β€Ή
24. Penagih

Penagih

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,608 kata

Ilustrasi Penagih

Penagih tidak mengetuk pintu. Ia mengetuk dari dalam kepalamu. Tiga ketukan, seperti detak jantung orang lain yang tersesat di dadamu.

Aku terbangun di tengah malam dengan ketukan itu menggema di tulang tengkorakku. Kamar tidurku gelap β€” lampu minyak sudah padam β€” tapi di sudut ruangan ada sesuatu yang lebih gelap daripada gelap. Sosok berjubah abu-abu, tinggi, kurus, berdiri tanpa suara. Wajahnya bukan wajah: ia adalah tumpukan halaman-halaman buku yang terbuka, setiap halaman dipenuhi nama-nama yang ditulis tangan dengan tinta bintang. Halaman-halaman itu berdesir pelan, seperti napas.

Ia berbicara β€” dan suaranya adalah suaraku sendiri. Itu yang paling mengerikan. Ia meminjam suara orang yang paling ingin kudengar, dan malam ini ia memilihku.

"Naya dari garis Raras," katanya dengan mulutku, dengan nadaku, dengan keraguanku sendiri yang dipantulkan kembali. "Dewan mengakui jahitanmu."

Aku duduk tegak, meraih benang yang kini kusimpan di bawah bantal β€” benang setengah hidup berurat emas itu. Ia berdenyut hangat di genggamanku, seolah ikut terbangun. "Dewan mengakui?" kataku. "Atau dewan marah? Semalam kedengarannya seperti marah."

Halaman-halaman wajahnya berdesir β€” mungkin itu tawanya. "Dewan tidak marah, Nak. Dewan mencatat. Kemarahan adalah kemewahan bagi mereka yang masih bisa memilih."

Dingin merayap di tulang punggungku. "Apa maumu?"

"Memberi kabar." Ia mengangkat satu tangan β€” jarinya adalah pena-pena kecil dari cahaya. "Dewan menghargai inisiatif penjaga yang memilih. Sungguh. Sudah seratus tahun tidak ada yang memilih. Maka dewan memberimu kehormatan: datanglah ke gerbang dalam tiga malam. Persembahkan benangmu β€” benang yang telah kau hidupkan itu β€” dan dewan akan menanamnya dengan upacara yang layak. Namamu akan ditulis dengan tinta emas, bukan tinta bintang."

"Dan kalau aku tidak datang?"

Halaman-halaman itu berhenti berdesir. Keheningan yang jatuh terasa seperti halaman yang disobek.

"Retakan tidak menunggu, Nak. Ia lapar. Jika tidak ada persembahan dalam tiga malam, ia akan mengambil pembayaran dari yang tersisa dari garis Raras."

Jantungku berhenti. "Yang tersisa? Siapa yang tersisa? Ibukuβ€”"

"Ibumu tidak ada dalam daftar kami," kata penagih itu, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu seperti... ketertarikan dalam suaranya yang meminjam suaraku. "Tidak ada dalam daftar yang hidup. Tidak ada dalam daftar yang ditanam. Seorang perempuan dari garis Raras yang tidak tercatat di mana pun." Halaman-halaman wajahnya condong lebih dekat. "Itu yang membuatnya... menarik bagi dewan. Jangan membuat kami menjadi lebih tertarik."

Ancaman itu menggantung di udara seperti pisau.

Sebelum aku sempat menjawab, pintu kamarku terbuka β€” dan Danan berdiri di sana, tanpa alas kaki, dengan sebilah keris tua di tangan yang bahkan aku tidak tahu ia miliki. Matanya langsung menemukan sosok berjubah itu, dan wajahnya mengeras menjadi topeng.

"Keluar," katanya. Satu kata. Perintah penjaga.

Penagih itu memiringkan wajah halamannya. "Danan," katanya β€” kini dengan suara Danan sendiri, dipinjam dan diputarbalikkan. "Penjaga yang gagal ditanam."

Ruanga itu menjadi sangat sunyi.

Danan tidak bergerak. Genggamannya pada keris tidak berubah. "Aku bukan gagal ditanam," katanya pelan, setiap kata seperti batu yang diletakkan. "Aku MENOLAK ditanam. Ada bedanya β€” dan dewan tidak pernah bisa menulis ulang perbedaan itu, sekeras apa pun mereka mencoba."

Penagih itu berdesir. "Empat puluh dua tahun yang lalu, dewan memilihmu sebagai kunci. Penjaga laki-laki langka β€” kuat untuk retakan besar di utara. Kamu dibawa ke gerbang. Upacara disiapkan. Lubang tanam digali." Ia berhenti. "Dan di ambang tanam, kamu merobek namamu sendiri dari buku besar. Dengan kukumu. Dengan gigimu. Kamu lebih memilih luka daripada kemuliaan."

