β€Ή
86. Jangan Mengajari Membuka

Jangan Mengajari Membuka

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,394 kata

Ilustrasi Jangan Mengajari Membuka

Aku tidak menjawabnya.

Kalimat itu, "Sekarang ajari aku membuka", masih menggantung di udara siang yang terang, dan aku membiarkannya menggantung, karena jawaban yang keluar terlalu cepat dari mulut penjaga biasanya adalah jawaban yang salah. Cahaya tipis dari dalam kendi merembes keluar lewat retak halus itu, jatuh ke rumput di tempat Laras berdiri semalam, dan cahaya itu tidak hangat seperti cahaya lentera Wulan. Cahaya itu pucat, seperti cahaya yang sudah terlalu lama disimpan di tempat gelap dan lupa bagaimana rasanya menyentuh matahari.

Danan menarik Laras menjauh, kali ini tanpa ragu. Laras tidak melawan, tetapi ia terus menoleh ke arah kendi, seperti anak kecil yang baru saja mendengar temannya memanggil namanya dari balik pagar dan belum mengerti kenapa orang dewasa melarangnya menjawab.

"Tidak," kataku akhirnya, pelan tetapi jelas, ke arah retak itu. "Aku tidak akan mengajarimu membuka."

Keheningan yang menjawabku terasa lebih berat daripada keheningan sebelum pertanyaan itu. Bukan keheningan marah. Bukan keheningan kecewa seperti anak yang mainannya diambil. Keheningan itu terasa seperti seseorang yang sedang menimbang, dengan sangat hati-hati, apakah kata "tidak" yang baru saja ia dengar adalah pintu yang tertutup, atau pintu yang baru saja ia pelajari cara membukanya dari sisi yang lain.

Penjaga pintu bergerak, untuk pertama kalinya sejak cahaya itu muncul, dan berdiri di antara kami dan kendi. Punggungnya tegak, tetapi suaranya, ketika keluar, tidak setegas biasanya.

"Kamu sudah menjawab dengan benar," katanya, tanpa menoleh kepadaku. "Bait membuka bukan bait yang diajarkan kepada yang meminta. Bait membuka hanya dinyanyikan oleh penjaga, dari sisi ini, pada saatnya, dan tidak pernah sebagai pelajaran. Kalau bait itu diajarkan, ia berhenti menjadi penjagaan. Ia menjadi kunci yang dibagikan."

"Kalau begitu kenapa ia bisa menyanyikan bait penunggu?" tanya Sela, dan suaranya masih tegang. "Tadi Laras menyanyikan bait tentang pintu, bait yang tidak kita ajarkan. Dari mana ia mendapatkannya, kalau bukan dari kita?"

Penjaga pintu diam lama. Lama sekali, sampai angin di puncak bukit terasa seperti ikut menunggu.

"Karena ia tidak hanya belajar dari kalian," katanya akhirnya. "Ia mengingat. Ada bedanya, Naya. Belajar adalah menerima sesuatu yang baru. Mengingat adalah menemukan kembali sesuatu yang pernah ada. Bait penunggu itu bukan bait yang kalian ajarkan. Bait itu adalah bait yang ia nyanyikan sendiri, dulu, sebelum kendi ini menjadi batasnya. Sebelum ia menjadi penunggu."

Kata-kata itu jatuh ke tengah lingkaran kami seperti batu ke dalam air yang tenang. Wulan memeluk lenteranya lebih erat. Danan menatapku, dan aku tahu ia memikirkan hal yang sama denganku: kalau makhluk kecil di dalam kendi itu pernah menyanyikan bait membuka sebelum kami datang, maka ia bukan makhluk asing yang baru belajar. Ia adalah sesuatu yang pernah berada di sisi ini, atau di sisi yang mengenal pintu, lalu entah bagaimana tertinggal di sisi lain, dan kini sedang menemukan jalannya pulang, bait demi bait.

"Tapi ia meminta diajari membuka sekarang," kata Wulan pelan. "Bukan mengingat sendiri. Ia meminta kita mengajarinya. Kenapa, kalau ia sudah pernah tahu?"

"Karena mengingat saja tidak cukup untuk membuka," jawab penjaga itu. "Ia ingat bunyinya, tetapi ia lupa izinnya. Bait membuka tanpa izin penjaga hanyalah bunyi. Bait membuka dengan izin penjaga adalah jalan. Dan izin itu tidak pernah diminta dengan cara memohon satu bait. Izin itu didapat dengan menjaga, lama, sampai lagu itu sendiri yang mengakuimu."

Aku menatap retak itu. Cahaya pucatnya masih merembes, tetapi tidak melebar. Garis rambut yang tadi memanjang satu garis lagi kini berhenti, seperti napas yang ditahan.

"Kita tidak bisa membiarkan retak ini begitu saja," kataku. "Kalau kita pulang dan membiarkannya, malam ini ia bisa melebar lagi. Dan kita tidak tahu apa yang akan keluar dari retak yang melebar."

"Kita menyanyi," kata Wulan. "Bukan bait membuka, bukan bait baru. Lagu penjaga yang sudah kita kenal, lagu yang menjaga agar dua sisi tetap pada tempatnya. Kita nyanyikan mengelilingi kendi, di siang hari, supaya retak itu tahu bahwa batas ini masih dijaga."

Sela mengangguk, tetapi ia menambahkan dengan jujur, "Menyanyi mengelilingi kendi juga bisa menjadi ajaran, Naya. Setiap lagu yang kita nyanyikan di dekatnya adalah lagu yang ia dengar. Kita tidak bisa menjaga tanpa menyanyi, dan kita tidak bisa menyanyi tanpa ia mendengar. Itu lingkaran yang tidak bisa kita putus."

