Pilihan di Antara Dua Napas
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,489 kata
Pagi itu dimulai dengan keheningan yang salah.
Aku terbangun bukan karena suara, melainkan karena ketiadaannya: tidak ada kicau burung di halaman, tidak ada desir angin di pepohonan, tidak ada bunyi periuk dari dapur. Rumah kami seperti sedang menahan napas β dan aku tahu persis bagaimana rasanya menahan napas seperti itu, karena jeda di dadaku ikut menegang, seperti otot yang bersiap menghadapi benturan.
Kendi hitam itu masih di beranda, di tempat kami meninggalkannya. Denyutnya pelan dan sabar, seperti orang yang sudah belajar menunggu seumur hidup. Aku tidak menyentuhnya semalam. Danan berjaga bergantian denganku, dan kami sepakat: kendi itu tidak dibuka, tidak dipindahkan, tidak dijawab β sampai kami tahu lebih banyak. Kesepakatan itu terasa bijak di tengah malam. Di pagi yang hening ini, ia terasa seperti keputusan yang dibuat oleh orang lain, orang yang tidak sedang berdiri di rumah yang tiba-tiba kehilangan semua suaranya.
"Wulan?" panggilku, suaraku terdengar terlalu keras di udara yang diam itu.
Tidak ada jawaban. Aku melangkah ke ruang tengah, dan menemukan Wulan duduk di dekat jendela, selendangnya terlipat rapi di pangkuannya, tangannya diam. Ia menatap keluar jendela dengan mata yang tidak berkedip, dan ketika aku mendekatinya, aku melihat bibirnya bergerak β menyanyikan lagu nina bobok, tanpa suara, seperti seseorang yang menyanyi di dalam kepala karena takut suaranya akan didengar oleh sesuatu yang salah.
"Wulan," kataku lagi, lebih pelan, sambil menyentuh bahunya.
Ia tersentak, dan lagu tanpa suaranya terputus. Ia menoleh padaku, dan wajahnya membuat dadaku sesak: matanya sembab, bukan karena menangis, melainkan karena tidak tidur, dan di lehernya β tipis sekali, hampir tidak terlihat β ada sehelai benang hitam yang melingkar, seperti kalung yang tidak pernah ia pakai.
"Sejak kapan?" tanyaku, jariku melayang di dekat benang itu, tidak berani menyentuhnya.
"Sejak aku bangun," jawab Wulan. "Aku tidak merasa ada yang mengikatnya. Aku hanya... bangun, dan ia sudah ada. Dan sejak itu, setiap kali aku mencoba menyanyikan lagu nina bobok dengan suara, ada suara lain yang ikut menyanyi β satu nada di belakang nadaku, seperti gema yang datang terlalu cepat." Ia menelan ludah. "Bukan lagu kita, Naya. Nada yang lain. Nada yang ingin lagu itu selesai dengan cara yang berbeda."
Di belakang kami, Sela muncul dari kamarnya, langkahnya pelan dan hati-hati, seperti seseorang yang berjalan di atas lantai yang ia kira bisa retak. "Kak," katanya, "di luar... di halaman... ada jejak."
Aku mengikuti mereka berdua ke pintu, dan di halaman yang biasanya dipenuhi jejak ayam dan daun kering, aku melihatnya: deretan jejak kaki yang berjalan dari pagar menuju beranda β bukan, menuju kendi β dan jejak itu aneh. Jejak itu tidak menekan tanah. Jejak itu tidak meninggalkan lekuk. Jejak itu hanya... menghitamkan rumput di tempatnya berpijak, seperti rumput itu disentuh oleh sesuatu yang sangat dingin, atau sesuatu yang sudah lama tidak hidup. Dan jejak itu hanya satu arah. Tidak ada jejak kembali. Siapa pun β atau apa pun β yang datang semalam, tidak berjalan pulang. Ia menghilang di tempat kendi itu berdiri, atau ia menjadi kendi itu, atau ia masih di sini, dengan cara yang tidak bisa kulihat.
