Wadah yang Kembali
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,161 kata
"Wadah."
Kata itu menggema di kepalaku long after suara Dewan menghilang. Wadah. Bukan penjaga. Bukan pembantu. Wadah β tempat menampung.
Danan masih berlutut di tanah taman, jangkar kedua tertancap di bawah kakinya, kedua tangannya mencengkeram gagangnya. Urat-urat hitam telah merambat sampai ke pelipisnya β seperti akar-akar gelap di bawah kulitnya. Tapi ia masih bernapas. Masih... dia.
"Danan." Aku merangkak mendekatinya, tanganku gemetar. "Danan, lihat aku."
Ia mengangkat kepalanya β perlahan, seperti setiap gerakan membutuhkan izin dari tubuhnya sendiri. Matanya β matanya masih abu-abu perak. Masih matanya.
"Hei," katanya β dan ia tersenyum lagi, senyum miring yang selalu membuatku ingin memukul sekaligus memeluknya. "Kau... menangis lagi."
"Aku tidak menangis." Air mataku jatuh ke tanah di antara kami. "Apa maksud Dewan? Wadah apa? Danan, jelaskan. SEKARANG."
Ia menghela napas β panjang, berat β dan aku bisa melihat dadanya naik-turun seperti menahan beban yang tak terlihat. "Jangkar pertama... memaku. Jangkar kedua..." Ia melirik gagang gelap di tangannya. "...menampung. Menahan di dalam. Itu gunanya. Itu... gunaku."
"Gunamu untuk apa? Untuk siapa?"
"Untuk mereka." Ia mengangkat dagunya ke arah retakan langit. "Aku tidak lahir, Naya. Aku dibuat."
Kata-katanya jatuh seperti batu ke air yang tenang.
"Dewan tidak hanya mencatat utang. Mereka juga... memperbaiki kebocoran. Setiap kali langit retak, setiap kali kegelapan merembes, mereka butuh sesuatu untuk menampungnya sementara mereka menenun ulang. Jadi mereka membuatku." Ia tertawa β pendek, pahit. "Dari pecahan. Dari sisa-sisa. Wadah berjalan dengan dua jangkar."
Tanganku mencengkeram bahunya lebih erat. "Tapi kau bersamaku. Kau membantuku. Kauβ"
"Aku kabur." Matanya menatapku β dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di sana: takut. Bukan takut pada kegelapan. Takut padaku. Takut aku akan pergi. "Bertahun-tahun aku menampung untuk mereka. Menampung retakan, menampung kegelapan, menampung... semuanya. Sampai aku tidak bisa lagi membedakan mana kegelapanku dan mana milik mereka. Lalu aku melihatmu."
"Kapan?"
"Di pasar. Kau sedang menawar harga kain." Ia tersenyum β senyum yang sebenarnya kali ini, hangat di tengah urat-urat hitam di wajahnya. "Kau memegang sehelai kain dan kau... melihat benangnya. Bukan kainnya. Benangnya. Kau mengusapnya seperti orang buta membaca wajah kekasihnya. Dan aku berpikir: dia melihat seperti... seperti langit dulu dilihat. Sebelum pecah."
Jantungku berdebar begitu keras hingga aku yakin ia bisa mendengarnya.
"Aku tidak mengikutimu karena perintah," lanjutnya pelan. "Tidak ada perintah. Aku memilih. Pertama kalinya dalam hidupku β kalau ini bisa disebut hidup β aku memilih sesuatu. Aku memilihmu."
Urat hitam di lehernya berdenyut β dan ia meringis, tangannya mencengkeram gagang jangkar lebih erat. Kegelapan di dalam jangkar kedua itu meronta β aku bisa merasakannya, seperti binatang dalam kandang yang terlalu kecil.
"Jangan bicara," kataku cepat. "Hemat tenagamu. Aku akanβ"
"Kau akan apa?" Ia menatapku. "Kau tidak bisa mengeluarkannya, Naya. Kalau kau cabut jangkarnya, semuanya keluar sekaligus. Ke taman. Ke rumah. Ke Sela."
Aku menatap jangkar kedua itu. Cahaya perak-hitam berdenyut di sepanjang gagangnya β liar, tidak stabil. Dan aku berpikir β berpikir seperti penenun.
Jangkar menampung. Tapi wadah yang penuh... bisa pecah.
Kecuali bebannya dibagi.
Aku menarik benang emasku β bukan satu helai, tapi banyak β dan aku mulai menenun. Bukan di udara. Di sekeliling Danan. Jaring-jaring emas yang melilit bahunya, lengannya, dadanya β bukan untuk mengikatnya, tapi untuk... menopang. Seperti gendongan. Seperti tangan-tangan kecil yang ikut memikul.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Danan β suaranya tegang.
"Berbagi," kataku β gigiku gemeretak menahan berat yang mulai mengalir ke dalam jaringanku. Dingin. Begitu dingin β kegelapan itu merembes melalui tenunanku, mencari celah, dan aku merasakannya: bisikan-bisikan. Menyerah. Kau tidak akan pernah cukup. Dia akan mati karenamu.
"TIDAK," geramku β dan aku mengencangkan tenunan. "Bukan menanggung sendiri. Berbagi. Kau dengar? BERBAGI."
