Denting yang Lapar
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,317 kata
Denting itu tidak berhenti.
Ia naik dari kedalaman seperti sesuatu yang merangkak pelan menaiki tulang-tulang bumi β dalam, sabar, dan lapar. Tanah di bawah kakiku bergetar mengikuti iramanya, dan setiap getarannya merambat naik melalui telapak kakiku, betisku, sampai ke dadaku, seolah dadakulah yang dijadikan gendangnya.
"Jangan bergerak," kata Danan.
Ia masih berlutut dengan telinga menempel di tanah, wajahnya pucat seperti mayat. Tangan kanannya terangkat β isyarat agar aku diam β sementara tangan kirinya mencengkeram tanah taman seolah takut tanah itu pergi. Di belakangku, dari dalam rumah, terdengar tangis Sela β kecil, tertahan, seperti anak yang berusaha berani tapi gagal. Suara Ibu menenangkannya, goyah di ujung-ujungnya.
Aku mencoba melepaskan benang-benangku ke bawah.
Akar-akar abuku β yang tadi siang berani merayap ke tempat-tempat gelap tanpa terbakar, yang mengenali kegelapan sebagai salah satu miliknya β menjerit. Bukan kiasan. Aku mendengarnya di dalam kepalaku, jeritan serempak seperti paduan suara yang dibalik: mereka menolak turun. Mereka melingkar balik, mencengkeram pergelangan tanganku, menarikku menjauh dari kedalaman. Benang-benang emasku berani sedikit lebih jauh β turun satu meter, dua meter β lalu menipis, bergetar, dan putus satu per satu seperti rambut yang dicabut.
"Kedalaman itu lebih tua dari akarku," desahku. Darah menetes lagi dari hidungku β aku bahkan tidak sadar kapan mulainya. "Mereka tidak berani."
Danan mengangkat kepalanya. Matanya yang perak berkilat aneh di cahaya senja yang miring. "Dengarkan," bisiknya.
Aku memejamkan mata dan mendengarkan.
Denting. Jeda. Denting. Jeda. Dan di antara jeda itu β ya Tuhan β ada sesuatu yang lain. Bukan nada. Irama. Seperti tenggorokan yang menelan.
"Ia menghitung," kata Danan pelan. "Atau... ia menelan."
Wulan berdiri di ambang pintu, tongkatnya bergetar di tangannya. Wajahnya β wajah yang kukenal berani menghadapi langit berdarah β kini seperti kain basah yang diperas. "Masuk," katanya. "Semuanya masuk. Sekarang."
Tapi aku tidak bergerak. Aku menatap tanah taman β tanah yang kupijak setiap pagi tanpa berpikir, tempat Sela menanam bunga kertas bulan lalu, tempat Ibu menjemur pakaian. Di bawah sana, sesuatu yang lebih tua dari rumah ini sedang bangun. Dan lapar.
"Nek," kataku. "Kenapa ia dikubur di sini? Di bawah rumah kita?"
Wulan memejamkan mata lama. Ketika ia membukanya, ada air di sana β bukan tangis, melainkan sesuatu yang lebih tua dari tangis. "Karena ibuku yang menguburnya," katanya. "Nenek buyutmu."
Angin senja berhenti. Bahkan denting itu seolah menahan napas sekejap.
"Rumah ini tidak kebetulan berdiri di sini, Nak." Wulan melangkah turun dari beranda β perlahan, tongkatnya mengetuk tanah yang bergetar. "Tiga generasi lalu, ibuku menemukan lonceng pertama di tempat Dewan menempanya. Ia tidak bisa menghancurkannya. Tidak ada yang bisa menghancurkan yang pertama. Jadi ia melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan: ia menguburnya. Dalam. Dan di atasnya, ia membangun rumah."
"Rumah kita," bisikku, "adalah tutupnya."
"Tutupnya bukan tanah, Nak." Wulan menatapku β dan untuk pertama kalinya, aku melihat ia benar-benar tua. "Tutupnya adalah hidup."
Ia menunjuk sekeliling β jemuran Ibu yang bergoyang, pot bunga kertas Sela, jejak kaki kecil di tanah, asap dapur yang masih mengepul. "Lonceng itu lapar akan beban. Takut, duka, haus, kesepian β itu makanannya. Dan selama tiga generasi, rumah ini memberinya... bukan itu." Suaranya melembut. "Rumah ini memberinya masakan yang gosong, pertengkaran kecil soal uang belanja, tawa Sela yang pecah saat hujan, lagu yang kunyanyikan saat menidurkan ibumu dulu. Hidup, Nak. Hidup yang biasa." Ia tersenyum pahit. "Terlalu kaya untuk dicerna. Terlalu hangat untuk ditelan. Jadi ia tidur. Kelaparan... tapi tidur."
Darahku dingin. "Dan sekarang Dewan menuang."
"Sekarang Dewan menuang." Wulan mengangguk. "Ratusan tahun beban yang mereka tabung β mereka tuangkan ke dalamnya, dari sisi lain. Makanan akhirnya datang. Dan ia bangun."
Seolah mendengar namanya disebut, denting dari kedalaman menguat. Tanah bergetar lebih keras β pot bunga kertas Sela terguling, tanahnya tumpah. Dan kemudian, dari dalam rumah, terdengar bunyi yang membuat bulu kudukku berdiri:
Te-ng.
