Retak di Dalam Kendi
Pewaris Terakhir Langit β’ 1,280 kata
Aku tidak tidur setelah pertanyaan itu.
Sepanjang sisa malam, setelah kami turun dari bukit dengan lagu penutup yang dinyanyikan setengah hati, pertanyaan itu terus berputar di kepalaku: besok, bolehkah aku menyanyi dari sisi kalian? Aku memejamkan mata dan mendengar kata-kata itu lagi, diucapkan dengan suara kecil yang serak, dengan hati-hati yang tidak dibuat-buat. Aku mencoba tidur, tetapi setiap kali hampir terlelap, aku mendengar nada yang berbeda yang diselipkan makhluk itu di antara nada-nada kami, nada miliknya sendiri, nada yang tidak kami ajarkan.
Pagi harinya, aku pergi ke bukit lebih awal dari yang lain. Bukan karena ada janji, bukan karena ada patroli pagi yang dijadwalkan. Aku pergi karena aku tidak bisa menunggu sampai malam untuk melihat kendi itu dalam cahaya siang, untuk memastikan bahwa apa yang terjadi semalam benar-benar terjadi, dan bukan sesuatu yang dibuat oleh lelah dan gelap.
Bukit di pagi hari terasa sunyi dengan cara yang berbeda. Tidak ada lagu, tidak ada ketukan, tidak ada senandung. Hanya angin, rumput, dan kendi besar yang berdiri di tempatnya, diam dan tertutup rapat, seperti semalam.
Aku berjalan mengitarinya pelan, memeriksanya seperti seseorang memeriksa pagar setelah malam yang berangin. Dan di situlah aku melihatnya.
Retak halus di badan kendi.
Retak itu tipis, sangat tipis, seperti garis rambut yang hampir tidak terlihat kalau tidak dicari. Ia memanjang dari dekat celah sempit di bagian atas kendi, turun beberapa jengkal, lalu berhenti, seperti garis yang belum selesai ditulis. Aku mengulurkan tangan, tetapi tidak menyentuhnya. Ada aturan yang tidak tertulis tentang kendi itu, yang sudah kupatuhi sejak pertama kali aku mendaki bukit ini: kendi tidak disentuh sembarangan, karena kendi bukan benda, melainkan batas. Dan batas yang retak adalah batas yang sedang berubah.
Aku berlutut dan melihat lebih dekat. Retak itu tidak seperti retak karena jatuh atau terbentur. Tidak ada serpihan, tidak ada bagian yang terkelupas. Garisnya bersih, lurus, dan anehnya, ia mengikuti arah yang sama dengan arah lagu kami semalam: dari celah tempat suara keluar, menuju ke arah lingkaran tempat kami duduk. Seolah lagu yang dinyanyikan bersama, dari dua sisi, telah meninggalkan jejak di tempat yang tidak seharusnya bisa dilalui lagu.
Aku mundur selangkah, dan saat itulah aku melihat hal kedua.
Di dalam lingkaran, di rumput yang semalam menjadi tempat Laras duduk, ada satu jejak kaki kecil.
Bukan di ambang lingkaran, seperti jejak yang kuhapus kemarin pagi. Bukan di jalan setapak menuju desa, seperti jejak yang ditemukan Danan sore kemarin. Jejak ini berada di dalam lingkaran. Di tempat yang hanya boleh dimasuki oleh mereka yang menyanyi bersama kami. Di tempat yang seharusnya tidak bisa dimasuki oleh apa pun dari sisi lain, kecuali pintu itu sendiri yang dibukakan.
Jejak itu menghadap ke arah kendi, bukan ke arah desa. Seolah sesuatu berdiri di dalam lingkaran semalam, setelah kami pergi, dan menatap kendi itu dari sisi ini, dari sisi kami, seperti seseorang yang akhirnya berdiri di tempat yang selama ini hanya ia dengar dari jauh.
Darahku terasa dingin, tetapi tanganku tidak gemetar. Anehnya, justru kejelasan yang datang: semua tanda yang kami kumpulkan selama tiga hari ini kini tersusun menjadi satu gambar. Jejak di ambang lingkaran. Jejak di jalan menuju desa. Bait yang diajarkan. Nada yang ditambahkan sendiri. Pertanyaan tentang menyanyi dari sisi kami. Dan kini retak di kendi, dan jejak di dalam lingkaran.
Sesuatu sedang berpindah. Bukan dengan mengetuk. Bukan dengan meminta nama. Tetapi dengan belajar, selangkah demi selangkah, bait demi bait, jejak demi jejak, dari sisi lain ke sisi ini.
Aku berlari turun dan mengumpulkan yang lain. Danan, Wulan, Sela, dan Laras datang dengan wajah yang masih setengah tidur, tetapi begitu mereka melihat retak itu dan jejak di dalam lingkaran, kantuk mereka hilang sepenuhnya.
"Kendi tidak pernah retak," kata Wulan, suaranya pelan tetapi pasti. "Selama aku menjaga bukit ini, kendi tidak pernah retak. Kendi bisa diam, bisa bersuara, bisa tertutup rapat, tetapi tidak pernah retak."
