Dua Hari
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,115 kata
Dewan tidak mengetuk. Mereka menghitung. Dentang lonceng perak itu masih bergetar di gigiku waktu aku tersungkur kembali ke taman Sela β rumput benang yang hangat, bunga-bunga simpul yang mekar, kunang-kunang yang berputar cemas di atasku. Dua hari. Tiga hari kemarin. Satu hari habis di gudang itu β atau mungkin waktu berjalan berbeda di sana. Tidak penting. Yang penting: dua.
Pintu perak-emas itu tertutup di belakangku β diam, rapat, seolah tidak pernah terbuka. Sela menubrukku β kecil, hangat, hidup. βKau kembali! Kau bilang janji penjaga β dan kau kembali!β Benang emas ibuku melilit pergelanganku β berdenyut pelan, seperti memelukku kembali. βAku kembali,β bisikku β dan untuk pertama kalinya malam ini, aku membiarkan air mataku jatuh tanpa malu.
Danan datang menerobos pintu kecil Sela β napasnya tersengal, jangkarnya tergenggam erat. βAku mendengar loncengnya,β katanya β lalu matanya jatuh ke pergelanganku, ke benang emas yang asing itu. Aku menceritakan semuanya β cepat, tanpa jeda: gudang itu, alat-alat tenun, tawaran mereka, dan kebenaran yang akhirnya kumengerti: cahaya yang memilih membakar β jadi mereka mencuri pilihan sebelum sempat dipilih. Danan mendengarkan tanpa menyela β rahangnya mengeras. Lalu ia menyentuh bekas lukanya sendiri β luka perak di tempat jangkarnya pernah dicabut. βJadi ini,β katanya pelan, βbukan peringatan. Undangan.β Ia menegakkan tubuh. βMereka mencoba mengikatku sebelum aku sempat memilih juga.β Ia menatap jangkarnya β yang ia pasang kembali karena ia mau. βMereka terlambat.β
Benang emas di pergelanganku berdenyut pelan β tuk... tuk... tuk β dan setiap denyutnya seperti bisikan: βkau harus kuat.β Aku menatapnya lama. Dulu, waktu kecil, aku mengira kalimat itu berarti: jangan menangis, jangan mengeluh, jangan meminta. Sekarang aku mengerti maksud ibuku yang sebenarnya: kuat bukan berarti tidak butuh siapa-siapa. Kuat berarti berani memikul β untuk orang lain. Untuk Sela yang delapan tahun. Untuk Danan yang lukanya masih perih. Untuk Raras yang tangannya baru belajar menjadi tangan. Untuk ratusan desa yang bahkan tidak tahu namaku.
βMereka tidak bisa memanen yang sudah memilih.β Suara kecil itu β Sela β memotong keheningan dengan keyakinan anak delapan tahun yang baru saja melakukan hal paling berani di dunia. Kami menatapnya. Ia mengangkat pergelangannya β benang emasnya menyala terang. βAku memilih. Dan mereka tidak bisa mengambilku. Jadi ββ ia menatap kami satu per satu, ββ buat semua orang memilih. Sebelum dua hari itu habis.β
Danan menggeleng β bukan menolak, melainkan menghitung. βRatusan desa, Sela. Dua hari. Kita tidak bisa mendatangi mereka satu per satu.β Hening. Kunang-kunang benang berputar pelan di atas kami β seolah ikut berpikir. Lalu aku teringat β Nini. Yang menenun dari sisi gelap. Yang benang-benangnya merambat ke mana-mana β ke tempat-tempat yang bahkan cahaya tidak mencapai.
Aku berjalan ke tepi taman β ke tempat gelap berkumpul paling pekat, tempat benang-benang hitam-perak Nini muncul dari bawah anyaman tanah. βNini,β panggilku. Hening. Lalu β suara kering seperti kain tua yang dilipat: βKau berisik sekali, anak penjaga. Bahkan dari sisi gelap aku mendengar lonceng mereka.β Aku menceritakan rencanaku β cepat: jaring. Bukan untuk menangkap β untuk menyampaikan. Satu pesan, ke semua benang desa sekaligus: pilih. Nini diam lama β begitu lama hingga aku mengira ia pergi. Lalu: βJaring sebesar itu butuh jangkar sebesar langit. Dan butuh penenun yang tidak takut gelap.β Jeda. βUntungnya, aku kenal keduanya.β
Maka kami bekerja β malam itu, di taman yang tidak mengenal malam. Danan menancapkan jangkarnya di jantung taman β dalam, hingga tanah anyaman bergetar β βjangkar untuk jaring sebesar langit,β katanya, dengan senyum miring yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sela mengajari kunang-kunang benang membawa kata β mereka berputar dalam spiral, berlatih tanpa lelah: βpi-lih... pi-lih... pi-lih...β β dan setiap kali mereka mengucapkannya, cahaya mereka berkedip lebih terang, seolah kata itu sendiri adalah makanan.
