Yang Mendengarkan dari Bawah
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,366 kata
Aku tidak menoleh ke belakang.
Itu hal tersulit yang pernah kulakukan di puncak bukit, karena seluruh tubuhku ingin menoleh, ingin memastikan bahwa yang di belakangku hanyalah jalan setapak, lentera Wulan, dan kendi yang gelap. Tetapi bisikan dari dalam kendi itu masih terngiang di telingaku: ia sudah tahu namamu, dan ia sedang belajar mengucapkannya. Sesuatu yang sedang belajar mengucapkan namamu tidak boleh dilihat sedang belajar. Ia harus dibiarkan belajar dalam gelap, seperti anak kecil yang belajar mengeja di dalam kamar, yang akan berhenti kalau ia tahu ada yang mengawasinya.
Kami turun dalam diam. Tidak ada yang menyanyi di jalan turun, seperti biasanya. Tidak ada yang bicara. Hanya langkah-langkah pelan di atas tanah yang di bawahnya ada sesuatu yang sedang belajar mengucapkan namaku.
Di rumah, Danan menunggu sampai Laras tertidur, lalu ia duduk di sampingku di beranda, dan ia bertanya dengan suara yang dijaga tetap rendah, "Apakah kamu percaya, bahwa ia tahu namamu?"
"Aku tidak tahu apakah aku percaya," kataku. "Tetapi aku tahu satu hal: namaku sudah dinyanyikan di bukit itu berkali-kali, oleh para penjaga, oleh para tetua, oleh diriku sendiri. Kalau sesuatu di bawah bukit sudah lama mendengarkan, maka ia pasti sudah mendengar namaku, seperti ia mendengar semua nama yang pernah dinyanyikan di atasnya. Pertanyaannya bukan apakah ia tahu namaku. Pertanyaannya adalah, mengapa ia baru sekarang mencoba mengucapkannya."
Danan mengangguk, dan ia menatap ke arah bukit, yang dari beranda hanya terlihat sebagai bayangan. "Mungkin karena selama ini ia hanya mendengarkan, dan sekarang ia sudah cukup lama mendengarkan untuk mulai menjawab. Mendengarkan yang lama berubah menjadi keinginan untuk bicara. Itu yang terjadi pada siapa pun yang terlalu lama hanya mendengar."
Pagi harinya, aku kembali ke bukit, sendirian, di siang hari, bukan untuk menyanyi, melainkan untuk memeriksa tanah di sekeliling kendi. Penjaga pintu sudah ada di sana, dan ia sedang melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat: ia menempelkan telinganya ke tanah, di beberapa tempat, seperti seseorang yang sedang memeriksa dinding rumah yang retak, mencari dari mana retak itu berasal.
"Ada yang berubah," katanya, ketika aku mendekat. "Tanah di sisi timur lebih hangat dari sisi yang lain. Bukan hangat karena matahari. Hangat dari dalam. Seperti ada sesuatu di bawah sisi itu yang lebih dekat ke permukaan daripada yang lain."
Kami menggali, tidak dalam, hanya dengan tangan dan sebatang kayu, di tempat yang ditunjuk penjaga pintu, dan di bawah lapisan tanah yang tipis, kami menemukan sesuatu yang membuat kami berdua terdiam: batu yang datar, yang permukaannya dipahat dengan garis-garis yang membentuk lingkaran, dan di dalam lingkaran itu, ada tanda-tanda yang tidak kukenali, tetapi terasa seperti huruf dari lagu yang sudah lama tidak dinyanyikan.
"Batu penanda," kata penjaga pintu, pelan. "Dulu, setiap penjaga yang menjaga bukit ini meletakkan batu penanda di tempat ia berjaga, supaya penjaga berikutnya tahu bahwa tempat itu pernah dijaga, dan oleh siapa. Batu ini sudah lama tertutup tanah, karena tidak ada yang berjaga di sisi timur selama bertahun-tahun."
"Apakah ada namanya?" tanyaku.
Penjaga pintu mengusap tanah dari permukaan batu itu, perlahan, dan di bawah tanah itu, ada satu kata yang terukir, yang ia baca dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Bukan nama," katanya. "Tanda. Tanda ini artinya: yang mendengarkan. Batu ini diletakkan oleh penjaga yang tugasnya bukan menyanyi, melainkan mendengarkan. Penjaga yang berjaga di sisi timur, yang paling dekat dengan tempat bukit itu paling tipis, supaya ia bisa mendengar kalau yang di bawah mulai bergerak."
Aku menatap batu itu, dan aku merasakan sesuatu yang aneh: lega, karena ternyata desa ini pernah punya penjaga yang tugasnya mendengarkan, bukan hanya menyanyi. Dan takut, karena penjaga itu sudah lama tidak ada, dan tugasnya tidak pernah digantikan, sampai sekarang, ketika yang di bawah mulai bergerak, dan tidak ada lagi yang berjaga untuk mendengarkannya.
"Kita harus meletakkan penjaga yang mendengarkan lagi," kataku. "Bukan penjaga yang menyanyi lebih keras. Penjaga yang duduk diam, dan mendengarkan, dan memberi kabar kalau ada yang berubah."
Penjaga pintu mengangguk, pelan. "Itu tugas yang paling sulit, Naya. Karena penjaga yang mendengarkan tidak dipuji. Ia tidak menyanyi, jadi tidak ada yang mendengar suaranya. Ia hanya duduk, dan mendengar, dan menunggu. Tetapi kamulah yang paling cocok, karena kamu sudah belajar mendengarkan makhluk di dalam kendi, ketika semua orang hanya ingin mengajarinya menyanyi."
