Suara yang Meniru Kami
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,376 kata
Suara itu menyanyikan laguku dengan suaraku sendiri.
Bukan mirip. Bukan hampir sama. Persis. Nada rendah yang kugunakan untuk membangunkan lagu di bukit ini, jeda napas di antara bait kedua dan ketiga, bahkan cara suaraku sedikit serak di ujung nada tertinggi, semua ditiru tanpa cacat. Seperti seseorang yang berdiri di belakangku dan menggerakkan bibirku tanpa sepengetahuanku.
Aku membeku. Wulan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sela berdiri lebih tegak, tubuhnya condong ke arah kendi seperti siap menerjang apa pun yang keluar dari sana. Danan menggenggam tanganku lebih erat, dan melalui tali yang masih mengikat pergelangan kami, aku merasakan jantungnya berdetak sama kencangnya dengan jantungku.
Hanya Laras yang tidak bergerak sama sekali. Ia menatap untaian tali yang baru di pergelangannya, yang kini berdenyut mengikuti lagu dari dalam kendi, seolah tali itu mengenali penyanyinya.
"Jangan dijawab," kata penjaga pintu yang sebenarnya, suaranya rendah dan cepat, seperti perintah yang sudah terlalu sering diucapkan tapi tidak pernah cukup didengar. "Ia sedang mengujimu. Kalau kau menjawab, ia akan tahu suaramu bukan sekadar lagu yang bisa ditiru. Ia akan tahu suaramu adalah pintu."
"Aku tidak menjawab apa-apa," bisikku. "Aku bahkan tidak berani bernapas terlalu keras."
"Bagus. Teruskan begitu."
Tapi suara dari dalam kendi itu tidak berhenti. Setelah bait laguku selesai, ia beralih ke bagian Danan. Nada Danan yang stabil seperti tanah, dinyanyikan dengan ketepatan yang membuat Danan sendiri memucat. Lalu bagian Wulan, nada tinggi yang jernih seperti cahaya pertama. Lalu tepukan Sela, yang diterjemahkan menjadi ketukan kecil yang teratur, seperti jari yang mengetuk dinding dari sisi lain.
Dan terakhir, bagian Laras.
Saat suara itu menyanyikan bagian Laras, tali di pergelangan Laras berdenyut paling keras. Laras tersentak kecil, seperti seseorang yang disentuh di tempat yang tidak terlihat.
"Ia sudah belajar semuanya," kata Laras, suaranya nyaris tidak terdengar. "Bukan hanya nadaku. Nada kita semua."
Penjaga pintu itu mengangguk perlahan. Wajahnya yang berkabut berputar lebih lambat dari biasanya, seolah kabut itu sendiri sedang berpikir keras.
"Yang menunggu di balik semua kendi tidak pernah diberi nama," katanya. "Bukan karena kami lupa. Karena kami sengaja tidak memberinya. Nama adalah tali yang paling kuat. Begitu sesuatu diberi nama oleh penjaga, ia terikat pada dunia yang menamainya. Dan ikatan itu berlaku dua arah."
Aku menelan ludah. "Maksudmu, kalau aku menamainya..."
"Kalau kau menamainya dengan tergesa-gesa, malam ini, dalam keadaan takut dan terdesak, nama itu akan mengikat dua dunia menjadi satu sebelum waktunya," kata penjaga itu. "Ia akan punya jalan yang sah untuk datang ke sini. Bukan lagi menyelinap lewat retakan. Bukan lagi meniru dari kejauhan. Datang, dengan nama, dengan hak."
Keheningan yang jatuh sesudahnya terasa lebih berat daripada lagu apa pun.
"Jadi kita tidak boleh menamainya," kata Wulan, suaranya gemetar. "Selamanya?"
"Tidak selamanya," kata penjaga itu. "Nama yang benar harus lahir seperti nama Laras lahir: dari lagu yang dinyanyikan bersama, dari kenangan yang dijaga bersama, dari waktu yang cukup untuk mengenal siapa yang akan dinamai. Nama Laras tidak diberikan dalam satu malam. Ia tumbuh, bait demi bait. Nama yang tergesa-gesa adalah jerat. Bagi yang memberi, dan bagi yang menerima."
Sela mendengus pelan. "Bagus. Jadi rencananya adalah tidak melakukan apa-apa sambil menunggu makhluk tak bernama itu selesai belajar menjadi kami."
"Bukan tidak melakukan apa-apa," kata penjaga itu. "Kita berjaga. Dan kita bernyanyi bersama. Ingat pesan pemuda itu: jangan biarkan Laras bernyanyi sendirian malam ini. Suara yang sendiri paling mudah ditiru, paling mudah diikuti, paling mudah didatangi."
Laras menunduk. "Ini salahku," katanya pelan. "Kalau aku tidak menerima nama itu, tali tidak akan bercabang, dan ia tidak akan punya jalan."
"Berhenti," kataku, lebih keras dari yang kurencanakan. Aku melangkah mendekatinya dan menggenggam tangannya yang bebas, tangan yang tidak diikat tali. "Namamu bukan kesalahan. Namamu adalah hal paling benar yang terjadi di bukit ini sejak lama. Tanpa namamu, lagu kita tidak akan pernah utuh. Dan tanpa lagu yang utuh, kita semua sudah kehilangan kenangan sejak pagi tadi."
Laras menatapku. Di matanya masih ada rasa bersalah, tapi kini bercampur dengan sesuatu yang lain: tekad kecil yang baru tumbuh.
