Pintu yang Bergeser
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,744 kata
Suara Laras itu berhenti tepat pada nada terakhir, dan keheningan yang mengikutinya terasa lebih berat daripada suara apa pun yang pernah kudengar di bukit ini.
Aku berdiri di halaman dengan kendi tergenggam erat, dan untuk sesaat aku tidak bisa membedakan mana yang bergetar lebih keras: tanganku, atau tanah di bawah kakiku. Bunyi itu masih tertinggal di telingaku, bunyi pelan dan dalam dari sesuatu yang bergeser setelah lama tidak bergerak. Bukan bunyi kayu yang patah, bukan bunyi batu yang jatuh. Bunyi itu seperti napas panjang yang dilepas seseorang setelah menahannya bertahun-tahun.
Danan sudah sampai di ambang pintu rumah lebih dulu dariku. Ia tidak berteriak, tidak memanggil nama Laras dengan panik. Ia hanya berdiri di sana, satu tangan menahan kusen, dan menatap ke dalam dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya: bukan marah, bukan takut, melainkan wajah seseorang yang sedang menyaksikan sesuatu yang ia harap tidak akan pernah terjadi.
Aku menyusulnya dan berhenti di sampingnya. Di dalam rumah, Laras duduk di atas tikarnya, masih dengan posisi yang sama seperti saat ia menyanyi tadi. Selimutnya terlipat rapi di pangkuannya. Rambutnya sedikit berantakan. Ia menatap kami dengan mata bulat yang polos, seolah ia baru saja selesai menyanyikan lagu anak-anak yang biasa, bukan bait yang membuat tanah di bawah bukit bergeser.
"Kak Naya," katanya, "kenapa Kak Danan larinya cepat sekali? Ada yang jatuh?"
Sela muncul dari dapur dengan sendok kayu masih di tangannya. Ia menatap Laras, lalu menatap kami berdua di ambang pintu, lalu menatap lantai rumah. "Aku mendengarnya dari dapur," katanya pelan. "Bunyi itu. Seperti ada yang menggeser lemari besar di bawah lantai."
"Tidak ada lemari di bawah lantai," kata Danan, suaranya datar dan terkendali, tapi aku bisa mendengar ketegangan di baliknya. "Yang ada di bawah lantai kita adalah tanah. Dan yang di bawah tanah itu adalah bukit. Dan yang di bawah bukit itu adalah pintu."
Laras menoleh ke arah lantai, lalu mengetuknya dua kali dengan telapak tangannya, seperti anak yang mengetuk pintu untuk melihat apakah ada yang menjawab. "Pintunya bunyi ya, Kak?" tanyanya dengan riang. "Tadi waktu aku nyanyi, lantainya ikut bunyi. Kayak lantainya senang."
Aku merasakan tengkukku merinding. Sela langsung berjongkok di samping Laras dan memeluknya dari belakang, lembut tapi tegas, seperti ingin memastikan anak itu tetap di tempatnya, tetap di atas, tetap di sini. "Lantainya tidak senang, sayang," kata Sela, suaranya dibuat seringan mungkin. "Lantainya cuma kaget, karena lagumu bagus sekali."
Danan masuk ke dalam rumah dan berjongkok di dekat lantai, menempelkan telapak tangannya ke papan kayu. Ia diam lama, matanya terpejam, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang hanya bisa didengar lewat telapak tangan. Ketika ia membuka mata lagi, ia menatapku dan menggeleng pelan.
"Hangat," katanya. "Lantai di sini hangat. Padahal malam sudah turun dan udara di luar dingin. Panasnya naik dari bawah, Naya. Bukan dari perapian. Dari bawah."
Aku ikut berjongkok dan menyentuh lantai. Ia benar. Papan kayunya hangat seperti baru dijemur matahari, dan hangat itu tidak merata: ada garisnya, lurus dan panjang, membelah lantai dari arah pintu depan menuju ke arah tikar Laras, seolah sesuatu di bawah sana sedang menggambar garis dengan ujung jarinya yang panas.
Kendi di genggamanku berbisik, sangat pelan, nyaris hanya getar di telapak tanganku. "Ia sudah sampai sedekat ini, Naya. Garis hangat itu adalah bayangan pintu. Pintu itu tidak lagi di bawah bukit yang jauh. Ia sedang naik."
Aku tidak mengulang kata-kata kendi itu dengan suara keras. Laras ada di ruangan yang sama, dan ia tidak boleh mendengar ketakutan kami dalam bentuk kalimat yang utuh. Aku hanya menatap Danan dan Sela bergantian, berharap mereka mengerti dari mataku saja: keadaan sudah berubah, dan kita tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ini masih sekadar lagu.
