Mata Langit
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,615 kata
Sesuatu mengetuk dari dalam gerbang. Tiga kali. Sopan, seperti tamu yang mempelajari adab dari manusia.
Aku terbangun bukan karena ketukan itu β melainkan karena keheningan setelahnya. Keheningan yang menunggu. Di luar jendela, fajar belum tiba, tapi langit sudah terang β diterangi oleh mata itu. Mata raksasa dari badai dan cahaya bintang, terbuka di angkasa, pupilnya yang dalam menatap lembah kami tanpa berkedip. Cahaya bintang yang bocor dari tepinya jatuh seperti hujan cahaya ke atap-atap rumah.
Seluruh lembah melihatnya. Tentu saja.
Aku menemukan Bima di halaman depan, menatap langit dengan wajah pucat. Di kejauhan, dari arah desa, terdengar suara β orang-orang berkumpul, berdoa, bertanya-tanya. Seorang anak menangis. Seorang tetua meneriakkan sesuatu tentang murka langit.
"Mereka bilang ini murka langit," kata Bima tanpa menoleh. Suaranya datar, lelah.
"Bukan murka," kataku, berdiri di sampingnya. Benang emasku masih tertambat di langit β aku bisa merasakannya, tarikan lembut di pergelangan kiriku, seperti memegang tali layang-layang raksasa. "Ini perhatian. Dan perhatian lebih berbahaya daripada murka. Murka berlalu. Perhatian... tinggal."
Bima tertawa β suara pendek, pahit, tanpa humor. "Kamu tahu apa yang paling kutakutkan, Naya? Bukan mata itu." Ia akhirnya menoleh padaku. Matanya merah β ia tidak tidur semalam. "Yang paling kutakutkan adalah bahwa aku mulai terbiasa."
Sebelum aku sempat menjawab, ia berkata β cepat, seperti seseorang yang melompat dari tebing: "Adikku namanya Wulan."
Aku menunggunya melanjutkan.
"Juru tulis dewan memegang namanya." Bima menatap tangannya sendiri β tangannya yang memberikan benang mati itu padaku tiga malam lalu. "Dua tahun yang lalu, dewan menghapus Wulan dari buku besar orang hidup. Bukan membunuhnya β menghapus. Ia masih ada. Ia masih bernapas, makan, tertawa. Tapi tidak ada yang mengingatnya kecuali aku. Setiap pagi aku harus memperkenalkan diri lagi pada adikku sendiri. 'Aku Bima, kakakmu.' Setiap pagi ia menatapku seperti orang asing β lalu menangis, karena jauh di dalam sana ia TAHU ia seharusnya mengenalku."
Tenggorokanku tercekat.
"Juru tulis itu bilang β" suara Bima pecah, "β kalau aku mengantarkan benang mati itu ke tanganmu, kalau benang itu berhasil ditanam... mereka akan menulis kembali nama Wulan. Aku tahu itu mungkin dusta. Aku tahu." Ia menatapku, memohon. "Tapi bagaimana kalau bukan? Bagaimana kalau itu satu-satunya kesempatan?"
Aku bisa memutus benangnya. Saat ini juga. Aku bisa mencabut kepercayaanku, mengusirnya dari rumah penjaga, membiarkannya dimakan rasa bersalahnya sendiri. Sebagian diriku β bagian yang lelah, bagian yang kehilangan suara Ibu semalam β ingin melakukannya.
Sebaliknya, aku melakukan hal yang diajarkan garis Raras β hal yang bahkan tidak diajarkan langsung, melainkan ditanamkan dalam nina bobo yang kini suaranya hilang, tertinggal di tulangku seperti garam di laut.
Aku meraih benang Bima.
Setiap orang punya benang β aku bisa melihatnya sekarang, sejak aku mulai menjahit. Benang Bima compang-camping, penuh simpul dusta dan ujung-ujung yang terurai karena rasa bersalah. Aku mengambil ujungnya yang paling terurai β dengan lembut, seperti memegang burung yang terluka β dan menjahitkannya ke jangkarku. Ke pergelangan kiriku. Ke simpul yang sama tempat benang emasku tertambat.
Bima tersentak. "Apa yang kamuβ"
"Penjaga tidak membuang yang tersesat, Bima." Aku mengikatkan simpul kecil β simpul ayunan, simpul yang diajarkan Ibu. "Penjaga mengikat mereka pulang."
Bima menatap simpul itu β simpul kecil di benangnya yang kini tertambat pada jangkarku β dan ia menangis. Bukan isak yang keras. Air mata yang jatuh diam-diam, seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Pertama kalinya aku melihatnya menangis.
