β€Ή
74. Kendi yang Memilih Suara

Kendi yang Memilih Suara

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,668 kata

Ilustrasi Kendi yang Memilih Suara

Suara Danan keluar dari kendi itu, jelas dan hangat, mengucapkan kata "Pulang", padahal Danan berdiri tepat di sampingku dan mulutnya tertutup rapat.

Aku tidak langsung bergerak. Kakiku seperti menancap di tanah halaman, sementara mataku berpindah-pindah antara wajah Danan yang pucat dan kendi hitam di beranda yang retakannya kini bercabang seperti akar. Cahaya pelan dari dalam retakan itu lebih terang daripada siang tadi, cukup terang untuk menerangi papan beranda di tengah hari yang sebenarnya tidak membutuhkan cahaya tambahan. Sela berdiri di ambang pintu dengan tangan gemetar, seolah ia sudah lama menahan diri untuk tidak berteriak.

"Danan," bisikku, dan suaraku sendiri terdengar kecil di telingaku. "Kau mendengarnya, kan? Itu suaramu. Bukan tiruan. Bukan gema. Itu suaramu yang mengucapkan kata itu dari dalam kendi."

Danan mengangguk pelan. Ia mengangkat tangannya, menyentuh tenggorokannya sendiri, seolah memastikan suaranya masih ada di tempatnya. "Aku mendengarnya," katanya, dan suaranya sendiri terdengar serak, seperti suara seseorang yang baru bangun dari tidur panjang. "Dan aku tidak mengucapkannya. Aku bahkan tidak membuka mulutku. Naya, kendi itu tidak lagi sekadar menyampaikan pesan. Ia mulai memakai suara kami selagi kami masih hidup dan masih berdiri di sini."

Wulan melangkah maju, melewatiku, dan berjongkok di depan kendi dengan hati-hati, menjaga jarak satu jengkal dari retakan yang bercabang itu. Benang hitam sudah tidak ada di lehernya, tapi aku melihat bahunya menegang seperti dulu, seperti tubuhnya mengingat rasa takut yang pernah melingkar di sana. "Retakannya bertambah sejak kalian pergi," katanya, suaranya ditahan agar tetap tenang. "Bukan hanya satu cabang. Lihat. Dari retakan pertama, sekarang ada tiga cabang kecil, dan satu cabang lagi yang lebih panjang, mengarah ke bawah, seperti akar yang mencari tanah."

Sela akhirnya bicara, suaranya gemetar tapi jelas. "Aku tidak menyentuhnya, Kak. Aku janji, aku tidak menyentuhnya. Aku hanya menjaga dari ambang pintu, seperti yang kalian pesan. Tapi sekitar satu jam setelah kalian naik ke bukit, kendi itu mulai berdenyut lebih cepat. Bukan denyut sabar seperti tadi pagi. Denyut gelisah, seperti seseorang yang mengetuk dari dalam karena tidak sabar menunggu jawaban. Lalu retakannya bercabang sendiri, tanpa ada yang menyentuhnya, dan cahayanya membesar. Setelah itu, ia mulai mengucapkan kata itu. Pulang. Sekali dengan suaramu, Kak. Sekali dengan suara Danan. Dan sekali lagi dengan suara yang tidak kukenal, suara yang lebih tua, seperti suara Nenek Buyut yang kudengar dalam lagu tiga suara kemarin."

Aku merasakan lututku melemas, tapi aku memaksa diriku tetap berdiri. Tiga suara. Lagu tiga suara itu terdiri dari suaraku, suara Nenek Buyut, dan suara Wulan, ditopang suara kedua Danan. Dan sekarang kendi itu mengucapkan satu kata dengan tiga suara itu secara bergantian, seolah ia sedang mempelajari lagu itu dari dalam, satu suara demi satu suara, sampai ia bisa menyanyikannya sendiri tanpa kami.

"Apakah ia mengucapkan kata lain?" tanya Danan, suaranya mulai kembali mantap, meski aku melihat tangannya masih gemetar di samping tubuhnya. "Selain Pulang? Apakah ia memanggil nama siapa pun?"

Sela menggeleng, lalu mengangguk ragu-ragu, seperti seseorang yang tidak yakin apakah yang ia dengar itu nyata atau hanya ketakutannya sendiri. "Sekali, sebelum kalian tiba, ia mengucapkan sesuatu yang lebih pelan. Bukan Pulang. Bukan nama. Bunyinya seperti... seperti jeda yang diucapkan sebagai kata. Aku tidak tahu cara menggambarkannya, Kak. Seperti seseorang yang mengambil napas di tengah lagu dan napas itu sendiri yang menjadi pesannya."

