Menjaga Tidur Laras
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,259 kata
Malam berikutnya, aku tidak tidur. Bukan karena aku tidak mengantuk, melainkan karena aku sudah memutuskan sebelum matahari terbenam: seseorang harus berjaga di samping Laras, dan orang itu adalah aku.
Rencana kami bukan lagi melarang, bukan menutup telinga Laras, bukan membangunkannya setiap kali ia menggeliat. Semua cara kasar itu sudah kami coba dalam pikiran dan semuanya berakhir sama: Laras makin gelisah, tidurnya makin tipis, dan bait yang tak selesai itu justru makin sering muncul. Malam ini kami mencoba cara yang berlawanan. Kami tidak akan melawan lagu itu. Kami akan menemaninya sampai ia berubah arah sendiri.
Caranya sederhana, dan justru karena itu aku hampir tidak percaya ia bisa berhasil. Kendi kecil itu diletakkan di samping bantal Laras, sedekat mungkin tanpa mengganggunya. Sepanjang malam, suara kecil di dalamnya akan menyanyikan lagu selesai itu, pelan dan terus-menerus, seperti air yang menetes tanpa henti ke dalam mimpi Laras. Dan aku akan duduk di samping tikarnya, terjaga, mendengarkan setiap helaan napasnya. Begitu Laras mulai bersenandung bait yang salah, aku akan ikut bersenandung lagu yang benar, pelan, tepat di telinganya, sehingga mimpinya punya jalan lain untuk diikuti.
"Ini bukan menjaga dengan mata," kata penjaga pintu sebelum ia pergi ke posnya. "Ini menjaga dengan lagu. Kau bukan pengawal malam ini, Naya. Kau penyanyi kedua."
Aku mengangguk, tapi di dalam hati aku bertanya-tanya apakah aku sanggup. Menjaga dengan mata itu mudah: kau cukup tidak tidur. Menjaga dengan lagu itu berbeda: kau harus tetap terjaga sekaligus tetap lembut, karena suara yang tegang akan membangunkan Laras, dan suara yang terlalu pelan tidak akan sampai ke dalam mimpinya. Aku belum pernah menjaga tidur siapa pun dengan cara seperti ini, dan malam ini taruhannya bukan sekadar mimpi buruk biasa, melainkan bait yang bisa membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tidur.
Untungnya aku tidak benar-benar sendirian. Dari luar pintu, suara Danan terdengar pelan, "Aku di sini, Naya. Kalau kau goyah, ketuk lantai dua kali, aku yang masuk dan menggantikanmu menyanyi." Janji sederhana itu cukup untuk membuat bahuku turun sedikit. Lingkaran kami memang bekerja seperti itu: tidak ada yang menjaga sendirian, bahkan penjaga malam sekalipun.
Wulan menyiapkan segalanya dengan teliti seperti biasa. Tikar Laras digelar di sudut paling hangat, dekat perapian kecil yang apinya dijaga tetap menyala. Segelas air hangat diletakkan dalam jangkauan, dan selimut dilipat dua supaya Laras tidak kedinginan dan terbangun. Danan memeriksa sekeliling rumah sekali lagi, lalu memilih duduk di luar pintu, berjaga dengan caranya sendiri, supaya aku tidak merasa sendirian menjaga malam.
Sela sempat menawarkan diri untuk bergantian tengah malam, tapi aku menolak dengan halus. "Malam pertama harus aku," kataku. "Aku yang berjanji pada kendi untuk bernyanyi setiap malam. Janji itu dimulai malam ini."
Laras tidur dengan cepat, seperti anak yang lelah seharian menahan rasa ingin tahu yang tidak boleh ditanyakan. Napasnya teratur, wajahnya tenang, dan untuk satu jam pertama, tidak ada apa-apa selain suara kendi yang menyanyikan lagu selesai itu berulang-ulang, lembut seperti seseorang yang membacakan dongeng sampai pendengarnya tertidur. Aku ikut bersenandung pelan, hampir tanpa sadar, dan tanah di bawah rumah terasa diam.
Menjelang tengah malam, Laras menggeliat. Bibirnya bergerak, mula-mula tanpa suara, lalu keluarlah senandung kecil, nada-nada awal yang aku kenali dengan ngeri: bait yang tak selesai itu sedang dimulai lagi di dalam mimpinya.
Aku tidak membangunkannya. Aku mencondongkan tubuh, dan dengan suara serendah mungkin, aku menyanyikan lagu selesai itu tepat di samping telinganya. Kendi, seolah mendengar isyaratku, menaikkan suaranya sedikit. Dua suara kami membungkus senandung Laras dari kedua sisi, dan yang terjadi kemudian membuat mataku berkaca-kaca: senandung Laras itu berbelok. Nada-nadanya, yang tadinya mengarah ke bait yang salah, perlahan-lahan mengikuti lagu kami, seperti anak kecil yang tersesat di jalan lalu menemukan tangan yang dikenalnya dan menurut saja.
Laras tenang kembali. Napasnya dalam. Tanah tetap diam.
