β€Ή
5. Napas di Balik Cahaya

Napas di Balik Cahaya

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,253 kata

Ilustrasi Napas di Balik Cahaya

Cahaya tidak seharusnya punya suara. Namun saat dunia meledak di sekeliling Naya, ia mendengarnya β€” raungan lembut seperti ombak yang pecah di pantai yang jauh, manis seperti madu di lidah, dingin seperti embun pagi yang menempel di kulit. Lalu semuanya menjadi putih.

Ia terbangun di atas rumput. Rumput yang terasa hangat dan berdenyut pelan di bawah punggungnya, seolah ia berbaring di atas dada raksasa yang sedang bernapas. Naya membuka mata β€” dan lupa cara bernapas.

Langit di atasnya retak. Bukan kiasan: langit itu seperti kaca raksasa yang pecah, garis-garis retakan berpijar biru kehijauan, dan dari celah-celahnya merembes cahaya. Di kejauhan, pulau-pulau melayang perlahan, air terjun jatuh dari tepinya menuju kehampaan di bawah. Udara beraroma melati dan hujan. Dan di pusat dunia ini, menjulang sebuah menara yang terbuat dari benang-benang cahaya yang terjalin, begitu tinggi hingga puncaknya hilang di balik retakan langit.

"Danan?" Suaranya pecah. Tidak ada jawaban β€” hanya dengung lembut, dan ia sadar dengung itu datang dari telapak tangannya sendiri. Kunci tulang burung itu hilang. Sebagai gantinya, di telapak tangan kanannya, sebuah tanda berbentuk kunci menyala biru kehijauan, berdenyut seirama dengan jantungnya. Persis seperti tanda samar di telapak Nek Wulan β€” hanya saja miliknya hidup, menyala, dan terasa... menunggu sesuatu.

Ia bangkit, lutut gemetar. Terakhir yang ia ingat: ujung jarinya menyentuh tulang itu, suara ibunya yang bernyanyi, ledakan cahaya β€” dan teriakan Danan yang melarangnya. "DANAN!" Ia berteriak lagi, memutar badan. Tidak ada. Hanya padang cahaya keemasan yang membentang sampai ke kaki menara, dan keheningan yang terlalu indah untuk dunia yang sedang sekarat.

Naya mengangkat telapak tangannya, menatap tanda kunci yang berdenyut itu. Di dunia bawah, Danan mengajarinya bahwa arus langit seperti sungai yang harus diseruput, bukan ditenggak. Di sini, ia tidak perlu mencari β€” arusnya ada di mana-mana, deras dan hangat, mengalir melalui rumput cahaya, melalui udara, melalui dirinya sendiri. Dengan ragu ia menarik sedikit β€” dan cahaya biru kehijauan mekar di telapaknya seperti bunga yang mekar dalam hitungan detik, jauh lebih mudah, jauh lebih kuat daripada di hutan jati. "Di sini... aku lebih kuat," bisiknya, takjub sekaligus takut. Tanda di telapaknya berdenyut menjawab, seolah membenarkan.

Lalu ia mendengarnya. Nada nina bobo yang sama. Lembut, datang dari balik pilar pualam yang patah tidak jauh darinya. Kaki Naya bergerak sebelum otaknya sempat memerintah. Di balik pilar itu, duduk seorang perempuan. Rambutnya panjang tergerai, wajahnya... wajah yang selama sembilan belas tahun hanya hidup di foto kusam di ruang tamu Nek Wulan.

"Ibu?" bisik Naya.

Perempuan itu menoleh, tersenyum β€” dan Naya melihat bahwa tubuhnya tembus pandang, terbuat dari cahaya yang bergetar seperti nyala lilin. "Naya," kata perempuan itu. "Anakku yang sudah besar."

Naya jatuh berlutut. Air matanya tumpah sebelum ia sempat menahannya. "Ibu... Ibu beneran? Aku... apa aku mati?"

"Belum, Nak." Raras β€” ibunya β€” mengulurkan tangan cahaya, dan meski tidak menyentuh, Naya merasakan kehangatan di pipinya. "Kau berada di antara. Di Langit Atas β€” dunia di balik gerbang. Dan aku..." senyumnya bergetar, "aku bukan ibumu yang utuh. Aku hanya yang tersisa. Gema yang ditinggalkan segel lima belas tahun lalu, saat jiwaku menjadi bagian dari dinding ini."

"Lima belas tahun," Naya mengulang, suaranya serak. "Danan bilang... Ibu menyentuh kunci itu untuk menutup retakan. Dan segel itu meminum Ibu."

"Danan tidak berbohong." Raras menunduk. "Retakan muncul tengah malam. Tidak ada waktu memanggil siapa pun. Aku takut, Naya β€” takut kehilangan desa, takut kehilanganmu yang masih bayi dan tertidur di ayunan. Jadi aku menyentuhnya. Dengan tangan yang gemetar dan hati yang penuh takut." Ia menatap Naya, dan di matanya yang terbuat dari cahaya ada kepedihan yang nyata. "Dan itulah masalahnya, Nak. Aku memilih karena takut. Bukan karena hati."

"Apa bedanya?"

