Harga Dua untuk Satu
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,304 kata
Hening itu beratnya seperti batu.
Benang-benang perak menggantung di udara β ribuan jarum raksasa yang berhenti di tengah jatuh, menunggu. Kunang-kunang benang tidak bergerak. Bunga-bunga simpul menutup rapat kelopaknya, seperti anak-anak yang menutup mata saat badai datang. Di seluruh taman, semua menatapku. Danan dengan jangkar terangkat. Sela dengan pergelangan emas terangkat tinggi. Ibu β Raras β dengan tangan barunya yang gemetar mencengkeram tanganku. Nini, dari sisi gelap, benang hitam-peraknya menegang seperti tali busur.
Dan dari langit yang retak, suara Dewan menunggu jawabanku.
Lepaskan jaring itu β atau panen mengambil dua desa untuk setiap satu yang kuselamatkan.
Satu untuk satu sudah mengerikan. Dua untuk satu adalah pembantaian yang dihitung dengan rapi, seperti pedagang yang menimbang beras.
Aku merasakan benang emas ibuku di pergelanganku β dingin sekarang, sejak suara itu menyebutnya. Dingin seperti tangan yang takut. Aku menatapnya, dan aku ingat gudang itu β alat-alat tenun raksasa, benang-benang yang dicuri sebelum sempat menjadi pilihan. Aku ingat apa yang akhirnya kumengerti di sana: cahaya yang memilih untuk membakar, jadi mereka mencuri pilihan sebelum sempat dipilih.
Mereka tidak menawar karena mereka kuat. Mereka menawar karena mereka takut.
Pikiran itu menyala di kepalaku seperti kunang-kunang pertama malam ini β kecil, tapi cukup untuk melihat jalan.
Aku melangkah maju. Satu langkah. Tanah anyaman berderit pelan di bawah kakiku. Semua mata mengikutiku β bahkan benang-benang perak yang menggantung itu seolah ikut menoleh, meski mereka tidak punya wajah.
"Aku tidak akan melepaskan jaring ini," kataku.
Suaraku pecah di tengah β serak, kecil, sama sekali tidak megah. Bukan suara pahlawan. Suara anak perempuan yang tangannya gemetar tapi tetap menggenggam. Dan anehnya β justru karena itulah, taman bernapas kembali. Satu kunang-kunang mulai berputar. Lalu satu lagi.
"Penjaga kecil memilih untuk menolak," kata suara Dewan β masih pelan, seperti salju. "Maka hitungannya berlaku. Dua untuk satu. Setiap simpul yang kau ikat malam ini β dua desa masuk gudang."
"Bukan itu yang kumaksud," kataku.
Hening lagi. Kali ini hening yang berbeda β hening yang mendengarkan.
Aku mengangkat pergelanganku β benang emas ibuku, yang dingin, yang takut. "Kau bilang satu benang untuk satu desa. Benang ibuku sudah kuambil β desaku aman." Aku menatap retakan langit itu, menatap kegelapan di baliknya tempat suara itu berasal. "Maka dengarkan tawaranku. Bukan tawaranmu."
Danan bergerak di belakangku β setengah langkah, seperti ingin menahanku. Aku mendengar jangkarnya bergeser. Tapi ia tidak menghentikanku. Prajurit itu sudah belajar: kadang melindungi berarti membiarkan.
"Setiap benang perak yang berhenti malam ini," kataku, menunjuk ke arah benang tebal yang masih melayang ragu di depan Sela, "berhenti karena seseorang memilih. Benang itu tidak jadi memanen. Maka hitung untukku juga. Setiap benangmu yang menyerah β satu desa bebas. Bukan cuma desaku. Semua."
Tawa kecil dari langit. Bukan tawa hangat β tawa seperti es retak di musim semi.
"Kau menawar dengan apa, anak penjaga? Jaringmu dibangun dari benang pinjaman β benang ibumu, benang gelap si penenun tua, jangkar prajurit yang bahkan bukan miliknya lagi. Apa yang kau punya yang belum kau pertaruhkan?"
Pertanyaan yang bagus. Pertanyaan yang membuat perutku mual.
Aku tidak punya apa-apa lagi. Kecuali β
Aku menatap benang emas di pergelanganku. Benang yang pulang. Benang yang membuktikan bahwa kehangatan yang dicuri bisa kembali. Benang yang membuat Sela berani mengangkat tangannya ke langit dan berkata aku sudah memilih.
"Benang ini," kataku. "Sebagai taruhan."
"Naya, janganβ" Danan.
Tapi aku sudah mengatakannya. Kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali β seperti benang yang sudah ditenun tidak bisa diurai tanpa merusak seluruh kain.
"Kalau dalam dua hari jaring ini gagal β kalau desa-desa tidak memilih, kalau panen tetap berjalan β ambil benang ini kembali. Ambil ibuku kembali." Tenggorokanku tercekat. "Tapi kalau jaring ini berhasil β kalau setiap desa memilih sebelum waktumu habis β kau lepaskan semuanya. Bukan cuma desa-desa itu. Semua benang di gudangmu. Semua yang pernah kau curi."
Hening yang panjang. Sangat panjang. Hujan perak yang menggantung mulai bergetar pelan β seperti menahan napas.
Lalu β dentang.
Satu dentang lonceng perak. Bukan peringatan. Bukan undangan.
Kesepakatan.