"Retak itu baru," kata Sela, sambil berjongkok di dekat jejak di dalam lingkaran. "Tanah di dalam jejak ini masih lembap. Jejak ini dibuat semalam, setelah kita pergi. Atau sebelum fajar. Tidak lebih tua dari itu."
Danan menatap retak itu lama, lalu menatapku. "Naya, apa yang berubah semalam? Kita mengajarkan satu bait. Hanya satu bait. Tetapi bait itu dinyanyikan bersama, oleh Laras dan olehnya, dari dua sisi. Apakah itu cukup untuk membuat kendi retak?"
Penjaga pintu, yang datang tanpa suara seperti biasa, berdiri di antara kami dan kendi. Ia menatap retak itu dalam diam yang panjang, lebih panjang dari diamnya yang biasa. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang membacakan aturan yang ia sendiri tidak ingin benar.
"Retak bukan kerusakan," katanya. "Retak adalah jalan yang sedang dibuat. Kendi retak bukan karena ia lemah. Kendi retak karena sesuatu di dalamnya sudah tidak lagi hanya mendengarkan dari balik dinding. Sesuatu di dalamnya sedang belajar menyanyi dari sisi ini, dan lagu yang dinyanyikan dari sisi yang salah, atau dari sisi yang baru, selalu mencari jalan keluar."
"Jadi retak ini karena bait yang kami ajarkan?" tanyaku.
"Karena bait itu dipelajari dengan sungguh-sungguh," kata penjaga itu. "Dan karena bait itu dinyanyikan bersama. Lagu yang dinyanyikan dari dua sisi sekaligus tidak bisa ditahan oleh satu dinding. Ia akan mencari retak, atau ia akan membuat retak."
Laras, yang sejak tadi diam sambil memegang tangan Danan, tiba-tiba melepaskan genggaman itu dan berjalan mendekati kendi. Ia tidak berlari. Ia berjalan pelan, seperti seseorang yang dipanggil dengan lembut. Danan mengulurkan tangan untuk menahannya, tetapi aku menahan lengan Danan, karena aku melihat wajah Laras: bukan wajah anak yang sedang dikendalikan, melainkan wajah anak yang sedang mendengarkan sesuatu yang hanya ia dengar.
Laras berhenti satu langkah dari kendi, menempelkan telinganya ke badan kendi, di dekat retak halus itu, dan mendengarkan.
Wajahnya berubah. Pertama bingung. Lalu kaget. Lalu sesuatu yang tidak bisa kunamai: seperti seseorang yang mendengar namanya disebut oleh suara yang ia kenal, tetapi dari tempat yang salah.
Ia menoleh kepada kami, dengan mata yang lebar, dan berbisik, "Dia menyanyi lagi. Tetapi lagunya berubah."
"Berubah bagaimana?" tanyaku, dan suaraku keluar lebih tajam dari yang kumaksud.
Laras menelan ludah. "Semalam ia menyanyikan bait yang kita ajarkan. Sekarang ia menyanyikan bait itu, lalu bait lain. Bait yang tidak kita ajarkan. Bait tentang pintu. Bait yang bunyinya seperti ini."
Dan Laras, dengan suara kecilnya yang jernih, menyanyikan beberapa nada dari bait baru itu. Nada-nadanya asing, bukan dari lagu penjaga yang kukenal, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang terasa sangat familiar, seperti lagu yang pernah kudengar di tempat lain, di waktu lain, dari suara yang bukan suara penjaga.
Penjaga pintu menegang. Wajahnya yang berkabut bergeser, dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di balik kabut itu yang menyerupai ketakutan.
"Itu bukan bait penjaga," katanya. "Itu bait penunggu. Bait yang dinyanyikan dari sisi lain untuk membuka, bukan untuk menjaga. Ia tidak lagi hanya belajar dari kita. Ia mulai mengingat apa yang ia nyanyikan sebelum kita datang."
Sela mundur selangkah. Wulan memeluk lenteranya. Danan menarik Laras menjauh dari kendi, tetapi Laras tidak melawan, ia hanya terus menatap retak itu, seolah retak itu sedang menatapnya kembali.
Dan saat itulah, di siang yang terang, di bukit yang sunyi, dari dalam retak halus di badan kendi, keluar satu bunyi yang tidak seharusnya bisa keluar dari retak sekecil itu: satu nada panjang, jernih, dan sangat dekat, seperti suara yang dinyanyikan tepat di telinga kami.
Dan suara kecil itu, dengan kata-katanya sendiri, dengan suara yang kini tidak lagi serak, melainkan jelas dan mantap, berkata dari balik retak, "Naya, aku sudah belajar baitnya. Sekarang ajari aku membuka."
Retak itu, di depan mata kami semua, memanjang satu garis rambut lagi, dan cahaya tipis dari dalam kendi mulai merembes keluar, tepat di tempat Laras berdiri semalam.