Pesan dari Benang yang Putus
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,235 kata
Aku tidak tidur malam itu. Bagaimana bisa tidur, kalau setiap tarikan di lenganku berarti satu lilitan terlepas dari simpul ibuku?
Aku duduk di bibir perbatasan, di titik tempat cahaya desa dan cahaya langit bertemu, dan menatap langit ganda yang kini terasa seperti atap penjara. Di sekelilingku, barisan Penjaga berkemah dalam lingkaran sempurna β sayap perak terlipat, mata tanpa bekas menatapku tanpa berkedip. Mereka tidak perlu tidur, rupanya. Atau mereka hanya tidak mau memberiku ketenangan.
Di tanganku, sehelai benang emas yang putus itu terasa hangat. Benang Bima.
Sejak ia meninggalkannya di tanganku dan menghilang ke dalam pintu cahaya, aku menyimpannya seperti menyimpan bara β hati-hati, takut padam, takut membakar. Bima bilang benangnya mengenal benangku. Ia ingin pulang. Dan sekarang, di tengah kepungan ini, aku bertanya-tanya: pulang ke mana? Kepada siapa?
Aku menggulung benang itu di antara jari-jariku, dan aku menariknya β pelan, seperti menarik tali pancing.
Denyut itu menjawab. Lemah, jauh, tetapi nyata. Bima masih hidup. Dan ia ketakutan.
Aku memejamkan mata dan mengikuti tarikan itu ke dalam β ke tempat benang-benang bisa berbicara tanpa kata. Yang kulihat membuat napasku tercekat: kilasan cahaya, pintu cahaya yang berdenyut, dan Bima β Bima yang melangkah keluar dari lengkungan cahaya dengan senyum lega di wajahnya, hanya untuk menemukan barisan sayap perak sudah menunggunya di sisi lain. Mereka tidak mengejarnya masuk ke perbatasan. Mereka hanya menunggu di tempat ia pasti keluar.
Tawa ketakutan yang kudengar tengah malam tadi β itu dia. Diseret melewati perbatasan, menengadah melihatku di bawah, dan tertawa. Bukan tawa gembira. Tawa seseorang yang melihat jerat menutup dan tidak bisa berbuat apa-apa selain mengakui betapa rapi jerat itu dipasang.
Lalu kilasan itu berubah, dan aku melihat sesuatu yang lain β sesuatu yang membuat tanganku gemetar: Bima, dengan tangan yang gemetar juga, memutuskan benang-benangnya sendiri. Sehelai demi sehelai. Wajahnya pucat menahan sakit, tetapi matanya jernih. Ia memutuskan semuanya β agar mereka tidak bisa melacaknya melalui benang. Dan satu helai terakhir, yang terpanjang, ia genggam erat-erat, ia bisikkan sesuatu kepadanya, lalu ia lepaskan ke dalam pintu cahaya, ke arahku.
Pesan itu sampai kepadaku sekarang, terlambat satu malam, melalui denyut benang yang putus: Jangan ikuti aku. Benang ini dua arah, Naya. Kalau kau menariknya cukup kuat, mereka akan mengikutimu kembali.
Aku membuka mata dengan napas terengah. Danan duduk tidak jauh dariku, sayapnya melingkupiku setengah β bahkan dalam tidurnya yang gelisah, ia menjagaku. Bulu yang diberikannya kemarin masih terselip di rambutku, di balik telingaku. Aku menyentuhnya, dan untuk sesaat aku merasa sedikit lebih berani.
"Rangga ke mana?" bisikku pada Sekar, yang berjaga di dekat pintu cahaya.
Sekar menggeleng, lalu menunjuk dengan dagunya ke arah bayangan di sisi lingkaran Penjaga. Di sana β ya Tuhan β bocah itu merangkak di antara bebatuan, begitu dekat dengan perkemahan sayap perak hingga aku bisa merasakan jantungku berhenti. Apa yang ia lakukan?
Aku hampir berteriak memanggilnya, tetapi Sekar menahan lenganku. "Lihat," bisiknya. "Anakku tahu apa yang ia lakukan."
Rangga tidak bergerak selama hampir satu jam. Ia hanya diam, menempel di batu, mendengarkan. Para Penjaga β yang begitu sempurna dan rapi β ternyata tidak sempurna dalam satu hal: mereka berbicara. Dengan suara bergema yang pelan, mereka berdebat di antara mereka sendiri, dan mereka tidak menyadari ada telinga kecil yang mendengarkan.
Ketika Rangga akhirnya merangkak kembali, wajahnya pucat tetapi matanya menyala. "Mereka berdebat," bisiknya, merosot duduk di sampingku. "Sebagian ingin kau jadi kunci β katanya itu praktis, gerbang butuh kunci. Sebagian yang lain ingin jahitan ini dihancurkan total." Ia menelan ludah. "Katanya, jalan ketiga tidak boleh menjadi preseden. Kalau satu orang boleh menjahit langit ke tanah, besok semua orang akan meminta jalan ketiga. Tatanan akan runtuh."
Aku mengangguk pelan. Jadi mereka tidak sekompak kelihatannya. Perpecahan β sekecil apa pun β adalah sesuatu yang bisa kugunakan.
"Tapi ada yang lebih penting," lanjut Rangga, dan ia membuka genggamannya. Di telapak tangannya yang kecil tergeletak sehelai bulu perak β jatuh dari salah satu Penjaga, mungkin, atau sengaja dijatuhkan. "Aku mendengar pemimpin mereka bicara dengan dirinya sendiri. Ia menyebut sebuah nama."