Di antara giliran pertama dan kedua, kantuk menyerangku dengan cara yang licik. Bukan kantuk yang membuat kepala terkulai sekaligus, melainkan kantuk yang membuat pikiranku melayang pelan, seperti perahu yang lepas dari tambatannya tanpa disadari. Aku sempat merasa lagu kendi itu terdengar dari jauh, seolah aku sendiri sedang bermimpi mendengarkannya. Lalu suara kecil itu, nyaris berbisik, menyebut namaku, "Naya," dan aku tersentak bangun sepenuhnya. Kendi itu menjagaku, sama seperti aku menjaga Laras. Aku mengangguk padanya, berterima kasih dalam diam, dan menegakkan punggungku lagi. Malam ini, penjaga pun dijaga.
Giliran kedua datang lebih kuat, sekitar lewat tengah malam. Kali ini Laras tidak hanya bersenandung, ia menyanyikan bait itu dengan suara yang lebih jelas, hampir seperti berbicara, dan aku bisa merasakan bait itu sedang berjalan menuju ujungnya, menuju kata itu, kata yang tak boleh diucapkan sembarangan. Jantungku berdegup begitu keras sampai aku takut Laras bisa mendengarnya dalam mimpi.
Aku menyanyi lebih keras, dan aku menggenggam tangannya. Ajaibnya, Laras menggenggam balik, dalam tidur, kuat dan percaya, seperti ia tahu ada seseorang di sini yang tidak akan membiarkannya berjalan sendirian ke ujung bait itu. Suaranya melambat, tersendat, lalu beralih, bait demi bait, ke lagu selesai itu. Ia menyelesaikannya sampai habis, masih dalam tidur, dengan suara kecil yang jernih, dan setelah baris terakhir, ia mengembuskan napas panjang seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban berat.
Di luar, Danan mengetuk kusen pintu sekali, pelan, isyarat bahwa di luar pun tenang. Aku membalas dengan ketukan yang sama.
Menjelang fajar, ketika langit mulai pucat dan suara kendi mulai melembut karena lelah, Laras mengigau lagi. Tapi kali ini bukan nyanyian. Kali ini kata-kata, terputus-putus, seperti seseorang yang sedang menjawab pertanyaan dalam mimpi.
"Dia bertanya..." gumam Laras, matanya tetap tertutup. "Dia bertanya siapa yang menyanyi untuknya..."
Aku membeku. Kendi berhenti seketika, cahayanya berkedip cemas.
Laras melanjutkan, suaranya kecil tapi jelas, "Aku bilang... aku yang menyanyi... kalau aku menyanyi sampai habis, dia akan bangun dan..."
Aku tidak menunggu kalimat itu selesai. Dengan lembut tapi cepat, aku menggoyang bahunya dan memanggil namanya. "Laras. Laras, bangun sebentar, sayang."
Laras membuka mata, bingung, menatapku dan kendi itu bergantian. "Kak Naya? Kenapa tanganku dipegang?"
"Karena kamu mimpi," kataku, berusaha membuat suaraku terdengar ringan. "Mimpi yang agak ramai. Tidak apa-apa. Kamu sudah bangun sekarang."
Laras mengangguk, menguap, lalu duduk dan menggosok matanya. Dan kemudian, dengan santainya seperti anak yang bersenandung sambil menunggu sarapan, ia menyenandungkan sebuah melodi baru. Bukan bait yang tak selesai itu. Bukan lagu selesai itu. Sebuah melodi yang belum pernah diajarkan siapa pun di bukit ini, dengan nada-nada yang naik dan turun seperti seseorang yang sedang membuka sesuatu.
Aku menatap kendi itu. Cahayanya meredup, bukan karena takut, melainkan karena sedang mendengarkan dengan saksama. Dan di luar pintu, aku mendengar Danan berdiri, karena langkahnya yang biasanya tenang tiba-tiba berhenti total.
Laras tersenyum padaku, tidak tahu apa-apa. "Lagu itu enak, Kak. Yang di bawah tadi yang mengajariku."
Aku membalas senyumnya, karena itulah yang harus dilakukan di depan anak yang baru bangun, tapi di dalam dadaku ada sesuatu yang mengencang seperti simpul. Semalam kami berhasil menjaga bait yang tak selesai itu agar tidak selesai. Tapi sementara kami sibuk menjaga satu lagu, lagu lain masuk lewat jalan yang tidak kami jaga: lewat mimpi yang kami kira sudah aman karena kami menyanyikannya dengan lagu selesai itu. Yang tidur itu tidak menyerang penjagaan kami. Ia berjalan memutarinya, dengan sabar, seperti air yang menemukan celah di bendungan.
Dari ambang pintu, Danan muncul, wajahnya tegang karena ia pasti mendengar kalimat Laras dari luar. Aku menggeleng sangat pelan padanya, isyarat agar ia tidak menunjukkan apa-apa di depan Laras. Danan mengerti, dan ia berjongkok di dekat kami dengan senyum yang dibuat-buat, mengajak Laras sarapan. Sementara itu, kendi di samping bantal itu meredup sampai nyaris padam, seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang tidak berani ia ucapkan dengan suara keras.