"Terima kasih," bisiknya. "Aku tidak pantasβ"
"Berhenti," kataku lembut. "Hutang dihitung belakangan. Sekarang kita punya tamu."
Karena di ujung jalan desa, berjalan pelan di antara orang-orang yang berkerumun menatap langit, ada seorang perempuan.
Ia berjalan seperti air mengalir β tenang, tak terburu-buru, sama sekali tidak terganggu oleh mata raksasa di langit. Jubahnya abu-abu seperti penagih, tapi wajahnya adalah wajah manusia: perempuan paruh baya, cantik dengan cara yang dingin, jari-jarinya hitam oleh tinta sampai ke pergelangan tangan. Di satu tangan ia membawa satu halaman kosong β putih menyilaukan. Di tangan lainnya, pena cahaya bintang.
Juru tulis dewan. Datang sendiri.
Orang-orang desa menyingkir tanpa sadar saat ia lewat β bukan karena takut, melainkan karena... dilupakan. Ia berjalan melalui kerumunan seperti berjalan melalui kabut: ada, tapi tidak dicatat oleh mata mereka. Hanya kami β aku, Danan yang baru keluar dari rumah dengan kerisnya, Bima β yang benar-benar melihatnya.
Ia berhenti tiga langkah di depanku. Menunduk sedikit β sopan, seperti tamu yang mempelajari adab dari manusia.
"Naya dari garis Raras," katanya. Suaranya seperti pena di atas kertas. "Aku datang untuk menulis ulang."
"Satu kata saja," lanjutnya, mengangkat pena cahaya itu. "Tidak sakit. Bahkan melegakan, kata mereka yang sudah ditulis." Ia tersenyum β senyum yang tidak mencapai matanya. "Kamu lelah, Nak. Aku bisa melihatnya. Menjadi penjaga yang memilih itu melelahkan. Menjadi kunci... sederhana. Ditanam. Selesai. Habis dengan berguna."
Ia mulai menulis di udara.
K. U. N. C. I.
Setiap huruf terbentuk dari cahaya bintang β dan setiap huruf yang selesai menjadi KEBENARAN yang mencoba terjadi.
Lututku lemas. Kakiku β kakiku sendiri, yang kukendalikan seumur hidupku β ingin melangkah menuju retakan. Tanganku ingin melepas jangkar dari pergelanganku dan MENANAM diriku sendiri ke dalam mata langit itu. Pikiran-pikiranku menjadi kabur, manis, sederhana: ditanam selesai habis berguna ditanam selesai habisβ
"Naya!" Suara Danan β jauh, seperti dari dasar sumur.
Aku melawan. Dengan sisa tenagaku, aku mencengkeram jangkar di pergelanganku sampai kuku-kukuku menancap ke kulit. Tapi tinta itu lebih tua dariku. Lebih tua dari garis Raras. Ia adalah tulisan pertama β dan tulisan pertama selalu menang melawan yang ditulis belakangan.
Huruf keempat terbentuk: C. I. β
"DENGARKAN AKU!" Danan berteriak β bukan kata, melainkan PENGAJARAN. Suaranya membelah kabut di kepalaku seperti keris membelah air. "Penjaga tidak memohon pada langit, Naya! Penjaga MEMERINTAH! Dengan jangkar di tanganmu β PERINTAHKAN! KATAKAN KATA ITU!"
Kata itu.
Kata yang diwariskan garis Raras β yang ditanamkan Ibu padaku tanpa pernah mengatakannya langsung, yang ia selipkan dalam nina bobo yang kini suaranya hilang, yang tertinggal di tulangku seperti garam di laut, menunggu saat ini.
Aku mengangkat tangan kiriku β tangan yang terikat jangkar, tangan yang memegang ujung benang emasku yang tertambat pada mata langit β dan aku menatap mata raksasa itu, menatap juru tulis itu, menatap dewan yang menonton dari kejauhan, dan aku mengucapkan tiga kata itu.
Bukan memohon. Memerintah.
"AKU YANG MENJAGA."
Udara BERGETAR.
Huruf-huruf KUNCI yang melayang di udara β K, U, N, C β mendidih. Cahaya bintang mereka meleleh, menetes menjadi hujan hitam yang menguap sebelum menyentuh tanah, meninggalkan bau tinta terbakar. Juru tulis itu mundur selangkah β satu langkah kecil, tapi itu adalah langkah mundur pertama yang pernah kulihat darinya. Wajahnya yang dingin retak oleh keterkejutan.
"Kata itu," bisiknya. "Kata itu sudah tidak diajarkan selama seratus tahun."
"Ibu mengajarkannya padaku," kataku β suaraku serak, tapi tegak. "Dalam lagu pengantar tidur. Dewan bisa menghapus suaranya β tapi tidak yang ia tanamkan di tulangku."
