β€Ή
27. Dewan Datang Sendiri

Dewan Datang Sendiri

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,950 kata

Ilustrasi Dewan Datang Sendiri

Lagu itu berhenti di tengah nada.

Seperti seseorang membekap mulut penyanyi dengan telapak tangan.

Tanganku berhenti sejengkal dari tangan Ibu β€” karena Danan menyambar pergelangan tanganku dan menarikku mundur dengan kekuatan yang membuat bahuku nyeri.

"Lepaskan!"

"Tidak!" Suaranya bukan lagi suara penjaga yang tenang dan terkendali. Itu suara orang yang ketakutan setengah mati. "Itu umpan, Naya! Gerbang menunjukkan apa yang paling kauinginkan agar kau melangkah masuk dengan kakimu sendiri!"

Tangan itu masih terulur β€” lalu perlahan jari-jarinya melengkung ke dalam. Sebelum menghilang, jari telunjuknya mengetuk udara tiga kali. Pelan. Sabar. Seperti berkata: tunggu.

Gerbang menutup dengan bunyi denting yang dalam dan panjang. Kata IBU di langit meredup β€” tetapi tidak padam. Ia menunggu di sana seperti bara di bawah abu.

"Itu ibuku," kataku. Suaraku bergetar hebat. "Itu suaranya, Danan. Kau sendiri mendengarnya."

"Aku tahu." Ia masih menggenggam pergelangan tanganku, dan genggamannya melonggar perlahan sampai menjadi belaian yang gemetar. "Justru karena itu aku takut. Gerbang tidak pernah memberikan apa-apa tanpa menagih sepuluh kali lipat."

Kami duduk di batu pipih menghadap gerbang. Matahari merangkak naik. Kata IBU menggantung di antara awan seperti janji yang belum ditepati.

"Ceritakan," kataku akhirnya. "Aku sudah melihat tangan ibuku, Danan. Aku berhak tahu kenapa ia ada di sana."

Danan menatap tangannya sendiri β€” tangan yang telah memegang keris selama empat puluh dua tahun. "Empat puluh tahun yang lalu," ia memulai, dan suaranya terdengar seperti langkah di atas kerikil, "aku masih muda. Baru dua tahun menjaga gerbang ini. Dan dewan menandai sebuah garis darah."

"Garis darah Raras," bisikku.

"Ya. Garis darah para penyanyi. Orang-orang yang benangnya beresonansi dengan jahitan langit β€” yang dapat menenangkan gerbang dengan lagu, atau merobeknya dengan tangis." Ia menatapku. "Ibumu adalah penyanyi terbaik yang pernah dilahirkan garis itu. Suaranya..." Ia berhenti, menelan ludah dengan susah payah. "Suaranya dapat membuat batu menangis, Naya. Dan aku β€” penjaga muda yang bodoh β€” jatuh cinta pada suara itu. Itu dilarang. Penjaga tidak boleh mencintai yang ditandai. Tetapi larangan tidak pernah menghentikan hati siapa pun."

"Ia menikah dengan ayahmu. Laki-laki baik, laki-laki sabar. Aku menjaga dari jauh β€” itu tugasku, itu hukumanku. Lalu kau lahir, dengan benang emas yang lebih terang dari ibumu, dan aku..." Suaranya pecah seperti ranting kering. "Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjagamu seperti aku gagal menjaga ibumu."

"Gagal bagaimana?"

"Ketika kau berumur enam tahun, gerbang menuntut jantung yang baru. Jahitan melemah. Langit menuntut satu jantung." Ia menatap gerbang dengan mata kosong. "Ibumu tidak menunggu dewan memilih korban. Ia berjalan ke gerbang sambil bernyanyi β€” agar aku tidak harus memilih. Agar tidak ada yang harus memilih." Air mata mengalir di pipinya yang keriput, dan ia tidak menghapusnya. Ia membiarkannya jatuh seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. "Dan aku β€” aku yang memegang batu terakhir. Aku yang menutup gerbang di belakangnya. Tanganku, Naya. Tanganku yang mendorong batu itu ke tempatnya."

Keheningan yang panjang menyelimuti kami. Bahkan Mata Langit di atas sana seolah meredup sedikit, seperti ikut berduka.

"Jangan pernah sebut namanya," kataku pelan. Tenggorokanku sakit. "Panggil dia Ibu. Seperti aku memanggilnya."

