Lonceng yang Menyanyikan Namaku
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,490 kata
Lonceng itu belum berhenti berbunyi ketika aku sadar bahwa napas yang kurasakan bukan sepenuhnya napasku.
Sesaat sebelumnya, semuanya masih terasa seperti kemenangan yang rapuh. Lagu tiga suara itu telah selesai dengan sendirinya, bukan karena kami berhenti menyanyi, melainkan karena satu kata telah menyelesaikannya. Pulang. Kata itu keluar dari kendi yang terbuka sebagian, diucapkan dengan suara yang bukan suara siapa pun yang kukenal, tapi terasa seperti suaraku sendiri yang diucapkan dari tempat yang sangat jauh, dari sisi lain jeda. Wulan menangis pelan, lega, dan benang hitam yang sejak pagi melingkar di lehernya terlepas dengan sendirinya, jatuh ke lantai dan menghilang seperti asap yang tertiup angin. Sela menghela napas panjang. Rumah kami mengeluarkan suara yang benar lagi: bunyi periuk, desir angin, kicau burung yang kembali satu per satu, seperti dunia yang menghembuskan napas setelah menahannya seharian.
Danan memandangku dan tersenyum, senyum yang lelah, yang rapuh, yang benar. Senandungnya berhenti. Ia tidak lagi menyanyi sebagai penahan, melainkan sebagai suara kedua, seseorang yang ikut takut dan ikut berani dalam waktu yang bersamaan. Jaring emasnya masih terurai di tangannya, simpul-simpulnya belum kembali utuh, tapi untuk pertama kalinya hari itu ia tidak memaksanya menahan apa pun.
Aku menatap kendi yang terbuka sebagian itu. Di dalam retakannya bukan kegelapan yang kulihat, melainkan cahaya yang sangat pelan, seperti cahaya fajar yang dilihat dari dasar sumur. Cahaya itu tidak menyilaukan. Ia hangat, seperti napas seseorang yang tidur di sampingmu. Kata Pulang itu masih bergema di dadaku, di tempat yang sama dengan jeda itu tinggal, seperti nama kedua yang akhirnya menemukan pemiliknya.
Aku mengangguk, dan aku hendak menjawab, hendak mengatakan bahwa aku belum mengerti apa arti Pulang itu β pulang ke mana, pulang untuk siapa, pulang dengan cara apa β ketika keheningan yang sempurna itu datang. Keheningan yang bahkan burung-burung pun menghormatinya, seolah seluruh bukit menahan napas bersamaan denganku, menunggu nada pertama dari sesuatu yang baru lahir.
Lalu lonceng dari arah bukit itu berbunyi lagi.
Bukan lonceng panggilan Dewan yang memerintah. Bukan nada lagu tiga suara yang menenangkan. Melainkan nada yang baru, yang asing, yang indah dan menakutkan dalam waktu yang bersamaan β nada yang terdengar seperti pintu yang terbuka di tempat yang selama ini kukira tidak punya pintu. Dan dari balik pintu itu, seseorang sedang menyanyikan namaku, nama yang itu, dengan suara yang persis sama dengan suaraku sendiri.
Nayara.
Nama yang kudengar dalam mimpi-mimpiku sejak aku kecil, dalam mimpi tentang langit yang retak dan tangga yang tidak berujung. Nama yang tidak pernah kuucapkan pada siapa pun, bahkan pada diriku sendiri saat terjaga, karena setiap kali aku mencoba mengucapkannya, lidahku kelu, seperti nama itu menolak dilahirkan oleh mulutku sendiri. Dan sekarang, dari arah bukit, nama itu dinyanyikan dengan mudah, dengan suaraku sendiri, seolah penyanyinya telah lama menyimpan nama itu untukku, atau telah lama belajar cara mengucapkannya dari mendengarkan aku bernapas.
