Nama di Lonceng Perak
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,320 kata
Aku tidak menunjukkan fragmen lonceng itu pada Ibu.
Aku menggenggamnya erat-erat β begitu erat hingga ujungnya yang tajam melukai telapak tanganku β dan aku menyelipkannya ke dalam lipatan bajuku sebelum Raras sempat melihat. Danan melihatku melakukannya. Ia tidak protes. Prajurit itu mengerti: ada beban yang tidak perlu dipikul semua orang malam ini.
Tapi Sela melihat. Anak delapan tahun selalu melihat.
"Apa itu?" bisiknya β pelan, agar ibuku tidak dengar. Ibuku masih duduk di tepi jaring, mengikat simpul-simpul kecilnya yang hangat β tidak menyadari badai yang baru saja jatuh ke pangkuanku.
Aku menunjukkan fragmen itu padanya β sekilas. Ia membaca namanya. Matanya membesar.
"Itu nama ibumu," bisiknya. Bukan pertanyaan.
"Jangan bilang Ibu," kataku.
Sela mengangguk β sungguh-sungguh, seperti penjaga kecil yang diberi misi. "Aku pandai menyimpan rahasia," katanya. "Aku menyimpan rahasia tentang kue Ibu selama tiga hari."
Itu hampir membuatku tersenyum. Hampir.
Aku berjalan ke tepi taman β ke tempat gelap berkumpul paling pekat. "Nini."
Suara kain tua β lelah. "Aku tahu kau akan datang, anak penjaga."
"Apa artinya ini?" Aku membuka genggamanku β fragmen lonceng berkilau samar dalam gelap. "Kenapa nama ibuku ada di lonceng mereka?"
Hening. Lama. Begitu lama hingga aku mengira Nini pergi β seperti malam pertama aku memanggilnya.
Lalu: "Setiap benang yang masuk gudang β diberi lonceng. Nama pemiliknya β diukir. Supaya β" jeda, "β supaya mereka tidak lupa siapa yang mereka curi. Dewan sangat rapi soal pencatatan."
Perutku mual. "Jadi benang emas ibuku β"
"Pernah digantung di gudang. Ya." Suara Nini β pelan, hampir tidak terdengar. "Aku yang mengukir namanya, anak penjaga. Tangan inilah β" dan untuk pertama kalinya, dari kegelapan, muncul β tangan. Tua. Keriput. Hitam-perak seperti benang-benangnya. "β yang mengukir 'Raras' di lonceng itu."
Aku menatap tangan itu. Tangan yang menenun benang curian. Tangan yang mengukir nama ibuku di lonceng panen.
"Aku membencimu," kataku. Jujur. Tidak ada gunanya berbohong di depan kegelapan.
"Aku tahu," kata Nini. "Aku juga membenci tanganku sendiri. Setiap hari selama seribu tahun."
"Kenapa kau memberitahuku sekarang?"
"Karena kau perlu tahu apa yang dipertaruhkan." Tangan itu menghilang kembali ke gelap. "Dewan tidak memegang benang ibumu sebagai taruhan, anak penjaga. Mereka memegang ibumu. Lonceng itu β" jeda, "β lonceng itu berarti mereka tidak pernah melepaskannya. Benang yang kau 'ambil kembali' β mereka meminjamkannya padamu. Supaya kau punya sesuatu untuk dipertaruhkan."
Dingin merambat dari telapak tanganku β dari tempat fragmen lonceng itu melukaiku β naik ke lengan, ke dada, ke tenggorokan.
"Jadi sejak awal β"
"Sejak awal, taruhannya bukan benang." Suara Nini β lembut sekarang, seperti kain yang akhirnya robek dan tidak bisa diperbaiki lagi. "Taruhannya ibumu."
Aku berdiri di sana β di tepi gelap β dengan darah menetes dari telapak tanganku β dan aku merasa seperti benang yang ditarik dari dua arah. Satu tarikan: lari ke ibuku, peluk ia, jangan pernah lepas. Tarikan lain: lari ke langit, teriak ke retakan itu, batalkan semuanya.
Aku tidak melakukan keduanya.
Aku berjalan kembali ke tengah taman β pelan, seperti orang yang berjalan dalam mimpi. Danan melihat wajahku β dan ia langsung berdiri, jangkar setengah-peraknya terangkat.
"Naya?"
Aku tidak menjawabnya. Aku berjalan melewatinya. Melewati Sela yang menatapku cemas. Melewati ibuku β Raras β yang mendongak dari simpul-simpulnya dan tersenyum padaku β senyum yang tidak tahu bahwa namanya terukir di lonceng panen.
Aku berhenti di bawah retakan langit. Di bawah jaring raksasa yang berdenyut β emas dan perak, pilihanku dan pilihan mereka.
Aku mendongak.
"DENGARKAN AKU!" teriakku β suaraku pecah, serak, sama sekali tidak megah. Tapi retakan langit itu β bergetar. Mendengarkan.
"Kau bilang aku menawar dengan apa!" Aku mengangkat tanganku β pergelangan kosong, telapak berdarah. "Kau bilang benang ibuku sebagai taruhan! Tapi Nini bilang β" aku menatap gelap di tepi taman, "β Nini bilang kau tidak pernah melepaskannya! Jadi taruhan ini β dari awal β bohong!"
Hening dari langit. Hening yang β untuk pertama kalinya β terdengar seperti tertangkap basah.