Ia menatapku β€” dan untuk sesaat, di matanya yang tua dan lelah, aku melihat penjaga muda yang jatuh cinta pada sebuah suara empat puluh tahun yang lalu. "Baik," bisiknya. "Ibu."

Bima berdeham pelan. Kami hampir lupa ia ada di sana. "Aku harus pergi," katanya, bangkit dengan gerakan kaku. "Wulan... ia pasti ketakutan. Ia merasakan guncangan tadi, aku yakin."

Ia pergi menuruni jalan setapak β€” dan aku melihat benangnya yang tipis dan bergetar tertarik ke arah desa, ke arah satu-satunya orang yang bahkan tidak mengingatnya.

Menjelang sore, aku turun ke desa mencari Bima. Kutemukan ia duduk di beranda gubuknya yang reot, membujuk gadis kurus berambut panjang di depannya dengan suara lembut: "Wulan, ini Bima. Kakakmu."

Gadis itu memiringkan kepala. "Aku tidak punya kakak. Kamu... siapa?"

Senyum Bima tidak goyah β€” ia telah berlatih dua tahun untuk senyum itu β€” tetapi benangnya bergetar seperti akan putus. "Aku tetanggamu. Aku hanya memastikan kau baik-baik saja."

Aku berbalik sebelum mereka melihatku. Di sakuku, halaman kosong yang hangat itu berdenyut marah.

Senja turun seperti tirai abu-abu yang berat. Dan mereka datang.

Bukan juru tulis. Bukan surat. Dewan sendiri.

Mereka menuruni jalan bukit dalam prosesi yang sunyi: tiga sosok berjubah kelabu, diapit dua pembawa obor berapi biru. Di depan mereka, seorang herald tua memukul lonceng kuningan β€” pelan, berat, setiap dentingnya membuat benang-benang warga membungkuk seperti padi ditiup angin.

Seluruh desa keluar. Tidak ada yang berani bersuara.

Prosesi itu berhenti di tanah lapang. Sosok di tengah mengangkat tangannya β€” dan suaranya keluar, bukan dari mulut, melainkan dari seluruh udara di sekitar kami, bergetar di tulang-tulang:

"NAYA RARAS. KETURUNAN PENJAGA GERBANG."

Setiap pasang mata menoleh ke arahku. Danan berdiri di sisiku, kerisnya masih tersarung β€” untuk saat ini.

"JAHITAN MELEMAH. NYANYIAN PENJAGA DARI DALAM MEMUDAR. SEBELUM FAJAR KETIGA, SATU JANTUNG HARUS MASUK MENGGANTIKANNYA. LANGIT MENUNTUT SATU JANTUNG."

"Kalau begitu ambil aku!" teriak Bima dari tengah kerumunan β€” suaranya nekat dan putus asa, suara orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. "Ambil aku, dan tulis kembali nama adikku!"

Keheningan yang mematikan. Lalu sosok berjubah itu menoleh β€” perlahan, seperti bulan bergeser di langit. "JANJI ITU BATAL. BENANG MATI TIDAK DITANAM. DEWAN TIDAK BERUTANG PADA PENGKHIANAT."

"Kau berbohong!" Bima melangkah maju, tinjunya terkepal. "Sejak awal kau tidak berniat mengembalikan Wulan! Penghapusan itu hukuman β€” karena ayahku menyembunyikan benang ibuku dari buku kalian! Karena keluargaku menolak menyerahkan benang itu!"

Jantungku mencelos. Benang mati itu β€” benang Wulan. Benang adiknya sendiri, yang dicabut dari buku besar orang hidup. Itulah mengapa juru tulis ingin ia membusuk bersamaku: agar Wulan tetap terhapus selamanya.

Tetapi aku menghidupkannya β€” tujuh jahitan dan satu nina bobo β€” dan benang Wulan yang kini hidup itu memilih menulis nama yang paling dalam di hatiku: IBU. Karena benang yang dihidupkan dengan lagu selalu menulis kebenaran, bukan perintah.

"CUKUP." Udara bergetar seperti genderang. "KEPUTUSAN DEWAN MUTLAK. SEBELUM FAJAR KETIGAβ€”"

"Tunggu." Danan melangkah maju, melewatiku, berdiri di antara aku dan prosesi itu. Punggungnya tegak seperti tiang gerbang, bayangannya panjang di tanah yang disinari obor biru. "Kalau langit menuntut satu jantung," katanya, lantang dan jelas agar didengar seluruh lembah, "biar dua yang menjawab."

