Ia Menyebut Namaku
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,306 kata
Aku tidak menjawab.
Aku menggigit bibirku sampai berdarah β rasa besi memenuhi mulutku β dan aku terus turun. Satu pijakan. Satu pijakan lagi. Tangan Danan tidak lepas dari bahuku.
Suara itu masih memanggil dari bawah β "Naya... Naya..." β semakin lama semakin seperti lagu. Seperti lagu Wulan. Seperti lagu yang disuruh Wulan kunyanyikan. Pikiran itu membuatku mual: apakah lagu nina bobok masa kecilku β selama ini β adalah suaranya?
"Jangan dengarkan kata-katanya," bisik Danan di atasku. Suaranya serak β ia juga mendengarnya, dan ia juga merasakannya: tarikan hangat di dada, keinginan untuk menyahut. "Dengarkan nadanya saja. Ingat aturannya."
Dengar boleh. Menjawab jangan.
Aku memaksa kakiku bergerak. Lentera perunggu bergoyang di pinggangku, apinya menari-nari tapi tidak padam β api yang tidak bisa padam oleh napas bawah tanah, kata Wulan. Aku berharap ia benar. Napas yang naik dari bawah ini terasa seperti napas sesuatu yang hidup.
Dan kemudian β kakiku menyentuh sesuatu yang bukan dinding sumur.
Lantai. Kasar. Dingin.
"Kaki," bisikku. "Aku sampai."
Danan turun menyusulku, mendarat pelan di sampingku. Hal pertama yang ia lakukan β bahkan sebelum melihat sekeliling β adalah memeriksa wajahku, menghapus darah dari bibirku dengan ibu jarinya. "Masih utuh?" bisiknya.
"Untuk sekarang," kataku. Dan aku mengangkat lentera.
Cahaya melebar β dan napasku tercekat.
Ruang bawah tanah itu luas β jauh lebih luas dari rumah di atasnya, seluas lapangan. Langit-langitnya tidak terlihat; yang terlihat hanya akar-akar pohon kamboja yang menjuntai dari kegelapan di atas seperti urat-urat raksasa, beberapa sebesar pahaku, berdenyut pelan seolah mengalirkan sesuatu. Dinding-dinding tanah berkilat basah. Tetesan air jatuh dari ketinggian dengan bunyi yang menggema terlalu lama. Bau perunggu tua memenuhi udara β tebal, manis, seperti darah yang didiamkan lama.
Dan di tengah ruangan itu β ia.
Lonceng pertama.
Ia besar β sebesar rumah kecil. Perunggunya hitam oleh usia, ditumbuhi lumut tebal dan sesuatu yang berkilau seperti garam di sela-selanya. Ia tidak digantung β ia duduk di tanah, seperti binatang besar yang beristirahat. Mulutnya yang lebar menganga gelap, dan dari kegelapan itu keluar hawa hangat yang berdenyut β seirama dengan denting yang tadi berhenti.
Aku melangkah mendekat. Lentera terangkat. Dan aku tersentak mundur.
Seluruh permukaannya penuh goresan.
Bukan ukiran. Bukan hiasan.
Tulisan. Nama-nama. Ribuan nama, digoreskan ke perunggu dengan tangan-tangan yang berbeda, dalam bahasa-bahasa yang berbeda, dari zaman yang berbeda. Ada aksara yang kukenal, ada yang tidak β ada yang terlihat seperti cakar, ada yang seperti air. Mereka tumpang tindih, saling menimpa, memenuhi setiap jengkal permukaan lonceng itu sampai tidak ada lagi perunggu yang terlihat β hanya nama, nama, nama.
Danan menyentuh satu goresan β lalu menarik tangannya cepat. "Hangat," bisiknya, ngeri. "Mereka... hangat."
Aku mengulurkan tangan β ragu β dan menyentuh satu nama yang digores dengan aksara tua.
Dunia miring.
Sekejap β bukan penglihatan, melainkan ingatan yang bukan milikku: tangan seorang perempuan tua, gemetar, menggoreskan nama ke perunggu dengan paku. Bibirnya bergerak β memberi nama. Harapan di matanya. Lalu kegelapan menelannya β dan harapan itu menjadi goresan hangat berikutnya.
Aku menarik tanganku seperti tersengat. Napasku memburu. "Setiap nama yang pernah diberikan padanya," kataku β suaraku terdengar jauh di telingaku sendiri. "Ada di sana. Selama ratusan tahun, orang-orang mencoba menamainya. Seperti yang kulakukan pada tujuh saudaranya."
"Dan semuanya..."
"Dimakan." Aku menatap lautan nama itu, tanganku masih bergetar oleh ingatan perempuan tua itu. "Ia memakan setiap nama yang diberikan padanya. Setiap pemberi nama. Lalu menunggu yang berikutnya."
Lonceng itu bergetar β pelan. Bukan denting. Getaran seperti binatang yang mendengkur dalam tidur, menyadari ada mangsa di dekatnya. Hawa hangat dari mulutnya menguat, menyentuh wajahku.
Wulan benar. Ini induknya. Tujuh yang kuberi nama adalah anak-anaknya β dan aku baru saja memahami, dengan ngeri yang dingin, mengapa menamainya seperti tujuh saudaranya tidak akan membebaskannya.
Sesuatu yang bernama menyanyikan lagunya sendiri β itu benar untuk anak-anaknya. Tapi ini ibunya. Menamainya bukan mengeluarkannya dari paduan. Menamainya adalah memberinya tongkat konduktor β dan dua belas nada akan tunduk pada satu aba-aba.
