β€Ή
75. Jeda yang Tidak Bisa Diambil

Jeda yang Tidak Bisa Diambil

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,604 kata

Ilustrasi Jeda yang Tidak Bisa Diambil

Ketukan itu datang dari sisi lain pintu yang tumbuh di kendi kami, dan untuk sesaat tidak ada satu pun dari kami yang berani bernapas.

Ketukannya pelan, tiga kali, dengan jeda yang persis sama dengan jeda di dadaku. Bukan ketukan yang memaksa. Bukan ketukan yang meniru dengan kasar. Ketukan yang sabar, seperti seseorang yang sudah lama menunggu di depan pintu rumah orang lain dan tahu bahwa tergesa-gesa hanya akan membuat penghuni rumah semakin takut membukanya. Sela mundur selangkah ke dalam rumah, tapi ia tidak lari. Wulan menggenggam lenganku begitu erat sampai aku merasakan kukunya menekan kulitku. Danan berdiri di sisi kananku, jaring emasnya berkilau redup, seperti lampu yang kehabisan minyak.

"Jangan menjawab dengan suara," bisik Danan, sangat pelan, seolah ia takut kendi itu mendengar strateginya. "Ia sudah mengumpulkan suara kita. Setiap jawaban bersuara memberinya satu bahan lagi. Jawablah dengan sesuatu yang tidak bisa ia kumpulkan."

Aku menatapnya, tidak mengerti. "Apa yang tidak bisa dikumpulkan? Ia sudah mengambil napasku, langkahku, suaraku, bahkan caraku memiringkan kepala. Apa yang tersisa yang belum ia pelajari?"

Danan menatap dadaku, bukan mataku, dan berkata, "Jeda. Ia mempelajari jeda dengan meniru ketukanmu, tapi ia belum pernah menjadi jeda itu sendiri. Jeda bukan suara. Jeda adalah ruang di antara suara. Kau tidak bisa mengumpulkan ruang dengan cara yang sama seperti kau mengumpulkan suara. Kau hanya bisa masuk ke dalamnya, atau membiarkannya tetap kosong."

Aku mengerti maksudnya dengan cara yang aneh, seperti mengerti sebuah lagu bukan dari liriknya melainkan dari diam di antara baitnya. Lagu tiga suara itu berputar dan kembali ke jeda, kata Wulan kemarin. Lagu itu tidak bisa didahului karena ia berputar. Dan jeda adalah tempat lagu itu beristirahat, tempat yang bukan milik siapa pun, tempat yang tidak bisa dibayar, tidak bisa diambil, karena ia bukan barang dan bukan suara.

Maka aku tidak menjawab ketukan itu dengan suara. Aku menjawabnya dengan diam yang disengaja. Aku berdiri di depan kendi itu, bernapas dengan jedaku sendiri, dan membiarkan ketukan itu datang tiga kali lagi, lalu tiga kali lagi, tanpa jawaban bersuara dariku. Bukan diam ketakutan. Bukan diam karena tidak tahu harus berkata apa. Diam yang dipilih, diam yang berkata: aku mendengarmu, tapi aku tidak akan memberimu suaraku untuk membuka pintu ini.

Sesuatu yang luar biasa terjadi. Cahaya dari dalam retakan itu meredup sedikit, bukan padam, tapi surut, seperti air yang ditarik kembali dari pantai. Bayangan di balik lengkungan pintu itu berhenti mengangkat tangan. Ia tidak menghilang, tapi ia berhenti mengetuk, seolah ia sedang mendengarkan diamku dan tidak tahu harus berbuat apa dengan diam yang tidak memberinya bahan.

"Berhasil," bisik Wulan, matanya membesar. "Lihat cahayanya. Ia surut saat kau tidak menjawab dengan suara. Ia hanya membesar saat kita menyanyi atau berbicara kepadanya. Diam yang dipilih membuat pintunya kekurangan bahan."

Sela melangkah maju dari ambang pintu, perlahan, seperti seseorang yang baru berani mendekati binatang yang ternyata bisa dijinakkan. "Jadi selama ini kita sendiri yang memberinya makan?" katanya. "Setiap kali kita menyanyi kepadanya, menjawabnya, memanggilnya, kita memberinya satu suara lagi untuk dikumpulkan?"