Ia mengangkat tangannya β€” dan kepangan benang kami terangkat bersamanya, emas dan abu-abu berpilin, berkilau di cahaya obor biru seperti tali yang ditempa bintang.

Suara yang keluar dari ketiga sosok berjubah itu seperti retakan es di danau beku. "KEKEJIAN. JANGKAR HANYA BOLEH SATU. DUA BENANG AKAN MEROBEK JAHITAN, BUKAN MENAHANNYA."

"Maka robeklah," kata Danan pelan β€” terlalu pelan, terlalu tenang. "Tetapi kalian harus memotong dua benang sekaligus. Dan aku ingin lihat siapa yang berani memegang keris ini."

Ia menghunus kerisnya β€” dan pamornya menyala redup seperti bara yang ditiup angin.

Herald tua itu mengangkat loncengnya tinggi-tinggi β€” tetapi sebelum ia sempat memukulnya, aku melangkah maju dan mengeluarkan halaman kosong yang hangat dari sakuku.

"Kau mengenali ini?" tanyaku pada juru tulis yang berdiri di belakang prosesi, wajahnya pucat seperti mayat. "Kau yang memberikannya padaku semalam. Surat yang belum ditulis. Halaman yang menunggu nama."

"Berikan kembaliβ€”" desisnya, tangannya terulur.

"Ini sobekan dari buku besar kalian, bukan?" Aku mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang melihat, agar seluruh desa menjadi saksi. "Halaman yang menunggu ditulis dengan benang, bukan dengan tinta. Baiklah." Aku mengulurkan ujung benang emasku β€” dan dengan cahaya itu, perlahan, aku menulis di atas halaman yang hangat itu, huruf demi huruf: WULAN.

Halaman itu meminum nama itu seperti tanah kering meminum hujan pertama. Cahaya keemasan meresap, berdenyut, lalu tenang. Di kejauhan, dari arah gubuk Bima, terdengar suara samar β€” seperti lonceng kecil. Atau seperti seseorang yang bersin dalam tidur.

Bima menatapku dengan mata terbelalak. Benangnya β€” yang tadi bergetar seperti akan putus β€” kini tertarik kencang dan terang ke arah desa. Ke arah Wulan.

"KAU BERANI MENULIS DI BUKU DEWAN?!" Udara menjadi dingin menusuk tulang.

"Aku tidak menulis di bukumu," kataku. Jantungku berdebar begitu keras sampai aku yakin seluruh lembah mendengarnya. "Aku menulis di halamanku. Kau yang memberikannya padaku. Dan setiap nama yang ditulis dengan benang emas tidak dapat dihapus dua kali."

Itu gertakan. Aku tidak tahu apakah itu benar. Tetapi kadang-kadang, di depan dewan langit, gertakan adalah satu-satunya senjata yang dimiliki manusia.

Prosesi itu bergetar β€” jubah-jubah kelabu berkibar tanpa angin. Lalu sosok di tengah mengangkat tangannya sekali lagi, dan seluruh lembah membeku:

"TIGA FAJAR." Suaranya menggema di tulang-tulang kami, di batu-batu, di air sumur. "TINTA BENANG BUTUH TIGA FAJAR UNTUK KERING. SEBELUM ITU, NAMA ITU MILIK SIAPA PUN YANG MEMEGANG HALAMANNYA. DAN JANTUNG ITU β€” HARUS MASUK SEBELUM FAJAR KETIGA. ATAU GERBANG AKAN MENGAMBIL LEMBAH INI SEBAGAI GANTINYA."

Mereka berbalik. Prosesi itu naik kembali ke bukit β€” sunyi seperti saat mereka datang, hanya denting lonceng yang semakin jauh dan semakin kecil.

Tetapi herald tua itu tertinggal. Ia mendekatiku, langkahnya gontai, dan dari balik tudungnya, aku melihat mata yang sangat tua dan sangat lelah β€” mata manusia biasa, bukan mata dewan.

"Gadis emas," bisiknya β€” dengan suara manusia biasa yang rapuh. "Dewan tidak pernah kalah dalam perundingan. Tetapi mereka juga tidak pernah menghadapi benang yang berani menulis." "Jaga kepangan kalian. Malam ini akan panjang."