"Kau mencuri pilihan karena kau takut memilih!" teriakku. Kata-kata itu keluar sebelum aku sempat menakutinya kembali. "Kau menggantung ribuan benang di gudangmu β kau mengukir nama-nama mereka di lonceng β tapi kau tidak pernah β TIDAK PERNAH β memilih apapun sendiri! Kau hanya menghitung! Menimbang! Menawar! Penenun yang takut menenun!"
Kunang-kunang benang berhenti berputar. Bunga-bunga simpul menahan napas. Di belakangku, aku mendengar Danan berbisik β "Naya, janganβ" β tapi aku tidak berhenti. Tidak bisa berhenti. Amarah ini β sudah terlalu lama ditahan β sejak gudang itu, sejak lonceng pertama, sejak aku mengerti bahwa cahaya bisa memilih untuk membakar.
"Maka aku menantangmu!" kataku β dan suaraku β aneh β tidak pecah lagi. Tegas. Seperti benang yang akhirnya menemukan simpulnya. "Bukan dengan benang. Bukan dengan taruhan. Dengan pilihan. SATU pilihan β darimu."
Tawa dari langit. Tapi tawa ini β berbeda. Tidak sedingin tadi. Ragu.
"Dewan tidak memilih, anak penjaga. Dewan menghitung."
"Maka hitung ini." Aku merentangkan tanganku β ke jaring di atas, ke desa-desa yang menyala emas, ke dua titik perak yang memilih menyerah. "Setiap titik emas di jaring ini β adalah pilihan yang TIDAK kau curi. Setiap desa yang memilih β adalah gudangmu yang bocor. Kau bisa memanen dua untuk setiap satu β tapi kau tidak bisa memanen yang sudah memilih. Dan mereka β" aku menunjuk ke bawah, ke taman, ke Sela yang mengangkat pergelangannya, ke ibuku yang mengikat simpulnya, ke Danan yang jangkarnya setengah perak tapi masih berdiri, "β mereka tidak akan berhenti memilih."
Aku menarik napas. "Jadi pilihlah. Sekarang. Di depan semua. Hentikan panen β karena kau MAU β atau lanjutkan β dan biarkan seluruh langit melihat bahwa Dewan yang agung β takut pada anak delapan tahun yang mengangkat pergelangannya."
Hening.
Hening yang paling panjang malam ini. Hujan perak yang menggantung β bergetar. Jaring β berdenyut. Bahkan garis-garis perak yang merambat β berhenti bergerak. Seolah seluruh langit menahan napas.
Lalu β
Dentang.
Satu dentang lonceng perak. Pelan. Ragu.
Tapi tidak ada tangan yang memukulnya.
Aku menatap sekeliling β Danan menggeleng β tidak ada yang menyentuh lonceng. Dentang itu datang β dari retakan langit. Dari dalam gelap.
Lonceng itu β berdentang sendiri.
"Nini," bisikku β suaraku tiba-tiba kecil. "Apa artinya β lonceng berdentang sendiri?"
Tidak ada jawaban dari sisi gelap. Bahkan Nini β menahan napas.
Dentang kedua. Lebih jelas. Dan β
Dari retakan langit β sesuatu turun.
Bukan benang perak. Bukan hujan. Bukan sungai.
Sosok.
Seorang perempuan tua β melayang turun perlahan, seperti daun yang jatuh β dengan benang-benang cahaya melilit tubuhnya. Rambutnya perak β bukan perak Dewan yang dingin, melainkan perak seperti benang Nini β hitam-perak, hangat dalam gelapnya. Tangannya β tua, keriput β dan di pergelangannya β
Benang emas.
Bukan benang ibuku. Benang lain β lebih tua, lebih tebal, berkilau seperti matahari pertama. Benang yang β aku mengenalinya, entah bagaimana, seperti mengenali lagu yang pernah dinyanyikan sebelum aku lahir.
Sosok itu mendarat β ringan, tanpa suara β di tengah taman. Bunga-bunga simpul membuka kelopaknya ke arahnya β seperti menyambut. Kunang-kunang benang berputar mengelilinginya β pelan, hormat.
Ia menatapku.
Dan ia memanggilku β dengan nama yang hanya ibuku yang tahu. Nama kecilku. Nama yang tidak pernah kutulis di manapun. Nama yang ibuku bisikkan waktu aku demam umur enam tahun dan ia mengira aku tidak mendengar.
"Nay."
Duniaku berhenti.
"Siapa β" suaraku tidak keluar. "Siapa kau?"
Perempuan tua itu tersenyum β senyum yang β seperti ibuku, tapi lebih tua. Lebih sedih. Lebih β jauh.
"Aku yang pertama memilih," katanya. "Sebelum Dewan ada. Sebelum gudang ada. Sebelum ada yang perlu dipanen." Ia mengangkat pergelangannya β benang emas tua itu berkilau. "Aku penenun gerbang langit. Dan kau β" ia menatapku β matanya β mataku β "β kau pewarisku."
Benang emas tua di pergelangannya berdenyut β pelan, hangat β dan pergelangan tanganku yang kosong menjawabnya dengan rasa nyeri yang aneh, seperti rindu pada sesuatu yang belum pernah kumiliki. Sela mencengkeram bajuku dari belakang. Danan mengangkat jangkarnya setengah β ragu antara hormat dan waspada.
Di belakangku, aku mendengar ibuku berbisik β satu kata, tercekat:
"Ibu?"
Fragmen lonceng di lipatan bajuku β terasa panas. Membara. Seperti baru keluar dari api.
Dan dari retakan langit di atas β suara Dewan β untuk pertama kalinya malam ini β terdengar β takut:
"Jangan dengarkan dia."