Harga Sebuah Kejatuhan
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,290 kata
Malam itu aku tidak tidur. Tidak ada yang tidur di perbatasan β bahkan angin pun seperti menahan napas, takut membangunkan sesuatu di atas sana.
Aku duduk di tepi jahitan, memperbaiki robekan seukuran telapak tangan itu dengan tusukan-tusukan kecil. Setiap tusukan adalah kenangan yang kupinjam dari diriku sendiri: bau hujan di atap seng rumah kami, suara Ibu mendongeng tentang langit ganda, tawa ayah yang hampir tidak kuingat tetapi tetap kuhangat-hangatkan di dadaku. Jahitan sementara. Cukup kuat untuk tiga malam. Cukup jujur untuk tidak berbohong pada desa di bawah sana.
Di sebelahku, Danan duduk dengan tangan terbalut. Telapak tangannya β tangan yang merenggut jerat mati dari pergelanganku β menghitam di tempat perak itu menyentuhnya. Bukan luka bakar biasa. Tepinya berkilau keperakan, seperti embun beku yang menolak mencair. Perak Langit Atas tidak memaafkan yang jatuh.
"Sakit?" tanyaku, melilitkan benang emasku di sekeliling lukanya β lapis demi lapis, seperti Ibu membalut lututku dulu setiap kali aku jatuh dari pohon.
"Sudah biasa," katanya. Tetapi rahangnya mengeras setiap kali benangku menyentuh kulitnya, dan aku tahu ia berbohong.
"Sejak kapan?" Aku tidak mengangkat wajahku, terus melilit dengan hati-hati. "Sejak kapan kau berbohong padaku, Paman?"
Ia tertawa β pendek, getir. "Sejak kau lahir, mungkin. Kebohongan pertama: bahwa ayahmu mati karena demam."
Tanganku berhenti. "Apa?"
"Demam itu benar. Tetapi bukan demam biasa." Danan menatap langit β langit kami, yang utuh kembali kecuali satu robekan kecil yang sedang kujahit. "Ayahmu β kakakku β adalah penjaga gerbang, seperti aku. Saat dewan menandai bayi Raras sebagai kunci berikutnya β maaf, sebagai jahitan berikutnya β kakakku memprotes. Ia bicara terlalu keras di hadapan dewan." Ia mengepalkan tangan yang tidak terluka. "Mereka tidak membunuhnya. Mereka hanya... menarik sedikit cahayanya. Setiap hari, sedikit. Sampai tubuh manusianya tidak kuat lagi. Demam, kata tabib desa. Ya β demam yang tidak pernah turun."
Dadaku sesak seperti diikat benang. "Kau tidak pernah bilang."
"Karena Raras memintaku untuk tidak bilang. Ia bilang kau harus tumbuh tanpa membenci langit β karena suatu hari kau harus memilih tentang langit, dan kebencian adalah penasihat yang buruk." Ia menoleh padaku, dan matanya berkilau dalam gelap. "Ibumu selalu lebih bijak dari kami berdua."
"Lalu kau jatuh," kataku pelan. "Karena melindungiku."
"Aku memilih jatuh." Ia mengoreksi β lembut, tetapi tegas. "Ada bedanya, Naya. Saat dewan memutuskan bahwa putri Raras akan menjadi kunci berikutnya setelah ibunya β ya, setelah ibumu memberikan dirinya sebagai jahitan agar kau bisa tumbuh sedikit lebih lama β aku merobek bulu-bulu cahayaku sendiri dan turun. Tidak ada yang menjatuhkanku. Aku melompat."
Aku menatapnya β sayapnya yang meredup, yang bahkan dalam gelap malam ini tampak lebih tipis dari yang kuingat. "Kenapa dewan membiarkanmu?"
"Karena itu hukumannya." Senyumnya pahit seperti jamu. "Hukuman paling kejam bukan mematahkan sayapmu, Naya. Melainkan membiarkanmu tetap bisa melihat. Mereka membiarkanku menyimpan cukup cahaya untuk mengawasimu β tidak pernah cukup untuk menyelamatkanmu." Ia mengangkat tangan yang terbakar, yang kini terbalut benang emasku. "Setiap kali aku memakai cahayaku untukmu, kejatuhanku semakin dalam. Perak ini tidak akan sembuh. Tidak untuk yang jatuh."
Aku menyelesaikan balutan itu dengan simpul kecil β simpul yang biasa kubuat untuk menutup jahitan. Benang emasku berdenyut hangat di kulitnya yang dingin, dan untuk sesaat aku melihat sesuatu yang membuat dadaku nyeri: cahaya benangku merambat naik ke lengannya, mencari-cari sisa cahaya yang masih tersisa di tubuhnya β dan menemukan semakin sedikit. Seperti air yang dituang ke tanah retak.
"Terima kasih," bisikku. "Karena melompat."
Tangannya yang tidak terluka terangkat β ragu-ragu β lalu menyentuh pipiku. Sekilas. Hangat. Seperti kakak yang menenangkan adiknya, seperti sesuatu yang tidak berani kunamai dalam gelap malam ini. "Jangan panggil aku paman," katanya pelan, "saat kau menatapku seperti itu."
