Penenun Pertama
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,865 kata
Langit retak tepat di atas kepala kami β dan suara Dewan yang takut itu menggema sekali lagi, lebih pecah dari sebelumnya: "JANGAN DENGARKAN DIA."
Perempuan tua itu tidak bergerak. Ia hanya tersenyum β senyum yang membuat dadaku sesak karena tiba-tiba aku melihat wajah ibuku di dalamnya, wajahku sendiri di dalamnya, dan sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Tangan kirinya terangkat, pergelangan tangan dengan benang emas tua itu berdenyut pelan, dan retakan langit itu β untuk pertama kalinya sejak malam ini dimulai β mengecil. Seolah langit sendiri menahan napas.
"Nay," katanya lagi. Nama kecilku. Nama yang ibuku bisikkan saat aku demam umur enam tahun.
"Siapa kau?" Suaraku akhirnya keluar, serak dan tipis.
Ibuku melangkah maju dari tepi jaring. Wajahnya pucat. Bibirnya bergetar sebelum satu kata itu keluar, tercekat, tidak percaya: "Ibu?"
Perempuan tua itu menoleh. Dan untuk sesaat β hanya sesaat β wajah kerasnya yang seribu tahun itu retak, seperti es di permukaan danau. "Raras," bisiknya. "Kau tumbuh."
Aku menatap ibuku. Menatap perempuan tua itu. Menatap Danan, yang jangkarnya masih terangkat setengah β wajahnya tegang, ragu antara hormat dan waspada, persis seperti yang kurasakan di dadaku sendiri. Sela mencengkeram bajuku dari belakang begitu erat hingga aku bisa merasakan gemetarnya.
"Nenek?" bisik Sela. Kata itu keluar seperti pertanyaan yang takut pada jawabannya sendiri.
Perempuan tua itu mengangguk β pelan, berat, seperti mengangguk adalah beban seribu tahun yang ia pikul. "Sebelum ada nama untukku, aku dipanggil itu oleh cucuku. Dan sebelum itu β aku adalah penenun gerbang langit. Yang pertama."
Dewan meraung dari retakan langit β suara yang bukan lagi suara, melainkan gesekan ribuan lonceng perak yang pecah: "DIA PEMBOHONG. DIA PENGKHIANAT. DIAβ"
"Diam," kata perempuan tua itu.
Satu kata. Pelan. Tanpa marah.
Retakan langit itu menutup.
Hening yang jatuh setelahnya terasa seperti hujan pertama setelah kemarau panjang β berat, basah, melegakan, dan menakutkan sekaligus. Kunang-kunang benang yang tadi berputar hormat di sekelilingnya kini melayang lebih dekat, menempel di ujung-ujung benang emas tuanya seperti anak-anak yang menemukan ibunya.
Ibuku β Raras β berlutut. Tidak, bukan berlutut. Kakinya menyerah. Ia jatuh berlutut di tanah taman, di antara bunga-bunga simpul yang baru saja mekar menyambut nenekku, dan menangis tanpa suara. Bahunya berguncang. Sela melepaskan bajuku dan berlari kepadanya, memeluknya dari samping, kecil dan berani seperti biasa.
Aku tidak bisa bergerak. Fragmen lonceng di lipatan bajuku membara β panasnya merambat ke kulitku, dan aku sadar: ia bereaksi. Pada perempuan tua ini. Pada benang emas tuanya. Pada darahnya β darah kami.
"Kau mati," kataku akhirnya. Kata-kata itu keluar datar, bukan tuduhan β pernyataan seorang anak yang mencoba menyusun ulang dunia yang baru saja dibalik. "Ibu bilang kau mati. Waktu aku kecil. Ibu bilang nenek sudah pergi sebelum aku lahir."
