β€Ή
6. Langit yang Retak

Langit yang Retak

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,221 kata

Ilustrasi Langit yang Retak

Rangga tidak berlari. Ia berjalan β€” dan justru itulah yang paling menakutkan. Ia melangkah di atas padang cahaya seolah dunia ini miliknya, mata peraknya tidak lepas dari Naya, sementara di belakangnya Kaum Bayang menyebar seperti tinta hitam di air jernih.

"Lari!" Gema Raras menyala terang, mendorong bahu Naya. "Ke menara! Jangan biarkan dia mencapai jantungnya lebih dulu!"

Naya berlari. Rumput cahaya mencambuk betisnya. Di belakang, lolongan Kaum Bayang pecah β€” bukan suara binatang, melainkan seperti ratusan orang menangis dalam waktu yang bersamaan, membuat bulu kuduknya berdiri.

Jembatan cahaya menuju pulau menara patah di tengah β€” celah menganga di atas kehampaan yang tidak berdasar. Naya tidak berhenti untuk berpikir; tanda di telapaknya berdenyut liar, dan ia menarik β€” seperti yang diajarkan Danan: menyeruput, bukan menenggak. Arus langit di dunia ini bukan sungai kecil β€” ia adalah samudra yang mengamuk. Cahaya biru kehijauan meledak dari tangannya, membentuk jembatan baru di bawah kakinya, dan ia melesat menyeberang sementara jembatan buatannya runtuh di belakang, menelan gumpalan Bayang pertama yang melompat menyusulnya.

"Bagus!" seru Raras, melayang di sisinya sebagai pita cahaya. "Darahmu mengingat, Nak! Terus! Jangan berhenti!"

Tiga gumpalan Bayang melompat ke jembatannya yang runtuh β€” dan jatuh ke kehampaan sambil melolong, suara mereka memudar menjadi bisikan yang dingin. Tapi puluhan lainnya sudah memutar arah, mencari jalan lain melintasi celah. Naya tidak berani menoleh lagi. Setiap anak tangga yang ia pijak meninggalkan jejak biru kehijauan yang perlahan padam, seperti kenangan yang dilepaskan.

Naya berlari menaiki tangga spiral menara β€” anak tangga dari benang cahaya yang bergetar di bawah kakinya. Di bawah, Rangga masih berjalan santai. Ia mengangkat satu tangan dengan malas β€” dan jembatan cahaya buatan Naya hancur menjadi debu berkilau. "Kau tidak bisa lari selamanya, Pewaris," katanya, dan suaranya tiba-tiba terdengar tepat di belakang telinga Naya. Naya menjerit, berbalik β€” tidak ada. Hanya tawa yang bergema di antara pilar-pilar cahaya.

Di bordes kedua, salah satu Bayang berhasil menyusul β€” cakar hitamnya mencengkeram pergelangan kaki Naya, dinginnya seperti es yang membakar. Naya menjerit, cahaya meledak dari telapaknya tanpa ia perintah, dan makhluk itu terlempar sambil melolong, tubuhnya berasap. "Mereka takut pada cahaya yang lahir dari hati yang rela!" seru Raras. "Itu sebabnya mereka memburu pewaris β€” kau adalah satu-satunya hal yang tidak bisa mereka tiru!"

Di bordes pertama ia berhenti, terengah-engah, paru-parunya terbakar. Raras melayang di depannya, wajah cahaya ibunya muram. "Ibu..." Naya memaksakan kata-kata keluar di antara napasnya. "Siapa mereka sebenarnya? Kaum Bayang. Rangga bilang mereka saudara kita yang terbuang."

Raras lama diam. Di bawah mereka, lolongan semakin dekat, dan tangga menara bergetar pelan. "Sembilan bagian kebenaran," katanya akhirnya, pelan. "Ya, Nak. Mereka dulunya penjaga β€” seperti Danan, seperti aku, sepertimu. Seratus tahun lalu, saat segel pertama dipasang, sebagian penjaga terjebak di sisi yang salah. Segel memisahkan dunia β€” dan memisahkan mereka dari cahaya." Suaranya bergetar. "Seratus tahun kerinduan membusukkan mereka. Mereka tidak lagi ingin pulang, Naya. Mereka ingin menelan β€” agar tidak ada lagi yang perlu dirindukan. Agar semuanya menjadi gelap, dan gelap tidak pernah kesepian."

"Rangga... salah satunya?"

"Rangga lebih buruk." Kemarahan membakar suara lembut Raras. "Ia tidak terjebak β€” ia memilih. Ia membuka dirinya pada kebusukan itu karena ia percaya itu kebebasan. Dan sekarang ia ingin kau melakukan hal yang sama. Jangan, Naya. Jangan pernah."

Naya mencapai puncak bordes. Di depannya: pintu menara β€” sebuah lubang kunci raksasa dari cahaya yang berputar perlahan, persis seperti yang ia lihat di gerbang hutan jati. Tanda di telapaknya berdenyut menjawab, seirama dengan putaran itu. Tapi sebelum ia sempat menyentuhnya, udara di belakangnya menjadi dingin menusuk.

Rangga berdiri di sana β€” benar-benar di sana kali ini, begitu dekat hingga Naya bisa melihat bayangannya sendiri di mata peraknya. "Cukup berlari," katanya lembut, hampir ramah. "Dengarkan aku sekali ini saja β€” tanpa adikku yang meneriakimu dari balik bahumu."

"Aku tidak akan memberimu kunci," kata Naya, mundur selangkah, cahaya sudah menyala di tangannya.