"Kalau begitu," katanya, "aku tidak akan bernyanyi sendirian. Aku bernyanyi hanya kalau kalian ikut bernyanyi."
"Itu janjinya," kata Danan. "Kita berlima, atau tidak sama sekali."
Kami duduk kembali melingkar di sekitar kendi besar. Lentera Wulan dinyalakan lagi, apinya kini tegak, tidak lagi condong ke arah kendi. Mungkin karena kendi kecil pemuda itu sudah pergi, atau mungkin karena lagu bersama kami masih menggema di udara, menjadi pagar yang tidak terlihat.
Penjaga pintu duduk di luar lingkaran kami, menghadap pintu, punggungnya tegak seperti penjaga yang sudah berjaga ribuan malam dan akan berjaga ribuan malam lagi.
"Apa yang akan terjadi kalau ia terus bernyanyi?" tanya Wulan setelah beberapa saat hening. "Kalau ia menyanyikan lagu kita sepanjang malam?"
"Maka ia akan semakin pandai," jawab penjaga itu, jujur dan tanpa penghiburan. "Setiap pengulangan membuatnya lebih mirip kami. Tapi selama kita tidak menjawabnya, selama kita tidak memberinya nama, ia tetap berada di sisi lain. Meniru bukan memiliki. Itu bedanya, dan beda itu penting."
"Tapi ada batasnya, kan?" tanya Sela. "Meniru yang terlalu sempurna pasti akan menipiskan batas itu."
Penjaga itu tidak menjawab langsung. Ia memandang celah kendi yang kini tinggal selebar rambut, cahaya di dalamnya redup dan berdenyut pelan.
"Ya," katanya akhirnya. "Ada batasnya. Dan batas itu adalah langkah."
"Langkah?" ulangku.
Penjaga itu mengangguk ke arah kendi. "Dengarkan."
Kami semua menahan napas. Awalnya hanya ada senandung itu, yang kini menyanyikan bagian tepukan Sela dengan ketukan-ketukan kecil yang teratur. Lalu, di sela-sela ketukan itu, terdengar sesuatu yang lain.
Bukan nyanyian. Bukan ketukan. Sebuah bunyi yang tumpul dan berirama, seperti kaki kecil yang melangkah di atas tanah yang jauh.
Sekali. Jeda. Sekali lagi. Jeda yang lebih panjang. Sekali lagi, sedikit lebih dekat.
Sela langsung berdiri. "Itu dari dalam kendi."
"Bukan dari dalam kendi," kata penjaga itu, suaranya kini setegang tali yang ditarik terlalu kencang. "Dari sisi lain. Ia berjalan di sepanjang jalan yang baru saja terbuka. Tali yang bercabang itu bukan hanya menghubungkan Laras dengan kalian. Ia menghubungkan sisi lain dengan tempat ini. Dan yang menunggu itu sedang menguji apakah jalan itu cukup kuat untuk dilalui."
Langkah-langkah itu berhenti. Keheningan yang mengikutinya jauh lebih menakutkan daripada bunyi itu sendiri, karena dalam keheningan itu kami semua tahu: ia sedang mendengarkan kembali. Mendengarkan apakah kami akan menjawab. Mendengarkan apakah kami akan memanggilnya. Mendengarkan apakah kami, dalam ketakutan kami, akan memberinya nama.
Aku merasakan untaian tali di pergelanganku berdenyut. Bukan denyut hangat seperti biasanya. Denyut itu bertanya, seperti ketukan di pintu yang menunggu jawaban.
Danan menatapku. Wulan menatapku. Sela menatapku. Laras menatapku. Bahkan penjaga pintu, dengan wajahnya yang berkabut, menoleh ke arahku.
Mereka semua menunggu keputusanku. Bukan karena aku yang paling berani. Karena aku yang paling terikat: keturunan penjaga gerbang langit, pemilik lagu yang pertama kali dinyanyikan, ujung tali yang tertua.
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Tidak. Tidak malam ini. Tidak dengan tergesa-gesa. Tidak dengan nama yang lahir dari ketakutan.
Sebagai gantinya, aku melakukan hal yang hanya bisa kulakukan: aku mengangkat tanganku yang terikat tali, menggenggam tangan Danan di satu sisi dan tangan Laras di sisi lain, dan aku mulai bernyanyi.
Bukan lagu baru. Bukan jawaban. Lagu yang sama, lagu kami, dinyanyikan berlima, bersama-sama, dengan suara yang cukup kuat untuk mengisi bukit ini tanpa menyisakan ruang bagi suara lain untuk menyela.
Wulan menyambung. Sela bertepuk. Danan menyanyikan bagiannya dengan mantap. Laras menyanyikan bagiannya, tidak sendirian, dikelilingi suara kami dari segala arah.
Dan saat lagu kami mencapai bait kedua, langkah-langkah dari sisi lain itu bergerak lagi.
Kali ini tanpa jeda yang panjang. Kali ini, satu demi satu, semakin dekat, semakin jelas, semakin nyata, seperti seseorang yang akhirnya memutuskan untuk berjalan, bukan lagi menguji jalan, melainkan menapaki jalan itu sungguh-sungguh.
Lagu kami tidak putus. Tapi di antara nada-nada kami, aku mendengar sesuatu yang membuat darahku dingin: langkah-langkah itu kini mengikuti irama lagu kami. Satu langkah untuk setiap ketukan Sela. Seolah yang berjalan itu tidak lagi berjalan sendiri. Seolah ia berjalan mengikuti lagu kami, dipandu oleh lagu kami, menuju ke sini.