Danan mengerti. Ia berdiri dan mengajakku keluar ke halaman dengan isyarat kepala, sementara Sela tetap di dalam bersama Laras, mengajaknya bermain tebak-tebakan supaya ia tidak mengikuti kami. Begitu kami di luar dan cukup jauh dari jendela, Danan akhirnya berbicara dengan suara yang selama ini ia tahan.
"Kita harus mengunci Laras di dalam rumah," katanya. "Bukan mengurungnya seperti tahanan, tapi menjauhkan suaranya dari tanah. Kalau ia menyanyi lagi, kalau bait itu selesai lagi, pintu itu akan bergeser lagi. Dan aku tidak tahu berapa kali lagi ia bisa bergeser sebelum ia terbuka."
"Kita tidak bisa mengunci suara anak kecil," jawabku. "Ia menyanyi dalam tidur, Danan. Ia menyanyi tanpa sadar. Bahkan kalau kita menutup mulutnya, lagu itu tetap ada di kepalanya. Dan yang di bawah sana tidak mendengarkan mulut Laras. Ia mendengarkan lagu di dalam kepalanya."
Danan mengepalkan tangannya dan menatap tanah, frustrasi. Ia bukan orang yang suka merasa tidak berdaya, dan malam ini bukit memberinya pelajaran itu berulang-ulang. "Lalu apa yang bisa kita lakukan? Duduk dan menunggu pintu itu terbuka sendiri?"
"Tidak," kataku. "Kita panggil tetua tertua dan penjaga pintu. Malam ini juga. Kita harus tahu seberapa jauh pintu itu sudah bergeser, dan apa yang terjadi kalau ia bergeser sekali lagi."
Sela keluar dari rumah dan bergabung dengan kami, wajahnya pucat tapi tenang. "Laras sudah tidur lagi," katanya. "Aku menyanyikan lagu selesai itu sampai ia terlelap. Tapi Naya, sebelum ia tidur, ia bilang sesuatu."
"Apa?" tanyaku.
"Ia bilang, lagunya enak dinyanyikan sampai habis. Dan ia bilang, waktu ia menyanyi tadi, ia merasa seperti ada yang menyanyi bersamanya dari bawah. Bukan menirukan. Menyanyi bersama. Seperti duet."
Kata duet itu membuat Danan menutup mata sejenak. Aku tahu apa yang ia pikirkan, karena aku memikirkan hal yang sama: lagu pintu yang dinyanyikan dua suara lebih cepat selesai daripada lagu yang dinyanyikan satu suara. Dan malam ini, Laras dan yang tidur di bawah bukit sudah berduet sampai bait itu habis.
Tetua tertua dan penjaga pintu datang tidak lama kemudian, dipanggil oleh Wulan yang berlari ke rumah mereka. Tetua tertua berjalan pelan, tongkatnya mengetuk tanah dengan irama yang tenang, seolah ia sengaja mengetuk dengan irama yang berbeda dari ketukan yang datang dari bawah. Penjaga pintu datang dengan membawa lentera, dan cahayanya yang kuning membuat bayangan kami jatuh panjang-panjang di halaman.
Mereka masuk ke dalam rumah, dan penjaga pintu langsung berjongkok di lantai yang hangat itu, sama seperti Danan tadi. Ia menempelkan telapak tangannya, lalu telinganya, ke papan kayu, dan mendengarkan lama sekali. Ketika ia bangkit, wajahnya lebih serius daripada yang pernah kulihat.
"Engselnya sudah bergerak," katanya. "Bukan pintunya. Pintunya masih tertutup. Tapi engselnya, bingkainya, sudah bergeser dari tempatnya. Seperti pintu yang sudah lama tidak dibuka, lalu seseorang dari dalam mendorongnya pelan, hanya untuk memastikan bahwa ia masih bisa bergerak."
"Berapa kali lagi?" tanya Danan. "Berapa kali lagi bait itu harus selesai sebelum pintunya terbuka?"
Penjaga pintu menggeleng. "Tidak ada yang tahu hitungannya, Danan. Pintu seperti ini tidak dihitung dengan jumlah. Ia dihitung dengan suara. Selama suaranya hanya satu, ia lambat. Begitu suaranya jadi dua, ia cepat. Dan malam ini, suaranya sudah dua."