Ceret di atas tungku β yang apinya sudah lama mati β berdenting sendiri.
Lalu jendela-jendela bergetar. Air di ember beriak tanpa disentuh. Dan gelang di pergelangan Sela β aku bisa mendengarnya dari sini β simpul INGAT itu berdenyut liar, panas, seperti bara kecil.
"Ia memanggil," kata Wulan β suaranya hampir tidak terdengar. "Dengar."
Aku mendengarkan. Dan aku mengerti, dengan ngeri yang merambat seperti air dingin di punggungku: denting dari kedalaman itu bukan sekadar bunyi. Ia adalah panggilan. Setiap dentingnya menarik sesuatu keluar dari kami β dari orang-orang hidup di atasnya.
Ibu tersentak di dalam rumah β lalu terdengar isaknya, pecah. Bukan tangis panik tadi. Tangis yang lain β tangis lama, tangis yang sudah dikubur dua puluh tahun dan kini digali paksa keluar. "Bu?" panggilku, panik.
"Jangan," cegah Wulan cepat, tangannya mencengkeram lenganku. "Itu dukanya yang lama. Lonceng itu sedang memanggilnya keluar. Kalau kau masuk sekarang dan memeluknya, kau akan ikut terpanggil."
Tanganku gemetar. Di dalam diriku sendiri, aku merasakannya juga β sesuatu yang lama dan terkubur mulai bergerak. Takutku yang kusimpan rapat-rapat: takut gagal menjaga gerbang, takut tidak cukup kuat, takut suatu hari Danan menatapku dan melihat bukan Naya melainkan sekadar wadah benang. Semuanya naik ke permukaan seperti gelembung di air mendidih.
"Ia tidak bisa naik," kata Danan β ia sudah berdiri, tangannya di bahuku, jaring emasnya terentang tipis di sekeliling kami seperti kelambu. "Tapi ia bisa minum dari atas. Melalui dentingnya."
"Yang menjawab..." bisik Wulan, "akan diminum."
Aturan itu β aturan yang selama ini hanya berlaku untuk kegelapan dan gerbang β kini berlaku untuk rumah kami sendiri. Dengar boleh. Menjawab jangan.
Aku menggertakkan gigi dan aku menenun. Benang-benangku yang tersisa β emas yang berakar abu-abu, yang sudah robek satu akarnya di seberang lautan β aku hamparkan di atas tanah taman seperti tikar. Peredam. Penutup. Apa pun untuk membungkam panggilan itu.
Tapi denting itu datang dari bawah tenunanku. Ia merembes naik melalui sela-selanya seperti air melalui kain. Malah β aku tersentak β setiap denting yang menyentuh benangku membuat benangku bergetar mengikutinya, seolah benangku ingin ikut bernyanyi. Aku menarik tenunan itu kembali sebelum ia sempat padu, terengah-engah, darah menetes dari hidungku ke tanah yang bergetar.
"Cukup," geram Danan, menarikku menjauh dari tepi taman. "Kau sudah berdarah-darah sejak siang."
"Kalau aku tidak melakukan apa-apaβ"
"Kalau kau mati kehabisan darah, siapa yang menamai lonceng itu?" Matanya yang perak menatapku tajam β tapi tangannya di pipiku lembut, menghapus darah dengan ibu jarinya. "Dengar aku. Kau tidak bisa melawannya malam ini. Tidak dalam keadaanmu."
Aku ingin membantah. Tapi dunia miring sedikit di tepiku, dan aku tahu ia benar.
Wulan sudah masuk ke dalam rumah β aku mendengar suaranya, tenang dan tegas, mengumpulkan Ibu dan Sela di kamar tengah, menjauh dari tanah. "Jangan ada yang tidur di lantai malam ini," katanya. "Semua di dipan. Jangan ada yang menjawab apa pun yang terdengar seperti memanggil nama."
Kami mundur ke beranda. Denting dari kedalaman mengikuti kami β pelan, sabar, tak terhindarkan. Seperti detak jantung kedua yang tumbuh di bawah rumah kami.
Lalu β pintu kamar terbuka.
Sela berdiri di ambang pintu.
Kakinya telanjang. Rambutnya kusut. Dan gelang di pergelangan tangannya β simpul INGAT itu β berpijar. Bukan berdenyut. Berpijar, putih keemasan, seperti bara yang ditiup.
Matanya tidak fokus. Ia tidak menatap kami. Ia menatap ke bawah β ke tanah. Mendengarkan sesuatu yang hanya ia dengar.
"Sela?" Suara Ibu β panik.
Sela tidak menjawab Ibu. Ia melangkah maju β satu langkah kecil ke beranda β dan berbisik, dengan suara yang terlalu jernih untuk anak sekecil itu:
"Mbak... ia memanggil namaku."
Darahku berhenti mengalir rasanya.
"Katanya..." Sela mengangkat wajahnya β air matanya berkilat di cahaya senja. "Katanya ia ingat aku. Dari sebelum aku lahir."
Keheningan. Bahkan denting dari kedalaman itu seolah menahan napas.
Wulan bergerak lebih cepat dari yang pernah kulihat dari perempuan setua itu β ia sudah di samping Sela, tongkatnya terangkat seperti palang. "Sela," katanya β suaranya rendah dan bergetar. "Dengar Nek. Dengar baik-baik."
Sela menatapnya.
"Dengar boleh," bisik Wulan. "Menjawab... jangan."