Jantungku berdetak sekali β terlalu keras β lalu aku menunduk kembali ke jahitanku, dan kami tidak membicarakannya lagi. Ada hal-hal yang lebih besar dari detak jantung. Malam ini, setidaknya.
"Kau tahu," suara Bima memecah keheningan β ia sudah bangun, duduk bersandar pada tiang cahaya perbatasan, wajahnya masih pucat tetapi matanya jernih. "Di atas sana, saat mereka menahanku β aku mendengar sesuatu."
Danan dan aku menoleh serentak.
"Dewan bicara dengan pamanmu." Bima memijat pergelangannya yang bebas jerat. "Suara mereka seperti genta retak. Mereka berkata: 'Kau berjanji kunci itu untuk tatanan, Arka.'" Ia menirukan gema itu dengan ngeri yang dibuat-buat, tetapi aku tahu ia tidak bercanda. "Dan pamanmu menjawab β dengan suaranya sendiri, tanpa gema: 'Dan tatanan berjanji adikku akan hidup.'"
Keheningan. Angin pun berhenti berembus.
"Pamanmu tidak memburu kunci untuk dewan, Naya," kata Bima pelan. "Ia memburu kunci untuk dirinya sendiri."
Aku memikirkan Arka β matanya yang mirip mata Ibu, genggamannya yang erat pada simpul Ibu. "Akan kusimpan," katanya tadi. "Seperti yang kuinginkan sejak dulu." Kata "simpan" itu kini terdengar berbeda di kepalaku. Orang menyimpan kenangan di dalam hati, bukan di dalam genggaman yang erat seperti takut direbut. Orang menggenggam erat-erat hanya pada dua hal: senjata, dan kunci.
Ia pernah memohon pada dewan agar ia yang menjadi jahitan, bukan Raras. Dewan menolak. Raras memohon lebih keras β dan dewan mengabulkan.
"Ia ingin menjadi penjaga," bisikku. "Atau ia ingin menukar..." Aku tidak menyelesaikan kalimatnya. Ada pikiran yang terlalu gelap untuk diucapkan dengan suara keras: bahwa simpul Ibu di tangannya bukan sekadar kenangan. Bahwa ia menyimpannya untuk suatu hari β untuk sebuah penukaran.
"Kita tidak akan menunggu tiga malam," kataku akhirnya, memutus benang jahitanku dengan gigi. "Menunggu adalah cara mereka. Kita akan..." Aku menatap robekan yang hampir selesai kujahit. "Aku akan memperbaiki ini sampai kuat. Tetapi aku akan menyisakan sesuatu di dalamnya. Pintu. Pintu kecil yang hanya terbuka untuk benangku."
Bima mengangguk pelan. "Aku tahu jalan di atas sana. Aku kabur sekali β aku bisa masuk lagi, asal ada yang memegang ujung benangnya."
"Tidak." Danan berdiri β terlalu cepat untuk seseorang yang terluka. "Kalian tidak akan naik ke sana. Itu bunuh diri."
"Diam adalah bunuh diri yang lebih pelan, Paman," kataku. "Tiga malam, dewan datang. Mereka tidak akan menawarkan pilihan seperti Arka."
Danan menatapku lama β begitu lama hingga aku hampir menyerah di bawah tatapannya. Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat darahku dingin: "Satu-satunya jalan naik tanpa memicu alarm gerbang adalah dengan sayap yang dikenali gerbang itu. Sayapku." Ia mengembangkan sayapnya β dan dalam cahaya benang emasku, aku melihatnya dengan jelas untuk pertama kalinya: sayap kirinya berlubang β bukan robek, melainkan kosong, seperti bagian langit yang digigit oleh sesuatu yang lapar. "Setiap kali aku terbang ke atas sejak jatuh, cahayaku terbakar sedikit. Sekali lagi aku membawamu ke atas, Naya β kejatuhanku akan selesai. Dan yang selesai tidak bisa kembali."
"Tidak." Kata itu keluar sebelum aku sempat berpikir. "Aku sudah kehilangan Ibu malam ini β selilitan terakhirnya habis untukku. Aku tidak akan kehilanganmu juga."
"Raras juga pernah berkata begitu." Suara Danan lembut seperti kabut. "Lalu ia tetap turun. Dan aku tetap jatuh."
Aku ingin membantah. Tetapi tidak ada bantahan yang tersedia β hanya kebenaran yang telanjang, berkilau seperti benang perak di bawah cahaya bulan ganda.
Malam merayap semakin dalam. Danan akhirnya tertidur dengan duduk β kelelahan seorang penjaga yang terlalu lama berjaga sendirian. Bima kembali terpejam, napasnya pelan. Aku sendirian dengan jahitan yang hampir selesai β dan dengan sesuatu yang berkilau redup di tanah perbatasan, beberapa langkah dariku.
Jerat perak yang mati. Abu-abu. Melingkar seperti ular yang tidur.
Aku mengambilnya. Dingin. Berat β lebih berat dari yang seharusnya untuk sehelai benang. Aku hampir melemparkannya jauh-jauh ke dalam gelap...
...tetapi ia bergerak. Sedikit. Di dalam keabu-abuan itu, ada denyut β sangat pelan, sangat dalam β seperti jantung yang hampir berhenti tetapi menolak untuk berhenti.
Seperti mengenali tanganku. Seperti menungguku menjahitnya kembali.