Dan Ibu β Raras β datang tanpa dipanggil. Tangannya β yang baru nyata, yang masih canggung β gemetar waktu membantuku mengikat simpul-simpul pertama jaring itu. βMaaf,β bisiknya β seperti waktu ia mengepang rambutku terlalu kencang β βmaaf, Ibu belum pandai.β Aku menggenggam tangannya β hangat, sepenuhnya hangat sekarang. βIbu tidak perlu pandai. Ibu hanya perlu di sini.β Simpul itu β simpul kami β terikat erat. Sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Di kejauhan, aku melihat Danan melirik kami β dan untuk sesaat, wajah kerasnya melunak. Bahkan prajurit yang memasang jangkarnya karena mau β masih punya ibu yang dirindukannya, mungkin.
Aku melilitkan benang emas ibuku ke jantung jaring β suara pertama, bukti bahwa kehangatan yang dicuri bisa pulang. Lalu benang-benang Nini naik dari sisi gelap β hitam-perak, kuat, dingin tapi tidak kejam β mengikat pada jaring kami dari bawah. Dua tenunan bertemu: terang dan gelap β seperti dua sungai yang bertemu β tak terpisahkan. Jaring itu mengembang β melebar β menyentuh benang-benang desa satu per satu, jauh di atas, jauh di bawah, di semua arah yang tidak punya nama.
Dari kejauhan β sangat jauh, dari arah yang tidak punya nama β aku mendengar sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri: suara. Bukan dengung benang. Suara manusia β banyak β bukan menyanyi, melainkan memilih. Ratusan suara kecil berkata βaku mauβ dalam bahasa-bahasa yang tidak kukenal, dan setiap βaku mauβ menyalakan satu titik emas di jaring kami. Nini tertawa β suara kering seperti kain tua β untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya: βSeribu tahun aku menenun dalam gelap, anak penjaga. Tidak pernah aku menenun sesuatu seindah ini.β
Dan kemudian β keajaiban kecil yang membuat Sela menjerit kegirangan: jauh di sana β satu benang desa menyala lebih terang. Lalu satu lagi. Lalu selusin. βMereka mendengar!β Sela melompat-lompat. βNaya, mereka mendengar!β Kunang-kunang benang berpencar membawa kata itu lebih jauh β βpi-lih, pi-lihβ β dan jaring kami berdenyut seperti jantung raksasa yang baru belajar berdetak.
Lalu langit retak. Bukan lonceng kali ini. Bukan ketukan. Langit β di atas taman, di atas jaring β retak seperti es di kolam β dan dari retakan itu turun hujan. Hujan perak. Ribuan benang perak jatuh seperti jarum-jarum raksasa β menuju jaring kami, menuju taman, menuju kami. Danan mengangkat jangkarnya β βMereka datang lebih cepat!β teriaknya. βPanen dimajukan!β Nini β suaranya tegang untuk pertama kalinya: βPegang! Semuanya β jangan lepas!β
Kekacauan yang indah dan mengerikan: kunang-kunang berpencar; bunga-bunga simpul menutup kelopaknya; Raras mencengkeram tanganku β tangannya sepenuhnya hangat sekarang, sepenuhnya nyata β dan aku mencengkeram balik. Jaring itu menahan β bergetar hebat di setiap simpulnya β tapi menahan. Satu benang desa menyala. Dua. Tiga. Mereka memilih β bahkan saat hujan perak turun β bahkan sekarang.
Lalu β satu benang perak β lebih tebal dari yang lain, berkilau seperti urat nadi langit β turun lurus ke arah taman. Ke arah kami. Ke arah Sela β penjaga terkecil, yang paling mudah diikat. Sela mendongak β tidak takut β mengangkat pergelangannya tinggi-tinggi, benang emasnya menyala seperti matahari kecil: βAku sudah memilih!β katanya β jelas, lantang, ke langit yang retak. Benang perak itu β berhenti. Ragu. Melayang.
Dan dari langit yang retak β suara Dewan β tidak lagi dingin, tidak lagi datar β melainkan... tertarik? βSatu benang untuk satu desa, penjaga kecil,β kata suara itu β pelan, seperti salju turun. βBenang ibumu sudah kau ambil. Desamu aman β kami menepati janji.β Benang emas di pergelanganku β mendadak dingin. βTapi jaring ini ββ hujan perak berhenti di udara, menggantung, menunggu β βsetiap simpul yang kau ikat malam ini β kami ganti dengan satu desa. Lepaskan jaring itu β atau panen mengambil dua untuk setiap satu yang kau selamatkan.β Hening. Di seluruh taman β bahkan kunang-kunang pun berhenti berputar. Semua menatapku. Menunggu jawabanku.