Kendi yang terbuka sebagian itu berdenyut sekali lagi. Bukan seperti jantung, melainkan seperti langkah pertama seseorang yang baru saja belajar berjalan menuju pulang. Jeda di dadaku menjawab denyut itu tanpa seizinku, dan untuk sesaat aku tidak tahu lagi apakah napas yang kurasakan adalah napasku, napas kendi itu, atau napas seseorang yang sedang berjalan ke arahku dari balik bukit.
"Danan," bisikku, dan suaraku sendiri terdengar asing di telingaku, seperti gema yang datang terlalu cepat. "Ia menyanyikan namaku dengan suaraku. Bukan menirukan jedaku lagi. Ia sudah sampai pada namaku."
Danan menggenggam tanganku. Tangannya gemetar, tapi genggamannya mantap. "Aku mendengarnya," katanya. "Dan aku juga mendengar loncengnya. Itu bukan lonceng Dewan. Dewan memerintah. Lonceng ini mengundang. Yang terbuka belum tentu mengundang, Naya, tapi yang ini jelas sedang mengundang, dan undangannya memakai suaramu."
Wulan melangkah mendekat, matanya masih basah tapi jernih. Benang hitam itu sudah tidak ada di lehernya. "Suara lain yang mendahului laguku tadi sudah tidak ada," katanya pelan. "Lagu tiga suara itu tidak bisa didahului, karena lagu itu berputar dan kembali ke jeda. Tapi suara yang ini berbeda. Ia tidak mendahului lagu. Ia menyanyikan namamu setelah lagu selesai. Seolah lagu itu adalah pintu, dan namamu adalah orang yang dipanggil untuk masuk."
Kata-kata Wulan itu membuat perutku mengencang. Bait lagu nina bobok yang tidak pernah dinyanyikan sampai habis itu, kata Danan dan Wulan dulu, menunggu seseorang menyanyikan lagu tiga suara bukan untuk melawan, bukan untuk membuka, melainkan untuk mengundang, sampai yang menunggu di balik jeda merasa cukup aman untuk menjawab dengan satu kata saja. Kata itu sudah datang: Pulang. Tapi sekarang, setelah Pulang, datang panggilan kedua: Nayara. Seolah Pulang itu bukan akhir, melainkan alamat, dan Nayara adalah nama orang yang harus datang ke alamat itu.
"Pulang ke mana?" kataku, menghadap ke arah bukit, suaraku cukup keras untuk didengar angin sore, tapi tidak cukup keras untuk menjadi tantangan. "Aku belum mengerti. Pulang untuk siapa? Dengan cara apa?"
Lonceng itu tidak menjawab dengan kata. Ia menjawab dengan nada yang sama, diulang, lebih pelan, lebih dekat, seperti seseorang yang mengulang nama orang yang dicintainya karena takut orang itu tidak mendengar panggilan pertama. Dan di antara dua pengulangan itu, kendi di beranda berdenyut lagi, menjawab lonceng itu, dan jeda di dadaku menjawab kendi itu, sehingga untuk sesaat ada tiga denyut yang berurutan: lonceng, kendi, dadaku. Seolah ketiganya sedang belajar bernapas dalam irama yang sama, dan aku adalah penghubung di tengahnya, bukan pemimpinnya.
Sela, yang sejak pagi diam, kini berdiri di ambang pintu dengan cangkir yang sudah ia letakkan. "Kak," katanya, suaranya kecil tapi jelas, "suara-suara rumah sudah kembali. Tapi dengarkan. Di antara bunyi periuk dan kicau burung itu, ada satu suara yang tidak ikut kembali. Suara apa pun yang dulu ada di dalam kendi itu, sekarang ia tidak lagi di sini. Ia sudah pindah ke bukit."
Aku menoleh padanya, lalu pada kendi. Benar. Nada pelan yang selama ini keluar dari kendi itu kini tidak terdengar lagi. Kendi itu tidak lagi bernyanyi. Ia hanya berdenyut, pelan, seperti seseorang yang sudah menyampaikan pesannya dan kini menunggu balasan. Cahaya pelan di dalam retakannya masih ada, hangat, tidak bertambah terang, tidak meredup. Seperti lampu yang dibiarkan menyala untuk seseorang yang akan pulang larut malam.