"Kalau begitu kita menyanyi dengan sengaja," kataku. "Bukan menyanyi karena takut, bukan menyanyi karena diminta. Menyanyi karena kita penjaga, dan penjaga menyanyi untuk menjaga, bukan untuk mengajari membuka."

Kami pun menyanyi. Di siang yang terang, di puncak bukit yang sunyi, lima suara kami mengelilingi kendi besar itu, bukan dalam lingkaran patroli malam, melainkan dalam lingkaran siang yang lebih rapat, lebih dekat ke kendi daripada biasanya. Laras di tengah, dipegang tangannya oleh Danan di satu sisi dan olehku di sisi lain, supaya ia tidak pernah bernyanyi sendirian, supaya suaranya selalu berjalan bersama suara kami.

Lagu itu mengalir, bait demi bait, mantap dan pelan. Dan perlahan, cahaya pucat dari dalam retak itu meredup. Bukan hilang sepenuhnya. Meredup, seperti api yang ditutup tetapi tidak dipadamkan. Garis retak itu tidak menutup, tetapi ia berhenti memanjang. Ketika lagu kami selesai, kendi itu kembali diam, tetapi diamnya kini terasa dijaga, bukan dibiarkan.

Dari dalam kendi, tidak ada jawaban. Tidak ada ketukan. Tidak ada senandung. Hanya diam yang panjang, yang entah kenapa terasa lebih sedih daripada diam-diam sebelumnya.

Siang itu, di perjalanan turun, Laras tertidur lagi di bahu Danan, tetapi tidurnya tidak sedamai kemarin. Alisnya berkerut, bibirnya bergerak-gerak kecil, seperti seseorang yang sedang mengulang lagu dalam tidurnya. Aku berjalan di samping Danan, dan aku mendengarkan napas Laras, memastikan tidak ada bait yang keluar dari mulutnya selain napas biasa.

Di balai, para tetua mendengarkan laporan kami dengan wajah yang semakin berat. Retak di kendi adalah kabar yang tidak bisa diterima dengan tenang, bahkan oleh orang-orang yang sudah puluhan tahun mendengar kabar dari bukit. Seorang tetua berkata kendi harus disegel, ditutup dengan lagu penutup yang lebih kuat, supaya tidak ada lagi yang bisa keluar atau masuk. Tetua yang lain berkata menyegel kendi sama dengan mengurung makhluk itu selamanya, dan mengurung sesuatu yang sedang belajar menjaga adalah cara tercepat untuk membuatnya berhenti belajar dan mulai marah.

Aku mendengarkan perdebatan itu, dan aku merasa lelah yang berbeda dari lelah semalam. Lelah karena tidak ada jawaban yang bersih. Setiap pilihan menutup satu kemungkinan dan membuka kemungkinan lain yang sama berbahayanya.

Malamnya, kami kembali mendaki. Formasi yang sama: Laras di tengah, Danan dan aku di sisinya, Wulan dan Sela di depan dan belakang. Penjaga pintu sudah menunggu, dan kali ini ia tidak berkata apa-apa ketika kami tiba. Ia hanya mengangguk, dan kami duduk, dan kami menyanyi.

Malam itu makhluk kecil itu tidak meminta apa-apa. Ia tidak mengetuk. Ia tidak menyanyikan bait penunggu. Ia hanya mendengarkan, dan di sela-sela lagu kami, aku mendengar napasnya yang pelan dari dalam kendi, seperti seseorang yang sedang belajar bernapas mengikuti irama orang lain.

Kami pulang lewat tengah malam, dengan perasaan yang aneh: lega karena tidak ada permintaan baru, tetapi gelisah karena diam itu terasa seperti seseorang yang sedang menyiapkan kalimat yang lebih besar daripada kalimat sebelumnya.

Di rumah, aku membantu Laras berganti pakaian dan membaringkannya. Danan duduk di ambang pintu kamar, berjaga, seperti yang sudah kami sepakati: Laras tidak pernah dibiarkan sendiri setelah malam di bukit, bahkan di dalam rumah sendiri.

Aku hampir tertidur di kursi, ketika aku mendengarnya.

Suara kecil, sangat pelan, dari tempat tidur Laras. Bukan tangisan. Bukan panggilan. Nyanyian. Laras menyanyikan bait penunggu dalam tidurnya, nada demi nada, persis seperti yang ia nyanyikan siang tadi di dekat kendi, tetapi kali ini lebih pelan, lebih dalam, seperti lagu yang dinyanyikan bukan untuk didengar orang lain, melainkan untuk diingat oleh dirinya sendiri.

Aku bangkit dan mendekatinya. Matanya terpejam, tetapi kakinya bergerak di bawah selimut, seperti seseorang yang sedang berjalan dalam mimpi. Danan sudah berdiri di sampingku, wajahnya pucat.

"Laras," bisikku, sambil menggenggam tangannya. "Laras, bangun. Kamu di rumah. Kamu aman."

Laras tidak bangun. Ia terus menyanyikan bait itu, dan di akhir bait, suaranya berubah, menjadi suara yang bukan sepenuhnya suaranya, suara yang lebih kecil, lebih serak, suara yang pernah kudengar dari dalam kendi.

Lalu matanya terbuka. Bukan mata anak yang baru bangun. Mata yang terbuka lebar, menatap langit-langit, tetapi tidak melihatnya. Dan Laras duduk, perlahan, masih menyanyikan bait itu, lalu turun dari tempat tidur, dengan langkah yang pelan dan pasti, menuju pintu kamar.

Menuju pintu yang mengarah ke jalan setapak. Menuju bukit.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!