β€Ή
40. Dua Hari

Dua Hari

Pewaris Terakhir Langit β€’ 1,115 kata

Ilustrasi Dua Hari

Dewan tidak mengetuk. Mereka menghitung. Dentang lonceng perak itu masih bergetar di gigiku waktu aku tersungkur kembali ke taman Sela β€” rumput benang yang hangat, bunga-bunga simpul yang mekar, kunang-kunang yang berputar cemas di atasku. Dua hari. Tiga hari kemarin. Satu hari habis di gudang itu β€” atau mungkin waktu berjalan berbeda di sana. Tidak penting. Yang penting: dua.

Pintu perak-emas itu tertutup di belakangku β€” diam, rapat, seolah tidak pernah terbuka. Sela menubrukku β€” kecil, hangat, hidup. β€œKau kembali! Kau bilang janji penjaga β€” dan kau kembali!” Benang emas ibuku melilit pergelanganku β€” berdenyut pelan, seperti memelukku kembali. β€œAku kembali,” bisikku β€” dan untuk pertama kalinya malam ini, aku membiarkan air mataku jatuh tanpa malu.

Danan datang menerobos pintu kecil Sela β€” napasnya tersengal, jangkarnya tergenggam erat. β€œAku mendengar loncengnya,” katanya β€” lalu matanya jatuh ke pergelanganku, ke benang emas yang asing itu. Aku menceritakan semuanya β€” cepat, tanpa jeda: gudang itu, alat-alat tenun, tawaran mereka, dan kebenaran yang akhirnya kumengerti: cahaya yang memilih membakar β€” jadi mereka mencuri pilihan sebelum sempat dipilih. Danan mendengarkan tanpa menyela β€” rahangnya mengeras. Lalu ia menyentuh bekas lukanya sendiri β€” luka perak di tempat jangkarnya pernah dicabut. β€œJadi ini,” katanya pelan, β€œbukan peringatan. Undangan.” Ia menegakkan tubuh. β€œMereka mencoba mengikatku sebelum aku sempat memilih juga.” Ia menatap jangkarnya β€” yang ia pasang kembali karena ia mau. β€œMereka terlambat.”

Benang emas di pergelanganku berdenyut pelan β€” tuk... tuk... tuk β€” dan setiap denyutnya seperti bisikan: β€œkau harus kuat.” Aku menatapnya lama. Dulu, waktu kecil, aku mengira kalimat itu berarti: jangan menangis, jangan mengeluh, jangan meminta. Sekarang aku mengerti maksud ibuku yang sebenarnya: kuat bukan berarti tidak butuh siapa-siapa. Kuat berarti berani memikul β€” untuk orang lain. Untuk Sela yang delapan tahun. Untuk Danan yang lukanya masih perih. Untuk Raras yang tangannya baru belajar menjadi tangan. Untuk ratusan desa yang bahkan tidak tahu namaku.

β€œMereka tidak bisa memanen yang sudah memilih.” Suara kecil itu β€” Sela β€” memotong keheningan dengan keyakinan anak delapan tahun yang baru saja melakukan hal paling berani di dunia. Kami menatapnya. Ia mengangkat pergelangannya β€” benang emasnya menyala terang. β€œAku memilih. Dan mereka tidak bisa mengambilku. Jadi —” ia menatap kami satu per satu, β€œβ€” buat semua orang memilih. Sebelum dua hari itu habis.”

Danan menggeleng β€” bukan menolak, melainkan menghitung. β€œRatusan desa, Sela. Dua hari. Kita tidak bisa mendatangi mereka satu per satu.” Hening. Kunang-kunang benang berputar pelan di atas kami β€” seolah ikut berpikir. Lalu aku teringat β€” Nini. Yang menenun dari sisi gelap. Yang benang-benangnya merambat ke mana-mana β€” ke tempat-tempat yang bahkan cahaya tidak mencapai.

Aku berjalan ke tepi taman β€” ke tempat gelap berkumpul paling pekat, tempat benang-benang hitam-perak Nini muncul dari bawah anyaman tanah. β€œNini,” panggilku. Hening. Lalu β€” suara kering seperti kain tua yang dilipat: β€œKau berisik sekali, anak penjaga. Bahkan dari sisi gelap aku mendengar lonceng mereka.” Aku menceritakan rencanaku β€” cepat: jaring. Bukan untuk menangkap β€” untuk menyampaikan. Satu pesan, ke semua benang desa sekaligus: pilih. Nini diam lama β€” begitu lama hingga aku mengira ia pergi. Lalu: β€œJaring sebesar itu butuh jangkar sebesar langit. Dan butuh penenun yang tidak takut gelap.” Jeda. β€œUntungnya, aku kenal keduanya.”

Maka kami bekerja β€” malam itu, di taman yang tidak mengenal malam. Danan menancapkan jangkarnya di jantung taman β€” dalam, hingga tanah anyaman bergetar β€” β€œjangkar untuk jaring sebesar langit,” katanya, dengan senyum miring yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sela mengajari kunang-kunang benang membawa kata β€” mereka berputar dalam spiral, berlatih tanpa lelah: β€œpi-lih... pi-lih... pi-lih...” β€” dan setiap kali mereka mengucapkannya, cahaya mereka berkedip lebih terang, seolah kata itu sendiri adalah makanan.