"Raras tidak berbohong," kata nenekku. Ia melangkah mendekat β dan setiap langkahnya membuat bunga-bunga simpul membuka kelopaknya lebih lebar, seolah taman ini mengenalnya lebih baik daripada mengenalku. "Aku memang pergi. Dewan membawaku. Sama seperti mereka membawa ibumu sekarang β sedikit demi sedikit, benang demi benang, sampai yang tersisa dari seseorang hanyalah nama yang diukir di lonceng."
Aku merasakan Danan bergerak di sampingku β bergeser setengah langkah ke depan, menempatkan dirinya di antara aku dan nenekku. Bukan ancaman terbuka. Perlindungan. Jangkarnya masih terangkat, tapi kini posisinya jelas: ia melindungiku, bukan menantang. Bahunya yang lebar itu β untuk pertama kalinya malam ini β terasa seperti dinding yang bisa kusandari. Aku membenci betapa aku menginginkannya.
"Danan," kataku pelan.
"Aku di sini," jawabnya, tanpa menoleh. Suaranya rendah, mantap. "Aku tidak akan kemana-mana."
Nenekku memperhatikan itu. Matanya β mataku, mata ibuku, mata Sela β melirik Danan, lalu kembali padaku. Ada sesuatu di tatapannya. Pengenalan. "Prajurit jangkar," katanya. "Garis Danan masih menjaga garis kami, rupanya. Seribu tahun, dan kalian tidak pernah benar-benar pergi."
Danan menegang. "Kau tahu namaku?"
"Aku tahu nama kakek buyutmu," kata nenekku. "Dan kakek buyut dari kakek buyutmu. Para penjaga tidak pernah jauh dari para penenun. Itu aturannya sejak gerbang pertama ditenun." Ia berhenti. "Aturan yang Dewan langgar."
"Siapa namamu?" tanyaku. "Nama aslimu. Bukan 'nenek'. Bukan 'penenun'. Namamu."
Hening. Kunang-kunang benang berputar lebih lambat.
"Wulan," katanya akhirnya. "Sebelum Dewan mengambil segalanya dariku, aku bernama Wulan."
Ibuku mengangkat wajahnya yang basah. "Ibu... kenapa kau tidak pernah kembali? Kenapa kau biarkan aku tumbuh tanpaβ" suaranya patah.
Wulan berlutut di depan putrinya β gerakan lambat orang yang tulangnya menyimpan seribu tahun β dan menyentuh pipi Raras dengan tangan yang... aku menahan napas. Tangannya tidak hitam-perak seperti tangan Nini. Tangannya bersinar samar, seperti benang emas yang ditenun menjadi kulit. "Karena Dewan memegang benangmu, sayangku. Sejak kau lahir. Mereka meminjamkannya padamu β seperti mereka meminjamkan benangku padaku dulu β supaya kau punya sesuatu untuk dipertaruhkan. Supaya kau punya sesuatu untuk ditakuti kehilangannya."
"Benang emas ibuku pernah digantung di gudang," kataku, mengingat kata-kata Nini. Tanganku meremas fragmen lonceng di lipatan bajuku. "Nini mengukir nama 'Raras' di lonceng perak. Dewan tidak pernah melepaskan ibuku."
"Tidak," kata Wulan. "Tidak pernah." Ia menatapku. "Dan sekarang kau tahu taruhannya yang sebenarnya. Bukan benang. Bukan tenunan. Ibumu."
"Kenapa memberitahuku sekarang?" tanyaku β menggemakan pertanyaanku pada Nini tadi. "Kenapa muncul sekarang, setelah semua ini?"
"Karena lonceng itu retak." Wulan menunjuk dadaku β tepat di mana fragmen itu tersembunyi. Aku tersentak; ia tidak mungkin melihatnya. Tapi ia tersenyum tipis. "Aku merasakannya. Setiap lonceng yang retak adalah retakan di gudang mereka. Dan setiap retakan..." ia mengangkat pergelangan tangannya, benang emas tua itu berdenyut, "...adalah pintu."
Danan akhirnya menurunkan jangkarnya β sedikit. "Pintu ke mana?"