"Disetujui," kata suara Dewan. "Dua hari. Jaring melawan gudang. Dan benang ibumu β kami pegang sebagai taruhan mulai sekarang."
"Tidakβ" Aku baru sempat berkata tidak.
Benang emas di pergelanganku β menghangat sekali, seperti pelukan terakhir β lalu terlepas. Bukan ditarik paksa. Terlepas sendiri, melayang naik, berputar-putar di udara seperti daun emas yang tertiup angin β menuju retakan langit. Menuju benang perak tebal yang menunggu.
Aku meraihnya. Tanganku menggapai udara kosong.
"Naya." Suara ibuku. Raras.
Aku menoleh. Ibuku berdiri β tangan barunya terangkat, telapak terbuka ke arah benang yang melayang pergi. Wajahnya β untuk pertama kalinya sejak tangannya kembali nyata β tenang. Bukan tenang yang menyerah. Tenang yang memilih.
"Ambil saja," katanya β bukan kepadaku, melainkan ke langit. Ke Dewan. "Kalau itu harganya."
"Ibuβ"
"Benang itu bukan aku, Naya." Ia menatapku β matanya basah tapi suaranya tegak. "Aku ibumu bukan karena benang. Aku ibumu karena aku memilih untuk tetap di sini β tangan gemetar, tidak pandai mengikat simpul β tapi di sini." Ia menggenggam tanganku β tangannya yang sepenuhnya hangat, sepenuhnya nyata. "Benang bisa dicuri. Pilihan tidak."
Benang emas itu mencapai retakan langit. Benang perak tebal melilitnya β sekali, dua kali β dan keduanya menghilang ke dalam gelap.
Pergelangan tanganku terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti kehilangan sesuatu yang tidak kuketahui seberapa berat sampai ia pergi.
Tapi tangan ibuku masih menggenggam tanganku. Hangat. Nyata.
Di sekeliling kami, taman mulai bergerak lagi. Kunang-kunang berputar β pelan dulu, lalu berani. Bunga-bunga simpul membuka kelopaknya satu per satu. Sela β yang sedari tadi diam, menatap langit dengan mulut terbuka β tiba-tiba berlari ke arahku dan memeluk kakiku erat-erat.
"Kau hebat," bisiknya ke kain bajuku. "Tapi aku takut."
"Aku juga," bisikku balik. Jujur. Tidak ada gunanya berbohong pada anak delapan tahun yang baru saja menantang langit.
Danan menurunkan jangkarnya β perlahan, seperti meletakkan sesuatu yang berat. Ia berjalan ke arahku. Luka perak di tempat jangkarnya pernah dicabut berkilau samar dalam cahaya kunang-kunang.
"Kau baru saja mempertaruhkan ibumu," katanya pelan. Bukan tuduhan. Pengakuan.
"Aku mempertaruhkan benang," koreksiku. "Ibuku β" aku menatap Raras, yang tersenyum tipis padaku, "β ibuku tidak bisa dipertaruhkan. Ia sudah memilih."
Nini muncul dari sisi gelap β atau suaranya muncul, karena tubuhnya tidak pernah sepenuhnya terlihat. "Anak penjaga," katanya β dan untuk pertama kalinya, suaranya tidak kering seperti kain tua. Basah. Seperti baru saja menangis. Atau tertawa. "Seribu tahun aku menenun dalam gelap. Tidak pernah aku melihat seseorang menawar dengan Dewan β dan membuat mereka menerima."
"Apakah itu bagus?" tanyaku.
"Bagus?" Nini terdiam. "Dewan tidak pernah menawar kecuali mereka sudah memenangkan sesuatu. Pertanyaannya bukan apakah kau menang, anak penjaga." Jeda. "Pertanyaannya: apa yang sudah mereka menangkan β yang bahkan kau tidak sadari sudah kau berikan."
Dingin merambat di tulang belakangku.
Aku menatap jaring kami β jaring raksasa yang mengembang di atas taman, menyentuh benang-benang desa di segala arah. Jaring itu masih berdenyut. Titik-titik emas masih menyala β desa-desa yang memilih. Satu. Dua. Tiga. Lusinan.
Tapi di antara titik-titik emas itu β aku baru menyadarinya sekarang β ada sesuatu yang lain. Garis-garis tipis. Perak. Merambat di sepanjang benang-benang jaring kami β seperti urat, seperti akar. Naik dari bawah. Dari sisi gelap. Dari tempat benang-benang Nini mengikat jaring kami.
Atau β turun dari atas. Dari hujan perak yang tadi berhenti di udara.
Aku tidak bisa membedakannya lagi. Terang dan gelap sudah bertemu di jaring ini β dua sungai yang tak terpisahkan, kataku tadi malam. Betapa bodohnya aku merayakannya.
"Nini," kataku pelan. "Benang-benangmu β semuanya masih milikmu, kan?"
Tidak ada jawaban.
"Nini?"
Suara kain tua yang dilipat β pelan, ragu. "Sebagian," katanya akhirnya. "Sebagian benangku β sudah lama β pernah melewati gudang mereka."
Dan di atas kami, jaring raksasa itu berdenyut β emas dan perak, terang dan gelap β dan untuk pertama kalinya malam ini, aku tidak tahu lagi: apakah jaring ini menyampaikan pesanku ke desa-desa β atau menyampaikan desa-desa ke mereka.