"Nama apa?"
"Raras." Rangga menatapku. "Ia bilang: Raras juga menyimpan simpul seperti ini. Dan ia gagal."
Darahku berdesir dingin. Pemimpin itu mengenal ibuku.
Sekar, yang mendengarkan, tiba-tiba menegang. "Naya," katanya pelan. "Pintu cahaya β ia diketuk dari sisi lain."
Aku menoleh. Lengkungan cahaya yang dijaganya berdenyut dengan pola yang aneh β bukan denyut waspada seperti tadi, melainkan ketukan. Pelan. Teratur. Seperti seseorang yang mengetuk pintu dengan sopan sebelum mendobraknya.
"Mereka mencoba membuka jalan dari Langit Atas," kata Sekar, tangannya sudah terangkat, cahayanya sendiri mengalir untuk memperkuat pintu. "Langsung ke desa. Kalau mereka berhasil β"
"Mereka tidak perlu," potongku, memahami. "Itu tekanan. Sama seperti tarikan di benangku. Semuanya tekanan."
Aku berdiri. Urat-urat cahaya di lenganku berdenyut, dan aku merasakan lilitan lain terlepas dari simpul ibuku. Waktu terus berjalan β atau lebih tepatnya, terus terurai.
"Aku akan menemuinya," kataku.
"Jangan," kata Danan β ternyata ia sudah bangun. "Itu yang mereka inginkan."
"Justru karena itu aku harus pergi. Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadanya." Aku menatap pintu cahaya yang stabil, lengkungan kecil yang dijaga Sekar β bukti bahwa dua dunia bisa berbagi tanpa kunci hidup, tanpa korban. "Jalan ketiga bukan teori. Ia berdiri di sana. Ia bekerja. Aku akan membuatnya melihat."
Aku berjalan menuju pusat lingkaran, menuju tempat pemimpin itu hinggap β dan setiap langkahku membuat benang-benangku bergetar di bawah kaki para Penjaga yang berdiri di atasnya. Mereka menatapku lewat, tanpa berkedip, tanpa bergerak. Hanya pemimpin itu yang menoleh saat aku mendekat.
"Kau mengenal ibuku," kataku tanpa basa-basi.
Keheningan bergema itu lagi. Lalu: "Raras." Ia mengucapkan nama itu dengan cara yang aneh β bukan seperti menyebut nama orang asing, melainkan seperti menyentuh bekas luka lama. "Ya. Aku mengenalnya."
"Siapa kau?"
"Aku Arka." Ia berdiri, dan aku menyadari ia bahkan lebih tinggi dari yang kukira β bayangannya menutupiku sepenuhnya. "Penjaga Sulung Langit Atas. Dan aku β " ia berhenti, dan untuk pertama kalinya, gema suaranya terdengar sedikit retak, " β aku yang memberi ibumu jarum pertamanya."
Dunia di sekelilingku terasa miring. "Apa?"
"Ibumu bukan pewaris biasa, Naya. Ia muridku. Murid terbaikku." Arka merentangkan tangannya, dan cahaya di antara telapaknya membentuk bayangan samar β seorang perempuan muda dengan benang-benang emas di tangannya, tertawa. Ibuku. Lebih muda dari yang pernah kuingat. "Aku mengajarinya bahwa benang tidak boleh memiliki dua tuan. Bahwa langit di atas, tanah di bawah, dan tidak ada yang di antaranya."
"Tetapi ia memilih jalan ketiga," bisikku.
"Ia memilihmu." Gema itu kembali utuh, dingin. "Ketika Bima merobek langit, dewan memutuskan robekan itu harus dijahit dengan jahitan yang hidup. Seharusnya aku yang melakukannya β aku yang tertua, aku yang bertanggung jawab atas muridku yang gagal menjaga muridnya sendiri." Ia menatapku. "Tetapi ibumu memohon. Ia bilang: biarkan aku. Anakku masih kecil. Biarkan aku menjadi jahitan, agar ia tidak tumbuh di dunia yang robek."
Tenggorokanku tercekat. Selama ini aku tahu ibuku menjadi jahitan pertama karena robekan Bima. Aku tidak tahu ia memilihnya. Untukku.
"Dan sekarang kau," lanjut Arka, "menyimpan simpul seperti simpulnya. Jalan pulang." Ia membuka telapak tangannya.
Di sana, berdenyut pelan dengan cahaya yang kukenali β cahaya ibuku β tergeletak sebuah simpul kecil. Persis seperti simpul jalan pulang yang kusisakan di langit. Persis.
"Ia menitipkannya padaku," kata Arka pelan. "Sebelum ia menjadi jahitan. Ia bilang: untuk anakku, kalau ia berani menyimpan jalan pulang sepertiku."
Aku menatap simpul itu, dan air mataku jatuh tanpa izin β membasahi urat-urat cahaya di lenganku, membuat mereka berdenyut lebih terang.
"Ibumu memilih jalan ketiga juga, Naya," kata Arka. "Dan lihat apa yang terjadi padanya."
Ia menggenggam simpul itu erat-erat β dan aku melihat lilitannya mulai terlepas, satu per satu, di dalam genggamannya.
"Berhenti!" Aku melangkah maju, benang-benangku melesat tanpa kusadari, melilit pergelangan tangannya.
Arka tidak melawan. Ia hanya tersenyum β senyum rapi itu β dan berkata:
"Bintang pagi hampir terbit, keponakanku. Putuskan."