbuka sedikit lebih lebar.
"Sela!" seru Danan.
Sela langsung kembali bertepuk, lebih keras, lebih tegas, memaksa tempo kembali ke kendali kami. Langkah-langkah itu melambat lagi, tapi tidak kembali selambat sebelumnya. Mereka kini berjalan dengan kecepatan yang baru, kecepatan yang dipelajari dari jawaban itu.
Aku merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungku. Makhluk itu sedang belajar bukan hanya lagu kami, melainkan cara kami berpikir. Ia belajar bahwa pertanyaan bisa dijawab. Ia belajar bahwa jawaban bisa mempercepat langkah.
"Berhenti bertanya," kata penjaga itu kepada Laras, tapi suaranya tidak marah. Suaranya seperti seseorang yang mengingatkan anak kecil untuk tidak mendekati tepi jurang. "Satu pertanyaan lagi, dan ia akan belajar bahwa ia boleh berbicara. Dan sesuatu yang sudah belajar berbicara tidak akan puas hanya dengan mendengarkan."
Laras mengangguk, wajahnya pucat. "Maaf. Aku hanya ingin tahu apakah dia... kesepian."
Kata itu menggantung di udara lebih lama daripada nada apa pun. Kesepian.
Aku memikirkan apa yang kami ketahui tentang yang menunggu di balik semua kendi. Ia tidak pernah diberi nama karena mereka takut ia akan menjawab. Ia menunggu di balik kendi-kendi yang belum penuh. Ia mendengarkan nama Laras dari sisi lain seperti lonceng di seberang lembah. Ia belajar menyanyi dengan mendengarkan dari balik dinding.
Apakah semua itu terdengar seperti monster? Atau terdengar seperti seseorang yang ditinggalkan sendirian terlalu lama?
Aku menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. Rasa iba adalah jalan lain menuju nama yang tergesa-gesa. Aku tidak boleh memberinya nama karena aku kasihan. Nama yang lahir dari kasihan sama tergesanya dengan nama yang lahir dari ketakutan.
"Penjaga," kataku, sambil tetap bernyanyi, "ada cara lain untuk mengenalnya tanpa menamainya?"
Penjaga itu diam sejenak. Kabut di wajahnya berputar lambat.
"Ada," katanya akhirnya. "Cara lama. Cara yang dipakai sebelum nama Laras lahir. Kau menyanyikan lagu untuknya, bukan lagu tentangnya. Lagu yang tidak memanggil, tidak menamai, tidak bertanya. Lagu yang hanya berkata: kami di sini, kami berjaga, dan kami tidak pergi. Lagu penjaga. Kalau ia mendengarkan lagu itu sampai selesai, ia akan tahu bahwa jalan ini dijaga, bukan dibiarkan terbuka."
"Lagu penjaga," ulangku. "Apakah kita tahu lagu itu?"
"Kau tahu," kata penjaga itu, menatapku. "Keturunan penjaga gerbang langit selalu tahu lagu penjaga. Kau hanya belum pernah menyanyikannya, karena belum pernah ada malam yang membutuhkannya."
Aku memejamkan mata. Dan benar saja, di balik lagu kami yang sedang kami nyanyikan, ada melodi lain yang menunggu. Bukan melodi yang kupelajari. Melodi yang kuingat, seperti mengingat jalan pulang ke rumah yang sudah lama tidak kukunjungi. Nada-nada yang rendah, mantap, berulang, seperti langkah penjaga yang berpatroli di sepanjang gerbang, malam demi malam, tanpa lelah, tanpa tergesa-gesa.
Aku mulai menyanyikannya. Pelan dulu, di sela-sela lagu kami, seperti benang kedua yang ditenun ke dalam kain yang sama.
Danan merasakan perubahan itu melalui tali dan menyesuaikan nadanya untuk menopangku. Wulan mengikutiku, suaranya yang tinggi kini menjadi seperti lentera yang diangkat lebih tinggi. Sela memperlambat tepukannya lagi, kali ini dengan sengaja, dengan mantap, menjadi denyut patroli, bukan denyut tarian.
Laras diam sejenak, mendengarkan, lalu menyambung dengan nada yang paling sederhana: satu nada yang diulang-ulang, seperti seseorang yang menjaga api tetap menyala sepanjang malam.
Lagu penjaga itu mengalir, mengelilingi kendi, mengelilingi lingkaran kami, mengelilingi tali yang bercabang tiga.
Dan langkah-langkah dari sisi lain berhenti lagi.
Kali ini bukan berhenti karena pertanyaan. Bukan berhenti karena ketakutan. Berhenti karena sesuatu yang lain: karena lagu penjaga tidak memberi arah. Lagu penjaga tidak mengundang, tidak menuntun, tidak memanggil. Lagu penjaga hanya berkata bahwa ada yang berjaga di sini. Dan sesuatu yang sedang berjalan menuju tempat yang dijaga akan berhenti untuk berpikir.
Kami terus menyanyikan lagu penjaga itu sampai napas kami habis, sampai lentera Wulan mulai meredup, sampai bintang-bintang di atas bukit bergeser sedikit ke barat.
Saat bait terakhir selesai, keheningan yang turun terasa berbeda. Bukan keheningan yang menunggu jawaban. Keheningan yang menghormati penjaga.
Lalu, dari sisi lain, dari tempat yang jauh lebih dekat daripada sebelumnya, terdengar satu bunyi yang membuat kami semua membeku.
Bukan langkah. Bukan nyanyian. Bunyi seperti seseorang yang meletakkan telapak tangannya di dinding, dari sisi lain, dan menekan, pelan, sekali, seolah ingin memastikan apakah dinding itu masih ada.
Penjaga pintu berdiri. Untuk pertama kalinya malam itu, ia melangkah maju, berdiri di antara kami dan kendi, menghadap pintu dengan seluruh tubuhnya.
"Ia sudah sampai di ambang," katanya pelan. "Ia tidak lagi berjalan. Ia sudah tiba. Dan sekarang ia sedang memutuskan apakah ia akan mengetuk."
Di belakangku, Laras berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar, "Kalau ia mengetuk... apakah kita boleh menjawab ketukan itu?"
Penjaga itu tidak menjawab. Tapi tali di pergelangan Laras berdenyut sekali, keras, seperti jantung yang baru saja mendengar namanya dipanggil.