β€Ή
35. Pintu yang Paling Jauh

Pintu yang Paling Jauh

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,631 kata

Ilustrasi Pintu yang Paling Jauh

Pintu tidak menunggu untuk dibuka. Pintu menunggu untuk dipilih. Itu yang kudengar dari ketukan yang paling jauh β€” bukan suara kayu diketuk buku-buku jari, bukan suara cahaya diketuk cahaya, melainkan suara sebuah keputusan yang belum diambil, mengetuk-ngetuk dari dalam gelap selama entah berapa ratus tahun, menunggu seseorang cukup berani untuk menjawab: aku di sini.

Aku berdiri. Di belakangku, simpul jantung berdenyut hangat di bawah telapak tangan Nini; Ibu β€” Raras, ibuku yang kini nyata, yang hangat β€” menggenggam bahuku; Danan bersandar pada tongkat akarnya, bahunya masih menyala abu-abu di tempat bilah perak Arka menancap. "Aku ikut," kata Danan, melangkah maju.

"Tidak, Paman." Aku menatap lukanya. Cahaya abu-abu itu berdenyut β€” tetapi di tepinya, aku bisa melihatnya sekarang, ada sesuatu yang putih dan dingin merayap pelan, seperti embun beku di tepi daun talas pagi hari. "Kau menahan di sini. Itu tugas jangkar β€” yang kau pilih sendiri."

Danan tertawa kecil, lalu meringis menahan bahunya. "Kau menggunakan kata-kataku melawanku, Nak."

"Aku belajar dari yang terbaik." Aku berlutut β€” dan Ibu berjongkok di depanku, merapikan rambutku dengan jari-jari yang NYATA, yang hangat, yang bisa kurasakan menekan kulit kepalaku. Air mataku nyaris jatuh lagi. "Jangan lama-lama," bisiknya. "Aku baru belajar menjadi nyata. Jangan biarkan aku harus belajar menjadi berani sendirian."

"Aku janji." Nini menyentuh keningku dengan ujung benang emasnya β€” hangat, seperti kecupan. "Pilih dengan tanganmu, Nak," katanya, "bukan dengan takutmu."

Aku berjalan. Lorong itu panjang β€” lebih panjang dari yang kukira, atau mungkin ia memanjang karena aku berjalan sendirian. Di kiri kananku, pintu-pintu itu berderet dalam kegelapan yang lembut: masing-masing berdenyut dengan cahayanya sendiri, masing-masing mengetuk dengan iramanya sendiri. Tuk. Tuk. Tuk. Jeda. Tuk-tuk-tuk-tuk. Jeda panjang. Tuk... tuk.

Setiap ketukan seperti nama yang belum dipanggil. Seperti detak jantung yang menunggu dipanggil pulang. Aku berhenti di depan satu pintu β€” cahayanya kuning tua seperti sore hari sebelum hujan β€” dan tanganku terangkat sendiri, hampir menyentuh bingkainya. "Maaf," bisikku, menurunkannya kembali. "Tunggu giliranmu. Aku sudah berjanji pada yang paling jauh."

Pintu-pintu itu β€” aku bersumpah demi simpul jantung β€” mengetuk sedikit lebih pelan saat aku lewat, seperti anak-anak yang menahan napas supaya tidak membangunkan adiknya yang sedang tidur.

Dan kemudian β€” ujung lorong. Pintu yang paling jauh.

Ia kecil. Itu hal pertama yang membuat dadaku sesak. Pintu-pintu lain setinggi dua kali tubuhku; pintu ini hanya setinggi pinggangku. Anyamannya dari benang abu-abu dan emas yang dijalin begitu rapat dan rapi hingga tampak seperti kain tenun anak-anak β€” tenun yang dibuat dengan sabar oleh tangan-tangan kecil, dengan pola bunga-bunga simpul di sudut-sudutnya. Ketukannya pun kecil: tuk-tuk. Tuk-tuk. Cepat, tidak sabar β€” seperti anak kecil yang mengetuk pintu sambil melompat-lompat di tempat.

Aku berlutut. Lututku menyentuh lantai lorong yang hangat. Dan aku menjawab β€” pelan, supaya hanya ia yang mendengar: tuk. Tuk. Tuk.

Hening. Hening yang panjang β€” begitu panjang hingga aku mulai berpikir aku salah pintu, salah irama, salah segalanya, dan rasa malu mulai merayap naik ke tengkukku. Lalu: klik. Kecil. Seperti kunci yang akhirnya berputar di lubang yang tepat β€” suara yang sama kudengar waktu Nini mengikat dari sisi gelap.

Pintu itu terbuka β€” ke dalam.