Juru tulis itu menatapku lama. Lalu β perlahan β ia menurunkan pena cahayanya. Halaman kosong di tangannya terlipat sendiri, menjadi burung kertas, dan terbang β larut menjadi abu di udara pagi.
"Dewan tidak mengirim surat dua kali, Nak," katanya pelan. Ia mulai memudar β tinta di jari-jarinya meresap ke tanah seperti air. "Berikutnya mereka datang sendiri."
Lalu ia hilang, meninggalkan satu halaman kosong yang jatuh berputar ke tanah di depanku. Di atasnya, belum tertulis apa pun.
Aku memungutnya. Kertasnya hangat.
Danan berada di sisiku sebelum aku sempat goyah β lengannya menopangku, mantap seperti tiang. "Kamu baik-baik saja?"
"Aku..." Aku menatap halaman kosong di tanganku. "Aku baru saja mengusir juru tulis dewan dengan tiga kata."
"Kamu baru saja melakukan hal yang tidak dilakukan siapa pun selama seratus tahun," koreksinya. Ada sesuatu di matanya β bukan hanya bangga. Sesuatu yang lebih dalam, lebih berbahaya, lebih... manusia. Ia menatapku seperti seseorang yang menatap matahari terbit setelah malam yang sangat panjang.
Lalu ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Ia meletakkan tangannya di atas tanganku β di atas jangkar di pergelangan kiriku.
Benangnya β aku bisa melihatnya sekarang, benang Danan: abu-abu badai, kuat, penuh simpul-simpul tua dari empat puluh dua tahun menjaga β dan benangku β emas, baru, berani β bersentuhan. Dan selama satu detak jantung, keduanya MENGEPANG. Abu-abu dan emas berpilin menjadi satu, berdenyut dengan irama yang sama β irama jantungku, irama jantungnya, menjadi satu irama.
"Dua benang," katanya pelan, tidak melepaskan tanganku. Matanya tidak lepas dari mataku. "Satu jangkar."
Dadaku sesak. "Dananβ"
"Kalau langit menuntut satu jantungβ" katanya.
Aku menyelesaikan kalimatnya sebelum akal sehatku sempat menghentikanku: "βbiar dua yang menjawab."
Keheningan jatuh di antara kami β keheningan yang penuh, yang hangat, yang berbahaya. Bima berdeham dari jarak yang sopan dan memalingkan wajah ke langit β pura-pura tidak melihat, dengan sangat jelas melihat segalanya.
Aku menarik tanganku perlahan β bukan menolak, melainkan karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Danan melepaskannya β perlahan, dengan enggan yang tidak ia sembunyikan.
Kami berdiri berdampingan di halaman, di bawah mata langit. Aku mengangkat benang emasku β benang yang kini hidup, abu-abu dan emas mengepang, tertambat pada tepi mata itu β dan aku tidak memintanya menutup.
Aku MEMERINTAHKANNYA menjawab.
"Siapa yang mengetuk dari dalam gerbang?" tanyaku kepada mata langit. Suaraku tidak keras β tidak perlu keras. Perintah penjaga bukan tentang volume.
Ketukan itu datang lagi. Tiga kali. Dari dalam mata β dari dalam gerbang β dari dalam retakan yang kini menjadi mata.
TOK. TOK. TOK.
Dan benang matiku β benang yang kuhidupkan kembali dengan tujuh jahitan dan satu nina bobo β terangkat sendiri dari tanganku. Ia melayang ke udara, berputar perlahan, dan mulai MENULIS di langit dengan cahaya emas terbakar.
Huruf demi huruf. Kata demi kata.
Satu kata.
IBU.
Dunia berhenti.
Aku menatap kata itu β IBU, tertulis dalam api emas di langit pagi, di bawah mata raksasa yang menatapku β dan lututku hampir lemas lagi, bukan karena tinta dewan, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih menghancurkan: harapan.
"Ibu?" bisikku.
Di sampingku, wajah Danan memutih seperti kain kafan. Keris di tangannya terlepas β jatuh ke tanah dengan bunyi berdenting yang terdengar sangat keras dalam keheningan itu.
"Tidak mungkin," bisiknya.
Aku menoleh padanya. "Ibuku kenapa, Danan?" Suaraku naik β setengah bertanya, setengah menuntut. "IBUKU SUDAH APA?"
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap kata IBU yang menyala di langit β dengan ekspresi seseorang yang melihat hantu yang sudah empat puluh tahun ia coba lupakan.
Mata langit berkedip.
Dan dari dalam gerbang, ketukan itu datang lagi. Tiga kali.
TOK. TOK. TOK.