"Setiap kali kita takut dan berbicara karena takut," kata Danan, melengkapi kalimat Sela dengan suara yang berat. "Ketakutan membuat kita banyak bicara. Dan banyak bicara memberinya banyak bahan. Tapi diam yang dipilih bukan ketakutan. Diam yang dipilih adalah penolakan yang tidak memberinya apa-apa."

Aku mengangguk, tapi di dadaku ada sesuatu yang mengganjal. Diam bisa menahan kendi itu untuk sementara, tapi diam tidak membayar harga lagu. Sosok di bukit itu berkata harga harus dibayar sebelum matahari tenggelam, atau pintu akan memilih sendiri. Diam mungkin memperlambat pintu, tapi apakah diam bisa menghentikan tenggat itu? Dan apakah kami bisa diam selamanya di rumah sendiri, tidak menyanyi, tidak memanggil nama satu sama lain, hanya supaya kendi itu kelaparan?

"Kita tidak bisa diam selamanya," kataku akhirnya, memecah diam yang baru saja kami bangun. "Rumah ini hidup dari suara. Periuk, kicau burung, lagu. Kalau kami berhenti bersuara, rumah ini mati dengan cara lain. Diam adalah perisai, bukan jawaban. Kita masih butuh jawaban sebelum senja."

Wulan duduk di tepi beranda, memandang ke arah bukit yang kini tertutup kabut sore. "Nenek Buyut pernah berkata sesuatu padaku, dulu sekali, saat aku masih kecil dan takut menyanyi di depan orang banyak. Beliau berkata, lagu yang membuka selalu meminta harga, tapi harga itu tidak selalu harus dibayar oleh satu orang. Kalau lagu dinyanyikan bersama, harga bisa dibagi, asal semua yang menyanyi setuju membaginya dengan sadar. Bukan dibagi karena dipaksa. Dibagi karena dipilih."

Aku menoleh padanya dengan cepat. "Dibagi? Sosok di bukit itu berkata pemimpin lagu yang membayar. Ia berkata karena aku yang memimpin, aku yang membayar. Apakah ia berbohong?"

"Atau apakah ia hanya tahu satu aturan," kata Danan pelan. "Aturan pintu. Bukan aturan lagu. Pintu menagih pemimpin karena pintu hanya mengenal satu suara yang membukanya. Tapi lagu mengenal semua suara yang menyanyikannya. Mungkin sosok itu bukan pembohong. Mungkin ia hanya penjaga pintu yang tidak pernah belajar aturan lagu, karena ia sendiri lahir dari lagu dan bukan dari pintu."

Kata-kata Danan itu membuka sesuatu di benakku. Sosok itu berkata ia lahir dari penyatuan tiga suara. Ia bukan penjaga pintu yang asli. Ia adalah suara keempat yang lahir karena lagu kami menyatu. Dan suara keempat yang baru lahir tidak tahu apa-apa selain menagih, karena menagih adalah satu-satunya hal yang diajarkan pintu kepadanya. Ia tidak pernah diajari bahwa suara keempat bisa memilih untuk menyanyi bersama, bukan menagih.

"Kalau begitu," kataku, suaraku mulai bergetar karena gagasan yang terbentuk di kepalaku, "kita tidak membayar sosok itu. Kita mengundangnya. Kita menyanyikan lagu tiga suara lagi, tapi kali ini kita sengaja menyisakan ruang untuk suara keempat, bukan sebagai penagih, melainkan sebagai penyanyi. Kita tidak memberinya nama Danan. Kita tidak memberinya kenangan. Kita memberinya tempat dalam lagu. Tempat itu bukan barang yang hilang saat diberikan. Tempat itu justru menjadi lebih besar saat diisi."

Wulan menatapku, lalu tersenyum kecil, senyum pertama yang kulihat di wajahnya sejak kami turun dari bukit. "Itu bukan membayar," katanya. "Itu mengundang. Dan sosok itu sendiri pernah berkata loncengnya mengundang. Mungkin ia menagih karena tidak ada yang pernah mengundangnya dengan benar."