Dan bebannya β aku akhirnya mengerti, menatap kegelapan di mulutnya yang menganga β beban tertua dari dua belas itu. Bukan takut. Bukan duka. Bukan haus, bukan kesepian, bukan rindu, bukan doa yang tak terjawab.
Beban tertua adalah lapar itu sendiri. Lapar yang membuat Dewan pertama kali menempa wadah β karena bahkan Dewan pun takut menyimpan lapar itu di dalam diri mereka sendiri. Lapar yang tidak pernah kenyang β yang memakan nama demi nama, pemberi nama demi pemberi nama, selama ratusan tahun, dan tetap bangun kelaparan malam ini.
Dari atas β jauh, melalui tenggorokan sumur β terdengar sesuatu. Samar. Tapi kukenal.
Te-ng.
DIDENGAR. Dari arah bukit. Bergetar β goyah β seperti seseorang yang dipanggil namanya dari jauh dan mulai menoleh. Nada yang kemarin sore kuberikan tugas itu kini terdengar ragu, seperti anak yang mendengar ibunya memanggil dari seberang sungai.
"Ia memanggil mereka pulang," bisik Danan. Jaring emas di tangannya menegang β ia merasakannya juga, tarikan pada tenunannya. "Naya. Kita kehabisan waktu."
Aku melangkah maju β mendekati mulut lonceng yang menganga. Hawa hangat menerpa wajahku, berbau perunggu dan... sesuatu yang lain. Sesuatu yang manis dan sedih. Seperti dapur Ibu. Seperti tawa Sela yang pecah saat hujan. Seperti lagu Wulan.
Ia sedang mengingat rumah di atasnya. Mengingat makanannya yang tertunda tiga generasi β setiap masakan gosong, setiap pertengkaran kecil, setiap tawa. Ia mengingat semuanya. Dan ia lapar.
"Tunggu," kata Danan β tangannya mencengkeram lenganku. "Apa rencanamu? Kau tidak bisa menamainya seperti yang lain. Kau sendiri yang bilang β ia akan memakannya. Dan sentuhanmu tadi β kau lihat apa yang terjadi pada mereka yang mencoba."
"Aku tahu." Tanganku gemetar. "Tapi Nenek Buyut menguburnya di sini. Ia pasti meninggalkan cara. Tidak mungkin ia hanya mengubur dan berharap. Ia penjaga β penjaga tidak meninggalkan jebakan tanpa kunci."
Dan kemudian β seperti jawaban atas doa yang tidak kuucapkan β lagu itu kembali padaku.
Bukan dari lonceng. Dari dalam kepalaku. Senandung Wulan di beranda tadi β lagu nina bobok masa kecilku β bait-baitnya menyusun diri seperti benang yang ditenun. Aku melihat diriku kecil, di pangkuan Wulan, dan aku mendengar suaranya yang muda dulu:
Tidurlah, tidurlah, anakku sayang...
Aku ingat sekarang. Aku ingat semuanya. Setiap anak di rumah ini ditidurkan dengan lagu itu β dan di setiap bait terakhir, sebelum kata tidur yang terakhir, ada satu kata. Satu kata yang berbeda dari lagu nina bobok mana pun. Satu kata yang aneh, yang tidak ada artinya dalam bahasa apa pun yang kukenal. Waktu kecil aku pernah bertanya pada Wulan apa artinya, dan ia hanya tersenyum dan berkata: "Itu kata untuk yang menjaga malammu."
Kata itu β nama itu β adalah nama yang diberikan Nenek Buyut pada lonceng pertama. Ia tidak menggoreskannya ke perunggu seperti para pemberi nama yang dimakan itu. Ia menyembunyikannya di dalam lagu β karena nama yang disembunyikan dalam lagu tidak bisa dicuri. Tidak oleh Dewan. Tidak oleh siapa pun. Hanya bisa diingat β oleh darah yang menyanyikannya, dari generasi ke generasi, tanpa pernah tahu apa yang mereka bawa.
"Naya." Danan mengguncang bahuku. "Naya, napasmuβ"
Aku tidak sadar aku menahan napas. Aku menghembuskannya β panjang β dan aku mulai bernyanyi.
Pelan. Gemetar. Bait demi bait lagu nina bobok itu mengalir dari mulutku β suaraku memantul di dinding-dinding tanah, turun ke kegelapan, menyentuh perunggu hitam itu. Dan lonceng pertama itu mendengarkan. Getar dengkurannya berubah β melambat. Permukaan penuh namanya itu β ribuan goresan hangat itu β mulai bergerak. Menggeliat. Seperti kulit yang gatal, seperti sesuatu di bawahnya yang terusik.
Aku terus bernyanyi. Bait kedua. Bait ketiga. Hawa hangat dari mulutnya berhembus lebih keras β tapi bukan marah. Seperti... mengenali. Seperti binatang lapar yang mencium bau masakan dari masa kecilnya.
Aku sampai di bait terakhir. Jantungku berdebar begitu keras hingga aku yakin Danan bisa mendengarnya. Kata itu β nama itu β sudah di ujung lidahku. Tinggal satu suku kata. Tinggal satu napas. Setelah ini, ia akan diam. Aku tahu. Aku tahu.
Tapi sebelum suaraku sempat mengucapkannya β
β lonceng pertama itu berbicara lebih dulu.
Dengan suaraku sendiri β persis suaraku, nada yang kupakai saat bernyanyi tadi β ia menyebut namaku:
"Naya."
Dan di permukaannya β di antara ribuan nama yang dimakan β muncul goresan baru.
Masih basah. Masih hangat.
Namaku.