"Ke gudang," kata Wulan. "Ke tempat mereka menggantung benang-benang curian. Ke tempat nama ibumu diukir." Ia menatapku β dalam, menusuk, penuh sesuatu yang terasa seperti harapan dan duka sekaligus. "Dan ke tempat benang ibumu bisa diambil kembali. Bukan dipinjam. Diambil. Selamanya."
Jantungku berdebar begitu kencang hingga aku yakin semua orang bisa mendengarnya. "Bagaimana?"
Wulan mengulurkan tangannya. Bukan padaku β pada pergelangan tanganku yang kosong. "Karena kau pewarisku, Nay. Benang iniβ" ia menyentuh benang emas tuanya, "βmengenali darahnya. Dan gerbang langit..." ia mendongak ke langit yang retakannya kini tertutup rapat, "...masih mengingat siapa yang menenunnya."
Aku menatap tangannya yang terulur. Di belakangku, aku mendengar ibuku menahan napas. Sela berbisik, "Kak..." Danan bergeser β sedikit saja β lebih dekat, bahunya hampir menyentuh bahuku. Hangat. Mantap. Hadir.
Aku mengulurkan tanganku.
Jari-jari Wulan menyentuh pergelangan tanganku yang kosong β
β dan dunia meledak menjadi cahaya.
Bukan cahaya yang menyilaukan. Cahaya yang *mengingat*. Aku melihat β bukan dengan mataku β gerbang. Gerbang raksasa dari benang emas yang ditenun, melengkung tinggi ke langit, setiap simpulnya berdenyut seperti jantung. Aku melihat tangan-tangan menenunnya β tangan Wulan, muda, kuat, bersinar. Aku melihat langit di balik gerbang β bukan langit malam, bukan langit siang, melainkan sesuatu di antaranya, tempat cahaya lahir. Dan aku melihat... diriku. Bukan aku yang sekarang. Aku yang lain β atau aku yang akan datang β berdiri di depan gerbang itu, tangan terangkat, benang emas mengalir dari ujung jariku seperti air.
Lalu semuanya hilang. Aku tersentak kembali ke taman, napasku tersengal, lututku lemas. Danan menangkap lenganku β tangannya kuat, hangat, dan untuk sesaat aku membiarkan diriku bersandar padanya, hanya sesaat, hanya seberat napas. Ia tidak melepasku. Ia tidak menarik tangannya.
"Kau melihatnya," kata Wulan. Bukan pertanyaan.
"Gerbang," bisikku. "Aku... aku menenunnya?"
"Kau *akan* menenunnya kembali," kata Wulan. "Gerbang itu rusak, Nay. Dewan merusaknya saat mereka mulai memanen benang β mereka merobek tenunan untuk mencuri benang emas, dan setiap robekan membuat mereka semakin kuat." Ia menggenggam tanganku erat. "Hanya darah penenun pertama yang bisa menenunnya kembali. Hanya kau."
"Tapi ibukuβ" kataku. "Raras. Taruhannya ibuku. Bagaimana aku menyelamatkannya?"
Wulan menatapku β dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di wajah seribu tahun itu. "Dengan menenun, anakku. Tapi dengarkan aku baik-baik." Ia mendekat, suaranya turun menjadi bisikan yang hanya bisa kudengar β dan Danan, yang masih memegang lenganku, yang bahunya masih menopangku. "Untuk mengambil benang dari gudang Dewan, seseorang harus masuk. Dan untuk masuk... seseorang harus menggantikan apa yang diambil."
Darahku membeku. "Menggantikan?"
"Gudang itu seimbang, Nay. Seperti timbangan. Kau tidak bisa mengambil tanpa meletakkan." Matanya berkaca-kaca. "Aku sudah seribu tahun mencoba menemukan cara lain. Tidak ada."
"Jadi..." suaraku pecah, "untuk membebaskan ibuku, seseorang harus... tinggal di sana? Digantung? Seperti benang?"