Jeda yang diucapkan sebagai kata. Aku memejamkan mata sesaat, dan jeda di dadaku menjawab ingatan itu dengan denyut pelan. Jeda itu adalah tempat tinggalku sejak lagu tiga suara selesai. Jeda itu adalah ruang antara bait yang belum selesai dinyanyikan. Dan sekarang kendi itu tampaknya sedang belajar mengucapkan jeda itu juga, seperti ia sedang mengumpulkan semua bahan lagu kami, satu demi satu, untuk menyanyikannya sendiri.

"Kita tidak bisa membiarkannya terus mengumpulkan suara kami," kata Wulan, berdiri kembali dan menatapku dengan mata yang jernih meski wajahnya tegang. "Kemarin sosok di bukit itu berkata pintu yang terbuka akan memilih sendiri apa yang diambilnya kalau harga belum dibayar sebelum matahari tenggelam. Matahari sekarang sudah lewat tengah hari. Kita punya waktu sampai senja, tapi kendi ini tidak menunggu senja. Ia sudah mulai mengambil. Ia mengambil suara Danan dan menggunakannya tanpa izin."

Danan menarik napas panjang, lalu bersenandung pelan, bukan lagu penuh, hanya satu nada penahan, nada yang selama ini ia pakai untuk menjaga dadaku tetap tenang. Aku mendengarkan dengan saksama, berharap senandung itu masih sama seperti dulu. Nada itu keluar, hangat dan mantap, tapi di ujungnya ada sesuatu yang salah. Nada itu tidak selesai dengan sendirinya. Nada itu seperti ditarik sedikit oleh sesuatu yang tak terlihat, dan dari dalam kendi, nada yang sama menjawab, setengah nada lebih tinggi, dengan suara Danan yang sama persis.

Danan berhenti bersenandung. Wajahnya pucat. "Kau mendengarnya?" tanyanya. "Ia menjawab senandungku dengan senandungku. Bukan gema yang memantul dari dinding. Gema tidak mengubah nada setengah tingkat lebih tinggi. Ini seperti seseorang yang mendengarkan, belajar, lalu menyanyi kembali dengan caranya sendiri."

Aku menggenggam tali di pergelangan tanganku, tali tipis dari jaring emas Danan yang mengikat pergelanganku dan pergelangannya sejak pagi. Tali itu masih hangat, tapi hangatnya tidak lagi sama. Hangatnya terasa seperti pegangan tangan yang mulai longgar, bukan karena dilepas, melainkan karena tangan yang memegangnya sedang dipelajari oleh sesuatu yang lain.

"Kita harus menguji sesuatu," kataku, dan aku mendengar ketegasan dalam suaraku yang tidak sepenuhnya kurasakan. "Sosok di bukit itu memberi dua pilihan harga: nama Danan, atau satu kenangan tentang Danan. Ia tidak memberi pilihan ketiga. Tapi ia juga berkata penundaan punya harga. Aku tidak mau membayar dengan tergesa-gesa di tempat yang salah, dan aku tidak mau menunggu sampai pintu memilih sendiri. Jadi kita uji di sini, di rumah, di tempat lagu itu pertama kali dinyanyikan. Kita nyanyikan lagu tiga suara lagi, bukan untuk membuka, bukan untuk membayar, melainkan untuk mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada kendi ini saat lagu itu dinyanyikan."

Wulan menatapku, lalu menatap kendi, lalu mengangguk pelan. "Bukan di bukit. Di sini. Dengan Sela yang mendengarkan dari ambang pintu, bukan ikut menyanyi, supaya ada satu telinga yang tidak ikut dalam lagu dan bisa mendengar apa yang berubah. Dan Danan menyanyi sebagai suara kedua, seperti dulu, tapi dengan satu syarat: kalau senandungnya mulai ditarik lagi oleh kendi, kita berhenti. Kita tidak menyelesaikan lagu. Kita hanya mendengarkan setengahnya."

Sela mengangguk cepat, meski wajahnya masih pucat. "Aku akan mendengarkan. Aku tidak akan menyanyi, aku tidak akan membuka pintu, aku tidak akan menjawab kalau ada suara yang memanggil dengan suara kalian. Aku sudah belajar itu."