Jaring emas itu menyala β dan urat-urat hitam di wajah Danan... berhenti merambat. Tidak surut β tapi berhenti. Napasnya yang tadi tersengal mulai teratur. Ia menatapku β matanya berkaca-kaca.
"Kau bodoh," bisiknya.
"Kau yang mulai."
Dan di tengah taman yang hancur, dengan langit retak di atas kami dan kegelapan yang ditampung di antara kami, Danan mengangkat tangannya yang tidak memegang jangkar β tangan yang urat-uratnya masih bersih β dan menyentuh pipiku. Ibu jarinya menghapus air mataku.
"Aku tidak akan membiarkanmu menanggung ini sendiri," kataku pelan.
"Aku tahu," bisiknya. "Itu yang paling menakutkan."
Wajahnya mendekat β dahinya menyentuh dahiku β dan untuk sesaat tidak ada Dewan, tidak ada kegelapan, tidak ada lonceng. Hanya napasnya yang hangat dan benang emasku yang terjalin dengan benang peraknya β emas dan perak berpilin menjadi satu, berdenyut dalam irama yang sama dengan jantung kami.
Lalu suara Nini Wulan β lemah, tapi tegas β memecah momen itu.
"Cukup bermesraan. Kita belum selesai."
Kami menoleh. Wulan masih berlutut β tapi kini ia memaksakan diri berdiri, bertopang pada tongkat kayunya yang sudah retak. Benang emas tuanya meredup β tapi tidak padam. Belum.
"Nekβ" Aku bangkit, masih menjaga satu tangan di bahu Danan. "Kau harus istirahat. Pintunya sudahβ"
"Pintu apanya." Wulan menatap retakan langit β yang kini... berubah. Retakan itu melebar. Bukan karena kegelapan. Karena sesuatu di baliknya mendorong keluar. "Dewan tidak akan berhenti. Kau tahu kenapa? Karena yang mereka takutkan bukan kau. Bukan Danan." Ia menatapku β matanya tua dan sedih dan bangga sekaligus. "Yang mereka takutkan adalah... gerbangnya sendiri."
"Gerbang Langit?" tanyaku. "Bukankah itu yang dijaga keluargaku? Penjaga gerbang langit?"
Wulan tertawa β pendek, getir. "Itu yang mereka suruh kita percaya. Dengar, Nak. Gerbang Langit bukan pintu ke surga. Gerbang Langit adalah... bingkai tenun. Bingkai tempat langit ini ditenun." Ia mengangkat tangannya yang gemetar ke arah langit. "Langit adalah tenunan, Naya. Dan gerbang adalah bingkaianya. Keluargamu bukan penjaga pintu. Keluargamu adalah... penenun langit."
Darahku berdesir. "Lalu Dewan?"
"Ngengat." Kata itu keluar dari bibir Wulan seperti kutukan. "Ngengat yang memakan simpul. Mereka tidak mencatat utang karena peduli pada keseimbangan. Mereka mencatat karena setiap catatan adalah simpul β dan setiap simpul adalah makanan. Lonceng-lonceng itu... kandang. Dan lonceng kosong itu..." Ia menatap lonceng terbalik yang masih menggantung di atas taman, mulutnya menganga ke bawah. "...adalah lubang kunci. Lubang kunci yang kehilangan pintunya."
"Lubang kunci untuk apa?"
Wulan tidak menjawab. Karena saat itu juga, langit di atas kami TERBELAH.
Bukan retak. Terbelah β seperti kain yang disobek dengan kedua tangan. Dan dari balik sobekan itu, sesuatu muncul. Sesuatu yang begitu besar hingga leherku sakit menengadah.
Gerbang.
Bingkai raksasa dari cahaya yang ditenun β melengkung tinggi melampaui awan, tiang-tiangnya seperti benang-benang raksasa yang dijalin. Tapi ia PATAH. Tiang sebelah kanan patah di tengah, menggantung miring. Palang atasnya retak. Dan di seluruh permukaannya β lubang-lubang. Seperti kain yang dimakan ngengat.
Gerbang Langit. Yang sebenarnya. Rusak. Sekarat. Cahayanya berdenyut tidak beraturan seperti jantung yang terluka, dan setiap denyut mengirimkan getaran halus ke tulang-tulangku β seolah bingkai raksasa itu mengenali benangku. Mengenali darahku.
Dan di palang bawahnya β di balok melintang yang masih utuh β ada ukiran-ukiran nama. Puluhan. Ratusan. Nama-nama penenun yang pernah... melakukan sesuatu. Aku tidak bisa membaca semuanya dari bawah. Tapi satu baris β satu baris bersinar lebih terang dari yang lain. Baru. Masih menyala seperti besi yang baru ditempa.
Aku mengeja huruf-hurufnya β dan darahku membeku.
S. E. L. A.
"Gerbang butuh nama untuk ditutup," bisik Dewan β suaranya kini datang dari segala arah, dari dalam sobekan langit itu sendiri, lembut dan mengerikan. "Bingkai yang patah butuh benang baru. Ia sudah... memilih."
Aku menatap nama adikku yang menyala di palang gerbang raksasa itu β dan lonceng kecil Sela di sakuku berdenyut sekali. Panas. Seolah menjawab panggilan.