Bukan ruangan di baliknya. Taman. Aku tidak punya kata lain yang lebih tepat. Tanahnya dari cahaya yang dianyam seperti tikar pandan; rerumputan dari ujung-ujung benang yang tumbuh melengkung ke atas, bergoyang tanpa angin; bunga-bunga dari simpul-simpul kecil yang mekar β€” merah muda, kuning, biru β€” masing-masing berdenyut pelan seperti jantung-jantung kecil yang tidur. Di tengahnya, kolam kecil berisi cahaya cair keemasan, permukaannya berkaca-kaca memantulkan sesuatu yang bukan langit. Kunang-kunang dari puntiran benang melayang-layang, meninggalkan jejak cahaya yang perlahan memudar seperti napas di udara dingin.

Dan di tengah taman itu β€” di depan alat tenun kecil dari ranting cahaya β€” duduk seorang anak perempuan. Mungkin delapan tahun. Rambutnya seperti benang emas yang kusut karena terlalu sering dipegang dan jarang disisir. Bajunya dari anyaman abu-abu sederhana. Kakinya telanjang, kotor oleh tanah cahaya.

Ia mendongak. Dan jantungku berhenti berdetak β€” karena matanya adalah mataku. Mata keluarga. Mata yang sama seperti mataku, seperti mata Nini, seperti mata Ibu yang kini nyata.

"Kau lama," katanya. Bukan menuduh. Hanya menyatakan β€” seperti anak kecil menyatakan hujan: kau lama, dan hujan turun, keduanya fakta yang sama beratnya, tidak perlu diperdebatkan.

"Aku β€”" Tenggorokanku kering seperti sumur di musim kemarau. "Aku baru tahu pintumu ada kemarin."

"Semua orang selalu baru tahu." Ia kembali menenun β€” jari-jarinya yang kecil bergerak cepat dan pasti di antara benang-benang, begitu terampil hingga aku malu pada tanganku sendiri. "Aku Sela."

"Naya."

"Aku tahu." Ia tersenyum kecil, tanpa mendongak. "Aku mendengar ketukanmu. Kau menjawab semua pintu dengan irama yang sama, tapi kau berjalan terus. Hanya pintuku yang kau jawab dua kali." Ia mendongak lagi, dan mata keluarga itu menatapku lurus-lurus. "Kenapa?"

Aku duduk di tanah cahaya di depannya β€” tanahnya hangat, seperti tikar yang dijemur seharian di halaman. "Karena ketukanmu β€” paling jauh. Dan paling β€”" aku mencari kata yang tepat di antara benang-benang pikiranku, "β€” paling tidak sabar. Seperti kau sudah menunggu terlalu lama untuk menunggu dengan sabar."

Sela tertawa β€” tawa kecil yang membuat kunang-kunang benang berputar lebih cepat, gembira. "Nini bilang hal yang sama. Nini β€” perempuan emas yang dulu lewat sini." Ia menunjuk benang di pergelangannya β€” tipis, redup, nyaris padam. "Mereka mengikat ini sebelum aku cukup besar untuk mengucapkan kata 'tidak'."

Dadaku mencelos seperti diiris sembilu dingin. "Siapa β€”"

"Dewan." Ia mengatakannya seperti anak kecil mengucapkan kata 'hujan' β€” fakta cuaca, bukan musuh. "Kata mereka, aku ini 'giliran yang ditunda'. Penjaga yang disiapkan. Supaya kalau pintu ini dibutuhkan β€” sudah ada yang terikat. Praktis, kan?"

"Berapa lama kau di sini?"

"Aku tidak menghitung." Jari-jarinya tidak berhenti menenun. "Menghitung membuat lama terasa lebih lama. Nini mengajariku itu β€” waktu ia lewat, sebelum ia terperangkap di balik robekan. Ia bilang: tenun saja. Selama tanganmu bergerak, kau bukan tawanan. Kau penenun."

Air mataku jatuh ke tanah cahaya β€” dan di mana ia jatuh, sekuntum simpul kecil mekar, merah muda, berdenyut pelan. Sela menatapnya, lalu menatapku dengan kepala dimiringkan. "Kau menangis seperti orang yang baru pertama kali melihat taman."

"Aku β€” ya." Aku menghapus air mata dengan punggung tangan, tertawa kecil yang patah. "Kenapa kau mengetuk, Sela? Selama ini? Setiap hari?"

Ia berhenti menenun. Untuk pertama kalinya sejak aku datang, tangan kecilnya diam di atas benang. "Supaya lorong ingat aku masih di sini," katanya pelan. "Kalau aku berhenti mengetuk β€” mereka akan bilang pintunya kosong. Dan pintu yang kosong β€”" ia menatapku dengan mata keluargaku yang tiba-tiba terlihat jauh lebih tua dari delapan tahun, "β€” boleh diambil."