"Segalanya." Raras berdiri, cahaya tubuhnya beriak seperti air. "Segel yang lahir dari ketakutan tidak akan pernah utuh, Naya. Ia akan retak lagi. Dan lagi. Setiap beberapa tahun, seperti luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Lima belas tahun aku menahannya dari dalam sini β€” menambal, menambal, menambal β€” tapi aku hanya gema. Aku tidak cukup." Ia menggenggam tangan Naya β€” dan kali ini Naya merasakannya, hangat dan nyata. "Sampai semalam. Sampai kau menyentuh kunci itu β€” bukan dengan takut, melainkan dengan hati. Seperti pesan terakhirku padamu: pilihlah dengan hatimu, Nak. Bukan dengan takutmu."

Angin hangat bertiup melintasi padang cahaya, membawa aroma melati yang semakin kuat β€” dan bersamanya, bisikan-bisikan samar dalam bahasa yang bukan miliknya, bahasa yang sama dengan yang keluar dari mulutnya saat mengusir Kaum Bayang di rumah Sari. Ia tidak mengerti kata-katanya, tapi darahnya mengerti. Darahnya menjawab dengan denyutan yang tenang, seolah berkata: kau sudah lama pergi, dan sekarang kau pulang. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Naya tidak merasa takut pada apa yang mengalir di nadinya. Ia merasa... dikenali.

Naya menatap tanda di telapaknya. "Gerbang tidak mengikatku. Danan bilang sekali pewaris menyentuhnya, ia menjadi segel. Selamanya. Tidak menua, tidak pergi, tidak mati."

"Seharusnya begitu," kata Raras pelan. "Tapi gerbang... memilih. Ia tidak menjadikanmu segel, Nak. Ia membukakanmu pintu β€” agar kau bisa melihat." Ia merentangkan tangannya ke sekeliling β€” padang cahaya, pulau-pulau melayang, langit yang retak. "Setiap retakan di duniamu adalah luka di sini. Jantung Langit β€” menara itu β€” sekarat, dan setiap kali ia melemah, Kaum Bayang semakin berani. Kau harus ke sana, Naya. Ke jantung menara. Di sanalah jawaban yang bahkan aku tidak sempat temukan."

"Jawaban apa?"

"Penjaga Pertama menyembunyikan jalan ketiga." Raras menatap menara itu, suaranya merendah. "Bukan menyegel β€” itu hanya mengulang nasibku, mengulang nasib yang akan menjadi nasibmu. Bukan membuka β€” itu yang diinginkan Rangga, dan itu akan menelan kedua dunia. Jalan ketiga..." Ia menoleh pada Naya. "Aku tidak tahu, Nak. Aku hanya gema. Tapi aku tahu ia ada β€” dan hanya pewaris yang berdiri di ambang, sepertimu sekarang, yang bisa menemukannya."

"Kenapa aku?" Air mata Naya mengalir lagi. "Kenapa bukan Ibu? Ibu sudah di sini. Ibu lebih tahuβ€”"

"Karena aku sudah menjadi bagian dari dinding." Raras mengusap air mata anaknya dengan jari cahaya β€” dan air mata itu berubah menjadi kunang-kunang kecil yang beterbangan. "Aku tidak bisa lagi memilih, Naya. Dinding tidak memilih. Tapi kau..." Ia tersenyum, dan untuk sesaat ia tampak begitu hidup hingga dada Naya sesak. "Kau masih bisa."

"Rangga bilang Kaum Bayang hanya ingin pulang," kata Naya pelan. "Bahwa mereka saudara kita yang terbuang."

Wajah cahaya Raras mengeras β€” pertama kalinya. "Rangga selalu mencampur kebenaran dengan racun, Nak. Itu cara kerja racun yang paling mematikan β€” sembilan bagian kebenaran, satu bagian dusta. Dan dustanya cukup untuk membunuh." Ia menggenggam bahu Naya erat-erat, dan genggaman cahaya itu terasa nyata, mendesak. "Dengarkan aku. Nek Wulan β€” nenekmu β€” ia juga pernah berdiri di tempatmu berdiri sekarang. Tanda samar di telapaknya itu bukan hiasan, Nak. Ia pewaris sebelumku. Ia memilih untuk tidak menyentuh kunci β€” ia memilih hidup biasa, memilih membesarkanku, memilih menjadi nenek penjual jamu. Dan kunci itu... menghormati pilihannya. Tanda itu memudar karena ia menyerahkan warisannya padaku dengan rela."

Naya terpana. "Nek Wulan... tidak pernah cerita."

"Karena ia ingin kau punya pilihan yang tidak ia punya: pilihan yang dibuat dengan pengetahuan penuh, bukan ketakutan." Raras menatap sobekan langit yang masih menganga di atas mereka, dari mana lolongan Bayang mulai terdengar samar. "Apapun yang terjadi, apapun yang ia tawarkanβ€”"

KRAAAK.

Langit di atas mereka terbelah β€” bukan retakan lama, melainkan sobekan baru yang menganga seperti luka segar. Dan dari sobekan itu, melangkah masuk sesosok laki-laki dengan mata abu-abu keperakan, tersenyum tenang seolah ia baru saja tiba di sebuah pesta. Di belakangnya, seperti air bah yang jebol dari bendungan, ratusan pasang mata merah membanjir masuk ke padang cahaya.

"Terima kasih, Pewaris," kata Rangga, suaranya bergema di seluruh Langit Atas. "Pintu yang dibuka dari dalam jauh lebih mudah dilewati daripada yang didobrak dari luar." Ia menatap menara cahaya itu, dan senyumnya melebar β€” lapar. "Dan sekarang... mari kita lihat apa yang disembunyikan jantung langit ini dariku selama seratus tahun."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!