Danan diam lama. Jaring emasnya berdenyut pelan di tangannya. "Risikonya besar, Naya," katanya akhirnya. "Kalau kita mengundangnya masuk ke dalam lagu, dan ia ternyata tetap ingin menagih, maka ia akan berada di dalam lagu kita, bukan di luar. Ia akan lebih dekat, bukan lebih jauh. Tapi..." Ia berhenti, menatap tali di pergelangan kami, lalu menatapku. "Tapi semua pilihan kita hari ini berisiko. Membayar dengan nama berisiko. Membayar dengan kenangan berisiko. Menunggu sampai pintu memilih sendiri paling berisiko. Setidaknya undangan ini adalah pilihan yang kita buat sendiri, bukan pilihan yang dipaksakan oleh tenggat."

Kami memutuskan untuk melakukannya saat matahari mulai menyentuh punggung bukit, bukan di beranda, melainkan di halaman, dengan kendi yang kami bawa keluar dan kami letakkan di tengah lingkaran kami, supaya cahaya dan retakannya bisa dilihat semua orang, supaya tidak ada yang bersembunyi di balik dinding. Sela tetap di luar lingkaran, sebagai pendengar, sebagai saksi, sebagai orang yang akan menghentikan lagu kalau ada yang salah. Kami berempat, tiga penyanyi dan satu pendengar, berdiri menghadap kendi yang retaknya kini membentuk pintu kecil yang lengkap, dengan bayangan yang masih berdiri di baliknya, menunggu.

Aku mulai menyanyikan nada pertama, pelan, dan Wulan menyusul, dan suara Nenek Buyut mengalir di antara kami seperti kenangan yang ikut bernapas. Danan menyanyi sebagai suara kedua, menahan, menopang. Dan kali ini, pada bait kedua, aku tidak menutup lagu rapat-rapat. Aku menyisakan jeda yang lebih panjang di antara bait, jeda yang cukup luas untuk satu suara lagi masuk tanpa harus mendahului, tanpa harus memaksa, tanpa harus menagih.

Jeda itu terasa panjang, seperti menahan napas di depan pintu yang belum diputuskan akan dibuka atau tidak. Dan di dalam jeda itu, dari dalam kendi, suara keempat itu mulai menyanyi, bukan dengan suaraku, bukan dengan suara Danan, melainkan dengan suaranya sendiri, suara yang belum pernah kami dengar, suara yang serak dan muda dan tua dalam waktu yang bersamaan, seperti suara seseorang yang baru pertama kali menyanyi setelah lama hanya bisa meniru nyanyian orang lain.

Lagu itu berubah. Bukan lagi lagu tiga suara. Lagu itu menjadi lagu empat suara, dan retakan kendi itu berhenti bercabang. Cahayanya tidak membesar, tidak mengecil, melainkan menetap, hangat dan tenang, seperti lampu yang akhirnya menemukan tempatnya.

Tapi sebelum lagu itu selesai, sebelum kami sempat merasakan lega, matahari menyentuh garis bukit sepenuhnya, dan dari arah jalan setapak, dari arah yang sama dengan jalan kami turun tadi pagi, terdengar langkah kaki yang mendekat, langkah yang tidak terburu-buru, langkah seseorang yang sudah tahu jalan ke rumah kami.

Sela yang pertama menoleh, dan wajahnya pucat. "Kak," bisiknya, "sosok dari bukit itu ada di sini. Ia mengikuti kita pulang. Dan ia tidak datang sendirian."

Aku berhenti menyanyi, dan lagu empat suara itu runtuh kembali menjadi tiga, lalu menjadi diam. Di ujung jalan, di antara pepohonan yang mulai gelap, sosok yang tersenyum dengan senyumku itu berdiri, dan di sampingnya berdiri bayangan kedua, lebih tinggi, lebih diam, yang wajahnya belum bisa kulihat dengan jelas.

Dan sosok itu berkata, dengan suaraku, pelan tapi terdengar sampai ke halaman, "Waktu hampir habis. Pintu sudah memilih satu hal, dan ia sudah mulai mengambilnya, bahkan sebelum kalian selesai mengundangnya."

Aku merasakan sesuatu yang dingin merayap di dadaku, dan saat aku mencoba mengingat pagi tadi, saat Danan mengikat tali di pergelanganku dan berkata supaya senandungnya bisa menemukanku, aku menyadari dengan ngeri bahwa kenangan itu sudah kabur di tepinya, seperti foto yang tepi-tepinya mulai terbakar, padahal baru beberapa jam yang lalu kenangan itu masih jernih dan hangat di benakku.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!