Dingin merambat di tulang punggungku β€” dingin yang bukan berasal dari taman hangat ini. "Sela β€”"

"Tapi itu bukan alasan aku memintamu datang." Ia berdiri β€” kecil, tegak, debu cahaya jatuh dari bajunya β€” dan berjalan ke sebuah peti anyaman di tepi kolam. Dari dalamnya, ia mengambil sesuatu β€” segulung benang emas, kusut, redup, tetapi hangat ketika ia meletakkannya di telapak tanganku. Hangat seperti bara kecil. "Ini punyamu."

Aku menatap gulungan itu. Denyutnya β€” pelan, ragu-ragu β€” irama yang meleset. Iramaku. "Punyaku?"

"Kau menjatuhkannya." Sela duduk kembali, memeluk lututnya, dagunya bertumpu di sana. "Waktu kau tujuh tahun. Kau menangis di bawah pohon randu di desamu β€” pohon besar di dekat sumur tua, yang akarnya seperti jari-jari raksasa. Kau bilang β€”" suaranya berubah menjadi suara anak kecil, menirukan dengan tepat yang membuat bulu kudukku berdiri, "'aku tidak mau menjadi siapa-siapa.' Simpulmu lepas. Jatuh menembus dunia. Aku menangkapnya."

Ingatan itu menghantamku seperti air bah menghantam pintu bambu. Pohon randu. Akar-akarnya yang besar dan kasar. Aku tujuh tahun, lututku berdarah karena jatuh dari dahan rendah, dan Ibu β€” ibu desaku β€” berkata aku harus kuat karena aku anak pertama, dan aku menangis bukan karena lututku, melainkan karena untuk pertama kalinya aku mengerti dengan jelas: menjadi anak pertama berarti tidak boleh menjadi siapa-siapa selain yang dibutuhkan. Aku ingat melempar sesuatu β€” gelang benang yang kubuat sendiri sore itu β€” ke semak-semak. Aku ingat berteriak pada angin: "Aku tidak mau menjadi siapa-siapa!"

"Aku menyimpannya untukmu," kata Sela pelan, seolah mendengar ingatanku. "Aku tahu kau akan kembali mengambilnya. Penjaga selalu kembali β€” itu yang Nini bilang. Simpul yang hilang selalu mencari tangannya."

Tanganku bergetar saat aku menatap pergelanganku sendiri β€” simpul kecil pilihanku berdenyut di sana, emas dan hangat. Dan sekarang β€” sekarang aku melihatnya dengan jelas β€” ada celah di anyamannya. Lengkungan yang hilang. Yang tidak pernah kusadari hilang selama ini, seperti gigi tanggal yang lidahmu terus mencari-cari.

"Boleh aku β€”" Sela mengulurkan tangan kecilnya. Aku mengangguk, tidak bisa bicara. Jari-jari kecilnya β€” sepintar Nini, selembut Ibu β€” menguraikan ujung benang yang kusut itu dengan sabar dan menjahitnya kembali ke simpulku. Lilitan kecil. Rapi. Klik.

Hangat. Bukan hangat yang baru β€” hangat yang KEMBALI. Seperti teh jahe yang diminum setelah bertahun-tahun lupa rasanya. Seperti pulang ke rumah yang tidak kau tahu kau rindukan. Simpulku berdenyut β€” sekali, dalam β€” dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, iramanya tidak meleset. Ia UTUH. Sempurna. Milikku.

"Terima kasih," bisikku β€” dan aku memeluknya. Ia kecil dan hangat dan nyata di pelukanku, tulang-tulangnya tipis seperti ranting, dan ia memelukku balik dengan kekuatan anak kecil yang sudah lama sekali tidak dipeluk siapa pun.

Lalu β€” kepalanya menoleh tajam. Tubuh kecilnya menegang di pelukanku. "Naya," bisiknya. "Dengar."

Aku mendengar. Di belakangku β€” jauh di lorong β€” ketukan pintu-pintu itu β€” satu per satu β€” berhenti. Seperti lilin yang ditiup padam satu per satu. Tuk... hening. Tuk... hening. Hening.

Dan kemudian β€” suara baru. Tipis. Dingin. Kristalin. Seperti embun beku yang terbentuk di atas kaca β€” merambat, merambat, merambat dari mulut lorong ke arah kami.

Sela mencengkeram tanganku. Jari-jarinya yang tadi hangat β€” kini dingin seperti es. "Mereka datang," bisiknya. "Dewan."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!