"Kita tidak bisa membiarkan undangan ini tanpa jawaban," kataku akhirnya. "Tadi, ketukan itu meniru jedaku, dan aku memilih tidak memilih karena pilihan dalam ketakutan adalah jebakan. Sekarang undangannya memakai namaku sendiri. Diam bukan lagi pilihan yang netral. Diam sekarang berarti membiarkan seseorang menyanyikan namaku di bukit tanpa pernah kutanya siapa dia."
Danan mengangguk pelan, tapi aku melihat ketakutan di matanya bertarung dengan kepercayaan, seperti saat ia memutuskan menyanyi bersamaku sebagai suara kedua. "Jaringku tidak utuh, Naya," katanya jujur. "Aku tidak bisa menahanmu seperti dulu. Kalau kita naik ke bukit, aku tidak bisa menjanjikan penahan yang sama. Yang bisa kujanjikan hanya ini: aku menyanyi bersamamu, dan aku berjalan bersamamu. Tidak ada yang pergi sendiri."
"Tidak ada yang pergi sendiri," ulang Wulan, menggenggam tangan Sela. "Dan tidak ada yang pergi malam ini. Matahari sudah condong. Jalan ke bukit licin, dan kita tidak tahu apa yang menunggu di pos penjagaan tua itu. Kita pergi saat fajar, saat cahaya cukup untuk melihat jalan dan cukup terang untuk membuat suara apa pun tidak bisa bersembunyi di balik gelap."
Sela mengangguk. "Aku tinggal menjaga rumah dan kendi ini. Kalau ada yang mengetuk, memanggil, atau menyanyi dengan suara kalian saat kalian pergi, aku tidak akan membuka pintu. Aku sudah belajar hari ini: suara yang benar tidak perlu mendahului, tidak perlu memaksa. Suara yang memaksa, meski memakai suara kalian, bukan kalian."
Keputusan itu terasa benar, meski tidak menghilangkan rasa takutku. Kami makan malam dalam diam yang tidak lagi salah, diam yang dipenuhi bunyi rumah yang benar, sementara lonceng dari bukit itu semakin lama semakin jarang, seperti seseorang yang mulai lelah memanggil, atau mulai yakin bahwa panggilannya sudah didengar dan kini ia hanya menunggu fajar.
Menjelang tidur, aku kembali ke beranda seorang diri, hanya sebentar, untuk melihat kendi itu sekali lagi. Cahaya pelan di dalam retakannya masih hangat. Aku tidak menyentuhnya. Aku tidak memanggil nama apa pun. Aku hanya berdiri di sana, bernapas dengan jedaku sendiri, dan membiarkan jeda itu menjadi tenang atas pilihanku sendiri, bukan karena dipertahankan dari serangan.
Saat aku berbalik menuju ke dalam rumah, kendi itu berdenyut sekali, sangat pelan, dan dari dalam retakannya keluar satu kata lagi, lebih pelan dari kata Pulang, diucapkan dengan suaraku sendiri, seolah kata itu sudah lama menunggu gilirannya setelah kata pertama.
"Besok."
Aku berhenti di ambang pintu. Kata itu bukan perintah. Kata itu bukan ancaman. Kata itu terdengar seperti janji yang dibuat oleh seseorang yang sudah tahu kami akan datang saat fajar, dan ia sedang menyiapkan tempat untuk kami.
Di luar, lonceng dari bukit itu berhenti sepenuhnya. Hening yang tersisa bukan hening yang kosong. Hening itu penuh, seperti jeda di antara dua bait lagu yang belum selesai dinyanyikan, dan aku tahu, saat aku memejamkan mata malam itu, bahwa besok bukan sekadar hari berikutnya. Besok adalah jawaban yang sudah kami janjikan, dan siapa pun yang menunggu di bukit itu akan menagih janji itu dengan suaraku sendiri.