Tetua tertua, yang selama ini diam, akhirnya duduk di dekat tikar Laras dan menatap anak yang sedang tidur itu dengan pandangan yang dalam dan sedih. "Anak ini tidak bersalah," katanya pelan. "Ia hanya menyanyikan lagu yang diajarkan kepadanya. Yang bersalah adalah kita, yang membiarkan lagu itu sampai ke telinganya tanpa tahu dari mana asalnya. Sekarang lagu itu sudah menjadi miliknya, dan kita tidak bisa mengambilnya kembali dengan melarang."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" tanya Sela, suaranya hampir berbisik.
Tetua tertua menatapku, bukan menatap Sela, dan aku merasakan beban tatapan itu seperti beban kendi di tanganku. "Pewaris," katanya. "Naya, kau adalah pewaris. Lagu yang dinyanyikan di atas bukit ini selalu menjadi tanggung jawab pewaris. Kalau ada lagu yang salah, pewarislah yang harus memperbaikinya. Kalau ada suara yang dipanggil, pewarislah yang harus menjawab panggilan itu sebelum suara lain menjawabnya."
Aku menelan ludah. "Apa maksudnya, Tetua?"
"Maksudnya," katanya, "pintu itu memanggil Laras karena Laras adalah suara yang paling dekat dengannya sekarang. Tapi panggilan itu sebenarnya bukan untuk Laras. Panggilan itu untuk penjaga bukit ini. Untukmu. Laras hanya menjadi jalannya karena suaramu belum menjawab."
Kendi di tanganku menghangat sedikit, seperti membenarkan kata-kata tetua itu. Aku menatap Laras yang tidur dengan tenang, wajahnya damai, tidak tahu bahwa lagu yang ia nyanyikan dengan riang tadi telah menggeser sesuatu yang sangat besar di bawah kaki kami. Aku menatap Danan, yang menatapku balik dengan campuran khawatir dan percaya. Aku menatap Sela, yang mengangguk pelan, seolah berkata bahwa apa pun yang kuputuskan, ia akan berada di sampingku.
Di luar rumah, malam semakin pekat. Dari bawah bukit, tidak ada ketukan, tidak ada nyanyian. Hanya hening, hening yang terasa seperti seseorang yang sedang menunggu jawaban dengan sabar. Dan di dalam hening itu, aku mendengar sesuatu yang baru: bukan suara dari bawah, bukan suara kendi, melainkan suara Laras dalam tidurnya, sangat pelan, menyanyikan satu baris dari bait tentang pintu itu, lalu berhenti, seolah ia sedang menguji apakah ada yang mendengarkan.
Ada. Aku mendengarkan. Dan aku tahu, mulai malam ini, aku tidak bisa lagi hanya menjaga tidur Laras. Aku harus menjawab panggilan itu sendiri, sebelum Laras menjawabnya lagi dalam mimpi.
Tetua tertua bangkit dan berjalan ke pintu, lalu berhenti dan menoleh padaku. "Besok pagi, sebelum matahari naik, datanglah ke rumahku, Naya," katanya. "Ada cerita tentang lagu itu yang harus kau dengar. Cerita yang selama ini tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun, karena aku pikir lagu itu sudah mati bersama orang yang menyanyikannya. Ternyata aku salah. Lagu itu tidak mati. Ia hanya menunggu seseorang yang mau mengingatnya."
Ia pergi, dan penjaga pintu mengikutinya dengan lenteranya. Wulan tinggal sebentar, menyentuh bahuku, lalu pulang. Danan memilih berjaga di luar rumah malam ini, di beranda, supaya kalau Laras menyanyi lagi dalam tidur, ada yang langsung mendengarnya. Sela tidur di samping Laras, dengan kendi diletakkan di antara mereka, supaya suara kecil di dalamnya bisa menjaga mereka berdua.
Aku duduk di ambang pintu, di antara Danan di luar dan Laras di dalam, dan aku tidak tidur malam itu. Aku mendengarkan. Dan di tengah malam, ketika semua suara sudah sunyi, aku mendengarnya lagi: bunyi yang sama, pelan dan dalam, dari bawah lantai, seperti bingkai pintu yang bergeser sedikit lagi di kusennya, hanya selebar jari, hanya cukup untuk membiarkan seberkas udara dingin naik ke atas dan menyentuh kakiku.
Pintu itu belum terbuka. Tapi ia sedang belajar bagaimana caranya terbuka. Dan gurunya adalah lagu yang dinyanyikan seorang anak kecil yang tidak tahu apa yang ia nyanyikan.