"Ini jejak Dewan," kata Danan dari belakangku. Aku tidak mendengar ia datang. Suaranya datar, tapi aku mengenal nada datar itu: itu nada yang ia pakai saat ia sudah mengambil keputusan dan tidak ingin keputusan itu digoyahkan oleh rasa takut. "Bukan kendi. Kendi itu pihak lain. Ini β" Ia menunjuk jejak-jejak yang menghitam itu. "Ini cara Dewan menandai wilayah. Mereka tidak menyerang rumah. Mereka mengelilinginya. Mereka membuat rumah ini merasa diawasi, sampai penghuninya sendiri yang membuka pintu karena tidak tahan lagi."
"Mengapa?" tanyaku. "Mengapa sekarang?"
"Karena namamu sudah selesai ditulis," kata Danan. "Dewan tidak bisa lagi menulis ulang namamu di lonceng. Jadi mereka mencoba cara lain: mereka tidak mengejar namamu lagi. Mereka mengejar orang-orang yang membuatmu tetap bernapas tenang." Ia menatap Wulan, lalu Sela. "Selama jedamu tenang, nama itu aman. Jadi mereka akan membuat jedamu tidak tenang. Bukan dengan kekerasan. Dengan ketakutan yang pelan. Dengan membuat orang yang kau cintai tidak bisa tidur, tidak bisa bernyanyi, tidak bisa merasa aman di rumahnya sendiri."
Kata-kata itu menghantamku lebih keras daripada benturan apa pun. Aku memikirkan Wulan yang tidak bisa bernyanyi dengan suaranya sendiri. Aku memikirkan Sela yang berjalan hati-hati di rumahnya sendiri. Aku memikirkan benang hitam di leher Wulan, jejak hitam di halaman, dan aku merasakan jeda di dadaku mulai bergetar β bukan tenang, bukan panik, melainkan sesuatu di antaranya: amarah yang dingin, yang membuat napasku pendek dan tajam.
Dan saat itulah kendi itu berdenyut lebih cepat dari beranda, seolah merasakan getaranku, seolah mengingatkanku: kau sedang tidak tenang, dan ketidaktenanganmu adalah pintu.
"Naya," kata Danan, dan kali ini suaranya tidak datar. Kali ini suaranya retak. Ia berlutut di depanku β Danan, yang selalu berdiri tegak, yang selalu tahu apa yang harus dilakukan, yang jaring emasnya selalu tampak tak terpatahkan β berlutut dan menggenggam tanganku dengan kedua tangannya, dan aku merasakan tangannya gemetar. "Dengar aku. Aku tidak bisa menahan ini sendirian. Jaringku..." Ia membuka telapak tangannya yang lain, dan aku melihat jaring emasnya kini tidak lagi utuh: beberapa simpulnya terurai, benang-benang emasnya menggantung lepas seperti rambut yang putus, dan di tengahnya, benang hitam dari semalam kini melilit lebih banyak simpul, merayap pelan seperti akar yang mencari air. "Setiap kali aku mencoba menahan jejak Dewan, jaringku ikut terkikis. Aku bisa menahan mereka satu malam, mungkin dua malam. Tapi tidak selamanya. Dan aku..." Ia berhenti, menelan ludah, dan matanya β mata yang selalu tenang β kini basah. "Aku takut, Naya. Aku takut kalau aku runtuh, kau akan mencoba menggantikanku, dan kau akan membuka kendi itu karena kau pikir itu satu-satunya jalan."
Pengakuan itu membuatku diam. Bukan karena aku terkejut Danan bisa takut β aku sudah lama tahu ia bisa takut, hanya saja ia selalu menyembunyikannya di balik senandung β melainkan karena untuk pertama kalinya, aku melihat beban yang ia pikul sendirian selama ini. Ia bukan sekadar pendampingku. Ia adalah penahan yang menahan dunia agar tidak runtuh ke atasku, dan penahan itu kini mulai retak, dan ia memilih menunjukkan retaknya padaku daripada membiarkanku tahu saat semuanya sudah terlambat.