Wulan tidak menjawab. Keheningan itu adalah jawaban.
Di kejauhan β dari arah langit yang retakannya tertutup β terdengar suara. Bukan suara Dewan. Suara lonceng. Satu denting. Pelan. Jauh. Tapi jelas.
Wulan memucat. "Mereka menghitung," bisiknya. "Dewan selalu menghitung. Setiap denting adalah satu benang yang mereka timbang." Ia menggenggam tanganku lebih erat. "Dengar, Nay. Ada yang harus kau ketahui tentang taruhanmu. Tentang benang yang kau pertaruhkan malam iniβ"
Denting kedua. Lebih dekat.
"βbenang itu bukan benang ibumu."
Duniaku berhenti untuk kedua kalinya malam ini.
"Apa?" bisikku.
"Benang yang mereka pinjamkan padamu β yang kau menangkan kembali, yang kau pertaruhkan β itu benangku." Wulan menatapku, matanya basah. "Benang emas tua ini." Ia mengangkat pergelangannya. "Mereka meminjamkannya padaku seribu tahun lalu, supaya aku punya sesuatu untuk dipertaruhkan. Supaya aku punya sesuatu untuk ditakuti kehilangannya. Dan aku..." suaranya hancur, "...aku mempertaruhkannya. Untuk putriku. Untuk Raras. Dan aku kalah."
Ibuku terisak β suara yang ia tahan akhirnya pecah.
"Jadi taruhan malam ini..." kataku, potongan-potongannya menyatu dengan ngeri, "bukan benang ibuku. Benang ibuku tidak pernah dipertaruhkan karena... karena benang ibuku tidak pernah benar-benar kembali padanya. Yang dipertaruhkan adalah..."
"Benangku," kata Wulan. "Dan jika kau kalah, Nay β jika kau kalah β Dewan tidak hanya mengambil benangku." Ia menatapku β dalam, pilu, penuh cinta seribu tahun yang tidak pernah punya tempat untuk pergi. "Mereka mengambil alih garis penenun. Mereka mengambil alih... kau."
Denting ketiga. Tepat di atas kami.
Langit β retak kembali. Lebih lebar. Lebih gelap. Dan dari dalamnya, suara Dewan β bukan lagi takut. Dingin. Rapi. Seperti pencatat yang membuka buku besar:
"WAKTU HABIS, PEWARIS. TARUHAN DITUTUP SAAT LONCENG KETIGA BERDENTING."
Aku menatap Wulan. Menatap ibuku. Menatap Sela yang memeluk ibuku erat-erat. Menatap Danan β yang masih memegang lenganku, yang matanya kini menatapku dengan sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya: bukan hanya kesetiaan prajurit. Ketakutan. Untukku.
"Danan," bisikku.
"Jangan," katanya β cepat, kasar, hampir marah. "Jangan katakan apapun. Jangan putuskan apapun malam ini."
Tapi lonceng ketiga sudah berdenting. Dan langit terbuka β dan dari dalamnya, sesuatu turun. Bukan cahaya. Bukan kegelapan. Sesuatu di antaranya β sosok-sosok berjubah perak, wajah mereka tertutup lonceng-lonceng kecil yang berdenting pelan, tangan mereka terulur β
β ke arah ibuku.
"TIDAK!" jeritku.
Wulan berdiri β tiba-tiba ia tidak terlihat tua lagi. Benang emas di pergelangannya menyala seperti matahari kecil. "Mundur," katanya pada sosok-sosok itu β suaranya bukan lagi suara nenek. Itu suara penenun gerbang langit. "Kalian tidak menyentuh putriku."
Sosok-sosok itu berhenti. Lonceng-lonceng di wajah mereka berdenting β ragu.
Dan dari langit, suara Dewan β dingin, final:
"BAIK. KALAU BEGITU, KAMI AMBIL YANG MENGGANTIKAN."
Tangan-tangan berjubah perak itu berbalik β
β ke arah Sela.