Sore itu, di balai, aku menyampaikan temuan batu itu, dan para tetua setuju dengan keputusan yang baru: mulai malam ini, lingkaran kami dibagi dua. Sebagian menyanyi, pelan, seperti semalam. Sebagian lagi diam, dan mendengarkan, dengan telinga yang ditempelkan ke tanah, bergantian, supaya tidak ada perubahan yang terlewat.
Aku mengambil giliran mendengarkan yang pertama. Bukan karena aku yang paling berani, melainkan karena aku yang paling ingin tahu: apa yang sebenarnya didengar oleh penjaga yang mendengarkan, di tempat yang paling tipis itu.
Malamnya, kami mendaki lagi. Wulan, Sela, dan Danan menyanyi, pelan, pendek, berulang. Suara kecil dari dalam kendi ikut menyanyi, pelan juga. Aku duduk di sisi timur, di dekat batu penanda yang sudah kami bersihkan, dan aku menempelkan telapak tanganku ke tanah, seperti yang dilakukan penjaga pintu, dan aku mendengarkan.
Awalnya, aku tidak mendengar apa-apa, selain lagu kami sendiri yang terdengar dari jauh, seperti dari balik dinding. Tetapi perlahan, di bawah lagu itu, aku mendengar sesuatu yang lain: bukan ketukan, bukan getaran, melainkan nada. Nada yang sangat pelan, sangat jauh, yang mencoba mengikuti lagu kami, tetapi selalu tertinggal satu bait di belakang, seperti seseorang yang sedang belajar lagu dengan mendengarkan, dan selalu terlambat karena ia harus mengingat bait sebelumnya sebelum bisa menyanyikan bait berikutnya.
Nada itu tidak menakutkan. Nada itu terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak tahu apakah ia menyanyi dengan benar, karena tidak ada yang pernah mengajarinya, dan tidak ada yang pernah menjawabnya.
Aku hampir memanggil yang lain, untuk memberi tahu mereka bahwa aku mendengarnya, tetapi aku menahan diriku, karena penjaga yang mendengarkan tidak boleh memanggil di tengah mendengarkan. Ia harus mendengarkan sampai selesai, sampai ia tahu apa yang didengarnya, baru ia memberi kabar.
Nada itu berlanjut, tertinggal satu bait di belakang kami, sampai lagu kami selesai. Dan ketika lagu kami selesai, nada itu tidak berhenti. Ia melanjutkan, sendirian, satu bait yang tidak kami nyanyikan, bait yang nadanya terasa seperti bait penutup, tetapi kata-katanya tidak selesai, seperti seseorang yang sampai di ujung lagu, tetapi lupa kata terakhirnya.
Dan kata terakhir yang tidak selesai itu, yang tertinggal di udara, terdengar seperti awal dari namaku.
Aku mengangkat tanganku dari tanah, dan aku berdiri, dengan napas yang tidak teratur. Wulan menatapku, bertanya tanpa kata. Aku hanya menggeleng, pelan, memberi isyarat bahwa kabar ini bukan kabar untuk puncak bukit, di tengah malam, melainkan kabar untuk balai, di siang hari, dengan para tetua.
Kami pulang, dan di jalan turun, aku memegang tangan Laras lebih erat dari biasanya, karena aku tahu, kalau yang di bawah sedang belajar mengucapkan namaku, maka ia juga sedang belajar mengucapkan nama-nama lain yang pernah dinyanyikan di bukit itu, dan nama Laras, yang paling sering dinyanyikan dengan kasih sayang, mungkin adalah nama yang paling mudah ia pelajari.
Di rumah, Laras tertidur dengan cepat, tetapi tidurnya tidak tenang. Di tengah malam, aku terbangun karena mendengar suara yang sangat pelan dari kamarnya: Laras sedang menyanyi dalam tidurnya, dengan suara yang hampir tidak terdengar, bait yang belum selesai, bait yang sama seperti yang kudengar dari bawah bukit.
Aku duduk di samping tempat tidurnya, dan aku mendengarkan, sampai nyanyiannya berhenti, dan napasnya kembali teratur. Tetapi sebelum nyanyian itu berhenti, aku mendengar sesuatu yang membuat darahku dingin: dari bawah rumah kami, dari dalam tanah, datang satu ketukan, pelan, yang jatuh persis di antara bait-bait nyanyian Laras, seperti seseorang yang sedang mengetuk mengikuti irama, yang sedang belajar menyanyi dengan cara mengetuk.
Dan di ujung nyanyian Laras, sebelum ia diam, ia mengucapkan satu kata, dengan jelas, dalam tidurnya, kata yang bukan namanya, bukan namaku, melainkan kata yang belum pernah kudengar sebelumnya, kata yang terdengar seperti nama dari bahasa yang lebih tua dari desa kami.
Aku tidak membangunkan Laras. Aku hanya mencatat kata itu di dalam kepalaku, bait demi bait, supaya aku tidak melupakannya sampai pagi, karena kata itu mungkin adalah kata terakhir yang hilang dari lagu tidur itu, yang sekarang sedang dipelajari oleh dua suara sekaligus: satu dari bawah bukit, dan satu dari dalam tidur adikku.