"Aku tidak akan membiarkanmu runtuh sendirian," kataku, dan suaraku lebih mantap daripada yang kurasakan. "Dan aku tidak akan membuka kendi itu karena panik. Tapi Danan, lihat sekelilingmu. Wulan tidak bisa bernyanyi. Sela takut di rumahnya sendiri. Jejak Dewan semakin dekat. Kalau aku hanya menjaga jedaku tetap tenang dan tidak melakukan apa-apa, mereka akan menang dengan cara yang pelan β mereka akan membuat rumah ini menjadi tempat yang tidak lagi terasa seperti rumah, sampai jedaku runtuh dengan sendirinya."
"Jadi apa pilihanmu?" tanya Danan pelan.
Aku menatap kendi itu. Denyutnya kini mengikuti napasku yang pendek, dan aku menyadari sesuatu yang penting: kendi itu bukan hanya undangan. Kendi itu juga cermin. Selama aku panik, ia panik. Selama aku tenang, ia tenang. Yang menunggu di balik jeda tidak memerintahku β ia mengikutiku, menungguku memilih dengan sadar, bukan karena didesak.
"Aku memilih untuk tidak memilih hari ini," kataku akhirnya. "Bukan karena aku takut memilih. Tapi karena pilihan yang dibuat dalam ketakutan bukan pilihan β itu jebakan. Hari ini, aku akan melakukan satu hal: aku akan menyanyikan lagu nina bobok bersama Wulan, dengan suara, sampai suara lain itu tidak lagi berani ikut menyanyi. Dan kau, Danan, kau akan beristirahat. Jaringmu tidak boleh kau paksa malam ini."
Danan menatapku lama, lalu mengangguk, dan senandung penahannya keluar lagi β kali ini bukan untuk menahan sesuatu di luar, melainkan untuk menahan dirinya sendiri agar tidak menangis. Wulan menggenggam tanganku, dan Sela menggenggam tangan Wulan yang lain, dan kami berdiri bertiga di pintu, membentuk lingkaran kecil yang rapuh, sementara jejak-jejak hitam di halaman mulai memudar di bawah matahari pagi β tidak hilang, tapi memudar, seperti ancaman yang mundur selangkah, menunggu, dan mencatat bahwa hari ini kami tidak membuka pintu.
Tapi saat kami berbalik menuju ke dalam rumah, aku mendengarnya: dari arah bukit, sangat jauh, sangat pelan, bunyi yang tidak seharusnya ada di pagi hari. Bukan lonceng. Bukan panggilan. Bunyi seperti seseorang yang mengetuk kaca dengan kuku β tiga ketukan, jeda, tiga ketukan β dan jeda di dadaku menjawabnya sebelum aku sempat mencegah, dengan denyut yang persis sama: tiga, jeda, tiga.
Seseorang di bukit itu tahu irama jedaku. Dan ia sedang belajar cara menirunya.
Malam itu, sebelum tidur, aku duduk bersama Wulan di ruang tengah dan kami menyanyikan lagu nina bobok itu sekali lagi β bukan lagu tiga suara, hanya lagu biasa, lagu yang dinyanyikan seseorang untuk seseorang yang ia jaga. Suara Wulan masih gemetar di bait pertama, tapi pada bait kedua ia menemukan pijakannya, dan pada bait ketiga suara lain itu tidak lagi terdengar sama sekali. Danan tertidur di kursi dekat jendela, jaring emasnya terlipat di pangkuannya seperti kain yang sedang diperbaiki, dan kendi di beranda berdenyut pelan, mengikuti lagu kami, sabar seperti biasa. Aku memejamkan mata dan membiarkan jeda di dadaku menjadi tenang, dan untuk pertama kalinya hari itu, ketenangan itu terasa seperti pilihanku sendiri, bukan seperti sesuatu yang harus kupertahankan dari serangan.