Danan membuka kancing teratas bajunya β€” gerakan lambat, disengaja β€” dan menunjukkan dadanya. Di sana, tepat di atas jantungnya, ada luka yang tidak pernah sembuh: guratan berbentuk akar, merah kehitaman, berdenyut pelan seperti benang mati. Luka kunci.

"Aku merobeknya," kata Danan, "karena tidak ada kemuliaan dalam ditanam. Hanya ada habis. Dan aku belum selesai."

"Sebagai ganti nyawamu," lanjut penagih itu, "dewan memberimu tugas. Mengawasi garis Raras. Melapor setiap bulan purnama. Kamu menerima."

"Aku menerima," kata Danan. Ia tidak menyangkal. Ia tidak menunduk.

Aku menatapnya β€” punggungnya yang tegak di depan pintu, keris di tangannya yang tidak gemetar β€” dan sesuatu yang dingin merayap ke dadaku. "Danan? Selama ini kamuβ€”"

"Aku ditugaskan mengawasimu sejak kamu lahir," katanya tanpa berbalik. Suaranya datar, seperti seseorang yang membacakan vonisnya sendiri. "Melapor setiap bulan purnama. Itu tugasnya."

"Tugas yang kubakar," lanjutnya, dan kini ia berbalik β€” menatapku β€” dan di matanya ada api yang belum pernah kulihat sebelumnya, "pada malam kamu berumur tujuh tahun."

Malam itu. Malam aku duduk di pangkuan Ibu dan bertanya kenapa langit ada dua. Malam Ibu berkata: karena langit yang satu dijaga, Nak. Dan yang menjaganya adalah kita.

"Kenapa malam itu?" bisikku.

"Karena malam itu kamu bertanya kenapa langit ada dua." Danan menurunkan kerisnya β€” perlahan, seperti seseorang yang meletakkan beban empat puluh tahun. "Dan untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun menjadi pengawas, aku ingin menjawab dengan jujur. Aku ingin menjadi orang yang memberitahumu kebenaran β€” bukan orang yang melaporkannya ke dewan."

Tenggorokanku tercekat. Di sudut ruangan, penagih itu berdesir pelan β€” mencatat, tentu saja. Selalu mencatat.

"Tiga malam," kata penagih itu, kembali ke urusannya. Ia mulai larut β€” halaman-halaman tubuhnya terlepas satu per satu, beterbangan keluar melalui jendela yang tertutup rapat, setiap halaman berbisik namaku saat lewat. "Tiga malam, Naya dari garis Raras. Dewan menunggu. Retakan menunggu. Pilihlah dengan bijak β€” kamu bilang penjaga memilih, bukan?"

Lalu ia hilang, meninggalkan bau tinta dan hujan di kamarku.

Aku dan Danan saling menatap dalam gelap. Benang di tanganku berdenyut β€” hangat, hidup, setengah milikku.

"Aku tidak akan datang sebagai persembahan," kataku akhirnya.

"Aku tahu," kata Danan.

"Aku akan melakukan sebaliknya." Rencana itu terbentuk di kepalaku dengan kecepatan yang menakutkan β€” atau mungkin ia sudah ada di sana sejak pagi, sejak aku mengikatkan jangkar ke pergelanganku. "Mereka ingin aku datang ke gerbang? Baik. Aku akan datang. Tapi bukan sebagai kunci yang ditanam." Aku mengangkat benang berurat emas itu. "Aku akan menjahit benang ini KE DALAM retakan. Bukan sebagai benih β€” sebagai POS PENJAGA. Jangkar di langit. Aku akan menambatkan diriku pada retakan itu dan MEMERINTAHNYA."

Danan menatapku lama. "Untuk memerintah retakan, jahitannya butuh harga yang tidak bisa dipalsukan dewan."

"Aku tahu. Kenangan." Aku menggenggam benang itu erat. "Tapi bukan kenangan yang DIAMBIL. Kemarin benang itu mengambil dariku tanpa izin. Kali ini aku yang MEMBERIKAN. Dengan rela. Itu bedanya β€” dan dewan tidak akan pernah mengerti bedanya, karena mereka tidak pernah memberikan apa pun dengan rela."

"Kenangan apa?" tanya Danan pelan.

Aku memejamkan mata. Di dalam kepalaku, kenangan-kenangan berbaris seperti anak-anak yang menunggu dipilih β€” dan aku memilih yang paling murni, yang paling tidak tersentuh, yang paling... garis Raras.

"Nina bobo Ibu."

Danan tersentak.

"Satu-satunya kenangan yang tidak pernah ditulis dewan," kataku. "Tidak pernah disentuh. Tidak pernah dicatat." Air mata mulai mengalir β€” aku tidak berusaha menghentikannya. "Aku masih ingat liriknya. Masih ingat ayunannya. Dan yang paling penting β€” aku masih ingat SUARA Ibu saat menyanyikannya. Suara itu... aku akan memberikannya. Dengan rela."