Dan Ibu β€” Raras β€” datang tanpa dipanggil. Tangannya β€” yang baru nyata, yang masih canggung β€” gemetar waktu membantuku mengikat simpul-simpul pertama jaring itu. β€œMaaf,” bisiknya β€” seperti waktu ia mengepang rambutku terlalu kencang β€” β€œmaaf, Ibu belum pandai.” Aku menggenggam tangannya β€” hangat, sepenuhnya hangat sekarang. β€œIbu tidak perlu pandai. Ibu hanya perlu di sini.” Simpul itu β€” simpul kami β€” terikat erat. Sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Di kejauhan, aku melihat Danan melirik kami β€” dan untuk sesaat, wajah kerasnya melunak. Bahkan prajurit yang memasang jangkarnya karena mau β€” masih punya ibu yang dirindukannya, mungkin.

Aku melilitkan benang emas ibuku ke jantung jaring β€” suara pertama, bukti bahwa kehangatan yang dicuri bisa pulang. Lalu benang-benang Nini naik dari sisi gelap β€” hitam-perak, kuat, dingin tapi tidak kejam β€” mengikat pada jaring kami dari bawah. Dua tenunan bertemu: terang dan gelap β€” seperti dua sungai yang bertemu β€” tak terpisahkan. Jaring itu mengembang β€” melebar β€” menyentuh benang-benang desa satu per satu, jauh di atas, jauh di bawah, di semua arah yang tidak punya nama.

Dari kejauhan β€” sangat jauh, dari arah yang tidak punya nama β€” aku mendengar sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri: suara. Bukan dengung benang. Suara manusia β€” banyak β€” bukan menyanyi, melainkan memilih. Ratusan suara kecil berkata β€œaku mau” dalam bahasa-bahasa yang tidak kukenal, dan setiap β€œaku mau” menyalakan satu titik emas di jaring kami. Nini tertawa β€” suara kering seperti kain tua β€” untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya: β€œSeribu tahun aku menenun dalam gelap, anak penjaga. Tidak pernah aku menenun sesuatu seindah ini.”

Dan kemudian β€” keajaiban kecil yang membuat Sela menjerit kegirangan: jauh di sana β€” satu benang desa menyala lebih terang. Lalu satu lagi. Lalu selusin. β€œMereka mendengar!” Sela melompat-lompat. β€œNaya, mereka mendengar!” Kunang-kunang benang berpencar membawa kata itu lebih jauh β€” β€œpi-lih, pi-lih” β€” dan jaring kami berdenyut seperti jantung raksasa yang baru belajar berdetak.

Lalu langit retak. Bukan lonceng kali ini. Bukan ketukan. Langit β€” di atas taman, di atas jaring β€” retak seperti es di kolam β€” dan dari retakan itu turun hujan. Hujan perak. Ribuan benang perak jatuh seperti jarum-jarum raksasa β€” menuju jaring kami, menuju taman, menuju kami. Danan mengangkat jangkarnya β€” β€œMereka datang lebih cepat!” teriaknya. β€œPanen dimajukan!” Nini β€” suaranya tegang untuk pertama kalinya: β€œPegang! Semuanya β€” jangan lepas!”

Kekacauan yang indah dan mengerikan: kunang-kunang berpencar; bunga-bunga simpul menutup kelopaknya; Raras mencengkeram tanganku β€” tangannya sepenuhnya hangat sekarang, sepenuhnya nyata β€” dan aku mencengkeram balik. Jaring itu menahan β€” bergetar hebat di setiap simpulnya β€” tapi menahan. Satu benang desa menyala. Dua. Tiga. Mereka memilih β€” bahkan saat hujan perak turun β€” bahkan sekarang.

Lalu β€” satu benang perak β€” lebih tebal dari yang lain, berkilau seperti urat nadi langit β€” turun lurus ke arah taman. Ke arah kami. Ke arah Sela β€” penjaga terkecil, yang paling mudah diikat. Sela mendongak β€” tidak takut β€” mengangkat pergelangannya tinggi-tinggi, benang emasnya menyala seperti matahari kecil: β€œAku sudah memilih!” katanya β€” jelas, lantang, ke langit yang retak. Benang perak itu β€” berhenti. Ragu. Melayang.

Dan dari langit yang retak β€” suara Dewan β€” tidak lagi dingin, tidak lagi datar β€” melainkan... tertarik? β€œSatu benang untuk satu desa, penjaga kecil,” kata suara itu β€” pelan, seperti salju turun. β€œBenang ibumu sudah kau ambil. Desamu aman β€” kami menepati janji.” Benang emas di pergelanganku β€” mendadak dingin. β€œTapi jaring ini —” hujan perak berhenti di udara, menggantung, menunggu β€” β€œsetiap simpul yang kau ikat malam ini β€” kami ganti dengan satu desa. Lepaskan jaring itu β€” atau panen mengambil dua untuk setiap satu yang kau selamatkan.” Hening. Di seluruh taman β€” bahkan kunang-kunang pun berhenti berputar. Semua menatapku. Menunggu jawabanku.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!