Kami mengambil posisi seperti kemarin sore, tapi tidak sama persis. Dulu kami menyanyi di beranda dengan kendi yang masih utuh sebagian. Sekarang kami menyanyi dengan kendi yang retaknya bercabang, cahayanya terang, dan suaranya sudah mulai mencuri suara kami. Aku berdiri di tengah, Wulan di sisi kiriku, Danan di sisi kananku, tali di pergelangan kami masih terikat. Aku menarik napas, merasakan jeda di dadaku, dan mulai menyanyikan nada pertama.

Lagu tiga suara itu mengalir seperti dulu, tapi tidak sama. Suaraku masih suaraku. Suara Wulan masih suara Wulan. Dan di antara kami, suara Nenek Buyut mengalir seperti kenangan yang ikut menyanyi. Danan menyanyi sebagai suara kedua, menahan, menopang, menjaga nada kami agar tidak jatuh. Untuk beberapa saat, semuanya terasa benar, seperti rumah yang kembali mengeluarkan suara yang benar.

Lalu, pada bait kedua, kendi itu ikut menyanyi.

Bukan dengan suara keempat yang asing seperti di pos penjagaan. Melainkan dengan suara kami bertiga sekaligus, dari satu retakan, pelan, persis mengikuti nada kami, setengah ketukan di belakang kami, seperti seseorang yang menyanyikan lagu yang sama dari ruangan sebelah. Dan yang paling membuat bulu kudukku berdiri: kendi itu tidak menyanyikan bait yang sedang kami nyanyikan. Ia menyanyikan bait berikutnya, bait yang belum kami nyanyikan, bait yang bahkan belum kami putuskan akan kami nyanyikan.

Aku berhenti menyanyi. Wulan berhenti. Danan berhenti. Tapi kendi itu tidak berhenti. Ia menyelesaikan bait itu sendirian, dengan tiga suara kami, lalu diam, dan dari dalam retakannya keluar satu kata baru, diucapkan dengan suara Danan, pelan dan jelas, seperti seseorang yang baru saja belajar mengucapkan kata yang paling penting.

"Bayar."

Kata itu menggantung di udara beranda lebih lama daripada kata Pulang tadi. Sela menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wulan mencengkeram lenganku. Danan menatap kendi itu, lalu menatapku, dan di matanya aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya: bukan hanya ketakutan, melainkan pengakuan. Pengakuan bahwa suaranya, suara kedua yang selama ini menahanku, kini sudah dipelajari sampai ke ujungnya, dan kendi itu tidak lagi membutuhkan Danan untuk menyanyi. Ia sudah bisa menyanyi sendiri.

"Kita berhenti di sini," kataku, suaraku bergetar meski aku berusaha menahannya. "Kita tidak menyelesaikan lagu itu. Kita tidak membayar hari ini dengan cara yang ia mau. Tapi kita juga tidak bisa pulang ke dalam rumah dan berpura-pura kendi ini tidak ada. Sela benar. Ia sudah mulai mengambil. Dan kalau ia sudah bisa menyanyikan bait berikutnya sebelum kami menyanyikannya, maka yang ia ambil selanjutnya mungkin bukan lagi suara kami."

Aku menatap retakan yang bercabang itu, dan untuk pertama kalinya aku melihat bentuknya dengan jelas. Cabang-cabang itu tidak menyebar sembarangan. Cabang yang paling panjang, yang mengarah ke bawah seperti akar, kini berbelok di ujungnya, membentuk lengkungan kecil, seperti gagang pintu. Dan di dalam cahaya yang keluar dari lengkungan itu, aku melihat sesuatu yang bergerak, sangat pelan, seperti bayangan seseorang yang sedang berjalan dari jauh menuju pintu itu.

Danan mengikuti arah pandanganku, dan napasnya tertahan. "Naya," bisiknya. "Pintu itu tidak lagi menunggu di bukit. Pintu itu sedang tumbuh di kendi kita. Dan seseorang sedang berjalan ke arahnya dari sisi lain."

Di belakang kami, matahari mulai condong ke barat, dan bayangan beranda memanjang di atas papan kayu. Sela berbisik, hampir tidak terdengar, "Kak, kalau pintu itu terbuka di sini, di rumah kita, siapa yang akan keluar dari dalamnya?"

Aku tidak menjawab, karena aku tidak tahu jawabannya. Dan karena, dari dalam cahaya itu, bayangan yang berjalan itu berhenti tepat di balik lengkungan pintu, dan mengangkat tangan, seperti seseorang yang hendak mengetuk dari sisi lain, dengan ketukan yang persis sama dengan ketukan jedaku.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!