"Jangan." Danan berlutut di depanku β€” lagi, untuk kedua kalinya dalam dua hari β€” dan menggenggam kedua tanganku. "Berikan kenanganku. Empat puluh dua tahun menjaga β€” ambil itu. Ambil malam-malamku berjaga di bawah langit retak. Ambil semuanya. Jangan berikan suara ibumu, Naya. Itu satu-satunya yang tidak bisa kembali."

Aku menatapnya β€” wajahnya yang diterangi cahaya benang emas, garis-garis lelah di sekitar matanya, luka akar di dadanya yang berdenyut pelan β€” dan aku menggeleng dengan lembut.

"Jangkarnya di tanganku, Danan." Aku menggenggam tangannya balik, erat. "Itu keputusanku. Penjaga memilih β€” ingat? Kamu yang mengajariku."

Ia menatapku lama β€” begitu lama sampai aku pikir ia akan menolak, akan merampas benang itu dan membayar harganya sendiri. Lalu bahunya turun, dan ia mengangguk β€” sekali, berat seperti gunung.

"Maka aku memegang yang memilih," katanya. Ia menggeser duduknya, memegang tanganku dengan kedua tangannya β€” jangkar bagi sang penjaga. "Bernyanyilah. Aku di sini."

Maka di tengah malam, di bawah langit yang retak, aku menyanyikan nina bobo Ibu β€” sekali, pelan, dengan suara yang pecah di setiap nada. Danan memegang tanganku. Benang berurat emas itu mendengarkan, berdenyut mengikuti irama lagu.

Di nada terakhir, sesuatu terangkat dari kepalaku β€” ringan seperti asap, hangat seperti napas terakhir. Suara Ibu. Suara Ibu pergi β€” bukan direnggut, melainkan diberikan, seperti melepaskan burung dari sangkar dengan tangan terbuka.

Aku masih ingat kata-katanya. Masih ingat ayunan beranda. Masih ingat teh manis di udara sore.

Tapi SUARA itu β€” hilang.

Aku menangis tanpa suara, bahuku berguncang dalam genggaman Danan.

Lalu β€” di tengah tangisku β€” aku mendengar sesuatu. Senandung. Rendah, serak, sedikit fals di nada tinggi β€” tapi melodinya tepat. Melodi nina bobo Ibu.

Aku mendongak. Danan bersenandung β€” matanya basah, tapi suaranya mantap.

"Aku akan menyanyikannya untukmu," katanya pelan, di antara nada. "Aku mendengarnya sekali β€” empat puluh tahun yang lalu, dari kejauhan, saat mengawasi rumah ini." Ia tersenyum β€” senyum yang patah di tengah. "Aku ingat, Naya. Selama aku ingat, ibumu tidak hilang sepenuhnya."

Benang di tanganku β€” diberi makan nina bobo yang diberikan dengan rela β€” menyala. Bukan sekadar berdenyut: ia MENYALA, keemasan penuh, seperti matahari kecil yang terbit di telapak tanganku.

Aku berdiri β€” Danan ikut berdiri, tidak melepaskan tanganku β€” dan kami berjalan keluar ke halaman. Di atas kami, retakan itu menganga di langit malam, hitam berurat cahaya bintang, lapar.

Aku melemparkan benang itu ke langit.

Dan aku menjahit. Jahitan demi jahitan, aku MENAMBATKAN diriku pada langit yang retak β€” benang emas melintasi kegelapan, menusuk tepi retakan, menarik, mengikat. Jangkar di pergelangan kiriku menegang β€” aku merasa seperti layang-layang yang ditambatkan pada badai. Danan memegangku dari belakang β€” lengannya melingkari pinggangku, kakinya menjejak tanah β€” menjadi jangkar bagi jangkar.

"Terus!" serunya melawan angin yang tiba-tiba bertiup dari retakan. "Jangan berhenti!"

Jahitan terakhir mendarat β€” dan retakan itu BERGETAR.

Bukan menutup. Bukan menyempit.

Ia MEMBUKA.

Bukan melebar seperti luka β€” melainkan seperti... kelopak. Retakan itu menjadi MATA. Mata raksasa dari badai dan cahaya bintang, terbuka di langit malam, dan pupilnya β€” pupil yang dalam seperti sumur tanpa dasar β€” langsung menemukanku. Menatapku. MELIHATKU.

Dari bawah, dari ambang pintu, terdengar suara Bima β€” kecil, takut: "Naya... ia melihatmu."

Aku berdiri di halaman, di bawah tatapan langit, jangkar di tanganku, benang emasku tertambat pada tepi mata itu β€” dan aku melakukan hal yang tidak pernah dilakukan kunci mana pun dalam sejarah garis Raras.

Aku menatap balik.

"Aku melihatmu juga," kataku kepada langit.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!