"Aku tidak meminta kunci." Rangga menunjuk pintu menara dengan dagunya. "Aku memintamu menghancurkannya. Satu sentuhan dengan tandamu pada jantung di dalam sana, dan semuanya runtuh. Gerbang, segel, dinding β€” semuanya. Dua dunia menjadi satu, seperti sebelum para pengecut itu memisahkannya. Tidak ada lagi penjaga. Tidak ada lagi tahanan. Tidak ada lagi harga, Naya." Suaranya melembut, nyaris seperti bujukan seorang kakak. "Ibumu bebas. Kau bebas. Nenekmu tidak perlu menua sepuluh tahun dalam sepuluh detik lagi."

Untuk sesaat β€” hanya sesaat β€” Naya tergoda. Bebas. Kata itu terasa seperti air di tenggorokan yang kering. Tidak ada lagi kunci, tidak ada lagi pilihan mustahil, tidak ada lagi bisik-bisik warga desa yang menyebutnya pembawa sial...

Lalu ia melihat wajah Sari. Arka yang berusia tiga tahun, yang menangis di pelukan ibunya saat asap mengepung rumah mereka. Warung Bu RT di pagi hari. Anak-anak yang berlarian di jalan desa saat senja, tertawa.

"Dan desaku?" bisiknya. "Mereka yang tidak punya darah penjaga β€” apa yang terjadi pada mereka saat dua dunia menjadi satu? Saat ribuan Bayang yang sudah lupa cara menjadi manusia itu 'pulang'?"

Rangga tidak menjawab.

Di belakang Rangga, Naya bisa melihat mereka β€” Kaum Bayang yang berdesakan di ambang sobekan langit, mata-mata merah yang berkedip-kedip seperti bara. Dan untuk sesaat, hanya sesaat, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak: di antara kegelapan itu, ada wajah-wajah. Samar, terdistorsi, tapi jelas wajah manusia β€” seorang perempuan tua yang menangis tanpa suara, seorang anak kecil yang mengulurkan tangan. Mereka memang pernah menjadi orang. Mereka memang pernah menjadi penjaga. Kebenaran Rangga β€” sembilan bagian itu β€” menatapnya balik, memohon. Tapi permohonan mereka bukan untuk pulang. Permohonan mereka adalah agar semuanya berakhir, dengan cara apapun.

"Itu jawabannya," kata Naya, dan cahaya di tangannya menyala lebih terang dari sebelumnya. "Kebebasan yang dibangun di atas reruntuhan bukan kebebasan, Rangga. Itu kuburan."

Senyum Rangga padam seperti lilin yang ditiup. "Sayang sekali," desisnya β€” dan suaranya kini berlapis-lapis, bukan satu suara melainkan banyak. "Kau memilih menjadi tahanan seperti ibumu yang malang." Ia mengangkat kedua tangannya β€” dan langit di atas menara menjadi hitam pekat. Ratusan β€” ribuan β€” pasang mata merah turun seperti hujan api. "Kalau begitu, biar mereka yang memilihkan untukmu. Ambil tandanya! Ambil pewarisnya!"

Naya mengangkat tangannya, cahaya biru kehijauan membentuk perisai di sekelilingnya dan Raras β€” tapi ia tahu, dengan darahnya yang kini terbuka penuh, ia tahu: ia tidak akan cukup. Terlalu banyak. Tangannya mulai gemetar. "Ibuβ€”"

"Aku di sini," bisik Raras, cahayanya menyelimuti bahu Naya seperti selendang hangat. "Apapun yang terjadiβ€”"

β€”langit terbelah untuk kedua kalinya.

Bukan oleh kegelapan. Oleh emas.

Benang-benang emas raksasa merobek kegelapan dari atas, dan sesosok jatuh dari sobekan itu β€” mendarat di antara Naya dan lautan Bayang dengan dentuman yang mengguncang seluruh menara. Sayap-sayap cahaya keemasan terbentang lebar di punggungnya, zirah cahaya retak di bahunya, darah emas menetes dari pelipisnya.

Danan. Wujud aslinya β€” Penjaga Langit yang sesungguhnya, bukan lelaki pendiam penjaga beranda itu.

"Danan!" Naya nyaris runtuh saking leganya. Danan tidak menoleh. Mata emasnya terkunci pada Rangga, benang-benang emas sudah meledak dari tangannya membentuk dinding api yang berkobar di antara mereka dan kegelapan. "Pergi," katanya parau, tanpa menoleh. "Ke jantungnya. Sekarang, Naya. Ini perintah β€” bukan permintaan."

"Tapi kauβ€”"

"SERATUS TAHUN aku menunggumu cukup kuat untuk memilih sendiri!" Danan setengah berteriak, dan untuk pertama kalinya Naya mendengar tangis dalam suara penjaganya itu. "Jangan buat penantianku sia-sia! PERGI!"

Naya menempelkan telapak bertandanya ke lubang kunci cahaya. Pintu menara terbuka β€” hangat, mengundang, seperti sebuah napas yang diembuskan. Ia melangkah masuk, menoleh sekali ke belakang β€” Danan berdiri tegak di tengah lautan mata merah, sayap emasnya berkobar, sendirian melawan seribu.

"DANAN!"

Pintu menutup. Cahaya menelan segalanya. Dan hal terakhir yang didengar Naya dari dunia luar adalah raungan Danan β€” yang terputus tiba-tiba, seperti nyala lilin yang dipadamkan oleh kegelapan.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!