Ia pergi menyusul prosesi itu.

Malam itu, di pondok penjaga di kaki bukit gerbang, Danan melakukan sesuatu yang membuat darahku membeku.

Ia menghunus kerisnya β€” dan mengarahkannya ke kepangan benang kami yang melayang di antara kami, emas dan abu-abu berpilin dalam cahaya lentera yang kecil.

"Apa yang kau lakukan?!" Aku melompat berdiri.

"Melindungimu." Suaranya datar. Mati. Seperti suara orang yang sudah memutuskan. "Satu-satunya cara agar dewan tidak dapat menagih dua jantung sekaligus adalah jika hanya ada satu benang. Jika aku memotong benangku sendiriβ€”"

"Tidak!" Aku menyambar pergelangan tangannya dengan kedua tanganku. "Kau tidak bisa melindungiku dengan meninggalkanku, Danan! Itu bukan perlindungan. Itu pengecut β€” seperti empat puluh tahun yang lalu!"

Ia tersentak seperti ditampar. Bagus. Biar ia tersentak. Biar ia ingat rasanya.

"Dengar aku," kataku, dan aku mengambil ujung benang abu-abunya yang bergetar β€” dengan tanganku sendiri, dengan jariku sendiri, aku mengikatkan satu simpul baru pada kepangan kami. Simpulku. Pilihanku. "Dua benang, satu jangkar. Kau tidak boleh memotong apa yang aku ikut mengikat."

Keris itu jatuh dari tangannya, berdenting di lantai bambu. Dan untuk kedua kalinya hari ini, penjaga yang telah berjaga empat puluh dua tahun itu menangis β€” tanpa suara, tanpa malu, di depan api lentera yang kecil dan goyah.

"Aku sudah kehilangan satu perempuan berbenang emas pada gerbang ini," bisiknya. "Aku tidak akan kehilangan dua."

Aku berlutut di depannya, menangkup wajahnya yang basah dengan kedua tanganku. "Kau tidak kehilangannya," kataku pelan. "Dia memilih. Dan aku pun memilih. Itu bedanya antara dikorbankan dan berkorban, Danan. Ibu mengajariku itu β€” dengan lagu yang bahkan tidak membutuhkan suaranya untuk tetap hidup di kepalaku."

Dahinya bersandar di dahiku. Napas kami bercampur dalam udara malam yang dingin. Kepangan benang kami berdenyut di antara kami β€” hangat, hidup, berbahaya. Sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi antara penjaga dan keturunan yang dijaganya β€” tetapi langit sendiri yang mengepang kami semalam, dan aku tidak akan meminta maaf pada langit atas apa yang kurasakan.

"Tetaplah," bisikku. "Itu saja yang kuminta. Tetaplah."

"Aku tetap," bisiknya kembali. Janji yang lebih berat dari keris mana pun.

Tengah malam, ketukan di pintu pondok membangunkan kami.

Bukan TOK dari gerbang. Ketukan tangan manusia. Danan meraih kerisnya β€” tetapi di depan pintu berdiri herald tua itu, dan di sampingnya, diseret dua pembawa obor, seorang gadis kurus berambut panjang.

Wulan.

"Bima!" jeritku β€” tetapi Bima sudah berlari dari kegelapan.

"Wulan! Ini aku!" Bima berlutut di depan adiknya, menggenggam tangannya yang dingin dengan kedua tangannya. "Ini aku, Bima! Kakakmu!"

Gadis itu menatapnya β€” dan di matanya ada kebingungan yang tulus, kebingungan milik orang asing yang tersesat.

"Kamu..." Ia memiringkan kepala. "Kamu... siapa?"

Dan sesuatu di dalam Bima β€” yang telah bertahan dua tahun β€” akhirnya patah tepat di depan mataku.

Herald tua itu menatapku. "Satu nama untuk satu jantung, Naya. Tulisanmu belum kering β€” tiga fajar. Dewan memegang gadis ini sampai tintanya kering, atau sampai kau masuk menggantikannya."

Ia berbalik pergi, meninggalkan Wulan yang gemetar di tanah β€” dan Bima yang hancur berkeping-keping di sampingnya, mengulang-ulang satu kalimat seperti doa yang rusak dan tidak bisa diperbaiki:

"Ini aku... ini aku... ini aku..."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!